kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Nonton The Raid? Siapkan Kuda-kuda dan Suara


Mau nonton The Raid? Siapkan kuda-kuda dan suara. Kenapa? Kalau mau silahkan menyimak tulisan saya di sini. Ini bukan review, hanya komentar suka-suka dari seorang penikmat film. Enjoy ;)

Kata teman yang sudah nonton The Raid di hari pertama tayang, antrian tiketnya gila-gilaan, bahkan ada yang antri dari siang dapatnya malam. Tapi saya nekat, sepulang kantor langsung meluncur ke Matos, sampe di TKP jam setengah 5, langsung menuju 21 dan lega, ternyata antrinya tidak separah kata teman saya. Di depan saya hanya berjajar 3 orang. Waktu saya lihat jadwal pemutaran film di LCD, saya bertambah lega. The Raid diputar di teater 1 dan 2. Well.. kalau saya ga dapet yang jam 18.30, saya bisa coba yang jam 19.00.

Ternyata teater 2 untuk pemutaran jam 18.30 masih belum penuh, meski hanya tersisa beberapa deret kursi. Saya dapat kursi H9. Saya tidak terlalu memperhatikan denah tempat duduk yang ditunjukkan, agak was-was juga, letak kursi itu antara paling depan atau paling belakang. Seingat saya tiap teater itu pengaturan kursinya beda-beda, H itu ada yang di bagian depan, ada juga yang bagian belakang. Kalau belakang, sih saya oke-oke saja. Tapi kalau depan.. Duuhh.. agak males, bukan karena ngeri liat adegan berdarah-darah dari jarak dekat, tapi karena pandangan saya malah ga fokus karena jaraknya yang terlalu dekat. Aneh memang, tapi saya benar-benar merasakannya waktu nonton “Tendangan dari Langit” beberapa waktu lalu, dapet kursi depan dan gak nyaman sama sekali. Sebisa mungkin saya selalu cari kursi E8 setiap kali nonton.

Waktu dua jam sebelum pemutaran film dimulai saya habiskan di food court, ketemuan sama teman untuk membahas proyek rahasia :mrgreen:

Pukul 18.10 saya sudah masuk bioskop, meski pintu teaternya masih belum dibuka. 5 menit nunggu, pintu dibuka juga. Masuklah saya seorang diri. Di bagian mana saya duduk? Yup, tepat! Di bagian depan! Haha.. semoga pandangan saya baik-baik saja.

Lampu dimatikan, film dimulai. Scene pertama: Rama (Iko Uwais) sedang menunaikan sholat, saya duga itu sholat Subuh, hehe.. sotoy. Selesai sholat, ia berlatih dengan sebuah target. Ada penampakan sosok perempuan di tempat tidur Rama, posisinya tepat di sisi Rama tidur tadi. Dan pemeran perempuan itu salah satu aktris yang tidak saya sukai. Haha.. Iko ini kalo dapet pasangan selalu ga tepat, deh.. dulu pas di Merantau dipasangin sama Siska Jessica, sekarang sama perempuan ini, saya gak tau namanya :p

Bersiaplah mual melihat adegan Rama dengan sang istri. Selesai latihan, Rama menghampiri istrinya yang sedang hamil besar di tempat tidur dan mengucapkan kata ajaib yang membuat saya teringat sinetron atau FTV ecek-ecek. “Aku cinta kamu” kalimat yang menurut teman saya membuatnya ingin menelan keju satu piring dan terlalu Amerika, yang menurut saya tidak perlu diucapkan dan bisa diganti dengan kalimat yang lebih cantik.

Oke.. lupakan adegan itu, sekarang beralih ke scene yang lebih oke. Siapkan diri Anda karena di awal film Anda sudah disuguhi dengan darah yang muncrat dari batok kepala. Dan efeknya edian! Baru nemu film Indonesia yang bisa mengeksekusi adegan seperti ini dengan sempurna! Adegan apa? Lihat saja sendiri :grin:

Di dalam sebuah mobil yang berjalan di tengah hujan –saya nggak tau nama mobilnya- sekelompok anggota polisi yang mirip SWAT dengan seragam hitamnya tengah bersiap-siap.

Singkat kata, si Sersan Jaka memerintahkan anak buahnya untuk “menghabisi” Tama dan gerombolannya di sebuah apartemen yang selama ini tidak tersentuh aparat. Dari sini saya mulai merasa ada yang aneh. Kalau memang misi mereka untuk menghabisi, bukan menyeret Tama hidup-hidup, kenapa harus susah payah mengirim pasukan ke tempat yang konon tidak pernah ada yang bisa keluar hidup-hidup dari sana. Misi penyerbuan ini masuk akal jika mereka memang ingin menangkap dan meyeret Tama ke pengadilan. Kalau cuma untuk menghabisi, ledakkan saja tempat itu dari atas helikopter mungkin, atau apalah yang tidak mengharuskan mereka berhadapan langsung dengan orang-orang gila itu. Tapi agak susah juga mungkin, mengingat tidak ada bukti kejahatan Tama cs. Well.. pertanyaan saya ini akan terjawab nanti. Hehe..

Sampai di lokasi, Sersan Jaka bertemu dengan Letnannya yang diperankan oleh Pierre Gruno. Tim dibagi menjadi dua untuk masuk ke apartemen tua itu. Mereka mulai beraksi, melumpuhkan penjaga pintu yang asyik menonton TV, membuka pintu yang terkunci dengan sangat cantik, tidak main dobrak ala film-film Hollywood. Dan sampailah mereka pada sebuah gerbang yang hendak dibuka oleh seseorang, yang saya kira itu Iang P Project dan ternyata benar.

Peran apa yang dimainkannya di sini? Iang gak cocok untuk jadi orang jahat, haha.. benar dugaan saya, peran dia memang protagonis di sini. Tapi saya masih belum tahu dia ini siapa, sampai mereka memintanya untuk tidak naik ke atas. Dia menolak, bersikeras ke atas karena harus mengantarkan obat untuk istrinya yang sakit. Wooo.. ada penghuni lain di apartemen ini? Gila!

Jadi ini jawaban atas pertanyaan saya tadi, kenapa mereka harus bersusah payah melakukan misi penyerbuan kalau hanya untuk sekedar menghabisi gerombolan Tama bisa dilakukan dengan meledakkan tempat itu saja, rupanya ada penghuni lain di sana. Oh, man.. siapa coba yang mau tinggal sama orang-orang gila di tempat seperti itu? Ini salah satu hal yang menurut saya kurang logis dan masuk akal.

Mulai merangsek ke dalam, melalui pintu demi pintu dan lantai demi lantai, sampai mereka bertemu dengan seorang anak usia belasan yang baru keluar dari kamar mandi. Saya nggak tahu dia ini siapa, sampai akhirnya ia lari meski diperintahkan diam di tempat dan berteriak “Polisi” ke salah seorang temannya di atas, si Letnan nekat menembakkan peluru yang menembus pintu kayu dan mengenai leher bagian samping dan si bocah pun tumbang. Adegan slow motionnya superb!

Seorang anak laki-laki usia belasan yang berada satu lantai di atasnya terpaku melihat temannya dieksekusi di depan matanya, sampai akhirnya ia tersadar, berlari dan menekan sebuah tombol. Tombol itu pun bereaksi, mengeluarkan bunyi dan warna merah menyala. Salah seorang penonton di dalam teater sempat nyeletuk “Apa itu, bom?” Errgghh.. gak pernah nonton film beginian ya, Neng? Kalo bom mah mereka semua mati kaleee.. Pernah lihat alarm gak, Neng?

Selamat datang di medan perang yang sebenarnya, kawan-kawan! ;)

Ray Sahetapy aka Tama

Karena aksi penyerbuan mereka ketahuan, murka lah si Tama, dengan gaya yang cool –lebih tepatnya sok bloon- dan nyaris selalu membuat penonton tertawa menyaksikannya, selain gaya Mad Dog yang gak kalah “bloon”. Pasukan Tama memberondong dengan tembakan. Satu, dua, lima, tujuh.. pasukan Jaka tumbang. Tama memantau aksi mereka melalui CCTV, di sisinya ada Mad Dog (Yayan Ruhian) dan Andi (Donny Alamsyah) yang laki banget di sini! Haha.. si Andi melihat ke CCTV, pandangannya menyorot pada si Rama. Oke.. siapapun pasti berpikir ada sesuatu di antara Andi dan Rama. Saya sih menebaknya Andi ini pernah punya masalah dan dendam dengan Rama. Haha.. sotoy lagi, dah.. abis typical film-film action seperti itu, sih :p

Oke.. nggak perlu saya gambarkan detail adegan demi adegannya lah.. silahkan tonton sendiri, lebih seru, hehe.. Awalnya action memang didominasi oleh tembakan, senapan, dar-der-dor. Padahal saya ingin yang lebih greget, tepat seperti kata Mad Dog waktu duel dengan Jaka :grin:

Apa yang saya harapkan muncul juga, karena mereka kehabisan amunisi mungkin, ya.. haha.. semua benda bisa dijadikan senjata di sini, dari kursi sampai kulkas dan tabung gas. Tapi scene fighting favorit saya adalah waktu Rama membopong Bowo yang terluka sementara harus menghabisi belasan orang di koridor apartemen seorang diri dengan bersenjatakan pentungan dan sebilah pisau di masing-masing tangan. Wah.. itu keren banget menurut saya, gimana aksi dia menumbangkan lawan satu per satu dengan koreografi yang cantik dan berirama. Bahkan njedotin kepala orang aja ada rimanya, haha.. superb dah ini adegan!

Kulkas, bakal calon senjata mematikan

Jujur, alasan terkuat saya nonton film ini memang karena si Iko yang main, bukan semata-mata karena dia ganteng, tapi karena backgroundnya yang seorang atlit pencak silat dan sudah berhasil ditunjukkannya dengan cantik di film pertamanya, Merantau. Dan gara-gara ini saya jadi agak underestimated aktor-aktor lain di film ini yang belum pernah saya dengar pengalamannya di dunia bag-big-bug seperti ini, hehe..

Dan.. yang ditunggu-tunggu, si Mad Dog dan Andi turun tangan juga. Ah, saya pengen banget liat Donny berantem di sini, setelah di Merantau dia cuma jadi Kakaknya si Iko dan ga dapet scene fighting sama sekali. Kalau si Yayan alias Mad Dog mah, ga usah diragukan, dia juga sama edannya sama si Iko kalo soal fighting.

Mereka berdua turun untuk menghabisi Rama cs, Mad Dog memerintahkan 2 anak buah ikut bersama Andi, tapi ia menolak, meski akhirnya diiyakan juga karena Mad Dog memaksa. Hayo.. kenapa Andi menolak didampingi anak buah? Karena ngesok dan ingin balas dendam sendiri ke Rama, begitu? Kalau ya, berarti sama dengan tebakan saya. Haha.. sotoy lageee.. Kejebak sama efek “Merantau” nih.. Kisah duel antara Yayan sama Iko dulu masih kebawa di film ini :p

Andi nyuruh Mad Dog pake tangga dan dia yang pake lift. Haha.. denger ini seisi teater pada ketawa, sialan nih batin mereka, mana ekspresinya Andiy dan Mad Dog ini konyol menurut saya, bikin yang nonton pada ketawa. Tapi apa alasan sebenarnya Andi milih lift daripada tangga?

Di dalam lift, Andi menghabisi kedua anak buahnya dengan sebilah pisau. Untuk yang kurang menganalisa, mungkin akan kaget, tapi saya sih biasa. Saya pikir ini adalah cara dia untuk bisa berduel langsung sama Rama, tanpa campur tangan orang lain, sekalipun itu anak buahnya, haha.. saya kebawa typical film action. Sudah tau kan alasan kenapa dia nyuruh Mad Dog pake tangga dan dia yang pake lift? :grin:

Ada beberapa scene yang mengingatkan saya sama film “Merantau”. Waktu si Rama “kliyengan” di koridor, hampir tumbang, tapi masih berusaha bangkit karena tiba-tiba bayangan sosok istrinya berkelebat di pikirannya, itu ngingetin saya sama adegan waktu Iko dihajar gila-gilaan di belakang pintu bar, juga hampir tumbang, dengan sudut pengambilan gambar yang oke, dan akhirnya bisa bangkit lagi karena lihat Chika yang diseret masuk bar. Hehehe..

Satu lagi adegan waktu Rama melempar anak buah Tama ke lantai bawah dan menghantam “dudukan” tembok (saya nggak tahu istilah dudukan tembok ini, liat aja sendiri), itu ngingetin saya sama adegan di Merantau waktu Iko nusuk lawannya pake sebilah bambu panjang pas lompat dari sebelah gedung. Memang adegannya beda banget, tapi rasa nyerinya hampir sama. Menghantam tembok sama tertusuk bambu, pilih mana? Haha..

Waktu kliyengan di koridor, tiba-tiba Andi muncul dan nyeret Rama masuk ke sebuah ruangan. Teka-teki hubungan antara Andi dan Rama pun terkuak di sini. Dan tebakan saya.. salah total! Hahaha.. :lol:

Oke.. tibalah di bagian Rama berhadapan dengan Mad Dog. Seru, sih.. tapi scene fighting favorit saya tetep waktu Rama ngabisin belasan orang di koridor itu. Endingnya? Hmm.. ga cukup surprise buat saya, masih bisa ketebak, meski ketebaknya di bagian-bagian akhir juga, tapi ga cukup dahsyat untuk bisa jadi twist buat saya :grin:

Seperti yang saya bilang di awal, saran saya waktu nonton film ini, siapkan kuda-kuda dan suara. Kenapa? Karena waktu lihat scene fighting, kalau Anda normal, pasti ga tahan untuk ikut gerakin kaki dan tangan, itulah yang terjadi dengan saya. Waktu Rama pamer skill fightingnya, tangan saya rasanya pengen ikut gerak dan mempraktekkannya. Kalo suara.. jelas lah.. nonton film ini, Anda wajib teriak! Ya, teriak yang seru, asik, bukan teriak karena ketakutan atau ngeri liat darah yang muncrat di mana-mana. Kalo ga kuat lihat sayatan, tusukan dan darah, lebih baik Anda keluar dan tidak mengganggu orang di sebelah Anda dengan rengekan dan teriakan ketakutan Anda. Haha..

Eh, tapi jangan salah, meski banyak adegan ngeri di film ini, menurut saya masih cantik dan estetik kalo dibandingkan dengan SAW. Haha.. yaiyalah.. Yang penggemar SAW pasti menganggap film ini gak ada apa-apanya. Percaya deh, lihat adegan di film ini gak akan bikin kamu mual, malah kamu pengen teriak dan lompat saking “senengnya” (???) :lol:

Nonton sendiri? Gak usah khawatir, kamu bisa teriak dan bertepuk tangan bareng penonton seisi teater. Sepanjang sejarah saya nonton film di bioskop, baru kali ini saya lihat penonton seekspresif itu, teriak bareng, tepuk tangan bareng. Bahkan kalo pas gak ada seorang pun yang teriak selain saya, itu gak jadi soal. Haha..

Oh, ada sih film yang penontonnya juga cukup ekspresif, waktu saya nonton film “Babi Buta ingin Terbang” yang diputar di opening JAFF 2009 di Yogyakarta. Waktu itu penontonnya nyanyi bareng lagu terkenal yang sering disenandungkan oleh salah satu pemeran di film itu.

Kalo kata temen saya, film ini gak kasih kesempatan dia untuk bernapas karena adegan-adegannya yang superb, rasanya itu tidak berlebihan. Film ini nyatanya memang cukup memompa adrenalin, bukan karena dikejar-kejar zombie atau pembunuh berantai, tapi lebih pada karena koreografi actionnya yang gila, yang membuat kita berteriak dan bertepuk tangan karena durasi fightingnya yang kontinyu dan tidak habis-habis.

Well.. karena dari tadi saya terus memuji kehebatan film ini, bukan berarti The Raid adalah film yang sempurna. Justru, menurut saya film ini kurang “utuh”. Kalo sekedar dilihat dari aksi fightingnya, saya angkat topi dan kasih nilai 9 lah. Tapi kalo untuk keseluruhan film, rasanya masih ada bagian yang kurang. Dialog, akting beberapa pemeran dan.. yup, cerita!

Menonton The Raid ibarat menonton sebuah demo ekskul bela diri di sekolah waktu MOS, atau simulasi penyerbuan anggota SWAT, dilengkapi dengan tambahan efek yang luar biasa! Tapi ya cuma itu, jalinan ceritanya kurang diprioritaskan dan hanya menonjolkan adegan perkelahian semata. Itulah yang saya rasakan waktu nonton film ini. Tidak begitu disibukkan dengan jalan cerita dan lebih didirect untuk menonton aksi fighting para pemainnya yang luar biasa.

Saya tidak bilang The Raid adalah film yang buruk, tidak sama sekali, justru saya sangat merekomendasikan film ini, terutama bagi penggila film action, martial art lover, atau yang sekedar mencari hiburan karena habis diputusin pacar :) *saya tidak masuk kategori terakhir*

Film yang mungkin membuat sebagian orang berteriak ketakutan ini menurut saya sangat amat menghibur, meski yang Anda saksikan di sepanjang film ini adalah adegan bunuh-bunuhan, Anda tidak akan berpikir “Gila, tega banget nggorok leher orang pake pecahan lampu”. Anda hanya ingin berteriak waktu menyaksikan betapa alotnya menumbangkan puluhan lawan yang tidak ada habisnya.

The Raid bukan film buruk, hanya saja saya merasa film ini kurang utuh. Kalau dibandingkan dengan Merantau, menurut saya lebih utuh Merantau, meski berantemnya The Raid ini 3 kali lebih keras dan lebih seru. Film ini dijamin akan menuntaskan hasrat penggila film action. Setelah nonton The Raid, seperti yang dibilang teman saya, film-film action Hollywood mah cuma numpang lewat doang, ga ada ada apa-apanya.

Oke.. jadi berapa degan yang saya berikan untuk film ini? Dari 5 degan, saya kasih 4 degan untuk The Raid. Almost perfect, cuma kurang kuat di ceritanya aja. Tapi tetep highly recommended! ;)

Note: saya suka banget sama Donny Alamsyah di film ini, keliatan laki banget #abaikan meski kayaknya dia pake stuntman waktu fighting sama Yayan :p

4 responses to “Nonton The Raid? Siapkan Kuda-kuda dan Suara

  1. ndrew85 March 30, 2012 at 3:22 am

    Pngen nnton, nunggu donlotannya ja ah. ;p

    • meliamex March 30, 2012 at 3:48 am

      Wah.. kurang seru kalo ga nonton di bioskop.. Film2 begini ini wajibnya nonton di bioskop..
      Sekalian, menghargai karya dan kerja keras sineasnya lah.. Demi kemajuan perfilman Indonesia juga ;)

  2. Gusti Aisyah Putri July 4, 2012 at 11:24 pm

    Review-mu Mbaaaaaaaaaaaaaaak….

    Walaupun penuh spoiler yang mematikan, tapi tetap asyik untuk dikunyah XD

    • meliamex July 5, 2012 at 3:57 am

      Hahaha.. ini memang bukan review.. aku ga pernah mau disebut tulisanku review film, krn ga semudah itu bikin review..
      ini cuma tulisan suka2, suka2 aku mau kasih spoiler, hahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 143 other followers

%d bloggers like this: