kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Feel dalam sebuah cerita


Faktor apa yang membuat kita tertarik dan hanyut saat membaca sebuah cerita? Lupakan plot, sudut pandang, diksi, dan  hal-hal teknis lainnya. Jawabannya mungkin sederhana, “feel” begitu saya biasa menyebutnya, entah apa ada istilah lain yang lebih cocok dan bisa menggantikan istilah ini. Feel di sini memegang peranan penting dalam sebuah cerita, ia bagaikan nyawa yang bisa menghidupkan cerita. Mungkin kata yang sedikit memiliki kesamaan arti adalah “chemistry”. Duh.. apalagi, sih ini?:mrgreen:

Feel bukan hanya dirasakan oleh pembaca buku atau novel. Penulis pun ternyata bisa merasakannya. Saya baru sadar soal ini. Dulu ketika saya selesai menulis novel atau cerpen, saya hanya merasa puas atau tidak puas tanpa berusaha mencari tahu faktor penyebabnya. Setelah saya cari tahu, puas yang saya rasakan itu kebanyakan berasal dari faktor keberhasilan dalam membangun karakter tokoh yang kuat, chemistry antar karakter, research yang relevan dengan isi cerita, dan faktor X yang entah bagaimana saya menyebutnya, mungkin ini yang disebut “feel” cerita. Tidak puas, ya karena kebalikannya. Tapi beberapa hari terakhir saya mulai menyadari ketidakpuasan itu terjadi karena faktor “feel” yang kosong.

“Saya nggak dapet feelnya,” begitu kalimat andalan saya waktu mengomentari sebuah cerita atau film. Dan sekarang hal itu saya desahkan pada buku saya sendiri. Ya, saya nggak dapat feel cerita ini. Semuanya terasa hambar, mengambang. Kenapa? Saya juga sedang mencari tahu. Mungkin karena ada batasan-batasan karakter atau konsep yang masih blur. Well.. sekarang saya sedang mengerjakan buku petualangan dongeng lokal (dari kemarinnya belum selesai?). Hadew.. apa itu? Saya lagi bikin buku cerita anak tentang petualangan tokoh-tokoh dongeng rakyat Indonesia, seperti Bawang Merah-Bawang Putih, Timun Emas, dan lain-lain. Tokoh-tokoh itu dijadikan dalam 1 buku, 1 cerita, atau bisa dibilang 1 frame lah..

Saya butuh waktu cukup lama untuk menyelesaikan buku sebanyak 2 seri ini. Ga ada ide, mungkin.. Konsep yang kurang jelas, bisa.. Saya nggak tahu mau dibawa ke mana cerita ini, saya nggak tahu arahnya. Petualangan seperti apa, setting cerita yang bagaimana. Awalnya saya membuat setting lokasi di negeri dongeng rakyat Indonesia, jadi yang ceritanya Timun Emas, ya settingnya di rumahnya Mbok Sirni dan sekitar hutan/ ladang. Tapi cerita ini saya rombak habis-habisan tak bersisa, karena sepertinya saya salah melangkah. Buku ini bukan dongeng adaptasi, dongeng modifikasi atau juga parodi. Oke.. mulai dari awal lagi😉

Chapter 2.. Waktu mengerjakan 5 halaman terakhir, saya merasa salah arah (lagi), ga salah-salah juga, sih.. Cuma ngerasa kurang sreg dengan ceritanya aja. Oke.. rombak lagi, mulai dari awal.

Chapter 3.. Berhasil menyelesaikan sampai halaman terakhir, tapi.. lagi-lagi saya tidak puas dengan hasilnya, ada greget tapi masih agak hambar. Rasanya masih ada yang harus diperbaiki, setting lokasi dan kemunculan karakter.

Chapter 4.. baru sampai halaman 2 dan saya stuck. Menimbang-nimbang tentang karakter dan ide cerita, sekaligus research kecil-kecilan untuk mendukung setting lokasi.

Next chapter..?? Saya juga tidak tahu buku ini akan berakhir dalam revisi ke berapa. Yang jelas saya akan tetap merombak untuk mendapatkan feel ceritanya. Sampai kapan? Sampai ada deadline job terbaru😀 Untung aja deadline job bulan ini belum dibagi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: