kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Penggiat Dini Hari


Img: mimoshow.com.au

Img: mimoshow.com.au

Dini hari.. saat kita terlelap dalam tidur dan terbuai mimpi indah, atau ada diantara kita yang baru pulang dari agenda bersenang-senang, pernahkah terpikir bahwa ternyata begitu banyak orang yang menjemput asanya di waktu yang sama? Kantuk dan lelah tak mengusik sedikitpun semangat dari wajah-wajah renta yang berjuang di penghujung malam. Demi sejumput rupiah untuk menyambung hidup, lebih mulia daripada sekedar menengadahkan tangan. Pasar becek, terminal, dan jalanan. Ya.. mereka, penggiat dini hari.

Minggu dini hari, saya dan seorang kawan baru pulang dari menghabiskan malam di Coca Cola Soundburst. Bersyukur karena masih ada angkot yang sudi mengangkut rombongan pemuda beraroma tak sedap seperti kami -semoga saya tidak termasuk golongan aroma itu- Begitu memasuki angkot yang penuh sesak, aroma keringat serta merta merasuki hidung.

Angkot rupanya hanya mengantar kami sampai Jembatan Merah. Supir angkot menyuruh kami naik bus kota untuk sampai ke teriminal Bungurasih. Oh, Bapak.. mana ada bus kota di jam setengah dua pagi begini..?? Ya, meskipun di depan hotel Ibis terparkir sebuah bus kota, tapi saya toh tidak yakin itu beroperasi, paling-paling supirnya sedang tidur. Dan memang benar, bus itu tidak beroperasi. tampak seorang supir angkot menawarkan untuk mengantar sampai Bungurasih dengan tarif 4000. Teman saya langsung misuh meski pelan dan tidak terdengar oleh sang supir. Saya juga males, masa’ 4000, orang biasanya juga 3000 (saya lupa kalau untuk ke Bungur butuh naik angkot 2x). Tapi karena tak ada pilihan lagi, akhirnya kami naik angkot itu juga.

Tak begitu banyak penumpang saat itu, hanya saya, seorang kawan, 3 orang kawannya kawan saya dan seorang laki-laki setengah baya. Tak lama masuklah seorang Ibu, mungkin lebih tepat disebut Mbah, saya mengisar umurnya sekitar 60 tahunan. Beliau mengenakan kebaya tua dengan bawahan sewek (jarik) serta membawa keranjang bakul. Saya belum menyadari bahwa saat itu pukul setengah dua pagi, dan belum mengkorelasikan kehadiran Ibu tua dengan waktu dini hari itu.

Angkot terus melaju, sampai akhirnya berhenti dan kembali mengangkut penumpang. Kali ini seorang laki-laki, usianya mungkin sudah 60-70 tahun. Tubuh rentanya tak dapat menyembunyikan rasa lelah. Beberapa kali beliau terantuk saat angkot berjalan. Saya perhatikan sosoknya yang mulai terlihat ringkih. Ah.. saya teringat Mbah Kung yang sudah tiada. Rambut putihnya tertutup kopyah hitam lusuh, tangan kurusnya tampak memegang kantung plastik besar yang berisi “jipang” (panganan yang terbuat dari beras). Hanya tersisa beberapa jipang dalam kantung plastiknya. Saya mulai terusik dengan berbagai pertanyaan, dari mana beliau, mau ke mana, habis berjualan atau justru baru akan berjualan, tapi kenapa dagangannya tinggal sedikit, ah.. mungkin ia akan pulang setelah seharian berkeliling, atau bisa juga ia baru selesai beristirahat dan kembali berjualan. Saya sibuk membatin dalam keheningan.

Angkot berhenti, salah seorang penumpang turun. Mbah berkebaya dan berjarik itu beranjak dari duduknya, membawa serta keranjang bakul di pangkuannya. Pasar, tepat di pertigaan dekat Intiland Tower, saya tidak tahu pasti nama pasar itu, apa mungkin Pasar Keputran yang dipindah itu? Tapi sepertinya bukan. Mungkin Simbah akan berjualan di sana, terlihat dari barang bawaannya. Tunggu.. pukul 2 dini hari seperti ini..?? Ya, kenapa tidak? Pasar-pasar memang menggeliat di tengah malam sampai dini hari, saya pernah menyaksikannya sendiri di Pasar Keputran pukul 1 dini hari. Simbah putri yang meninggalkan rumah di pagi buta demi menjemput rupiah. Ah, saya baru tersadar..

Angkot kembali melaju, memecah kebekuan di penghujung malam, menerjang angin dalam keremangan. Masih tersisa seorang tua diantara kami. Sekilas saya melirik sosok renta berkopyah itu. Kepalanya tertunduk karena tak sanggup menahan kantuk. Dalam hati saya mendesah, sedih..

Lelaki tua itu berteriak dengan suara serak. Supir tak begitu mendengar suaranya yang lirih bercampur derak angin malam. Beberapa penumpang ikut berteriak, termasuk saya. Ah.. kumohon jangan menurunkannya terlalu jauh, pekik saya dalam hati. Ia sudah nampak lelah jika harus berjalan karena angkot berhenti lebih jauh dari tempat tujuannya.

Hati-hati ia melangkah seraya menyerahkan ongkos pada Pak supir. Rupanya angkot berhenti sebelum pasar yang ditujunya, ia masih harus jalan beberapa meter ke depan. Tapi ia masih sempat menderaikan tawa sambil berujar jika pasar masih di depan sana. Oh.. saya kembali mendesah, sedih, sekaligus kagum.. Sosok renta yang masih saja berjuang di tengah keterbatasan fisik yang semakin rapuh, yang seharusnya menikmati masa istirahat di rumah dengan nyaman.

Terminal Bungurasih.. Setengah tiga pagi..

Saya baru sadar bahwa angkot seharusnya menurunkan kami di terminal Joyoboyo tadi, lalu kami harus naik angkot lagi untuk sampai di sini. Tapi supir itu mengantar kami sampai gerbang keluar Bungurasih hanya dengan ongkos 4 ribu rupiah. Oh.. seharusnya ongkosnya dobel, 3000 dikali 2, totalnya 6000. Tapi ia hanya mematok tarif 4000. Ya Tuhan.. saya menyesal, sungguh, tak seharusnya saya mengeluhkan tarif 4 ribu sewaktu supir tersebut menawarkan jasanya di Jembatan Merah tadi. Dengan tarif minim di waktu dini hari seperti ini, siapa yang mau mengantar kami kalau bukan beliau??

Saya dan kawan menepi ke trotoar. Tampak beberapa orang sedang menunggu bus. Sebuah warung kopi kecil terlihat tak jauh dari arah kami berdiri. Seorang penjual kue bersepeda berdiri di samping kanan saya. Lelaki berkumis itu mengenakan sebuah topi hitam. Bapak itu.. ya, Bapak itu adalah penjual yang sama waktu saya menunggu bus beberapa bulan yang lalu, di sini, di tempat yang sama. Saya masih ingat, karena waktu itu saya sempat membeli kuenya sebelum naik bus. Saat itu sekitar pukul 23.30, saya baru selesai menonton pertunjukan ludruk di THR, sebenarnya pertunjukannya belum selesai, tapi karena takut tidak ada angkutan ke terminal, saya pulang sebelum pertujukan berakhir. Kenapa saya menonton ludruk sendiri malam-malam akan saya ceritakan di postingan lain waktu saja

Saya mengamati sosok itu lekat-lekat. Tangan kurusnya tampak memegangi stang sepeda. Saya mengambil tempat agak dekat dengan posisinya berdiri, mengintip ke dalam box kayu berwarna biru yang berisi donat dan roti goreng dagangannya, masih banyak. Kembali, saya bermain dengan begitu banyak pertanyaan. Kenapa dagangannya masih banyak, apa beliau baru keluar, kenapa berjualan di waktu seperti ini, kenapa tidak istirahat saja dan bekerja di pagi atau siang hari, di mana rumahnya, apakah beliau tinggal sendiri.. Ah..

Saya sengaja mengambil tempat agak jauh dengan kawan saya yang sedang ngopi dan mendekati si Bapak penjual kue. Saya pun menghampiri beliau, membeli beberapa kuenya. “Jualan mulai jam berapa, Pak?” selidik saya. Dengan senyum tipis ia pun menjawab “Jam dua belas.”

Saya sedikit beranjak namun masih berdiri di dekat beliau. Setelah makan 1 donat dan roti goreng, saya mulai mengobrol dengan Bapak itu. Rupanya beliau memang biasa berjualan tengah malam, jam 12 di depan terminal Bungurasih, lalu jam 4 pagi berpindah ke pasar dan sekitar jam 7 pagi pulang ke rumah kalau dagangan sudah habis. Kue-kue itu diambil dari orang lain, jadi beliau hanya tinggal menjualnya. Sudah lama beliau menekuni pekerjaan ini, sejak tahun 90. Rumah beliau ternyata tidak jauh dari tempat orang tua saya, masih di seputar Waru, tepatnya di Jl. Letjend Sutoyo. Beliau tinggal dengan istri dan seorang anak laki-laki yang sudah bekerja. Saya kehabisan kata-kata, sampai lupa tidak menanyakan nama dan usianya. Kalau boleh mengisar, mungkin sekitar 60 tahun, tapi bisa saja lebih dari itu, ah.. saya tak pandai mengisar usia seseorang.

Sosok tua, tubuh renta, pasar, jalanan, terminal. Semangat yang tak pernah surut dari wajah-wajah itu, para penggiat dini hari. Semoga kebahagiaan selalu menyertai mereka..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: