kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Job isn’t a Job


 

Dago

Harusnya malam nanti saya bertolak ke Bandung, memulai hidup baru dengan pekerjaan dan lingkungan yang juga baru. Dipanggil “Teh”, makan karedok, jalan2 ke Dago, ngeborong sale pisang favorit, yeah.. jadi orang Bandung baru..😆

Minggu lalu saya menjalani proses tes dan interview di salah satu penerbit buku yang cukup besar di Bandung. Berangkat naik kereta ekonomi selama 17 jam, kaki bengkak gara2 kelamaan duduk, tidur di stasiun selama 1,5 jam, mandi di toilet stasiun yang gratis (jarang2 nemu toilet umum gratis), dan ngojek 30rb ke tempat tujuan, sendirian tanpa teman. I really enjoyed it, so much.. Sampai di kantor penerbit ternyata saya hanya melalui proses interview, meski untuk pelamar yang lain dengan posisi berbeda harus menjalani tes. Katanya saya dirasa ga perlu melalui tes, mengingat saya memiliki pengalaman sebagai editor dan penulis buku anak. Padahal pengalaman juga masih seiprit, tapi syukur Alhamdulillah, deh..:mrgreen:

Pertama kali duduk di restorasi, bayar tambahan biaya 30rebu:mrgreen:

Tempat bermalam

Sarapan kupat tahu di depan st. Kiaracondong. Mantaps!

Proses interview berlangsung lancar, Alhamdulillah.. bukan bermaksud GR atau takabur, tapi feeling saya kayaknya bisa lolos, kebetulan juga kata HRDnya kemungkinan saya diterima 99%, yang sisanya 1% milik Tuhan, hehe.. Oke, saya pulang dengan girang. Tapi anehnya, di hari kedua kepulangan saya, koq rasanya jadi ragu dengan pekerjaan ini. Setiap jam 1 siang ke atas saya selalu was2, takut kalo dapet telepon dari penerbit yang mengabarkan saya bisa mulai bekerja kapan. Awalnya saya excited, malah udah nghayal jauh, hehe.. Mungkin saya ragu karena job description yang berbeda dengan yang ditawarkan semula, nantinya kalau diterima saya akan menjadi penanggung jawab lini buku anak dan remaja, yang tugasnya antara lain bertanggung jawab terhadap proses penerbitan dan memastikan penulis2 luar mau menerbitkan bukunya di perusahaan. Editing mungkin hanya sesekali saya kerjakan kalau ada waktu senggang, kalau tidak, ya, dilempar ke editor lepas. Wew.. jauh dari bayangan saya..

Sampai tiba saat hari terakhir yang akan menjadi penentu diterima tidaknya saya. Kenapa saya bisa bisa memperkirakan datangnya hari itu? HRD pernah bilang, kalau diterima saya akan mulai bekerja Senin, 21 Maret 2011, dan hari kerja mereka hanya Senin-Jum’at, berarti hari Jum’at adalah waktu terakhir penantian saya. Lagi2 saya was2 di atas jam 1 siang. Jam 2, jam 3, jam 4.. fiuuhh.. terlewati sudah.. entah, tapi saya berharap tidak ada telepon panggilan kerja, at least saya jadi ga bingung untuk menentukan langkah.

+62222******* calling

Mulai bekerja hari Senin, nanti menemui Bapak Irfan bagian rekrutmen, bla.. bla.. bla.. Oh.. saya nggak tau harus senang atau sedih..😆

Saya langsung sms Ayah saya, beliau menelepon, menanyakan rencana keberangkatan saya dan sebagainya. Saya masih dalam kondisi bingung dan ragu. Sampai saat beliau menanyakan besar gaji yang akan saya peroleh di sana. Kalau untuk saya pribadi, besar gaji yang saya ajukan dan telah disepakati oleh perusahaan tersebut sudah cukup untuk biaya hidup di Bandung, tapi tidak menurut Ayah saya. Beliau khawatir saya tidak bisa hidup dengan gaji tersebut, ini Bandung, bukan Malang atau Surabaya. Karena pertimbangan itulah beliau meminta saya memikirkan ulang untuk melanjutkan atau tidak. Mendengar hal ini beban saya sedikit berkurang, paling tidak ada orang yang masih menghalangi kepergian saya meski alasannya tidak sama dengan saya.

Sampailah pada keputusan. Orang lain mungkin akan berpikir saya bodoh atau terlalu naïf karena sudah membuang kesempatan ini. Silahkan, semua berhak beropini, tapi yang menjalankan tetap saya, mereka tidak akan bisa merasakan yang saya alami. Entah kenapa, saya akhirnya sadar bahwa ini hanyalah buah dari obsesi mendapatkan pekerjaan kembali dengan cepat, pekerjaan pengganti yang lebih baik dari sebelumnya.

Sesaat sebelum saya benar2 angkat kaki dari kantor lama, teman kerja saya yang juga menjadi korban pemutusan kontrak sempet nyeletuk, “Kira2 nanti kita bakal cepet dapet kerjaan baru ga?” Ga tau kenapa, tapi saya spontan menjawab dengan yakin “iya”. Kalo dipikir2 sekarang, koq waktu itu kerasa kayak tantangan aja, selain kurun waktu yang cepat, perusahaan juga menjadi point lain yang penting, perusahaan baru haruslah lebih besar dari perusahaan lama tempat kami bekerja. Kurang lebih seperti itulah obsesi yang tertancap dalam benak kami. Dan sekarang, obsesi itu telah membuahkan hasil, saya diterima di sebuah penerbit yang cukup besar di Bandung, dengan tanggung jawab yang lebih besar dan bisa dibilang ada peningkatan jabatan. So..??? Apa yang saya dapat? Kepuasan? Kebanggaan? Ya, saya merasakannya, tapi apakah saya nyaman dengan itu semua? Jawabannya tidak. Oh.. Gosh.. hampir saja saya terjebak dalam jerat dunia industri yang bisa merubah saya menjadi kaum oportunis yang kehilangan identitas diri. It’s not me.. tujuan saya bekerja bukan untuk mendapatkan penghormatan, kebanggaan, atau pengakuan dari orang lain, bukan juga sebagai ajang pembuktian bahwa saya bisa lebih baik dari siapapun.

Beberapa yang lalu, saya sempat berseloroh pada beberapa orang sahabat, kalau saya hanya mau bekerja dengan hal2 yang berhubungan dengan tulis-menulis (bekerja pada instansi/ perusahaan). Yeah.. kalian bisa menebak apa yang dikatakan sahabat2 saya. Mereka bilang agar saya tidak memilih2 pekerjaan, itu sama saja dengan mengambat atau menutup rezeki. Oke.. saya bisa mengerti maksud mereka, tapi setiap orang tidaklah sama, dan saya bukan mereka. Saya adalah orang yang berganti2 pekerjaan selama 4 kali dalam kurun waktu 3 tahun sampai mendapatkan yang sesuai dengan hati dan jiwa saya, bukan semata2 demi jabatan dan rupiah. Tidak.. saya pun tidak menyalahkan mereka atau siapa saja yang berbeda dengan saya, karena tiap orang memiliki motivasi dan tujuan yang tidak sama. Ada yang memang bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan, ada yang bekerja sesuai panggilan jiwa. Dan saya.. ya.. saya adalah golongan yang terakhir.

Rezeki.. bicara soal hal ini, sebenernya agak takut juga, takut kualat. Pilih2 kerjaan berarti sama dengan menolak kesempatan dan rezeki yang Tuhan berikan. Tapi untuk apa banyak rezeki kalau menjalaninya tidak bahagia, tidak nyaman, tertekan. Well.. saya tahu, setiap pekerjaan butuh pengorbanan, butuh perjuangan, bahkan terkadang harus meninggalkan zona nyaman. Tapi.. saya memiliki prinsip bahwa tidak semua hal bisa dibeli dengan uang dan jabatan. Dan soal rezeki itu, saya yakin Allah akan senantiasa membukakan pintu untuk orang2 yang terus berusaha, sekalipun harus memilih2 pekerjaan yang sesuai dengan hati😉 Logikanya gini, deh.. Kalau kita menjalankan sesuatu dengan senang, hasilnya pasti akan maksimal. Sebaliknya, kalau kita menjalankan sesuatu dengan terpaksa, suatu saat kita bisa bosan, malas, dan berimbas pada hasil kerja yang kurang maksimal. Correct me if I’m wrong😀

Orang hidup butuh uang. Saya tidak memungkiri hal ini, siapa sih yang ga pengen menghasilkan uang? Ga munafik, saya masih ingin makan es krim, facial, traveling, beli buku, dan semuanya itu hanya bisa diwujudkan dengan uang. Bukan hanya kebutuhan hari ini, tapi juga untuk simpanan masa depan, waktu Ayah saya sudah tidak lagi bekerja karena faktor usia, waktu saya akan mengurus kebutuhan hidup orang tua saya di usia senja. Karena saya anak tunggal, saya tidak bisa mengandalkan saudara, kakak atau adik untuk menghidupi orang tua saya kelak. Saya harus bisa melakukannya seorang diri, dan harusnya saya sudah memikirkan hal itu dari sekarang, menyisihkan sebagian uang untuk saat2 itu. Ya.. saya butuh uang, tapi hal ini tidak lantas membuat saya menghalalkan segala cara, bekerja membabi buta, mengambil apapun yang disajikan di depan saya. Kenapa? Karena saya tidak ingin proses ini semata2 hanya berorientasi pada rupiah.

Akhir2 ini saya sering bertanya pada diri sendiri, apakah saya sudah membuat keluarga saya bangga, Mbah Kung, Ayah, Mbah Uti, apakah mereka bangga dengan diri saya selama ini? Saya bukan PNS, dosen, dokter, dan sederet daftar profesi yang selama berabad2 ini digolongkan dalam kategori sukses. Jujur, saya muak dengan predikat sukses yang selama ini seolah memarjinalkan profesi lainnya. Kenapa? Karena saya iri, saya tidak bisa menjadi seperti orang2 sukses itu? Kalaupun saya memiliki kesempatan, saya tidak mau, saya akan menolaknya. Saya tidak mau lingkungan mendikte profesi apa yang seharusnya saya pilih hanya demi gelar orang sukses nempel di jidat saya. Saya memiliki jalan sendiri, dan bagi saya sukses bukanlah semata2 soal seragam dan rupiah, sukses tidak bisa diukur dengan materi. Sukses menurut saya adalah, saat di mana kita bisa mengoptimalkan kemampuan diri yang sesuai dengan idealisme pribadi. Pengurus panti jompo, relawan rumah singgah, pemadam kebakaran, bahkan mungkin kalau ada profesi pencari orang2 hilang. Apakah semua itu bisa dikatakan sukses? Ya, kalau yang menjalaninya dengan sepenuh hati, terlebih karena kehadirannya memberi dampak positif untuk orang lain. Itu sukses menurut kamus hidup saya, sebenarnya agak kurang tepat kalau dibilang sukses, karena kesannya terlalu naïf. Tapi saya juga belum menemukan kosakata yang tepat:mrgreen:

Mbah Uti pernah bilang, “Orang tua itu seneng, bangga, kalo ditanya orang anaknya udah kerja apa belum, jawabnya udah.” Sederhana memang, tapi setiap kali memikirkan hal ini kadang saya jadi sedih, dulu waktu saya masih nganggur dan orang tua saya ditanya gitu, gimana perasaannya, ya? Beberapa bulan yang lalu waktu saya masih kerja sebagai penulis dan editor buku anak, saya pernah membawa pulang buku2 saya yang sudah diterbitkan. Melihat respon Ayah kala itu saya tahu kalau ia bangga, meskipun anaknya bukan PNS atau dokter, dan meskipun buku pertama saya yang nangkring di rak buku itu hanya buku aktivitas berhitung, belum buku2 science populer yang baru dalam proses pengerjaan.

Terlepas dari apakah keluarga saya bangga dengan diri saya, semua hal yang selama ini saya kerjakan membuat saya bahagia, saya menikmati setiap prosesnya, saya tidak peduli dengan persepsi orang lain tentang kesuksesan versi jaman prasejarah itu. Tujuan saya hidup bukan semata2 memperoleh pekerjaan hebat, jabatan tinggi, atau gaji yang menggunung. Saya ingin lebih mengenal diri saya, bukan sebagai robot penghasil rupiah, tapi sebagai manusia yang memiliki jiwa, passion. Selama hampir 26 tahun perjalanan hidup saya merasa sudah mulai mengenal siapa saya.

Dulu waktu mengisi form untuk workshop LA Lights Indie Movie, ada 1 point yang mengharuskan saya menggambarkan diri saya hanya dengan 15 kata. Dan inilah yang saya tulis: Writer, Art Lover, Walker, Fighter, Girl Power, “Creator”, Empathy, Idealisme dan semangat hidup yang tinggi. Beberapa kata di antaranya memiliki benang merah yang sama.. Creator.. Bukan, saya bukan Tuhan yang menciptakan semesta, saya hanya manusia biasa yang memiliki passion untuk menciptakan sesuatu, entah itu tulisan, lukisan, masakan, kerajinan, dan banyak hal lainnya, hal yang tidak sekedar disebut pekerjaan (mengerjakan), tetapi penciptaan (menciptakan).

Kata inilah yang paling menggambarkan diri saya secara keseluruhan. Kata yang akhirnya membuat saya mengambil keputusan ini, membuang kesempatan untuk bergabung dengan penerbit yang cukup besar di Bandung. Penanggung jawab lini buku anak dan remaja, jabatan yang cukup keren. Pekerjaannya pun cukup menantang, saya harus berhubungan dengan banyak penulis, baik yang kenamaan maupun yang masih baru, memastikan semua proses penerbitan buku berjalan sesuai dengan deadline dan target. Dan.. 70-75% buku2 tersebut bertemakan islam. Wow.. banyak hal baru yang akan saya pelajari di sini. Saya cukup menyukai hal baru, tapi kenapa saya menolak? Takut tidak mampu karena network dengan penulis buku anak dan pengetahuan tentang islam saya masih kurang? Sebenarnya bukan hal itu yang menjadi alasan utama, saya bisa belajar mengenai hal2 itu, InsyaAllah tidak akan menemui kesulitan yang berarti dan tidak butuh waktu lama. Tapi setelah dipikir2, saya jadi tahu alasan utama kenapa saya merasa ragu untuk menerimanya. Ya.. saya bukanlah creator di pekerjaan tersebut, saya hanya bertugas sebagai editor sesekali dan penanggung jawab sepenuhnya. Tidak ada proses penciptaan di situ, I can’t create something. Sebutlah karya, saya tidak menghasilkan karya di sana, selain hanya memastikan penulis mau menerbitkan bukunya di perusahaan tersebut. Saya tidak bilang pekerjaan itu buruk atau remeh, ini pekerjaan yang cukup menantang dan keren, tapi saya tidak merasa “terpanggil” di sini.

Bergumul kembali dengan kain, benang, mesin jahit, pita, renda, kertas, pensil, dan netbook kesayangan, itu lebih “memanggil” saya. Banyak yang bisa saya ciptakan dari benda2 tersebut. Proyek2 angel hope masih banyak yang harus diwujudkan, sulaman di tote bag juga harus diselesaikan, dan.. wow.. saya nulis ini sampe jam 5.30 pagi, belum tidur malam sedetik pun. Here I am..:mrgreen:

Paling tidak, saya ingin diberi kesempatan untuk mengembangkan usaha dengan tangan saya sendiri, meski hasilnya belum kelihatan, tapi saya yakin ke depannya akan bisa menghasilkan. Semua butuh proses, aight?😉

2 responses to “Job isn’t a Job

  1. sesy March 19, 2011 at 7:49 am

    hey miss, i remember exactly that i asked the question. but dont be trap on the answer miss. whatever is that i always support u because each person has their own path. as long as we have choices, choice!

    • meliamex March 24, 2011 at 4:51 am

      Hehe.. i know.. wktu dulu aq jg msh kebawa emosi, jd terobsesi dpt kerjaan cepet, untuk ngebuktiin ke bbrp org kalo qta bs lbh baik dr perusahaan itu, haha..
      Tengkyu miss..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: