kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Ce eS eR Bukan Ajang Pamer


Lifebuoy Berbagi Sehat, Aqua 1 Liter untuk 10 Liter, Beasiswa Sekolah Ciptadent, dan masih ada beberapa produk yang wira-wiri di tv dengan iklan donasi sosialnya. Dengan membeli produk ini anda sudah menyumbang Rp 10,- untuk sarana kebersihan, bla.. bla.. bla.. Pasti pernah melihat iklan seperti itu kan? Ini yang dinamakan CSR (Corporate Social Responsibility) atau tanggung jawab sosial perusahaan. Menurut The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) definisi dari CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan  adalah komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga karyawan, dan masyarakat setempat (lokal) dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan. Ehem… ngobrol serius dikit, yuk.. Bentar aja😉

Singkatnya, sih.. CSR adalah tanggung jawab dan kewajiban perusahaan untuk berkontribusi dalam mengatasi permasalahan sosial yang bertujuan pada pemberdayaan dan kemandirian masyarakat sekitar. Konon katanya belum ada standar konsep CSR yang seragam di dunia, jadilah masing-masing perusahaan memakai warna baju yang berbeda. Hasilnya, semakin marak iklan CSR yang mengklaim akan mendonasikan sejumlah nominal tertentu untuk kegiatan-kegiatan sosialnya. Apakah ini salah..?? Mari kita analisa secara bijak dulu sebelum menilai salah atau benar😉

Iklan CSR pertama yang saya tahu, sih iklan Lifebuoy berbagi sehat. Program ini ternyata sudah dijalankan sejak tahun 2004. Selain berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memulai hidup sehat dan mensosialisasikan Kampanye Nasional Cuci Tangan Pakai Sabun, Lifebuoy juga menyumbangkan Rp 10,- dari produknya untuk sarana kebersihan. Tagline yang sering kita dengar adalah “Dengan membeli Lifebuoy berarti anda menyumbang untuk kesehatan.” Timbullah pertanyaan, apakah etis jika isu CSR digunakan sebagai bagian dari metode pemasaran produk..??

Untuk kaum skeptis (termasuk pemikiran pesimis dan negatif) mungkin mereka akan berpikir bahwa ini hanyalah strategi pencitraan perusahaan dan pemasaran produk. Gampangnya gini.. Perusahaan yang beriklan menyumbang untuk program sosial tertentu akan mendapatkan image atau citra positif dari masyarakat, nama baik perusahaan akan terjaga, pasti! Tagline yang mengandung provokasi seperti pada kalimat “Dengan membeli produk ini anda telah menyumbang untuk bla.. bla.. bla..” secara tidak langsung memiliki korelasi dengan penjualan produk. Semakin konsumen tahu tentang program sosial yang ditawarkan produsen dalam produknya, semakin besar pula kemungkinan konsumen untuk membeli produk. Kenapa? Jelas, karena ada value dalam produk tersebut, selain karena fungsi standar, produk itu juga mempunyai value lebih, yaitu dana sosial bagi yang membutuhkan. Siapa sih yang ga ingin berbagi dengan sesama? Nah, memanfaatkan perilaku manusia sebagai makhluk sosial inilah, produsen menggunakan iklan sebagai sarana untuk mencapai penjualan yang maksimal. Kasarnya gini dah.. Beli sabun aja udah bisa nyumbang loh, sekalian aja lah, sabunnya dapet, bisa untukmandi, amal juga bisa, sekali tepuk dapet 2 lalat. Hayo.. kesannya seperti ajakan berbumbu “paksaan” ga? Yah.. kurang lebih gitu dah provokasi pada konsumen untuk membeli produk J Terkadang juga bisa timbul semacam guilty feeling jika kita tidak membeli produk CSR (mulai sekarang saya akan menyebut produk yang memiliki value CSR dengan sebutan ini). Ya, ada teman saya yang mengaku seperti itu. Kenapa? Ya karena itu tadi, kita seakan mengabaikan ajakan untuk berbuat sosial pada sesama. Padahal kan banyak cara untuk beramal, ga harus dengan beli produk tertentu, nah iya kalo kita butuh produknya, kalo ga butuh, mau diapain tuh produk coba? Bisa mubazir donk! Sebenarnya ga juga, kalo emang ga butuh produknya bisa aja kita kasih ke orang yang butuh, amal 2 kali, nih!😉

Iklan2 model gini yg bisa bikin mata saya berkaca2:mrgreen:

Itu untuk yang bersikap skeptis. Kalau yang menilai positif mungkin akan berpikir seperti ini. Masyarakat mau tahu dari mana tentang program CSR perusahaan kalau tidak diblow up di media? Padahal CSR ini kan sifatnya sudah wajib, setahu saya setiap perusahaan memang memiliki dana CSR, nah.. kalau tidak ada transparansi ke mana dana CSR itu akan dialokasikan, perusahaan bisa lalai akan tanggung jawabnya karena tidak ada pengawasan dari masyarakat yang terkait langsung dengan program tersebut. Kalau diupdate lewat media, paling tidak masyarakat mengetahui apa saja yang sudah dan akan dilakukan produsen atau perusahaan untuk membantu meningkatkan pemberdayaan masyarakat. Jadi media berperan sebagai penghubung antara produsen dengan masyarakat.

Media transparansi alokasi CSR

Mungkin ada interupsi lagi dari kaum skeptis seperti ini.. Amal dan berbuat sosial ga harus pamer di media dan memanfaatkannya untuk meningkatkan penjualan produk, kan? Jadi mirip artis-artis yang suka nyumbang tapi harus diliput wartawan biar dapet simpati dan image positif, naikin pasaran.

Oke.. kita berpikir win-win solution aja, deh.. Pertama, untuk pihak perusahaan. Dengan mengiklankan produk CSR mereka mendapat citra atau image yang positif dari masyarakat, penjualan produk kemungkinan juga meningkat. Saya  paparkan sebagian hasil penelitian sdri Galih Puspita  Ratih yang dilakukan di kota Bogor pada bulan Agustus s/d Oktober 2007 dengan responden sebanyak 150 orang. Terdapat hubungan antara tahu iklan yang berkampanye donasi sekian rupiah untuk CSR dengan penggunaan produk. Responden yang mengetahui iklan cenderung tertarik dan sangat tertarik untuk menggunakan produk yang berkampanye bahwa sekian rupiah dari pembelian akan digunakan untuk kegiatan CSR. Sebaliknya responden yang menjawab tidak cenderung bersikap biasa saja. See..?? Memang ada korelasinya. Jadi dalam hal ini pihak produsen diuntungkan dalam 2 hal, yaitu citra positif dan penjualan produk.

Kedua, pihak masyarakat. Apa yang diperoleh masyarakat dengan adanya iklan CSR ini..?? Adanya pemberitahuan program CSR dari produsen, sehingga masyarakat mengetahui alokasi dana sosial dengan jelas. Dan.. yang pasti, sudah ada aksi nyata dari pihak produsen yang bisa dirasakan masyarakat melalui program-program CSR tersebut. Ya, kalau programnya memang sudah jalan🙂

Kalau boleh saya berpendapat sih.. Gampangnya gini aja.. Oke, katakanlah produsen itu mungkin memang “cari muka” tapi apa yang mereka lakukan itu nyata, sudah berbentuk aksi, tidak hanya sekedar bicara basa-basi. Ada manfaat langsung yang bisa dirasakan dari program tersebut. Udah untung loh ada yang menjalankan tanggung jawab sosialnya pada masyarakat, daripada kaum kapitalis yang cuma mengejar keuntungan tanpa peduli keadaan sekitarnya. Dan inget.. ini untuk Indonesia yang lebih baik ke depannya. Bukankah semakin banyak yang berbuat positif maka semakin cepat pula kesejahteraan masyarakat tercapai? Itu sudah berbanding lurus hukumnya. Soal niat biarlah Tuhan yang menilai. Daripada mencerca dan berpikiran negatif pada mereka, lebih baik kita bertanya pada diri sendiri, apakah yang sudah kita lakukan untuk orang lain😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: