kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Gigi, Sebuah Drama


Gbr: wikipedia

Bisa dibilang saya dibesarkan dengan lagu-lagu Gigi, terhitung sejak… Sekolah Dasar. Kebetulan Om saya dulu lumayan update tentang musik karena beliau juga musisi meski hanya kelas teri. Waktu itu Om saya sering mendengarkan musik-musik Gigi, dan stasiun TV juga berperan besar mempopulerkan lagu-lagu mereka. Angan, Damainya Cinta, Nirwana, sampai Oo.. oo.. ooo adalah hits yang menghiasi tahun 90an. Lagu yang terakhir ini cukup membekas dalam memori saya karena video klipnya yang memorable, anak-anak kecil berkepala gundul itu masih sliweran di ingatan saya tiap kali lagu itu berbisik di telinga:mrgreen:

Dulu, saya sempet agak sebel dikiiittt lihat performancenya Gigi, bukan soal musik, tapi karena rambutnya Kang Armand yang panjangnya udah ngalahin rambutnya kuntilanak, hehe.. Maklum, waktu itu saya masih kecil, masih ingusan, seragam saya juga masih merah-putih. Tiap kali video klip Gigi yang memang sering diputar di TV itu nongol, saya pengen banget nguncir rambutnya si Akang, abisnya tangannya ga bisa diem, nyanyi sambil benerin rambut, hehe.. Tapi saya suka stylenya si Akang, accecories dan wardrobenya keren gilak! Nih salah satu klip dan lagu yang saya suka sekaligus bikin gemez pengen nguncir rambutnya Kang Armand😀

Ga begitu suka sama rambutnya Kang Armand bukan berarti ga suka musik Gigi. Buktinya saya sampai sekarang masih doyan dengerin tembang-tembang lawas mereka. Aihh.. pas banget, ni waktu nulis, playlist winamp lagi muterin Nirwana. Oh, I love this song, sooo muuuccchh..

Saya dan mungkin Anda menjadi saksi perubahan musik, performance, sampe personil Gigi dari masa ke masa. Mulai dari musik yang santai, ballad, religi sampai musik berirama energik. Mulai dari rambutnya Kang Armand yang panjangnya ga aturan, rambut sebahu dihighlight, cepak, agak gondrong, sampe sekarang balik lagi cepak (untung ga pernah plontos). Mulai dari formasi awal, masih ada Ronald yang jadi idola saya selain Kang Armand (halah.. katanya ga suka rambutnya tp nyatanya ngefans juga, hehe) yang akhirnya hengkang, keluarnya Thomas, masuknya Opet, masuknya Budhi, keluarnya Opet, masuknya Thomas (lagi) sampai masuknya Hendi yang bertahan sampai formasi Gigi sekarang. Eh, tapi kalo keluarnya Kang Baron saya kurang begitu update, mungkin waktu itu saya lagi sibuk sama EHB (Evaluasi Hasil Belajar alias ujian), hehe..

Drama minus hiperbola

Menyaksikan rekam jejak perjalanan Gigi ibarat menonton sinetron tanpa drama lebay yang berurai air mata dan berhias caci maki. Ya, perjalanan mereka memang seperti drama yang minus hiperbola, tak ada hal yang disikapi secara berlebihan. Keluar masuknya personil tak lantas membentangkan jurang kebencian diantara mereka. Seingat saya, sih.. tidak ada percekcokan yang berlebih saat personil mereka memutuskan keluar dari band. Seingat saya begitu, atau mungkin tidak diblow up karena media infotainment belum semarak sekarang, hehe.. Tapi saya yakin, meski ada perpecahan tapi tak sampai baku hantam🙂

Waktu pertama tahu Ronald keluar, saya sedih, ah.. siapa lagi yang mau saya lihat di video klip mereka nanti? Haha.. tapi kesedihan itu tidak berlangsung lama, karena Gigi toh tetap berkarya meski ditinggalkan personilnya. Dan, hubungan Gigi dengan mantan-mantan personilnya juga masih terjalin dengan baik sampai sekarang. Love it!

Saya lupa detail pastinya, tapi seingat saya waktu memasuki tahun 98an (semoga ga salah) mereka sudah mulai memiliki drummer pengganti, yaitu Mas Budhi. Saya ingat kalo ga salah lagu “Terbang” itu video klipnya sudah sama dia. Vidklip itu keluar waktu saya kelas 1 SMP (semoga ga salah inget, lagi). Dan saya suka banget sama lagu itu, meski menurut kuping awam saya beat serta feelnya berbeda dan sudah mulai meninggalkan musik mereka sebelumnya, seperti Nirwana dan kawan-kawannya itu. Dan masa-masa SMP-SMA saya pun semakin dihiasi oleh lagu-lagu Gigi, Terbang, Di Manakah Kau Berada, Hinakah, Jomblo, dan banyak lainnya.

Kalau ingin tahu lebih jelas perjalanan Gigi beserta personil-personilnya, monggo menyimak blognya Khoirotunnisa ini, saya terharu baca kisah perjalanan mereka..  Thanx 4 share, Nissa🙂

Well.. perpecahan band boleh jadi sebuah drama tanpa hiperbola, namun Gigi adalah sebuah karya yang “hiperbola”, dengan orang-orang di belakangnya yang luar biasa!

Prasasti Abadi

Sepanjang hidup saya yang dua puluh enam tahun ini, saya belum pernah menemukan sebuah band yang mencantumkan nama penciptanya masing-masing, bukan disamaratakan menjadi nama band. Gigi selalu mencatumkan nama pencipta lagunya dengan detail, misal lagu: Angan, pencipta: Armand, Baron, Budjana, Ronald, Thomas. Nama-nama itu selalu dincantumkan setiap kali video klip mereka tayang di televisi (dulu, kalau sekarang sudah jarang acara musik yang mencantumkan nama pencipta). Padahal, nama-nama itu adalah personil mereka sendiri, sebenarnya bisa saja mereka meringkasnya cukup dengan Gigi, tidak usah menyebutkan semua nama. Tapi inilah yang membuat saya salut dengan Gigi, mereka benar-benar menghargai karya seseorang. Pribadi yang mencerminkan kesahajaan mereka. Itulah kenapa Opet bilang Gigi gak pernah terdengar mirip band ini atau band itu. Ya, karena Gigi memang sudah memiliki identitas, mereka punya ciri khas sendiri. Proud of you, guys😉

Musik Dinamis

Everything’s changing. Semua orang tahu itu, tak terkecuali dengan musik yang dapat berubah seiring berjalannya waktu. Begitu pula dengan musik-musik Gigi. Meski saya hanya penikmat dan bukan kritikus musik, tapi saya melihat ada perubahan musik Gigi dari awal kemunculan mereka sampai saat ini. Selera pasar, bisa dikatakan merupakan faktor utama yang membuat sebuah band membanting setir ke arah musik yang sedang digandrungi. Bagaimana dengan Gigi? Well.. kalau boleh saya berpendapat, ada, sedikit, tapi dalam artian yang positif.

Gigi ngikutin selera pasar? A little bit, tapi bukan dengan cara mengubah musik mereka serta merta. Yang saya artikan selera pasar di sini mungkin sebatas pada teknologi dan modernisasi. Menurut saya (lagi) Gigi hanya sekedar mengadopsi teknologi dan modernisasi dalam musik mereka. Gigi tetaplah Gigi, mereka tak akan kehilangan jati diri, karena mereka sudah mantap dengan identitas dirinya. Hanya saja mungkin sekarang kita tidak bisa menikmati musik-musik dengan irama sederhana seperti awal-awal kemunculan mereka dahulu di tahun 90an. Simple but memorable 🙂

Makin Tua Makin Gila

Meski musik-musik mereka di tahun 90an terdengar sederhana dan ringan, bukan berarti mereka tampil asal-asalan. Coba simak lagu-lagu jadul mereka seperti Angan, Nirwana, atau sekalian aja Bumi Menangis. Rasakan getar hati setiap kali mendengar melodi yang berpadu harmoni melantunkan nada-nada. Klentingan gitarnya Beli Budjana, cabikan bassnya Kang Thomas, sentuhan elegannya Bang Ronald dan lengkingan bahkan desahan seksinya Kang Armand.

Rasanya tak perlu meragukan musikalitas setiap personil Gigi. Sejak awal mereka memang bukan band yang sekedar ingin main-main, saya yakin itu, ah.. sotoy kamu:mrgreen: Dan kini, seiring bertambahnya usia mereka masing-masing (lirik kerutan di bawah mata Kang Armand) dan usia band yang menginjak 17 tahun, musikalitas mereka bukannya menurun, melainkan semakin meningkat. Makin tua makin gila, euy!

Saya yakin inilah yang membuat Gigi dapat bertahan hingga saat ini. Musikalitas dan identitas diri. Dua hal yang saya rasa harus dimiliki band-band yang ingin dikenang tidak hanya semalam, tapi 1001 malam, ehehe.. Kalau hanya jadi band penggembira yang wara-wiri di tivi dan suka menjadi bunglon, bersiaplah mengepak koper, karena Anda bisa pergi kapan saja😀

Dokumen pribadi

Memorable Song

Entah, hati saya berdesir tiap kali mendengarkan tembang-tembang lawas Gigi. Bukan berarti musik mereka yang sekarang kurang nendang, hanya saja saya memang terlalu cinta dengan hits mereka di jaman jebot. Kapan-kapan saya pengen Gigi bikin lagu baru yang mirip-mirip sama musik mereka di awal-awal kemunculannya😆

Salah satu lagu favorit saya adalah Nirwana, sampe-sampe saya mention Kang Armand lewat twitter kalo lagu ini gak pernah mati. Eh, dapet DM dari si Akang. Duh.. senengnya..:mrgreen: Ini bukti kalo si Akang tuh ga sombong, kalopun mention fansnya ga dibales itu berarti lg ga sempet atau ketindih ma TLnya yang seabreg, kasian atuh kalo disuruh bales mention satu-satu.

DM dr Kang Armand😀

Ini adalah list beberapa lagu yang membuat hati saya berdesir dan bulu kuduk saya berdiri tiap kali mendengarnya. Ah, saya bingung membuat rankingnya.. gini aja, deh..😀

  1. Nirwana

  2. Damainya Cinta

  3. Angan

  4. Oo..oo..ooo

  5. Janji

  6. Terbang

  7. Jalan di Bulan

  8. Bumi Menangis

Gbr: wikipedia

Ya, semua adalah lagu dari album Gigi yang lama, kecuali Jalan di Bulan (eh, bener ga, sih, Jalan di Bulan bukan lagu lama?). Saya memang penggila album lama mereka, rasanya damai saat mendengar lagu-lagu mereka kala itu. Apa memang sayanya aja yang konservatif, ya? Soalnya saya juga cinta berat sama album jadulnya Naif, seperti Piknik 72, Mobil Balap, Di Mana Aku di Sini, dll. Meski saya juga suka album “Planet Cinta”. Ehehe..

Well.. selamat untuk Gigi yang tahun ini berajak remaja, 17 tahun, euy! Semoga semakin edan! Jangan lelah berkarya! Sayang ga bisa nonton konser Sweet Seventeennya :(Tapi insyaAllah kita akan bersua di “Apa Kabar Kawan” Malang bulan depan!

6 responses to “Gigi, Sebuah Drama

  1. Amru Nuswantoro June 23, 2011 at 6:33 am

    uwaww… asyik nee tulisannya…
    ijin share di group GIGIKitaMalang yak…

  2. Ravi Bakhtiar June 23, 2011 at 7:21 am

    mantaffff…..:-bd
    klo bicara GiGi g ada habis nyaa..apalagi jika mencoba mengupas satu2 tiap personel..

    yang membuat saya makin geleng2 ketika sediiit banyak tau tentang racikan sound yng mereka buat..
    (yang saya tau cuma thomas sih huahua yang laen kurang tau juga…)

    • meliamex June 23, 2011 at 7:52 am

      Iya, emg ga akan ada abisnya..
      Wew.. racikan sound? Hmm.. orang awam yg ga tau teknis musik aja udah geleng2 kepala dengerin musik mereka, apalagi yg tau, beuh.. bisa kejang2 kali’ kalo tau..:mrgreen:

      Personil2nya emg maut dah.. Budjana kurang apa coba? biar saya cm bisa asal genjreng dan tau bbrp kunci simpel, tp dengerinnya dah ngeri, euy.. blm lg Thomas. Kang Armand apa lagi.. wktu awal2 dulu aja suaranya udah sangaarr.. sekarang makin tua makin gila!

      Thanx dah mampir ke sini..😉

      • Ravi Bakhtiar June 23, 2011 at 10:06 am

        haha bener2…bisa kejang2…

        hm…ada lontaran kalimat dari teman saya (sama2 penggemar GIGI)..
        “klo diatas panggung mereka bukan seperti maen music..mereka itu “ATRAKSI JOZZ” puyeng2 dah lo mau niru mereka”

        jiakakakakka
        njih sama2🙂

  3. meliamex June 24, 2011 at 1:36 am

    @Ravi: Hahaha.. JOZZnya itu gak nguati.. Oyi.. sampai bertemu di “Apa Kabar Kawan” di Dome UMM 10 Juli nanti, ya..!!😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: