kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Mempertanyakan Konsep “Malang Tempo Doeloe”


Sudah menghadiri event Malang Tempo Doeloe? Apa yang Anda dapat? Foto-foto, perut kenyang, baju baru? Hanya itu? Lalu apa bedanya dengan bazaar atau bahkan pasar pagi setiap hari Minggu di sepanjang jalan Semeru? Bedanya hanya masalah atap, kalau pasar pagi beratap tenda, kalau MTD beratap daun kelapa.

Event budaya tahunan ini mulai digelar sejak tahun 2006 yang lalu. Konsep awalnya jelas, berusaha menghadirkan nuansa tempo doeloe bagi warga Malang dan sekitarnya. Upaya dinas budaya dan pariwisata pemkot Malang ini memang patut diapresiasi. Sepanjang jalan Ijen disulap menjadi perkampungan rakyat, lengkap dengan stan beratap daun kering dan ornamen-ornamen pendukung lainnya, seperti foto-foto kota Malang era 40an seukuran baliho, kendaraan antik sampai pengunjung berkostum jadul. Tak hanya itu, berbagai hiburan rakyat tradisional juga disuguhkan, mulai dari ketoprak, ludruk, wayang, sampai keroncong.

Mulai dari MTD pertama sampai keempat, saya dan teman-teman menghadiri event tersebut lengkap dengan kostum tempo doeloe. Waktu itu bener-bener niat, malah ada temen yang bergaya ala Bung Tomo, tokoh di jaman penjajahan, celana pendek+sarung, emak-emak berangkat ke sawah dengan jarik ¾, bahkan ada yang bawa sepeda onthel hasil pinjaman dosennya. Ga ketinggalan foto-foto dengan background landscape Malang era 30-40an, sawah buatan, sapi betulan, dan kendaraan-kendaraan kuno, malah sempat foto bareng segerombolan orang dengan kostum Bung Karno dan pejuang kemerdekaan. Pokoknya seru abis, dah.. sebenernya waktu itu saya sempet ngajak anak-anak nonton keroncong, tapi ga ada yang mau, akhirnya ya jalan terus sampe kaki kurus.

Seru2an di MTD 2008

Itu duluuu.. waktu masih awal-awal digelar. Sekarang?

Jujur, sebenarnya saya sudah mulai tidak begitu excited untuk menghadiri Malang Tempo Doeloe. Tahun 2010 yang lalu saya absen, sebenarnya tahun ini juga mau absen, tapi urung gara-gara ada teman dari Surabaya yang ingin tahu, sekalian lah, kebetulan waktu itu lokasi kami di seputaran Jl. Semeru. Alasan kenapa saya tidak lagi tertarik? Sederhana saja, semakin tahun event ini semakin tidak terkonsep, seolah kehilangan identitas dan terkesan dipaksakan.

Dulu, sempat ada rumor bahwa event Malang Kembali (MTD) akan ditiadakan karena kesannya “mubazir”, entah dari segi financial atau lainnya. Tapi nyatanya pemkot masih mempertahankannya sampai menjadi event tahunan yang ditargetkan mampu menjadi daya tarik wisata dan budaya, bukan hanya bagi warga Malang, melainkan juga warga di luar Malang. Terbukti, selama beberapa kali event ini digelar memang cukup banyak wisatawan dari luar Malang, terutama dari Surabaya.

Tapi sekarang justru saya yang berpikir bahwa event ini cenderung “mubazir”, kalau tetap stagnan dan jalan di tempat. Entah bagaimana suasana MTD tahun lalu, tapi kalau tahun ini, saya merasa nuansa tempo doeloe mulai luntur. Sepanjang jalan yang saya temui hanya puluha manusia dan stan itu-itu saja. Kalau hanya sekedar pameran pakaian dan jajanan, di pasar pagi juga banyak. Rasa-rasanya MTD tidak jauh berbeda dengan bazaar, pasar rakyat, atau pasar pagi, hanya saja mengusung tema tertentu. Belum lagi dengan banyaknya ornamen-ornamen tempo doeloe yang hilang, foto-foto landscape kota Malang era 30-40an, panggung pertunjukan tradisional, dll. Saya tidak tahu permasalahan apa yang sebenarnya dihadapi oleh Dinpar, mungkin kehabisan ide, kehabisan stok cerita atau foto-foto landscape Malang. Tapi ini sungguh terkesan dipaksakan. Sorry to say, tapi sepertinya event ini hanya berorientasi pada pemasukan kas daerah dan gengsi semata.

Menurut kabar yang saya peroleh, setiap stan diwajibkan membayar biaya sejumlah Rp 650.000. Bayangkan, ada berapa stan di sepanjang Jl. Ijen? Tinggal dikalikan saja. Itu belum termasuk penghitungan pemasukan dari lahan parkir. Sedangkan biaya yang dikeluarkan mungkin hanya untuk dekorasi dan pengisi acara (kesenian tradisional), soal perijinan dan keamanan, seharusnya gratis donk, kan sesama instansi, itungannya masih berada di bawah naungan dan atap yang sama, PemKot Malang. Bukannya mau menghakimi, tapi saya mencoba berpikir secara logika saja. Kita juga tidak bisa menampik kenyataan bahwa event ini memang mendatangkan pendapatan lebih bagi para pedagang di sekitar lokasi, yang secara tidak langsung juga berdampak pada perekonomian warga setempat.

Tapi, saya kok tetap merasa bahwa upaya dari Dinpar ini masih belum maksimal, masih tanggung, setengah-setengah. Kalau memang tujuannya mengenalkan budaya maupun sejarah Malang Tempo Doeloe, ya seharusnya total. Jangan hanya memanfaatkan event untuk mengais pemasukan kas saja. Berikan sesuatu pada setiap pengunjung yang hadir, bukan hanya menyuguhkan aneka panganan dan pakaian, yang saya juga tidak begitu yakin apakah memang ada di jaman dahulu. Ingin fokus pada sejarah Malang? Ya berikanlah akses untuk itu, pemutaran film dokumenter atau diorama-diorama bersejarah misalnya. Fokus pada budaya? Suguhkanlah kesenian tradisional yang seutuhnya. Jadi, setiap pengunjung yang datang akan membawa pulang sesuatu, pengetahuan baru, pengalaman baru, tidak sekedar perut kenyang dan baju baru.

Heritage? Yang mana?😕

Sebenarnya, kalau dikemas dengan baik dan menarik, event ini cukup potensial untuk pengembangan wisata sejarah dan budaya kota Malang sendiri. Para siswa bisa belajar, menambah wawasan baru yang mungkin tidak didapat di bangku sekolah, para wisatawan luar bisa semakin mengenal kota Malang, dan sekaligus dapat menjadi ajang nostalgia bagi orang-orang yang masa mudanya berada di era 30-40an.

Mbah putri ini semangat menceritakan landscape Malang era masa mudanya dulu.

Mungkin Mbah putri ini sedang mengenang kilas balik masa mudanya, di mana landscape kota Malang seperti yang dilihatnya dalam foto. Saya jadi terpikir, kenapa tidak mencoba menghadirkan suasana masa muda Mbah putri ini secara utuh?

Lupakan semua stan berbayar yang menyajikan pakaian dan jajanan itu! Sulap sepanjang Jl. Ijen menjadi diorama bersejarah, rumah-rumah atau perkantoran yang memiliki kenangan penting bagi sejarah kota Malang, bangunannya tentu saja tidak permanen. Sediakan layar tancap untuk menonton film documenter atau film-film lainnya yang berhubungan dengan sejarah atau budaya kota Malang. Keluarkan semua pertunjukan kesenian tradisional khas Malang. Kalau perlu sewalah orang untuk memainkan peran sebagai pejuang atau tokoh sejarah Malang yang akan menyajikan cerita interaktif dengan pengunjung (semacam pertunjukan) di sepanjang jalan Ijen (bukan di panggung), bisa menjadi semacam pemicu nuansa Malang tempo doeloe.

Kenakan sejumlah tiket masuk bila perlu (kalau mungkin anggaran Dinpar kurang). Ini mungkin juga bisa sedikit mengurangi ketidakteraturan dan kesemwrawutan. Saya rasa pengenaan tiket masuk juga bukan masalah yang begitu besar, sepanjang harga yang dikenakan juga masuk akal, tidak perlu mahal. Ya, kalau dikonsep seperti ini memang akan terkesan tidak seperti pasar rakyat, melainkan lebih ke misi wisata sejarah dan budaya. Kalau hanya untuk memberikan hiburan gratis pada warga, di luar ini juga banyak kesempatan. Mengubah suasana pasar pagi juga bisa, toh kontennya sama-sama seputar pakaian dan jajanan:mrgreen: Tapi khusus untuk event Malang Tempo Doeloe, sajikanlah dengan cara elegan dan bermuatan, tidak urakan.

Well.. sebenarnya ini tantangan untuk PemKot Malang, khususnya Dinpar. Tinggal menentukan pilihan saja, mau benar-benar menjadikan potensi ini menjadi sesuatu yang berisi atau hanya sekedar hiburan tanpa isi😉

Hanya ini yg menarik u/ diabadikan dr MTD 2011 (sore hari), lainnya cm urusan perut sama badan.

13 responses to “Mempertanyakan Konsep “Malang Tempo Doeloe”

  1. kecenk May 23, 2011 at 2:07 am

    iya anda benul…seharusnya dinas pariwisata kota malang..memperkenalkan budaya asli malang kepada generasi muda… tarian asli malang itu apa????? hehehe pasti jarang ada yg tau…

    • meliamex May 23, 2011 at 2:20 am

      iyoo.. ga mek mangan ambe tuku klambi ae.. tarian asli malang.. hmm.. lha yo ikuuu… aq dwe sing tuwek ngene ae ga ngerti, apalagi generasi muda kita..😆
      yokpo iki til.. reptil..

      • NoMention May 23, 2011 at 7:22 pm

        Sebuah opini yg menarik…beberapa teman yg notabene aremania, termasuk saya, jg sedikit byk mengeluhkannya. Keliatannya pemkot malang sudah tidak mementingkan event tahunan ini sbg ajang pengenalan sosial budaya, tapi lebih kearah peningkatan kas daerah semata. Harga stand trs melonjak dari thn ke thn,mulanya 200 ribuan kini mncpai 700 ribuan. Konsep tata ruang jg tidak berubah sama sekali, intinya hanya stand, panggung utama dan spot-spot papan baliho bertuliskan sejarah malang. Sungguh sangat disayangkan kalo menghadiri MTD hanya untuk berfoto-foto…tiwas uklam-uklam mek oleh sikil gempor…😥

  2. meliamex May 24, 2011 at 1:38 am

    @NoMention: Iya.. kalo cm dpt foto2 sayang bgt, pdhl event ini potensial u/ mengenalkan budaya asli Malang, mumpung antusiasme warga sdh tinggi..
    Yokpo lek kita sampaikan opini kita pd DinPar atau panitia? Iso gak yo?😕

  3. anto May 27, 2011 at 1:41 pm

    di MTD 2011 banyak yang gak sesuai ma malang waktu dulu….banyak yang gak mencerminkan budaya kota malang di jaman dulu…terus buat pemkot,tolong masalah sampah juga diperhatikan..sediakan tempat sampah buat taun depan..31 truk gitu loh

    • meliamex May 28, 2011 at 1:30 am

      Yup, saya jg merasa demikian, intinya.. event ini sdh kehilangan esensinya, kalau mau dilanjutkan spt itu, lbh baik ganti judul saja, jgn Malang Tempo Doeloe, saya tdk rela, ganti saja dgn nama pasar rakyat..🙂
      Masalah sampah jg mjd keprihatinan saya, di luar kesadaran pengunjung u/ menjaga kebersihan, saya jarang melihat ada tempat sampah di lokasi, sampe saya musti nyimpen sampah bekas tebu dan saya buang di tempat sampah parkiran MOG..
      Mungkin pengunjung berpikir “Ah, buang aja di sembarang tempat, nanti juga ada yg bersihin”. Mindset spt ini yg sbnrnya hrs dibenahi, mulai dr diri sndiri dulu lah.. dan, ya, u/ panitia TOLONG SEDIAKAN TEMPAT SAMPAH YG MEMADAI..
      Uneg2 kita bs disampaikan ke siapa, ya?

      Terima kasih sudah mampir😉

  4. villa massilia May 30, 2011 at 3:27 am

    Iya semuanya berbalik lagi dengan kehidupan yang sekarang ini, semuanya berubah drastis dan terlalu kebarat-baratan. Tapi tanpa begitu indonesia juga tidak akan maju serba binggung juga. Tapi seharusnya pemkot malang tetap melaksanakan agar tradisi kota malang tidak punah🙂.

  5. Rendra 'Coco' Kurniawan June 25, 2011 at 7:27 pm

    Wauwww.. luar biasa.. salut sama mbak’e..
    Tp trlambat jg nemu artikel ini..
    Melu urun rembug ahh… Klo saya memposisikan sbg orang awam, mesti bkal berpikiran sma kyo smpean mbak sumpah.. bener, gak ngapusi.. Dri MTD ke2 sampe ke6, hdir trs gak ada yg trlewatkan (sing pertama drung nang Mlg). nach, fill yg kena banget itu mnurut saya yg kedua (tp kta orang2 sih emang yg kena tempo dulunya tu 1 dan ke2 *2006 & 2007) msh kentel banget tempo dulunya.

    Alhamdullilah, d thun 2011 ini, ada sesosok dosen yg mnghubungi saya, nawarin kerjaan (*red panitia design grafis) menjadi bagian dari MTD VI 2011 ini. Wouwww.. kaget banget biyen iku, tp ya lgsung tak iyakan, kpan lgi bisa menyalurkan ilmuku untuk kota malang. Zzzzzrrrrtttttt…

    Dari artikel yg mbak tulis di atas sbenernya, ada yg kurang dikit. dan itu adlah yg berperan besar dalam event ini. Event ini gak bakal berjalan tnpa itu. Dan itu Yayasan Inggil (nach di banner tu kan ada yayasan Inggil dan Pemkot Malang). Waktu di telpun pak dosen, saya gak di ajak untuk mengabdi (wuiihh) untuk pemkot, tp untuk yayasan inggil. yayasan Inggil merupakan Otak dari semua acara MTD dari awal sampe skrg.
    1. Okey, tak luruskan satu persatu aja, dari pertama yaitu.. Mslh Mubazir.. Bener jg sih, emang mubazir.. Jawabannya adalah.. Sbenernya Yayasan Inggil tahun ini tidak ingin ngadain MTD lagi, terlalu melelahkan &dipaksakan waktunya. Namun dari pemkot memaksa (setau saya emang iya) untuk tetap ngadain (mgkn biar Dinpar biar kliatan Eksis tiap tahun).Akhirnya bln Februari start awal di mulai. Sbnernya itu waktu yg sangat mepet untuk event sebesar Malang kembali, krn tiap tahun panitia slalu berganti (kenapa, itu rahasia pribadi)
    2. Kedua masalah konsep, knp sperti itu.. Sebnernya tiap tahun itu MTD slalu berganti konsep/tema, namun gmn2 otaknya cuma 1, yaitu Dwi Cahyono Pemilik yayasan inggil. Yg lain sbg pengembang saja. Disisi lain tema udah pas, ketika diterapkan dilapangan ternyata gak sesuai, (gak sesuai gmn?) contohnya PKL mbak?? tahun pertama PKL tu hmpir gak ada.. dan di tahun ini malah di Museum Brawijaya ngadain pasar malem, gimana gak ilang tu konsep?? Trs ada lagi hiburan2 diluar konsep, contohnya musisi jalanan yg main musik ditengah jalan depan gereja. Itu masuk area dgn sendirinya (trlalu sulit untuk mengontrol satu persatu).Dan msh banyak lagi..
    3. Ketiga.. masalah Berbayar/tiket. Ide itu sbenernya udah tercetus dari awal, tp apa iya, hiburan untuk rakyat koq di tiketin (kecuali dokar, krena kuda butuh makan,😀 ) Dan mgkn lo ya.. mgkn.. dimalang tu masih krgnya hiburan masyarakat, yg untuk segala usia. Jd ketika ada malang kembali brrruuuggg smua nampung deh dsitu.
    Okey dehh.. dari sni bisa lah ambil sdkit kesimpulan, wlo agak sdikit rancu komentnya.. hehehe.. Trs dinpar/pemkot kerja apa, gak usah ditanya.. Gmn sih pemkot malang tuh.. ya gitu deh.. Sorry mbak, koment’q dowo banget. Mudah2an bisa mmberi sdikit pencerahan.

    Oya mbak’e, klo pgn lbh tau dalemnya Event ini, tar sharing2 tgl 10 Juli d Dome ya.. Sueneng banget aq nduwe duluran maneh.. Peace, Love n Respect…

    • meliamex June 27, 2011 at 1:25 am

      Hwahahaha.. bagian yg “Trs dinpar/pemkot kerja apa, gak usah ditanya.. Gmn sih pemkot malang tuh.. ya gitu deh..” iku josss..!!
      Iyo rek.. sampe lali mention Yayasan Inggil.. Hmm.. brarti mmg kuncinya ada pemaksaan dr intansi pemerintah.. ah.. selalu begitu.. demi.. demi… (jawab dlm hati saja)😀
      Oskraayy.. I got the point..!!😉
      Terima kasih sdh mampir dan komen, ya, mas bro.. sangat informatif..
      InsyaAllah kalo ketemu d Dome nanti atau waktu lain kita sharing2 lg.. menyambung seduluran..
      Peace, Love n Respect…

  6. Gusti Aisyah Putri July 4, 2012 at 11:37 pm

    Di foto yang bareng-bareng itu, Mbak yang mana?😄

    Di sana ada sih pertunjukan ketoprak etc. Tapi aku nggak bisa nikmatin. Rame buanget…panas, bikin BT. Setidaknya bisa simulasi desek-desekkan pas tawaf itu rasanya kayak apa😄

    Tahun ini pas aku ke sana ama temen, yang kami lakukan cuma “main-siapa-yang-bisa-paling-cepat-menghindar-dari-dokar-yang-lagi-jalan.” (seni menikmati kegetiran)

  7. meliamex July 5, 2012 at 3:59 am

    hahahaha.. aku tahun ini gak nengok ke sana sama sekali.. males, ilfil..
    yg tahun ini malah sarat muatan politiknya bu Peni.. errgghhh..

  8. Pingback: “Mental Sampah” | kocomripat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: