kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Tetangga 1/4 Abad


Saat rumahmu kecurian, siapa yang pertama kali menolong..??

Saat kau sendirian di rumah, siapa yang sering mengecek keadaanmu..??

Saat kau meninggalkan rumah dalam keadaan kosong, siapa orang yang kau titipi untuk menjaganya..??

Saat kau sakit di rumah, siapa yang sering memperhatikan keadaanmu..??

Saat kau kehabisan gula dan membutuhkannya segera, siapa orang pertama yang kau mintai sejumput gula sebelum membelinya di toko..??

Saat genteng rumahmu bocor dan tidak ada seorang pun di rumah, siapa orang pertama yang memberikan bantuan..??

Jawabannya adalah tetangga, ya.. tetangga, bukan saudara. Tetangga adalah orang terdekat kita, orang yang kita jumpai setiap hari, orang yang bahkan melebihi saudara sendiri. Tetangga adalah orang pertama yang kita hubungi saat terjadi sesuatu di rumah. Mulai dari hal-hal sepele sampai persoalan yang bertele-tele, tetangga selalu ada untuk kita. Lalu, saat sesuatu tengah menimpa tetanggamu, apa lagi yang bisa merisaukan hatimu selain keadaannya.

Sepertinya saya akan kehilangan tetangga saya. Sedih.. bahkan beberapa kali mata saya berkaca-kaca saat mengingatnya. Bukan.. tetangga saya itu bukan seorang cowok teman masa kecil yang seiring berjalannya waktu kedekatan yang terjalin di antara kami menumbuhkan benang-benang asmara. Tatkala benang itu belum terajut sempurna, ia harus pergi dan meninggalkan semua. Lalu sampailah pada adegan di mana saya mengantarnya di depan rumah, ia berlalu dengan mobil melaju sambil melambaikan tangan dan saya mengejarnya. Oh, gosh.. sinetron sekali.. dan bukan itu yang sedang terjadi.

Tetangga saya bukan lelaki impian masa kecil, ia hanya seorang Ibu dengan 4 orang anak, 3 orang diantaranya tinggal di luar kota. Beliau kini tinggal bersama putri dan seorang cucu setelah mendiang suaminya meninggal beberapa tahun lalu. Sedangkan saya tinggal dengan Nenek setelah Mbah Kung juga meninggal saat saya  kelas 2 SMP. Kami (keluarga nenek saya dan beliau) sudah lama bertetangga, bahkan sebelum saya terlahir di dunia. Kalau saya sendiri terhitung sejak masih dalam kandungan, sampai usia saya sekarang, ya.. ¼ abad, 25 tahun saya bertetangga dengan beliau.

Saya menghabiskan masa kecil dengan anak perempuan beliau yang selisih 2 tahun di bawah saya, sebut saja namanya Dinda. Kami biasa bermain masak-masakan dengan mainan Dinda yang memang banyak sekali jumlahnya, mungkin sampai 2 kresek besar. Kadang kami hanya bermain berdua, kadang juga bertiga bersama seorang tetangga sebelah rumah saya, yang biasa saya panggil Iyun. Tapi memang lebih sering berdua, karena perbedaan visi antara kami bertiga J Iyun beberapa kali sempat cek-cok dengan Dinda, biasa namanya juga anak kecil. Selesai bermain Dinda biasa meninggalkan saya dengan tumpukan mainan masak-masakannya yang kotor dan berserakan di mana-mana. Dengan santai dia melenggang masuk ke dalam rumahnya. Kontan saya kesal, marah, mainan itu pun saya lempar ke segala arah. Panci-pancian saya lempar ke pintu belakang rumahnya yang berada tepat di depan teras rumah saya, kompor plastik mini saya tendang ke samping rumah, lalu saya acak-acak isi dalam kresek hitam besar itu. Saya porak-porandakan seluruh isinya dan membiarkan dia yang membereskan semua kekacauan itu. Tapi harapan saya pupus sudah, karena bukan ia yang membereskannya, melainkan pembantu rumahnya. Kesal kwadrat!🙂

Kenakalan masa kecil yang indah..

Dinda kecil dibesarkan dengan segala kecukupan materi. Mendiang Ayahnya adalah seorang mantri terpandang di daerah kami. Ibunya juga aktif di kegiatan warga, PKK, rapat desa, Posyandu, sampai acara karnaval 17 Agustus di kecamatan. Saya ingat, dulu kami sering “bersaing” dalam urusan fashion, mulai dari pakaian sampai accecories yang selalu saling membandingkan satu sama lain, tidak mau kalah satu dengan lainnya. Ya..  kami masih ingusan🙂

Beranjak dewasa, kami mulai sibuk dengan dunia masing-masing, tak lagi ingat tentang mainan masak-masakan yang saya lempar dengan membabi buta, tak lagi ingat dengan persaingan fashion konyol semasa kecil. Kami sudah jarang menghabiskan waktu bersama meski masih sempat bertegur sapa sepulang sekolah. Kebiasaan saya yang tidak bisa diam membuat saya melakukan banyak hal dan secara tidak sengaja melibatkannya. Sembari menunggu ujian dan SPMB, saya banyak menghabiskan pagi di lapangan basket kompleks Pagas, haha.. bukan.. saya bukan main basket, hanya lempar-lempar bola semasuknya aja ke ring🙂 Dinda ikut ambil bagian dalam kegiatan pengisi waktu saya. Beberapa saat kami jadi dekat kembali, sering menghabiskan waktu bersama dengan banyak acara, meski visi saya masih belum sama dengannya. Basket, PS, latihan band untuk 17 Agustus, sampai acara ngeluyur ke Batu. Makan dan tidur juga kadang di rumahnya yang rasanya sudah seperti rumah sendiri. Ah.. rumahnya, sebentar lagi tak akan bisa masuk sembarangan ke dalamnya, tak bisa menengok ke dapur untuk mencicipi masakannya, tak bisa seenaknya menyelonjorkan kaki di atas karpet dan berteriak kencang sambil melenggok-lenggokkan badan mengikuti arah mobil di arena balap Play Station.

Mama

Saya bersyukur dibesarkan di lingkungan warga yang begitu hangat dan akrab. Nenek saya terkenal dengan panggilan “Mama Jahit” di lingkup RT kami, Dinda, Iyun, dan hampir semua teman masa kecil saya memanggil beliau dengan sebutan itu, bahkan tetangga saya yang sudah memiliki cucu pun sampai sekarang masih melakukannya. Saya memanggil Ibunya Dinda dengan sebutan Mama, Ibunya Iyun dengan sebutan Mi, bahkan saudara Ibunya Dinda juga saya panggil dengan sebutan yang sama. Kami sudah seperti saudara sendiri. Keluar-masuk rumah tak perlu ketuk pintu atau ucapkan salam, cukup langsung panggil nama yang bersangkutan sambil berjalan masuk ke dalam. Tidak sopan..?? Justru bagi kami inilah bentuk kedekatan yang nyata.

Rumah

Minggu siang yang mengejutkan. Mama Dinda datang ke rumah dengan mata berkaca-kaca. Dengan terbata-bata beliau menghambur ke pelukan Nenek saya. Berusaha bicara dengan isak tangis yang tertahan untuk mengabarkan perihal keadaan anaknya yang sedang koma. Beliau minta didoakan untuk kesembuhan anaknya. Nenek saya berusaha menghibur, matanya mungkin juga sudah berkaca-kaca karena saya dengar suaranya bergetar menahan sedih. “Iya, kudoakan, dia juga sudah seperti anakku sendiri.” Kurang lebih seperti itu ucapan Nenek saya.

Beberapa hari yang lalu saya mendengar kabar dari Iyun, tetangga sekaligus teman masa kecil yang sudah saya anggap seperti adik sendiri. Rumah Mama akan dijual untuk biaya rumah sakit anaknya. Deg..!! Saya terdiam, jantung saya berdegup kencang. Tidak pernah terlintas sedikitpun di benak saya tentang hal itu. Pertanyaan besarnya adalah.. ke mana beliau akan tinggal setelah rumahnya benar-benar terjual..?? Berkali-kali kami berdua mengajukan pemikiran yang sayangnya tak dapat kami jawab sendiri. Tentu saja, uang dari hasil penjualan rumah itu akan beliau gunakan untuk membayar biaya rumah sakit anaknya di Jakarta, dan kalau ada sisanya akan dibelikan rumah kecil-kecilan, kalau tidak ada sisanya..??

Perlahan saya pun mulai bisa memahami keputusan yang diambil beliau. Menggantungkan hidup dari uang pensiun yang tidak seberapa tak akan mampu menjawab permasalahan yang tengah beliau hadapi kini. Untuk makan sehari-hari dengan tanggungan 1 orang putri, 1 orang menantu, dan 1 orang cucu yang masih belum genap 1 tahun itu saja mungkin tak akan cukup rupiah yang diperolehnya setiap bulan dari peninggalan pensiun mendiang suami yang dulu berdinas di AURI. Terlebih, sang menantu saat ini belum mendapatkan pekerjaan baru kembali. Dinda sendiri juga tidak berpenghasilan tetap, ia hanya membuat accecories dari manik-manik dan rajutan untuk dijual. Lalu bagaimana dengan si kecil yang masih banyak membutuhkan asupan gizi dari makanan dan susu, dengan apa ia membelinya..?? Apakah uang dari hasil penjualan accecoriesnya yang tidak seberapa itu bisa memenuhi semua kebutuhannya..?? Saya berharap bisa, tapi saya tidak berani menjamin. Bola mata saya mulai basah..

Saya mengajukan pertanyaan pada Iyun, “Apa yang bisa kita lakukan?” Dan jawabannya cukup menyadarkan saya. “Kita hanya bisa berdoa”

Baru beberapa hari yang lalu saya SMSan dengan Dinda, ia menanyakan beberapa hal terkait dengan usaha accecoriesnya, diantaranya tentang biaya pembuatan brosur dan cara pembuatan pigura dari bahan flannel. Saya pun mencoba membuatkan sketsa pola pigura yang saya kirim via FB. Saat itu belum ada kabar tentang penjualan rumah Mamanya. Atau mungkin memang sudah ada rencana, hanya belum sampai ke telinga saya. Dinda tetap berusaha semampunya, mencari celah untuk menghasilkan sejumput rupiah di tengah keadaan yang memaksanya pasrah, tapi tidak, ia tidak pasrah. Dinda yang dulu manja kini mulai tumbuh dewasa. Ada jiwa yang kini bergantung padanya, yang membuatnya tak lagi berani bermain-main dengan hidup.

Dulu ketika suaminya masih ada, beliau dan keluarganya sering menolong warga setempat sehubungan dengan profesinya sebagai mantri. Kalau bukan karena jasa beliau, Om saya sudah diopname di rumah sakit dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Tapi kini..

Ah.. roda memang terus berputar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: