kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Saya Pembunuh



Semalam saya hampir membunuh 3 orang sekaligus, sepasang suami-istri dan seorang lagi yang belum saya tentukan, entah Ayah atau Ibu dari seorang gadis belasan tahun. Tapi semua itu urung saya lakukan, karena intervensi seorang kawan. Kalau tidak, mungkin akan ada beberapa nyawa lagi yang melayang dengan cara yang tidak terbayangkan..

Gunting, silet, pena, bahkan kopi bisa menjadi sarana untuk menghabisi nyawa seseorang. Berapa nyawa lagi yang akan saya habisi, dalam fiksi? Yeah.. setiap orang bisa bebas menentukan jalan kehidupan di dalam sebuah fiksi. Saya, pembunuh? Bisa, tapi hanya dalam fiksi yang saya ciptakan. Saya bisa seenak jidat “mematikan” karakter yang sekiranya tidak diperlukan hidup lama di dunia rekaan saya. Bukan lagi pembunuhan karakter seperti kata artis-artis itu, tapi sudah benar-benar pembunuhan nyawa. Kalau sekiranya karakter tertentu harus saya buat mati (bahasanya ga enak banget :-?) demi menguatkan cerita, maka akan saya lakukan.

Semalam saya sedang menciptakan imaji dalam dunia kedua saya, fiksi. Jujur, saya kurang suka dan tidak begitu bisa merangkai cerita yang romantis, drama, ceria. Saya lebih nyaman menciptakan suasana yang suram, absurd, gloomy, dan sad ending. Yeah.. saya kurang begitu suka merangkai cerita happy ending untuk fiksi-fiksi saya, kecuali ada permintaan dari pihak luar. Nah.. yang sedang saya kerjakan semalam memang tidak sepenuhnya otoritas saya, ada kepentingan pihak lain yang harus saya perhatikan, dalam artian, saya ndak boleh menggambarkan kesuraman dalam cerita itu.:mrgreen:

Dalam fiksi tak ada batasan, tak ada tuntutan, tak ada paksaan, saya bebas melakukan apa yang saya inginkan. Saya bisa membuat seorang anak hasil pemerkosaan dibunuh oleh Ibu kandungnya yang gila karena tidak bisa menerima kehadirannya. Saya adalah penguasa dalam dunia imaji saya. Dan saya menikmati proses ini, tanpa kopi. Hmm.. kopi membuat kepala saya pusing dan ulu hati saya nyeri, dengan tubuh saya yang lambat merespon efek caffeine yang baru terasa 4 jam setelah meneguk habis satu mug kopi hitam.

Selamat datang imaji.. Selamat menyelami dunia fiksi.. Tanpa sesapan kopi.. Kita bersua lagi malam nanti..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: