kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Pegadaian dan Slogan “Mematikan”


Mengatasi masalah tanpa masalah, aahh.. yang benar.????

Bukannya malah mengatasi masalah dengan menambah masalah..?? Gimana ga masalah kalo semua diselesaikan dengan jalan berhutang. Ya.. bukannya berhutang itu ga boleh dan dosa, tapi yang saya permasalahkan di sini adalah slogan itu, yang menurut saya mengandung provokasi dan bisa jadi menjerumuskan. Pegadaian mengajak masyarakat untuk berhutang, apakah ini akan menyejahterakan rakyat..??

Jaman sekarang kalau mau dapat uang dengan cara cepat ya dengan berhutang, apakah itu salah..?? Tidak juga, karena setiap orang punya keterbatasan financial masing-masing. Ada beberapa cara berhutang yang lazim kita kenal.

Pertama, hutang ke temen, haha.. ini adalah senjata utama kalo udah kepepet di akhir bulan.

Kedua, hutang ke saudara, bisa ortu, kakak, adik, tante, om, kakek, nenek, buyut, ah… pokoknya siapa aja yang duitnya bisa dipinjem🙂.

Ketiga, tetangga, banyak yang beranggapan kalo tetangga itu lebih dari saudara, ada apa-apa yang tahu pertama biasanya tetangga, bukan saudara (ini khusus yg saudaranya jauh).

Keempat, bank titil (lintah darat), hutang ke mereka bisa bikin senewen karena biasanya bunganya selangit. Tapi saya juga ga tau system pembayarannya seperti apa🙂

Kelima, Bank kredit, semacam BPR, KSP, KSU, atau apalah istilahnya, tidak melulu menerima peminjaman untuk modal usaha, karena sepertinya untuk bayar cicilan sepeda atau rumah pun, mereka juga mau memberi, asal ada jaminan BPKB atau surat tanah mungkin. Kalo ingin berhutang di tempat-tempat ini, modalnya harus gede juga, karena kita harus memberikan jaminan yang kongkrit, tidak sekedar ikrar secara lisan bahwa hutang akan dilunasi awal bulan setelah gajian, seperti saat kita hutang ke teman, saudara, atau tetangga.

Keenam, yaitu pegadaian. Ini adalah senjata mumpuni untuk kelas-kelas ekonomi menengah ke bawah, karena jaminan untuk mendapatkan pinjaman uang pun tak perlu sampai meninggalkan surat tanah atau BPKB. Cukup dengan memberikan barang layak pakai gadai yang ada di rumah (jaminan benda bergerak). Barang ini bermacam-macam, mulai dari barang elektronik seperti televisi, VCD/DVD player, komputer, laptop, bahkan handphone murahan pun bisa (dgn catatan semakin murah harga jual barang tsb, semakin sedikit pula pinjaman uang yang diperoleh), ada juga perlengkapan rumah tangga seperti mixer, microwave, juga barang-barang sandang seperti kain, bed cover, atau bahkan jarik yang ternyata juga laku dan dihargai, wow..!! Yang umum biasanya sih gadai emas dan perhiasan.

Sistem pembayaran di pegadaian yang saya tahu dari cerita beberapa orang adalah seperti ini:

Misal, saya mau menggadaikan hape jadul yang mungkin harga jualnya cuma cukup untuk makan sebulan. Petugas pegadaian akan menaksir berapa harga yang pantas untuk hape saya itu. Dan, uang pun sampai di tangan saya yang sudah gatal sedari tadi.

Cara melunasi

Saya bisa melunasi hutang atau menebus kembali barang yang digadaikan setiap saat sebelum jatuh tempo pelunasan. Pelunasan pinjaman dan sewa modalnya (bunga) dibayarkan langsung ke kasir disertai surat gadainya. Soal besar bunganya berapa, saya juga kurang tahu🙂. Tapi konon katanya cukup besar dibanding dengan bank-bank kredit. Loh.. koq bisa gitu..?? Karena, menurut hukum ekonomi resiko yg ditanggung pegadaian lebih besar dari pinjaman di bank. Prosesnya lebih instan dan tidak memerlukan banyak data, asal ada barang layak gadai, uang pun di tangan. Jadi sudah sewajarnya jika  bunga pegadaian lebih besar dibandingkan bank.

Ga punya duit untuk melunasi

Duuhh.. udah jatuh tempo tapi masih belum ada duit, gimana biar barang saya ga hilang dan dilelang..?? Daster pemberian mantan calon pacar itu punya seribu kenangan yang begitu berarti, ergh..🙂 Tenang.. kita masih bisa memperpanjang batas waktu pinjaman, yang juga berarti memperpanjang waktu hutang dan bunga, pastinya🙂 Tapi.. perpanjangan ini cuma untuk pembayaran sewa modal (bunga) dari uang yang dipinjam, tanpa keharusan membayar pokok pinjamannya. Bayar bunga doank, kalo orang-orang di daerah saya bilangnya “anakan”. Nah, kalo ga ngajuin perpanjangan atau ga dilunasi sebelum jatuh tempo, siap-siap kehilangan barang berharga kita.

Oke.. sekian info singkat tentang pegadaian, solusi yang paling masuk akal untuk masyarakat menengah ke bawah. Sekarang kita kembali lagi ke soal slogan pegadaian.

Saya koq merasa geli, risih, janggal, dan aneh dengan slogan ini, ya..?? Apakah anda juga merasa demikian..?? Mana bisa hutang mengatasi masalah..?? Mungkin memang pegadaian merupakan cara instant untuk menyelesaikan suatu permasalahan, tapi menurut saya itu toh hanya menunda saja, bahkan menimbulkan masalah baru, yaitu pelunasan hutang beserta bunganya. Well.. sebenarnya ini bukan hanya berlaku untuk pegadaian saja, melainkan juga untuk bank-bank kredit lainnya yang memberlakukan bunga pinjaman. Tapi.. saya sadar bahwa pegadaian memang bisa membantu masyarakat yang membutuhkan dengan cara yang cukup memudahkan. Dan, saya tekankan di sini bahwa program pemerintah dengan mengadakan pegadaian juga tidak sepenuhnya salah, hanya saja saya tergangggu dengan slogannya🙂. Kenapa harus membawa-bawa masalah sih..??

“Mengatasi masalah tanpa masalah” koq terkesan memprovokasi masyarakat agar berbondong-bondong ke pegadaian jika ingin masalahnya selesai. Padahal masalah yang sesungguhnya tidak lantas akan selesai begitu saja jika mereka menggadaikan barangnya, lalu mengulur waktu perpanjangan batas waktu pelunasan kalau-kalau mereka masih belum mempunyai uang untuk menebusnya. Penyebab utama dari terciptanya sistem pinjaman berbunga ini tentu saja tingkat ekonomi serta penghasilan masyarakat yang tidak cukup tinggi, sehingga keterbatasan ini membuat mereka mau tidak mau menyelesaikannya dengan cara berhutang. Coba kalo tingkat pendapatan serta kesejahteraan masyarakat sudah banyak yang terjamin, mereka ga perlu lagi hutang sana-sini untuk membiayai hidupnya.

Ada baiknya jika pemerintah tidak hanya menggalakkan program pinjaman berbunga lewat pegadaian saja, melainkan juga terus berupaya meningkatkan ekonomi masyarakatnya, seperti menyediakan lapangan pekerjaan.

Kembali lagi soal slogan yang menurut saya memprovokasi itu.. Karena terkesan memudahkan (dan memang benar memudahkan), pegadaian bisa jadi jalan pertama kalo kita lagi butuh uang yang bukan seribu-dua ribu. Hal ini bisa membentuk mindset “menggampangkan”. Biaya sekolah anak belum terbayar, ah.. gampang, tinggal gadai kulkas. Pemilik kontrakan ngamuk-ngamuk karena cicilan nunggak 3 bulan, ah.. gampang, tinggal gadai sepeda motor. Tagihan listrik belum dibayar, ah.. gampang, tinggal gadai cincin kawin. Ongkos sekolah anak habis, ah.. gampang, tinggal gadai mixer, toaster, dan blender. Busyeeettt.. lama-lama barang di rumah bisa abis semua..!! Dan jangan lupa juga untuk membayar bunganya..!! Bukannya kerja keras nyari penghasilan tambahan, yang ada malah dikit-dikit gadai barang. Saya khawatir ini akan membuat mental masyarakat kita jadi bobrok dan kita jadi bangsa penghutang (bukannya memang sekarang sudah begitu?).

Ya.. saya tahu, siapa sih yang seumur hidupnya ga pernah hutang..?? Namanya juga manusia, pasti pernah lah ngalamin, termasuk yang nulis ini. Tapi saya prihatin kalau pemerintah tidak lantas membarengi dengan upaya peningkatan pendapatan dan ekonomi masyarakatnya, sehingga tidak menjadikan Indonesia sebagai bangsa dan masyarakat penghutang.

Sekian celoteh saya tentang pegadaian dan slogannya yang mematikan. Apakah saya berlebihan, karena sebenarnya ini hanyalah soal bahasa iklan, bahasa yang “menjual”.. It’s okay, setiap orang memiliki hak untuk beropini, bukan..??🙂

Pertanyaannya, bisakah slogan pegadaian diganti..??🙂

8 responses to “Pegadaian dan Slogan “Mematikan”

  1. siswa yang tertolong May 5, 2011 at 2:00 pm

    makasi banyak yaaa tugasku selesai !!!
    25 jempol untuk kamu !

  2. Mimi June 7, 2011 at 6:38 pm

    yaah namanya juga slogan pemasaran mbak🙂
    Mau sharing nih, karena mbak melihatnya dari sudut orang berhutang tapi tidak bisa bayar (non-perform atau konsumtif). Bagaimana jika dilihat dari sudut orang berhutang tapi bisa bayar? (perform dan produktif) Jelas mengatasi masalah tanpa masalah lebih mengena maksudnya.

    Saya punya tetangga nih, jualan baju di pasar. Namanya juga pedagang kecil, tiap ada rezeki dia nabung dalam bentuk emas. Nah begitu tiba masa musiman seperti lebaran (bulan puasa) seperti yg kita ketahui perlengkapan muslim (baju koko, mukena, sajadah, peci, dll) PASTI akan laku keras di pasaran. Aji mumpung, tetangga saya ini pengen menambah stock & koleksi baju muslim di kios-nya. Pikirannya simpel aja : jika stock banyak + koleksi yang beragam, konsumen akan senang berbelanja di kiosnya karena banyak pilihan. Dan juga pembelian dalam jumlah besar di grosiran pasti lebih murah sehingga dia bisa menjual ke konsumen dengan harga terbaik (murah). Untung didepan mata.

    Tapi tentu semua itu harus pake modal kan?
    Pertama, hutang ke temen : temen gak punya duit.
    Kedua, hutang ke saudara : dikasi cuman 50rb, bisa beli apa?
    Ketiga, tetangga : tetangga belum dapat THR, lagian tetangga pasti lebih mentingin beli baju baru buat anaknya kan?
    Keempat, bank titil (lintah darat) : weww seram deh… bukan solusi
    Kelima, Bank kredit : apa yang mau dijaminkan? Tanah gak punya, rumah masih ngontrak, motor udah butut, pedagang pasar mana punya SIUP, SITU, NPWP, Lap.Neraca, dll

    Trus mo pinjam kemana lagi? Ke mesjid, kartu kredit, atau lotere?

    Setiap tahun tetangga saya tersebut pasti menggadaikan emas-nya ke kantor pegadaian begitu menjelang Ramadhan. Langsung dapat dana segar. Diputarnya-lah uang tersebut buat nambah dagangannya, mumpung baju muslim lagi laku keras di pasaran. Usai lebaran dia udah bisa nebus balik emas-nya tersebut. BUnga-nya? gak besar dan yang jelas gak ada apa-apanya lah dengan laba yang udah didapat🙂

    See? bukankah itu bukti menyelesaikan masalah tanpa masalah? Peningkatan ekonomi masyarakat kan?

    Well, saya setuju dengan posting anda kali ini.. berhutang tanpa perhitungan memang bisa menggerogoti keuangan + kehidupan kita. Pegadaian hanyalah salah satu opsi buat mendapatkan modal, sama saja dengan kartu kredit, pinjaman bank, dll. Yang patut disesali itu justru bukan pegadaian-nya, tapi jiwa kewirausahaan masyarakat kita yang masih lemah. Kita dari kecil memang tidak pernah dididik buat mandiri, selalu konsumtif. Pemerintah juga gagal dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

    ok sekian dulu sharingnya, mohon maaf kalo ada salah kata🙂

    • meliamex June 8, 2011 at 5:28 am

      Hai, Mimi.. slm kenal..
      Yup.. apa yg Mimi sampaikan mmg ada benarnya, itu khusus u/ orang2 yg memang memanfaatkan peluang pegadaian u/ mengembangkan usahanya.. Kalau yg saya tulis di postingan kali ini lbh ke soal “menggampangkan”, mindset orang2 yg spt kata Mimi tadi, berhutang tanpa perhitungan..

      Kalau soal wirausaha, saya setuju, toh itu jg demi menyambung hidup mereka.. yg saya tekankan di sini adalah impactnya pd masy ekonomi bawah dan jg saya kurang sreg sama slogannya itu, teteeuupp..:mrgreen:

      Ndak tau knp, saya ga suka aja kalo slogannya bawa2 “masalah” seolah menawarkan penyelesaian masalah dgn mudah. Kayaknya hampir sm dgn slogan2 asuransi, ya? hehe.. maklum, saya bukan orang marketing..

      Yg pasti, harapan saya dan kita semua, pemerintah tidak hanya menggalakkan promosi pegadaian, tapi juga meningkatkan taraf ekonomi masyarakatnya dgn cara menyediakan lapangan pekerjaan, atau yg lbh efektif, memberikan peluang sebesar2nya bagi masy u/ bs berwirausaha (kreditnya jgn dipersulit)😀

      Terima kasih sudah mampir di blog saya..🙂

  3. mario February 16, 2013 at 4:54 pm

    bagi saya pribadi yg biasa menggunakan jasa pegadaian …saya rasa ga ada masalah…malahan pegadaian banyak membantu selama ini..meskipun bbrp barang saya juga akhirnya ga bisa ketebus karena ga punya uang..heheheh…tapi paling tidak kita ga berhutang budi sama orang lain jika kita pinjam uang dari orang lain..

    • meliamex February 18, 2013 at 1:45 am

      Mmg masalah ini subyektif, ya, Mas..
      Tergantung kebutuhan masing2..
      Saya cm kurang sreg aja sm slogannya itu..
      Well.. kembali ke pribadi masing2, sih..😀
      Anyway, thanks for comment..
      Terima kasih sudah mampir..😉

  4. Bali Tour August 22, 2013 at 11:13 pm

    memecahkan masalah dengan menjual barang berharga itu akan malah menambah masalah
    hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: