kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Tongkat Sihir dan Lemari Ajaib


Tongkat Sihir dan Lemari Ajaib

<p衧
<p 衧<p s衧<p 衧<p s衧<p 衧

Matahari pagi menyapa hangat seluruh penghuni negeri 1000 peri. Bunga-bunga bermekaran, buah-buahan ranum bergelantungan, sayuran pun menghijau tanda siap dipetik. Semua bergembira, hari panen telah tiba!

Negeri 1000 peri terbagi dalam 3 kawasan, yaitu taman bunga, kebun buah, dan kebun sayur. Masing-masing peri menghuni dan menjaga kawasan tertentu. Peri-peri di taman bunga bisa memanen nektar atau sari bunga yang manis setiap hari, tidak usah menunggu masa panen seperti buah dan sayur. Sedangkan peri-peri di kebun buah dan sayur harus menunggu masa panen tiba.

Peri-peri kecil itu beterbangan dengan sayap-sayap yang mengepak indah ke sana ke mari. Lima sampai enam peri menggotong 1 buah atau sayur yang cukup besar. Hasil panen itu dikumpulkan dan akan dibagi bersama.

“Wah.. panen kita hari ini banyak sekali!” kata Ratu peri.

Semua peri tersenyum puas, karena kerja keras mereka membawa hasil. Setiap pagi dan sore tanaman-tanaman itu tidak pernah lupa disiram, beberapa hari sekali juga diberi pupuk dan disiangi rumputnya. Dan sekarang, hasil panen sangat melimpah, lebih banyak dari sebelumnya.

Ratu memerintahkan untuk membagi hasil panen pada peri-peri di taman bunga. Peri-peri di kebun buah juga bertukar hasil panen dengan peri-peri di kebun sayur. Sekarang semua peri bisa merasakan hasil panen buah dan sayur. Mereka berkumpul di taman alun-alun, berpesta menikmati hasil panen sambil tertawa riang. Tapi Mayo tampak resah, ia mengamati tumpukan buah dan sayur di depannya.

“Hei, kenapa kamu tidak bergabung dengan yang lainnya?” tanya Luvi, peri dari kebun sayur.

“Kita harus menyimpan buah dan sayur untuk persediaan selama seminggu ke depan,” jawab Mayo.

Luvi tampak sedang berpikir, ia mengingat-ingat sesuatu. “Aduh.. kenapa aku bisa lupa? Masa panen selanjutnya kan masih seminggu lagi!”

“Iya, sejak Ratu menyimpan tongkat sihir kita dan melarang untuk menggunakannya, kita jadi tidak bisa panen setiap hari.”

Luvi terbang ke puncak air mancur. “Teman-teman, kita harus mengumpulkan sisa buah dan sayur untuk persediaan!” serunya lantang.

“Hah?! Untuk apa?” tanya Poki sambil memeluk apel besarnya.

“Kalian lupa? Kita baru bisa memanen buah dan sayur lagi minggu depan! Selama menunggu masa panen itu, apa nektar bunga akan cukup untuk makanan kita?” jelas Luvi.

Suasana menjadi gaduh, ada yang mulai mengamankan jatah panennya masing-masing.

“Semua sisa buah dan sayur yang tidak habis kita makan hari ini, sebaiknya kita simpan di gudang utama,” kata Mayo.

Selesai..!! Gudang kini penuh dengan persediaan makanan untuk seminggu ke depan. Semua peri tampak letih setelah mengangkut begitu banyak hasil panen.

Keesokan harinya, peri koki hendak mengambil sayur untuk dimasak. Tapi ia terlihat sedih, karena beberapa jenis sayur sudah mulai layu dan tidak segar lagi. Ia terpaksa memasak semua sayur yang layu, dan menyisakan sayur yang masih segar untuk besok.

“Paman Koki, kenapa menu hari ini sayur bayam dan sawi saja?” tanya Mayo.

“Aku sengaja memasak semua sayuran yang mulai layu, sedangkan yang segar aku sisakan untuk hari-hari ke depan,” jawab peri koki.

Esok hari, peri koki bertambah sedih, karena banyak sayur yang sudah benar-benar layu dan menguning. Begitu pun dengan hari-hari berikutnya, ia semakin sedih dan muram karena menyajikan masakan dengan bahan yang tidak segar. Buah-buahan juga sudah tidak segar dan beberapa mulai membusuk.

“Kasihan Paman koki, ya? Ia jadi muram begitu karena persediaan sayuran kita sudah tidak segar,” kata Mayo.

“Coba kalau Ratu tidak menyita tongkat sihir kita, sayur dan buah pasti bisa kita sihir agar segar terus!” ujar Poki.

“Kita laporkan saja hal ini pada Ratu, siapa tahu ia akan mengembalikan tongkat sihir kita!” seru Luvi bersemangat.

Mereka bertiga pun menemui Ratu di istana bunga, berharap bisa memiliki tongkat sihir mereka kembali.

“Apa kalian benar-benar membutuhkan tongkat sihir itu?” tanya Ratu.

“Iya Ratu, kalau sayur dan buah membusuk, kita tidak akan mempunyai persediaan makanan lagi,” jawab Poki.

“Coba pikirkan cara lain dulu, sepertinya kita masih bisa menyelesaikan masalah ini tanpa tongkat sihir. Ini akan mengasyikkan, anak-anak,” kata Ratu sambil tersenyum.

Mereka bertiga kembali pulang dengan kecewa. Luvi tampak berpikir keras, sampai-sampai ia tak melihat jalan dan tersangkut sulur markisa.

“Tunggu, teman-teman! Aku punya ide bagus!” teriak Luvi sambil berusaha lepas dari jeratan sulur markisa.

Luvi mengajak Mayo dan Poki ke hutan bambu.

“Untuk apa kita ke sini? Kau mau membuat tongkat sihir dari bambu?” tanya Poki.

“Mana bisa membuat tongkat sihir hanya dari bambu?! Sudah, kumpulkan saja beberapa batang bambu!” jawab Luvi.

Luvi dan Poki mulai memotong batang bambu. Mayo mengamati dengan penasaran.

“Kau mau membuat apa, sih, Luvi?” tanya Mayo.

“Alat yang bisa membuat buah dan sayur tetap segar, hehe..” jawab Luvi.

“Hmm.. tapi kalau hanya kalian berdua yang memotong bambu-bambu ini, mungkin baru jadi seminggu lagi! Aku mau panggil teman-teman untuk membantu,” kata Mayo.

“Benar juga, ya.. Eh, tolong ambilkan karung goni, nampan, dan beberapa potong kayu, ya!” pinta Luvi.

Beberapa peri tampak membantu Luvi memotong bambu. Mayo juga sudah membawa bahan-bahan tambahan yang diminta.

Luvi dan peri-peri lainnya merakit semua bahan-bahan. Tak berapa lama, alat itu pun selesai.

“Taraa..!! Coolgardie kita sudah jadi!” seru Luvi sambil memamerkan alat yang baru dirakit bersama teman-teman peri lainnya.

“Coolgardie? Apa itu, Luvi?” tanya Poki.

“Dulu Kakekku pernah bercerita tentang alat ini, namanya coolgardie, lemari pendingin yang diciptakan di kota Coolgardie, Australia. Alat ini bisa membuat sayur dan buah tetap segar!” cerita Luvi.

Alat ini berbentuk seperti lemari dengan beberapa rak di dalamnya untuk tempat meletakkan makanan. Pinggiran lemari terbuat dari kayu, di sekelilingnya ditutup dengan kawat serangga. Kawat ini akan membiarkan angin bertiup ke dalam melaluinya, namun menghalangi hewan-hewan dan serangga untuk masuk.

“Karena aku tidak tahu bagaimana bentuk kawat serangga, maka kita membuat kawat itu dari bambu yang dipotong tipis dan disusun dengan rongga kecil. Yang penting, angin bisa masuk dan serangga terhalang, hehe..” lanjut Luvi.

Pada bagian atas kotak diletakkan nampan yang sudah diisi air. Selembar kain/ karung goni yang lebar ditempelkan ke nampan, 2 ujungnya menggantung ke bawah di sisi kanan dan kiri kotak. Kain tersebut akan menarik air dari nampan dan turun ke sisi-sisinya.

“Tiupan angin akan melewati kain basah, air dalam kain akan menguap, membawa panas dalam ruangan, dan membuat isi di dalam lemari akan dingin. Begitulah cara kerjanya, teman-teman.Oh, ya, jangan lupa letakkan lemari ini di tempat yang terkena angin!” Luvi menutup penjelasannya.

Semua peri berdecak kagum mendengar penjelasan Luvi, termasuk Ratu yang mengamati mereka dari jauh.

Hari-hari berikutnya, para peri tampak sibuk membuat beberapa lemari pendingin untuk menyimpan persediaan makanan. Tak terasa masa panen telah tiba kembali. Ada yang bertugas memetik buah dan sayur, ada yang bertugas menyelesaikan lemari pendingin. Semua bekerja dengan keras tanpa tongkat sihir.

Negeri 1000 peri kini tampak unik dengan pemandangan lemari pendingin yang menggantung di batang-batang pohon.

“Pekerjaan yang sangat bagus, anak-anak!” ujar Ratu peri.

“Hehe.. Iya, Ratu. Untung dulu Kakek pernah bercerita tentang lemari ajaib ini,” jawab Luvi.

“Ajaib tanpa tongkat sihir!” sahut Mayo.

“Ya, kalian bisa melakukan hal-hal menakjubkan tanpa tongkat sihir.” Ratu meyakinkan.

“Iya, lebih seru dan mengasyikkan!” ujar Poki.

“Bisa bermain sambil belajar, kan? Daripada memakai tongkat sihir, hanya mendapat hasilnya tanpa tahu bagaimana membuatnya. Betul, tidak?” goda Ratu.

“Haha.. Iya, betul, Ratu!” jawab Poki.

“Jadi, apa kalian masih membutuhkan tongkat sihir?” tanya Ratu.

“Tidaakk..!!” sorak mereka bertiga sambil melompat girang.

Sejak saat itu, penghuni negeri 1000 peri tetap bisa memakan buah dan sayur segar meski masa panen tidak setiap hari. Berkat lemari pendingin ajaib yang tanpa sihir.

Sumber referensi: http://www.scribd.com/doc/11629042/MOD12teknologitepat

<p

10 responses to “Tongkat Sihir dan Lemari Ajaib

  1. dheeasy March 30, 2011 at 3:33 pm

    Kulkas buatan sendiri, tanpa mesin, semua dari lingkungan sekitar…. Keren banget…🙂

  2. dini March 30, 2011 at 5:43 pm

    duuhh..idenya briliant say!
    salut!🙂

  3. afruzrahman April 9, 2011 at 2:32 pm

    mandiri…. itu bisa! ‘)

  4. silvia lagi July 19, 2012 at 2:52 am

    gak ngerti tuh taoi luar biasa

  5. silvia lagi July 19, 2012 at 2:54 am

    sihir itu nyata enggak kalau nyata ajari yoooooooooo thank you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: