kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

About Love


3 negara.. 3 cerita cinta.. Idenya sederhana tapi unik, setting lokasinya keren, artistiknya oke, dan semuanya dieksekusi dengan pas sesuai takaran, tidak berlebihan. Film ini ga akan bosen ditonton berulang kali. Believe it or not, saya sudah nonton sebanyak 3 kali demi menulis review ini. Bahkan film ketiganya saya tonton sebanyak 4,5 kali.

Saya menemukan film ini ga sengaja waktu iseng browsing tentang film jepang. Karena tergoda dengan konsepnya yang mengambil setting di 3 negara, akhirnya saya download dalam waktu 2 hari kerja. Eh, ternyata ga dilengkapi sama subtitle. Tapi saya nekat nonton dan bertahan dalam ketidakmengertian sampai film usai, bahkan sampai credit title habis. Untunglah saya dapat subtitle dari seorang teman, tapi translationnya aneh, maklum subtitle Indonesia. Saya milih untuk download sendiri subtitle Englishnya. Got it..!!

About Love

Sebuah omnibus yang bersetting di 3 negara, Tokyo, Taipei, dan Shanghai. Saya baru nyadar kalo ini omnibus (kumpulan film pendek) waktu film pertama yang bersetting di Tokyo itu usai.

Tokyo

Slow motionnya keren!

Film dibuka dengan gambaran jalan kota Tokyo yang padat di pagi hari. Michiko, seorang cewek Jepang lagi nerima telepon sambil jalan dan nenteng-nenteng tas gede. Saking padatnya jalan, dia kesenggol dan tasnya jatuh, isi tasnya berhamburan keluar, semua adalah perlengkapan lukis. Di sudut lain ada seorang cowok (Yao) pengendara sepeda (sepeda kayuh, bukan motor) yg merhatiin dia, tapi karena traffic lightnya udah ijo, akhirnya dia jalan lagi.

Adegan berlanjut di sebuah ruangan kelas. Yao lagi asyik gambar komik. Kayaknya dia jurusan DKV gitu. Mulailah VO dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Sekali denger juga udah ketahuan kalo dia ngomong bahasa mandarin, meskipun settingnya di Tokyo. Saya sih menduga ini film mengangkat tema cinta dengan perbedaan bahasa. Meskipun belum ada scene yg menunjukkan hubungan mereka, tapi biasanya dari awal juga udah ketahuan siapa sama siapanya, hehe..

Yao, cowok asal Taipei yang hijrah ke Tokyo untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang kartunis professional.

“It’s like New York is the city for baseball players, Madrid for soccer player, Hollywood for film maker, and London for rock and rollers.. Tokyo is the city for cartoonists.” Begitu kata dia.

Beralih ke Michiko, seorang pelukis yang ditinggal pacarnya pergi ke Spanyol. Seharusnya pacarnya kembali ke Jepang 1230 jam yang lalu, tapi dia ga pernah menghubungi. The fact is.. Michiko love to wearing a men’s perfume, but she hate when she have to wait for men (boyfriend).

Beberapa telepon yang Michiko terima di jalan adalah telepon dari pacarnya yang hanya membutuhkan waktu 4 detik untuk mengakhiri hubungan mereka selama 3 tahun.

Waktu Michiko nyebrang, dia ga lihat kalo di depannya ada cowok yang bawa sepeda tadi (Yao). Eh, hampir nabrak lah tuh cowok. Pas pandangan mereka ketemu, Michiko kelihatan abis nangis, masih ada sisa air matanya. Udah, gitu aja. Ga ada adegan kenalan lebay, hehe..

Waktu Yao pulang, sepedanya ngadat di pinggir jalan. Pas dia lagi ngebetulin sepeda, ga sengaja dia lihat toko yang muralnya digarap Michiko. Dia takjub sama karya muralnya. Besok malamnya dia lewat situ lagi. Yah.. koq muralnya berasa jadi muram gitu. Terus dia ga sengaja lihat pelukisnya. Pas diinget-inget, dia kan cewek yang ketemu di jalan lagi nangis itu. Nah.. beraksilah si Yao. Dia bikin sketsa wajah cewek yg lagi nangis, trus dia tempel di kaca jendela. Ukuran kertasnya kecil, mungkin cuma setengah A5. Sejak saat itu, Yao jadi rajin bikin sketsa dan nempelin di jendela toko, tiap pagi sebelum Michiko dateng dan malam hari sebelum Michiko pulang. Michiko penasaran, siap-siap untuk mergokin pengirim sketsa itu, tapi ga pernah berhasil. Kelanjutannya..?? Mm.. tonton aja sendiri, biar seru! Haha..

Ada scene di mana Yao dimintai tolong jadi model foto oleh teman sekolahnya, Yuka. Di situ dia dipasangin sama Min, cewek asal Shanghai yang ambil sekolah kecantikan di Jepang. Tema fotonya adalah “encounter.” Menggambarkan tentang dua orang yang tidak pernah bisa bertemu, si cewek dari Shanghai dan cowok dari Taipei, berbagi langit cerah Tokyo, mereka yakin bahwa suatu hari akan bertemu. Kenapa temanya kayak gitu? Karena foto2nya mengambil shot di mana Yao dan Min sering berada dalam satu lokasi dan waktu yang sama tanpa mereka sadari, sering papasan di jalan, berseberangan arah, bahkan satu arah jalan, tapi keduanya ga pernah ketemu secara langsung dan disengaja. Anglenya keren abis! Tonenya juga saya suka, hehe..

Akhirnya mereka bertiga ngobrol di atas bukit dengan latar belakang Tokyo city light. Min rindu dan ingin sekali pulang ke kampung halamannya. Waktu pertama kali datang ke Tokyo dia ga punya teman karena ga bisa bahasa Jepang, itulah kenapa dia pengen pulang aja. Tapi waktu inget gimana usaha ortunya buat ngedukung sekolahnya, dia jadi ga mau nyerah, meskipun masih ada keinginan untuk pulang kampung. Hal yang sama dirasakan Yao, sebagai seorang perantau yang tinggal di negeri orang, beda bahasa, ga punya temen, kesepian juga kali, ya..😀

Well.. sebenernya kalau film ini ditonton tanpa tahu dialog2nya, masih aman koq, karena plotnya masih bisa diikuti hanya dengan melihat scene2nya aja. Cuma, mungkin feel lonelynya itu jadi ga berasa karena ga tau isi pikiran tokoh2nya, hehe..

Nilai

Dari 5 degan, film yang pertama ini saya kasih 3 deh..

Cukup layak untuk dinikmati. Banyak shot2 dan angle2 yang keren. Seperti shot perempatan jalan di tokyo yang padat dengan kendaraan lalu lalang, dan seketika waktu lampu merah, pejalan kaki menyeberang bersamaan ke 5 penjuru arah. Gerakan awalnya cepat, lalu melambat, seperti kawanan lebah. Ada juga scene waktu Michiko nerima telepon di dalam terowongan yang dijadikan tempat parkir sepeda motor. Beuh.. viewnya keren..!! Saya suka anglenya..

Banyak hal menarik di film pertama ini. Mulai ide cerita yang sederhana sampai artistiknya. Keren mampus! Film-film Asia memang sering mengeksplore keindahan alam mereka. Hmm.. bisa diambil contoh nih untuk film-film anak negeri. Saya juga suka dengan ide sketsa-sketsa kecil yang ditempel di jendela itu. Ah.. seandainya saya dapet sketsa kayak gitu tiap hari, hwehe.. Ngimpi..!! Dan yg asyik, sketsanya ini “hidup”. Jadi dia bikin sketsa yang berbeda ekspresi tiap hari. Hari pertama nangis Bombay, hari kedua air matanya agak berkurang, hari ketiga air matanya kering, hari keempat dia nengok (angle awalnya dr samping), sampe akhirnya hari terakhir sketsanya senyum sambil lihat ke depan. Kalo dijadiin satu bendel dan digerakin cepet jadi stop motion, hehe.. keren!

Taipei

Honestly.. I have no idea about this story.. kayaknya film kedua ini memang perlu subtitle, karena komunikasi jadi elemen utama cerita.

Ada seorang cewek Taipei, namanya Ah Si. Karena ga bisa tidur, dia menyibukkan diri membuat rak buku. Semua dikerjakannya sendiri, mulai dari ngukur kayu, nggergaji kayu, sampe maku. Tapi caranya aneh, dia bikinnya ga kayak orang kebanyakan yang langsung maku kayu2nya dengan posisi berdiri. Tu kayu malah direbahin di lantai dan dipaku dalam posisi duduk. Karena malam hari tetangganya yang mau tidur jadi keganggu, diteriakin gitu lah. Waktu rak buku udah jadi, dia bingung gimana caranya ngebuat rak buku itu bisa berdiri. Karena ga berhasil juga, akhirnya dia telepon seseorang, namanya Tecchan, seorang cowok Jepang. Dia minta Tecchan untuk dateng ke tempatnya.

Nah.. di sinilah mulai terjadi keributan, sumpeh.. rame banget. Bukan.. bukan karena mereka berantem dan Ah Si ngelempar Tecchan pake rak buku. Tapi karena mereka ga ngerti apa yang dibicarakan satu sama lain, yang dari Jepang ga lancar bahasa mandarin, yang dari Taipei ga ngerti bahasa Jepang sama sekali. Hasilnya? Rame.. Untuk memahami satu kosakata aja butuh beberapa kali mengulang kata disertai dengan isyarat peraga. Persoalan sederhana seperti minta tolong ngangkat rak jadi panjang prosesnya.

Selesai.. Rak udah berdiri, sekarang tinggal dicat. Ah Si ngecat bagian bawah, Tecchan bagian atas. Si Tecchan ini kayaknya emang usil gitu, dia sengaja nyipratin cat ke Ah Si. Dan.. ya, bisa ditebak kelanjutannya. Mereka pada nyiprat2in cat. Perang sengit terjadi, kejar2an, teriak2, dan… ngedance! Hah..??? Iya, awalnya saya juga syok kenapa ada scene dance segala. Dance lucu2an aja koq, ga kayak nari India atau drama musical. Saya ga suka scene perang cat ini. Meskipun lagi mabok cinta, kayaknya saya ga akan ngelakuin hal itu. Bukannya apa2, sayang aja sama properti kamarnya, hehe.. interiornya lumayan keren, ga rela kalo dikotorin sama noda cat yang susah ilang gitu.

Tecchan berusaha “ngerayu” Ah Si waktu mereka rebahan di atas lantai. Bukan ngerayu pake verbal, u know what I mean, hehe.. awalnya Ah Si nyantai aja, tapi lama2 dia berontak sampe mukul Tecchan. Dialog pun dimulai, duh.. untung udah nemu subtitlenya, penting banget soalnya.

Ah Si nulis sesuatu pake kapur di atas kayu: Boyfriend, break up, sad, sleepless, make a bookshelf, can’t move a bookshelf, I’m sorry, I just use ur body, to miss him.

Tecchan balas nulis: “Understand.”

Ah Si minta Tecchan nemenin dia untuk ketemu sama mantan pacarnya. Nah… di sinilah yang seru. Kebayang ga gimana susahnya si Tecchan ngomong ke mantan pacarnya, secara dia ga lancar bahasa mandarin. Gimana endingnya? Nonton sendiri lebih seru daripada baca tulisan saya, hehe..

Ada satu quote yang saya suka waktu si Tecchan selesai nemenin Ah Si untuk ketemu mantan pacarnya dan mereka boncengan motor ngelewatin sebuah terowongan.

“Even though i know the tunnel isn’t the end of my journey, i’ll be back into the rain soon, but i’m still grateful, for the passing warmth. Thank you tunnel, thank you tecchan.”

Nilai

Sama kayak yang pertama, film kedua ini saya kasih degan 3.

Saya suka sama Idenya yang sederhana tapi disampaikan dengan cara yang cukup keren. Tapi saya ga suka sama scene dancenya, agak annoying, hehe.. Setting kamarnya not bad, interiornya lumayan keren, tonenya juga boleh.

Shanghai

Nomura Shuhei, cowok asal Jepang yang pergi ke Shanghai untuk belajar dan mewujudkan impiannya. Ia ingin melihat kehidupan orang2 biasa, itulah kenapa dia memilih untuk tinggal di sebuah rumah sewa tua dan sederhana. Pemilik rumah ini punya anak perempuan, namanya Xiau Yun. Ga dijelaskan kenapa Xiao Yun ini kerjaannya cuma jaga toko, bukannya sekolah.

Shuhei bertemu dengan Mr.Xu, orang Shanghai yang pernah tinggal di Jepang dan kembali ke kampung halamannya untuk membuka bar bernuansa Spanyol. Dia seneng karena akhirnya ketemu sama orang yang bisa bahasa Jepang. Karena itulah dia jadi sering mampir ke bar untuk sekedar baca atau ngobrol, tapi lama2 dia kerja di bar itu, as a part timer kali’..

Shuhei ini punya cewek namanya Yukiko. Tanpa Yukiko di dekatnya rasanya ada yang hilang, tapi dia tetep yakin untuk belajar dan merantau, karena ini adalah langkah awal untuk mewujudkan impiannya. Berharap suatu hari Yukiko akan kembali dan berbagi mimpi dengannya.

Shuhei lagi ngobrol sama Yukiko lewat telepon. Pas sampe depan toko, dia nanya alamat rumah ke Xiao Yun yang lagi makan mie. Yep.. lagi2 kendala bahasa, Shuhei yg belum begitu lancar bahasa mandarin agak kesulitan mencerna kalimat Xiao Yun. Akhirnya Xiao Yun nulis alamat itu di tangannya. Shuhei bilang kalo yg lagi di telepon itu pacarnya, dan minta tolong untuk ngecek kalo suratnya nyampe. Awalnya saya bingung, kenapa musti pake surat? Kan udah ada email, tahun 2004 (tahun produksi) Shanghai udah canggih lah.. Selain untuk mendukung plot, ada alasan yang ga mungkin terbantahkan. Apa coba? Tonton sendiri aja deh, hehe..

Sembari nunggu surat dateng, Xiao Yun ikut2an ngecat sepedanya sama warna merah kayak punya Shuhei. Besoknya surat itu dateng, karena Shuhei ga ada di rumah, Xiao Yun yang nerima. Penasaran apa isinya, dia coba ngebuka, tapi dia mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk langsung ngasih ke Shuhei yang lagi kerja di bar. Mereka duduk di halaman depan. Nah.. saya suka sama scene ini. Waktu itu Shuhei lagi sibuk ngebuka surat (lebih tepatnya paket) dari Yukiko, sedangkan Xiao Yun merhatiin Shuhei dari balik gelasnya. Berasa point of viewnya dari gelas, cool..:mrgreen:

Ternyata paket itu berisi bola baseball dan sebuah postcard. Saya ga tau apa arti bola baseball itu, apa mungkin itu bola baseballnya Shuhei yang dikembalikan? Yang jelas, Shuhei kelihatan emosi setelah baca surat dari Yukiko. Xiao Yun nanya tentang pacarnya ke Shuhei, dia bilang ke Xiao Yun kalo pacarnya cantik. Xiao Yun pun nanya kayak gimana pacarnya itu. Shuhei nunjukin orang2 yang katanya mirip sama pacarnya, mulai dari orang yang hidungnya mirip, wajahnya mirip, matanya mirip, sampai rambut kriwil yang mirip pacarnya.

Malem harinya Shuhei muterin halaman samping rumah Xiao Yun pake sepeda. Xiao Yun ga sengaja mergokin dan merhatiin. Mungkin karena ga bisa mengungkapkan emosinya, Shuhei melampiaskannya dengan nabrak2in sepeda ke tembok samping rumah, hal yang diikutin sama Xiao Yun juga, hehe..

Besok paginya waktu ngebuka pintu toko, Xiao Yun nemuin sobekan kertas yang jatuh dari lantai atas dan nyangkut di pintu toko. Dia ngumpulin sobekannya yang lumayan banyak dan tercecer di halaman depan. Beberapa sobekan yang basah karena kena air hujan dikeringin sama microwave. Semuanya disatuin dan ditempel pake selotip. Taraa.. ternyata itu adalah postcard dari pacarnya Shuhei.

Karena pengen tahu isi suratnya, Xiao Yun coba mengartikan tulisan2nya dengan bantuan kamus. Beberapa kali dia juga sempet tanya ke Shuhei meski dengan dalih lagi belajar lagu Jepang, hehe.. ada 1 quote yg diulang2 dgn cukup jelas dan bikin yang nonton jadi keinget. “Watashi-wa ima baruserona-ni imasu.” Artinya.. aku sekarang ada di Barcelona. Yang bikin saya heran bin gemes, Shuhei koq ga ngerasa sih kalo kalimat2 yg ditanyain Xiao Yun itu adalah isi surat dari Yukiko. Shuhei orangnya ga mau GRan kali’.. hehe..

Waktu Shuhei lagi ngelap sepedanya, tiba2 Xiao Yun dateng dengan rambut kriwil. Haha.. I know.. I know.. kenapa dia sampe ngelakuin hal itu.. Ibunya yang ga suka sama penampilan baru Xiao Yun langsung nyeret dia ke depan rumah, dilurusin lah itu rambut pake catokan. Guess what! Ngelurusinnya tepat di depan Shuhei yg lagi ngelap sepeda. Duh… kurang malu gimana coba? Udah gitu sama diomel2in pula. Kasihan lihat Xiao Yun yang mati gaya gitu.😥

Tibalah saatnya berpisah… belum.. belum ending.. Ibu Xiao Yun bilang kalo Shuhei bentar lagi mau balik ke negaranya, dia minta tolong Xiao Yun nyampein undangan untuk makan malem bareng. Akhirnya Xiao Yun nyusulin Shuhei ke bar karena dia ga ada di kamarnya. Ternyata Shuhei ga bisa dateng karena banyak kerjaan. Ga nyia2in kesempatan, Xiao Yun nanya 1 huruf ke Shuhei, karena ga ada bullpen, dia nulis hurufnya pake air minum di atas meja. Begitu Shuhei pergi ke dalem, Xiao Yun ngeluarin postcard dan nulis arti kata di bawah tulisan Yukiko. Shuhei balik dan duduk di samping Xiao Yun. Dia merhatiin rambut Xiao Yun sambil bilang kalo rambut lurusnya lebih bagus. Dan hujan pun tiba2 turun dengan derasnya. Ga tau kenapa, si Xiao Yun langsung pulang dan menerjang hujan, inget jemuran bajunya Shuhei mungkin. Dan bener.. dia langsung lari ke atap rumah dan nyelametin baju Shuhei yang kena hujan. Sepanjang perjalanan dia ke atap, terungkaplah isi surat dari pacar Shuhei. Apa isinya? Tonton sendiri lah.. haha..

Keywordnya ada di kata “Te quiero.”

Nilai

Nah.. kalo film ketiga ini agak beda, saya kasih degan 4. Pas dijadikan film penutup..:mrgreen:

Saya suka semua yg ada di film ketiga ini, mulai dari settingnya, idenya, karakternya, endingnya, sampe pemerannya juga. Artistiknya cihuy, jemuran baju yang nggantung diantara rumah2 jadi kelihatan ciamik karena penataannya yang keren, rumah bata bercat merah itu juga keren, apalagi waktu ending, coba perhatiin rumah Xiao Yun 1 tahun kemudian, keren!😀 Saya juga suka sama karakternya Xiao Yun, cukup kuat, aktingnya Li Xiaolu dan Takashi Tsukamoto juga lumayan, ga begitu sulit tapi kesannya natural, ekspresi mereka cukup kena lah..

Overall.. About Love ini menggambarkan cerita cinta yang sederhana, singkat, dan pas takarannya, ga lebay, hehe.. Artistiknya tertata dengan cukup baik, enak dipandang mata deh.. Saya sudah nonton selama 3 kali untuk keseluruhan film, dan 4,5 kali untuk film ketiga (Shanghai). Koq bisa ada setengahnya gitu? Karena saking penasaran waktu belum dapet subtitlenya dulu saya nonton di mysoju.com (bagian ending tentang isi surat Yukiko). Sedikitpun saya ga bosen nonton film ini berulang kali..😀 Mungkin karena omnibus, ya.. kan singkat, ceritanya beda2, setting dan idenya menarik. Ah.. pokoknya saya suka sama film ini. Untuk keseluruhan film, saya kasih berapa degan, ya?😀

Selamat menonton..😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: