kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Belajar Dari Cerita Anak


Majalah anak apa yang terakhir kali kamu baca? Kapan? Sebulan yang lalu, setahun yang lalu, atau bahkan sudah 10 tahun yang lalu? Sekali-kali sempatkan menikmati bacaan anak, resapi dunianya, dan biarkan jiwa kita kembali larut di dalamnya. Hari ini saya cukup menikmati dunia anak kembali, meski hanya dengan menonton kartun natal di televisi dan membaca majalah Bobo. Oh, gosh.. majalah semasa kecil ini masih menjadi favorit saya sampai sekarang di tengah maraknya bermunculan majalah anak lainnya.

Profesi saya yang berhubungan dengan bacaan anak membuat saya harus rajin-rajin menyelami dunia mereka, itulah kenapa akhir-akhir ini saya sering menyempatkan membaca majalah dan buku-buku anak. Banyak hal menarik yang saya dapat dari bacaan anak, polos, sederhana, dan  menyenangkan. Sore ini saya menemukan satu cerita yang cukup menggelitik kesadaran saya sebagai sosok yang tidak bisa lagi disebut anak-anak. Setting ceritanya sangat dekat dengan keseharian kita. Mau tahu ceritanya? Oke, Kakak.. mari kita simak bersama😉

Status Facebook

Oleh Erna Fitrini

“Ayo, Dit. Cepat matikan komputer. Ini sudah malam,” Ibu mengingatkan. “Walaupun libur, besok kamu tetap harus bangun pagi.”

“Sebentar, Bu. Odit cuma mau update status, kok,” jawab Odit.

Sudah dua bulan ini, Odit keranjingan Facebook. Setiap ada kesempatan, ia memeriksa halaman Facebook -nya, mengupdate status, member komentar terhadap status teman-temannya dan meng-upload foto-foto.

“Masak, mau tidur aja perlu pemberitahuan ke seluruh teman-teman di FB?” goda Ibu.

“Bukan soal tidur, Bu. Odit nulis di status gini: Keren, bunga sakura lagi mekar dan sebagian sudah mulai rontok.”

Ibu mendekati Odit dan ikut membaca statusnya di halaman Facebook. “Mana bunga sakuranya?”

Odit hanya tertawa. “Ya… di Jepang sana.”

Dua hari kemudian, Odit mendapat kesempatan untuk menggunakan internet. Dia terkejut melihat 27 komentar teman-temannya terhadap status terakhir yang ditulisnya. Sebagian teman-temannya menyatakan kekaguman karena Odit bisa berlibur ke Jepang. Lainnya berpesan agar Odit membawakan mereka oleh-oleh dari Jepang.

“Hah? Oleh-oleh dari Jepang? Memang di sana ada apa selain bunga sakura, gunung Fuji, dan Doraemon?” pikir Odit. Pengetahuan Odit tentang Jepang hanya sedikit.

Odit pun menambah komentar di statusnya. Ia mengetik titik dua dan kurung tutup. Kedua tanda baca itu tampak sebagai ikon orang lagi tersenyum. “Ah, biar saja mereka berpikir aku lagi di Jepang,” pikir Odit. Matanya berkilat-kilat jenaka dan senyum lebarnya mengembang.

Odit membuka halaman Google dan mengetik beberapa kata di bagian pencarian. Ia membuka beberapa halaman situs dan akhirnya Odit menemukan foto gunung Fuji yang masih ditutupi lapisan salju tebal. Gambar gunung Fuji diupload ke halaman Facebook -nya. Di bagian teks gambar, Odit menambahkan kalimat G. Fuji memang keren. Gak ada matinya.

Baru dua menit ia meletakkan gambar Gunung Fuji, Reza, teman sekelasnya sudah menulis komentar. “Dit, kapan balik ke Jak?”

Odit tersenyum membaca komentar Reza. Buru-buru diketiknya komentar balasan. “Hai, Za. Apa kabar?” Komentar Odit sama sekali tidak menjawab pertanyaa Reza. Sengaja.

Kemudian, datang lagi satu komentar dari Surya. “Ngapain aja di sana?”

Berikut ada komentar dari Rahina, temannya di tempat kursus bahasa Inggris. “Udah kemana aja, Dit”

Odit tergelak. Odit menulis balasan. “Banyak. Cerita lengkap menyusul.” Odit berkata jujur. Ia memang sudah mengunjungi banyak tempat, tetapi di Jakarta, bukan di Jepang.

“Dit…,” panggil Ibu.

Odit langsung mematikan komputer dan menghampiri Ibu.

“Tolong belikan Ibu kertas bungkus kado.”

“Berapa lembar, Bu?” tanya Odit.

“Lima lembar. Pilihkan yang bergambar bunga.” Ibu menyerahkan selembar uang dua puluh ribu rupiah.

“Beres, Bu,” jawab Odit sambil tersenyum.

Baru saja beberapa langkah meninggalkan rumah, Odit melihat Ijul yang sedang bersepeda menuju ke arahnya. “Dit…,” sapa Ijul. “Kapan pulang, Dit?” tanya Ijul sambil turun dari sepeda.

Odit tersenyum mendengar pertanyaan Ijul. “Pulang dari mana?”

“Di Facebook, kamu nulis lagi di Jepang,” jelas Ijul.

“Yee, aku nggak pernah tulis itu,” jawab Odit masih dengan senyum lebarnya. “Aku hanya tulis gunung Fuji gak ada matinya.”

Ijul diam. Dia mengingat-ingat status yang Odit tulis dalam minggu ini. Tiba-tiba Ijul tertawa. “Hahahahaha… bener, Dit. Tetapi teman-teman mengira kamu lagi berlibur di Jepang… hahaha…”

“Itulah. Makanya, jangan terlalu cepat bikin kesimpulan, hahahaha,” kata Odit tertawa.

Disalin dari Majalah Bobo Tahun XXXVII-8 April 2010

Hayoo.. siapa yg mau komen..??:mrgreen:

2 responses to “Belajar Dari Cerita Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: