kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Komik, Kartun dan Gaya Bahasa Anak


Setelah sekian lama, akhirnya hari ini saya  kembali menyentuh komik. Dan pilihan jatuh pada Kobo Chan yang merupakan salah satu komik favorit saya semasa kecil. Tapi atmosfer yang saya rasakan ketika membacanya tidak sama dengan belasan tahun lalu. Ada yang berbeda dengan Kobo Chan versi “New” ini.

Berniat mencari edisi lama cetakan tahun 90an, saya berkeliling Wilis. Tapi yang saya dapat cuma keringat. Terpaksa beralih ke toko buku dengan berbekal harapan mereka masih menjual edisi lama. Ah, memang tidak jodoh, yang saya temukan justru komik tipis dengan judul “New Kobo Chan” dan cover warna-warni yang lebih glossy. Rasanya Kobo Chan dulu tak setipis ini. Tapi apa boleh buat, daripada pulang dengan tangan kosong..

Kenapa harus beli? Kenapa tidak pinjam di persewaan komik atau download versi digitalnya saja? Jujur, alasan kenapa saya ngotot  membaca komik old school ini karena ingin kembali merasakan atmosfer belasan tahun lalu, dan semua itu tidak bisa saya dapatkan di komik versi digital. Ada perbedaan mendasar antara komik edisi cetak dan versi digital, yang kadang tidak bisa dijelaskan dengan rangkaian kata. Semacam tingkat kenyamanan yang didapat ketika membaca komik atau buku dalam bentuk fisik.

Lantas, kenapa tidak pinjam di persewaaan komik? Dengan uang senilai harga komik baru pasti sudah bisa membaca lebih dari satu edisi. Ya karena alasan saya sekedar untuk mengenang kembali masa-masa kecil dahulu, bukan ingin mencari bacaan pengisi waktu luang. Menyewa berarti meminjam, tidak bisa memiliki. Dengan kata lain, saya hanya meminjam kenangan masa kecil , bukan memilikinya. Ah, ribet juga, ya omongan saya? :grin:

Karena memang tidak bermaksud mengoleksi, saya sengaja hanya membeli satu dan tidak berniat untuk membelinya lagi. Komik ini sebagai penanda saja, sekedar benda yang mengingatkan masa kecil. Tapi kalau suatu saat ingin membaca kisah-kisah Kobo lainnya, saya bisa menyewa edisi lamanya, yang jelas bukan dengan cara membeli. Biar komik ini jadi satu-satunya, eksklusif. Aihh..

Kembali ke soal komik. Minggu pagi setelah mencuci baju saya sempatkan membaca Kobo Chan. Meski judulnya new, tapi tidak ada perbedaan dari segi karakternya, masih sama seperti belasan tahun lalu. Oh, ya.. kenapa saya langsung memilih edisi 5? Karena komik ini bukan cerita bersambung yang harus selalu dibaca berurutan. Setiap edisi bisa dibaca tanpa harus membaca edisi sebelumnya, ceritanya berdiri sendiri dan hanya berkisah mengenai kehidupan sehari-hari Kobo dan keluarganya.

Diantara 19 edisi kenapa saya memilih nomor 5? Karena covernya! Haha.. serius! Saya memang memilih edisi ini karena covernya yang eye catching. Salah satu alasan saya menyukai komik ini karena nuansa Jepangnya yang kental, dan itu saya dapatkan dari cover ini. Seorang Kakek menemani cucunya menangkap ikan hias, lengkap dengan yukata yang mereka kenakan. Biasanya permainan ini bisa ditemui di matsuri atau festival.

Oke.. sekarang dari segi konten. Saya tidak menemukan perbedaan berarti dari konten New Kobo Chan dan edisi lamanya dahulu. Masih mengangkat kisah sehari-sehari yang sederhana, meski saya merasakan sedikit sentuhan modern. Maklum, komik ini diterbitkan tahun 2005 di Jepang, di mana saat itu teknologi internet sudah ada, jadi tidak heran jika Masashi Ueda menambahkan elemen seperti toko online dalam salah satu ceritanya. Yang tidak saya temui di New Kobo Chan hanyalah penjual ubi bakar keliling! Haha.. saya rindu dengan tokoh cameo ini. Salah satu yang paling saya ingat dari komik ini adalah penjual ubi bakar di malam hari. Eh, ini Kobo Chan apa Bakabon, ya? Lupa :lol:

Kalau dari segi konten tidak ada masalah, maka lain lagi dari segi bahasa. Jujur, saya tidak terlalu nyaman membaca edisi baru ini, berbeda ketika saya membaca edisi lamanya dahulu. Hal yang membuat saya tidak nyaman adalah bahasanya. Kobo Chan edisi baru ini terkesan lebih “gaul” meski tidak bisa dibilang menggunakan bahasa gaul.

Bahasa yang digunakan Kobo (dan kadang juga anggota keluarga lain) saat ini tidak seformal dahulu. Seingat saya, dulu waktu saya masih duduk di bangku SD-SMP, bahasa yang digunakan di komik ini terbilang formal dan sopan. Kobo selalu menggunakan kata “tidak” daripada “nggak”.  Begitu juga dengan Ibu, Ayah, Kakek dan Nenek. Tokoh-tokoh tambahan lain juga seperti itu. Tapi di edisi baru ini saya sering menemukan bukan hanya kata “nggak” tetapi juga kata-kata lain yang bentuknya tidak formal.

Bahasa yang digunakan saat ini terkesan lebih modern, gaul, santai dan tidak formal. Saya tidak pernah menemukan Kobo mengucapkan kalimat “udahan, ah!” atau “malu-maluin, ih!” di edisi lama. Tapi saya kerap menemukan kalimat itu dan juga bentuk serupa lainnya di edisi baru ini. Di edisi lama mungkin dua kalimat itu akan menjadi “sudah, ah!” dan “memalukan”.

Tidak hanya Kobo, beberapa tokoh dewasa pun mengalami ketidak-konsistenan dalam pemilihan gaya bahasa. Kadang menggunakan “tidak” tapi selang beberapa adegan dalam cerita yang sama berganti menggunakan “nggak”. Kalau penggunaannya didasarkan pada subyek mungkin masih enak didengar, tapi ini subyeknya sama. Kata “tidak” dan “nggak” itu ditujukan untuk diri sendiri. Biasanya kata yang lebih formal atau sopan digunakan ketika berbicara dengan orang lain, dan sebaliknya, ketika ditujukan untuk diri sendiri menggunakan gaya bahasa yang lebih santai.

Membaca Kobo  Chan edisi baru ini mengingatkan saya ketika melihat iklan tayangan sinetron anak di televisi, yang isinya belum tentu sesuai dengan perkembangan mereka. Tapi hanya sebatas pemilihan gaya bahasa, bukan konten. Kalau dari segi konten, saya tidak ada masalah dengan edisi baru maupun edisi lama Kobo Chan.

Dan saya tersadar, bahwa pemilihan gaya bahasa ini bukan hanya bisa ditemui di komik. Serial anime atau kartun Jepang yang dialihbahasakan juga mengalami hal serupa. Kadang kalau tidak bangun kesiangan dan tidak lupa, saya masih menonton Doraemon di Minggu pagi, termasuk hari ini. Adakah yang menyadari bahwa gaya bahasa Nobita dan kawan-kawan berbeda dengan beberapa tahun lalu? Yup! Tayangan ini juga sudah mulai menggunakan gaya bahasa modern seperti halnya komik Kobo Chan.

Yang paling sederhana saja, kata “tidak” diganti dengan “enggak”. Simple, remeh, tapi bagi saya menimbulkan ketidaknyamanan. Sama ketika membaca gaya bahasa yang digunakan Kobo Chan di komik edisi baru.

Komik dan tayangan televisi yang menyesuaikan dengan gaya bahasa anak sekarang atau gaya bahasa anak sekarang yang menyesuaikan dengan komik dan tayangan televisi? Ah, serasa memikirkan mana yang lebih dulu, telur atau ayam.

Bisa jadi komik dan tayangan televisi menyesuaikan dengan perkembangan gaya bahasa anak-anak saat ini, bisa juga sebaliknya, anak-anak menyesuaikan gaya bahasa mereka dengan komik atau tayangan yang mereka baca atau tonton. Tapi sepertinya kemungkinan lebih besar pada opsi pertama, di mana pihak publisher yang menyesuaikan dengan perkembangan jaman.

Apapun jawaban yang benar, yang pasti ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi saya. Saya tidak tahu pasti apakah hal ini akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan bahasa anak-anak, tapi saya tidak bisa menampik kemungkinan itu. Anak-anak sangat cepat mengimitasi sesuatu yang mereka lihat dan dengar, termasuk bahasa. Apa jadinya kalau mereka selalu melihat atau membaca sesuatu dengan bahasa acak-acakan? Tentu mereka akan mengadopsinya, cepat atau lambat.

Tidak lantas anak-anak harus menggunakan bahasa yang formal di setiap kondisi. Saya juga tidak bisa membayangkan kalau anak-anak berbicara sangat formal dengan sesama temannya. Setidaknya mereka bisa membedakan siapa orang yang mereka ajak bicara, apakah teman sebaya atau orang yang lebih dewasa, itu sudah cukup.

Tapi komik ataupun tayangan televisi tidak selalu menyadari hal ini. Bisa saja seorang tokoh di film atau komik menggunakan bahasa yang tidak formal pada orang yang lebih tua. Kalau begini kan jadi runyam.. Apalagi kalau tidak disertai dengan “koreksi” yang menyatakan bahwa yang dilakukannya salah. Misalnya, dalam sebuah tayangan si A menggunakan bahasa informal pada gurunya, tapi Kakak atau temannya berkata bahwa bahasa yang digunakannya tidak sopan, dan sebagainya. Kalau ini beda perkara, justru anak akan jauh lebih mengerti.

Lantas kalau sudah begini siapa yang bertanggung jawab? Bukan bermaksud menyalahkan, tapi saya sedikit gemas dengan translator dan editor komik, atau penerjemah untuk tayangan film kartun. Menurut saya, mereka memiliki tanggung jawab yang tidak kecil dalam menyampaikan konten suatu tayangan atau komik, bukan hanya dari segi isi tetapi juga pemilihan bahasa yang tidak kalah penting. Untuk bahasan ini saya khususkan pada komik dan tayangan kartun Jepang saja, ya..

Saya yakin bahwa untuk kasus New Kobo Chan yang sudah dialihbahasakan ini, translator dan editor lah yang bertanggung jawab, tanpa harus menyeret nama Masashi Ueda sebagai manga artistnya. Memang, saya belum melihat Kobo Chan edisi Jepang, apakah gaya bahasa yang digunakan sama dengan edisi terjemahan bahasa Indonesia. Tapi saya yakin Ueda sudah mempertimbangkan pemilihan bahasa dengan sebaik mungkin.

Di Jepang sendiri sebenarnya ada tingkatan bahasa, hampir sama seperti orang Jawa yang memiliki bahasa krama (bahasa Jawa halus) dan ngoko (bahasa Jawa kasar). Bahasa krama ini digunakan ketika berbicara dengan orang lain yang lebih tua, sedangan bahasa ngoko digunakan untuk berbicara pada orang yang lebih muda atau seumuran. Begitu juga dengan bahasa Jepang, mereka mengenal bahasa formal atau sopan dan bahasa yang lebih informal, saya tidak tahu pasti istilahnya.

Yang sederhana saja, orang Jepang memiliki beberapa jenis kata untuk “aku”, yaitu “watashi”, “boku” dan “ore”. Watashi untuk formal, boku lebih informal atau seumuran, dan ore cenderung kasar (biasanya diucapkan oleh laki-laki). Sama dengan bahasa Jawa, kata “kamu” bisa diungkapkan dengan “awakmu”, “sampean”, atau “panjenengan”. “ Awakmu” atau beberapa daerah menggunakan “koen” terkesan lebih kasar, “sampean” lebih sopan dan “panjenengan” adalah bahasa yang paling halus.

Orang Jepang bisa dibilang cukup “straight” untuk masalah bahasa. Bahkan pelayan toko atau restoran harus menggunakan bahasa yang sangat sopan untuk pelanggannya, yang kadang kesannya “merendahkan” diri (dalam artian positif). Bahasa Jawa pun tidak jauh berbeda, ada jenis bahasa krama yang dimaksudkan untuk “merendahkan” diri dan “meninggikan” orang lain. Saya tidak begitu menguasai bahasa krama ini :mrgeen:

Selama masa kursus bahasa Jepang saya yang singkat, saya sadar bahwa belajar bahasa Jepang harus memiliki keteguhan yang kuat. Ada banyak kata yang harus dipelajari, termasuk bahasa formal. Untuk menyebut kata “siapa” saja ada jenis yang formal dan tidak formal. “Dare” untuk informal dan “Donata” untuk formal. Begitu juga dengan kata “mana”, “ke mana”, “di mana” dan “dari mana” yang disebut “doko” untuk informal dan “dochira” untuk formal. Ini baru sedikit contoh, masih banyak kata lain yang belum saya pelajari.

Bahasa formal ini biasanya ditujukan untuk orang yang lebih tua atau digunakan ketika berbicara dengan orang yang baru saja dikenal. Meski selama ini hanya mengetahui dari film dan tentor bahasa saya, tapi saya yakin bahwa orang-orang Jepang benar-benar mempraktekkan perbedaan gaya bahasa (formal dan informal) dalam kehidupan mereka.

Hal ini jadi ironis ketika saya melihat translator dan editor yang seenaknya menggunakan pemilihan bahasa pada komik. Bukan semata-mata soal bahasa sopan, formal dan informal, tetapi juga bahasa sehari-hari yang saat ini digunakan anak-anak. Mungkin alasan mereka menggunakan bahasa yang lebih modern adalah untuk menyesuaikan dengan perkembangan anak-anak saat ini, tapi saya berpikir alangkah baiknya jika mereka tetap berada di jalur dan pada akhirnya mengajak anak-anak mengikuti jalur mereka, bukan malah ikut terseret di jalur yang baru.

Menurut saya editor adalah ujung tombak, ia adalah orang yang bertanggung jawab memeriksa tatanan bahasa sebuah tulisan (buku, komik, artikel, dll) sebelum naik cetak dan dipublikasikan dan pada akhirnya akan dibaca banyak orang. Khusus untuk bacaan anak, peran editor sangat amat penting. Dulu semasa saya masih bekerja sebagai writer dan editor buku anak, saya selalu berusaha untuk berhati-hati dan tidak ceroboh dalam pemilihan kata. Bahkan saya selalu menghindari kata “nggak” dan “banget” dalam tulisan saya. Meski pada kenyataannya anak-anak akan menggunakan bahasa yang lebih santai dan tidak formal, tapi saya merasa berkewajiban memperkenalkan bahasa formal, sebagai dasar atau pedoman mereka.

Tapi untuk kasus komik ini juga masih rancu, karna saya tidak tahu segmen target komik ini siapa. Kalau toh memang segmennya untuk anak-anak, ya seharusnya lebih berhati-hati dalam pemilihan kata, tapi kalau semua umur.. jadi agak dilema juga. Ah, sebenarnya saya tidak berkapasitas untuk mengatakan apakah pemilihan bahasa komik dan tayangan kartun ini benar atau salah. Hanya saja saya merasa kurang nyaman. Saya lebih memilih gaya bahasa komik dan kartun di masa kecil saya dahulu, old fashion, konservatif, tapi “respect” ;)

About these ads

2 responses to “Komik, Kartun dan Gaya Bahasa Anak

  1. rikesyamsiah September 10, 2012 at 4:05 am

    I love the last words, mbak Mel.. “Saya lebih memilih gaya bahasa komik dan kartun di masa kecil saya dahulu, old fashion, konservatif, tapi “respect”” :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers

%d bloggers like this: