kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Bermain dengan Waktu


gbr: workfromhomewithpurpose.com

Injury time tidak hanya berlaku pada permainan sepak bola, melainkan juga dalam kehidupan nyata. Saya sering menyebutnya saat sedang mengerjakan sesuatu yang mendekati deadline. Dan kalau sudah berevolusi menjadi kebiasaan, maka namanya akan berubah menjadi “Injury Time Dissease”. Ada yang pernah atau bahkan sering mengalami hal serupa? Bermain dengan waktu, meski kadang mendatangkan anugerah, tak jarang justru berubah menjadi musibah😀

Oke.. mari membahas sedikit tentang deadline. Yang merasa sering bermasalah dengan deadline, silahkan angkat kepala tinggi-tinggi:mrgreen: Deadline sekolah, kuliah, kerja, atau kompetisi misalnya. Saya rasa setiap orang pasti pernah mengalami masalah dengan deadline, at least seumur hidup pernah, lah ngalamin barang cuma sekali. Kelabakan di jam-jam terakhir sebelum tugas atau pekerjaan itu harus diserahkan, rasanya gimana, sih? Yang jelas, jantung udah berasa mau loncat aja, emosi naik-turun, nggak nyaman dan capek, apalagi kalau ngerjainnya mulai malem sampe subuh.

Tapi.. yang unik, kadang beberapa orang malah menemukan sesuatu, sebut saja “golden time” mereka di masa-masa injury time ini. Hayo.. ada yang pernah ngalamin? Saya sendiri sudah mengalaminya beberapa kali. Mulai dari hal simple sampai yang lumayan menguras pikiran. Bahkan beberapa teman saya juga pernah mendapatkan inspirasi atau ide cemerlangnya di menit-menit terakhir.

Temen-temen saya pernah dapat ide unik untuk film pendeknya di masa injury time, saya sering lancar nulis waktu mendekati deadline, saya juga pernah dapet konsep ide baru plus ngerjain desain cover buku selama 2 jam karena nguber deadline. Bagaimana dengan Anda?😎

Ada yang tahu kenapa justru di waktu yang sempit banyak ide yang datang dan nggak jarang cukup cemerlang? Saya, sih, menduga ini ada kaitannya dengan pressure aja, karena tekanan waktu mendorong kita untuk bisa menghasilkan sesuatu yang tidak hanya tepat, cepat, tapi juga mengesankan. Meski demikian, ada juga yang ngerjain di masa-masa injury time bukan karena deadline yang terlalu ketat atau pelit, tapi karena memang sukanya ngerjain di menit-menit akhir. Loh.. bukannya kalo dikerjakan lebih awal dengan banyak waktu luang, idenya malah bisa lebih tereksplore lagi? Bagi sebagian orang mungkin bisa, tapi bagi sebagian sisanya, waktu awal-awal yang banyak itu justru ngebuat males-malesan, akhirnya ngulur dan nunda waktu, dan kadang juga menggampangkan. “Ah, besok aja, begini ini dikerjain sejam-dua jam juga kelar.” Tenang, kalau Anda tipe yang seperti itu, Anda tidak sendiri, karena kadang saya pun demikian😆

Beberapa karya yang saya hasilkan ada yang memang karena deadline terlalu mepet, akibat baru dapat informasi, karena banyak hal lain yang juga harus sama-sama dikerjakan, atau juga karena memang sengaja menunda, mengulur dan menggampangkan. Alasan terakhir ini yang kadang bisa jadi boomerang, iya kalo deadline kekejar, kalo enggak bisa nangis darah. Dan baru-baru ini saya kena batunya.

Saya lupa tepatnya, beberapa waktu yang lalu, mungkin sekitar satu bulan lebih, saya dapat info dari temen kalo ada lomba menulis cerita film. Reaksi pertama saya, berangkaaattt..!!! Padahal itu belum tahu hadiahnya. Gak tau kenapa, akhir-akhir ini setiap kali denger kompetisi atau lomba yang berkaitan sama tulis-menulis saya pasti bergairah. Begitu lihat hadiahnya, mm.. oke, boleh, lah.. berapa ratus juta gitu, saya lupa tepatnya. Tapi yang bikin saya lebih semangat itu, karena cerita yang menang akan difilmkan. Buat saya ini lebih menarik dari sekedar hadiah uang tunai! Oke, saya mulai putar otak dan mulai riset kecil-kecilan, mengingat waktu yang saya punya masih sekitar sebulan lebih.Saya harus memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk riset dulu, perkara nulis, itu nomor sekian.

Riset acak pun saya lakukan tanpa spesifikasi dan topik tertentu. Yeah.. saya masih belum menentukan cerita apa yang akan saya angkat. Jujur, tema kebudayaan dan pariwisata ini cukup membuat saya kesulitan, menurut saya temanya terlalu luas. Riset terhenti sejenak, berganti dengan kegiatan lain yang juga menyita pikiran saya. Sembari terus meres otak, saya coba menghubungi panitia lomba karena belum yakin sama format yang dikompetisikan, apakah scenario matang atau sekedar basic story aja.

Email yang lama dinanti-nanti itupun datang juga. Dan yang lebih mengejutkan, mereka juga menyertakan persyaratan dan tema lomba. Ternyata bukan kebudayaan dan pariwisata, melainkan anak-anak dan atau kepahlawanan. Wooowwww… kaget sekaligus seneng dan tambah semangat! Kebetulan saya juga lagi ngerjain script untuk film indie dengan tema anak. At least atmosfir anaknya masih bisa saya rasakan.

Meski sudah dapat titik terang dan semangat baru, toh saya tidak langsung mengerjakannya. Alasannya, sih, karena nggak pengen fokus saya kepecah. Waktu itu saya dan temen-temen lagi gila-gilanya cari ide dan nentuin basic story buat film indie. Dan saya nggak mau pikiran saya kecampur-campur. Biar kelar satu dulu, baru ngerjain lainnya. Ditambah, waktu itu saya juga lagi menggodok ide event Angel Hope untuk hari anak nasional, yang sayangnya batal!!!

Basic story untuk film indie sudah selesai, bahkan saya mulai ngerjain scriptnya. Duh.. makin nggak bisa diganggu, nih.. Ya sudah lah.. kepending lagi script untuk lombanya. Tapi untungnya, saya sudah mulai mendapat ide dan sedikit outline untuk script lomba. Basic idea kurang lebih adalah tentang Pancasila di mata anak-anak.

Script untuk film indie sudah selesai, bahkan udah masuk revisi dan draft 2 sudah dibaca temen-temen, tinggal brainstormingnya yang belum. Sekarang waktunya menyentuh script untuk lomba. Jujur, saya nggak banyak riset untuk script ini, beda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya. Thanx God, karena memang kebutuhan riset untuk cerita ini nggak terlalu urgent, hanya butuh tanya beberapa orang, karena memang idenya cukup faktual dan bisa diobservasi. Tapi yang cukup membuat jatung kebat-kebit, waktu yang saya punya sebelum deadline berakhir hanya beberapa hari.

Outline mulai saya perbanyak dengan point-point cerita, meski ternyata saya nggak menuntaskan outlinenya sampai akhir. Script pun mulai saya kerjakan sejak Selasa malam (28 Juni), dan itu pun saya hanya menghasilkan 4 scene dalam 6 halaman, sekedar pembuka semangat karena saya paskan dengan opening dan “Main Title”. Padahal deadline terakhir pengiriman adalah tanggal 30 Juni (cap pos). Yeah.. kalau diingat lagi rasanya memang konyol, gambling dengan waktu mepet untuk menghasilkan minimal 90 halaman skenario film layar lebar. Dan ini baru pengalaman saya yang kedua kali untuk mengerjakan script seorang sendiri, sebelumnya saya hanya pernah sekali menjadi asisten scriptwriter yang cuma bantu bikin dialog untuk film pendek dan itupun akhirnya nggak kepake’😀

Rabu, 29 Juni 2011, di kalender warna tanggal merah, itu artinya saya libur, nggak kerja. Dan ini berarti saya punya kesempatan untuk ngerjain script, minimal sampe.. ah, harus selesai! Besok terakhir dikirim, cuy!! Oke.. meski tulisan belum selesai, saya sudah menyiapkan rencana teknis pengiriman, karena tanggal 30 saya masuk kerja dan nggak mungkin ijin cuma karena alasan ngeprint dan ngeposkan skenario. Saya pun memutuskan untuk minta tolong sama tetangga yang kebetulan kerjanya di rumah dan bisa ditinggal. Alhamdulillah, dia bisa bantu, masalah pengiriman selesai, sekarang naskahnyaaaa..!!

Monet yg setia menemani

Mulai dari pagi sampai siang saya masih bisa setia di depan si Monet, tapi waktu menjelang jam setengah empat, hati saya mulai gundah dan tergoda menjamah televisi. Satu jam setengah saya tinggalkan si Monet untuk menonton drama korea, haha.. kapan lagi bisa nonton full kalo bukan tanggal merah. Selepas maghrib saya mulai ngejogrog di depan Monet lagi, mantengin final draft versi demo. Dan saya hanya mampu bertahan sampai jam 12an malam. Padahal masih dapet 41 halaman, masih harus ngejar minimal 50 halaman lagi. Hmm.. mulai nggak tenang, badan minta istirahat. Akhirnya saya bargain, tidur barang sejam-dua jam, setelah itu bangun dan nulis lagi. Hasilnya? Ya.. ya.. saya lebih milih molor daripada nulis. Nyerah.. terpaksa saya melewatkan lomba dan kesempatan bagi karya saya untuk dibaca dan dinikmati orang lain. Kesal iya, marah pasti, marah sama diri sendiri yang nggak disiplin dan mulai manja sama jatah tidur. Padahal sebelumnya saya cukup tangguh untuk urusan tidak tidur demi mengejar deadline. Tapi sekarang? Lembek, cemen!

30 Juni merupakan tonggak kesadaran saya, bahwa tak selamanya injury time itu mendatangkan keberuntungan. Saya, yang sering mengandalkan mukjizat di menit-menit terakhir, akhirnya menelan pil pahit juga. Saya gagal, bahkan sebelum saya mulai berkompetisi dengan orang lain, saya gagal berkompetisi dengan ego sendiri. Karena keteledoran dan sikap saya yang menggampangkan, saya jadi kehilangan kesempatan. Tapi saya berterima kasih, karena dari satu kegagalan, saya mendapat banyak pembelajaran.

Sedih sudah mulai berangsur hilang, dan saya mulai menyusun rencana lain. Yang jelas saya akan tetap melanjutkan skenario yang masih setengah jalan itu. Meski belum yakin apakah saya bisa merealisasikannya ke dalam media audio visual alias film, tapi saya akan tetap menyimpannya. Semoga suatu saat nanti saya memiliki kesempatan untuk mewujudkannya. Dan sebelum saat itu tiba, saya akan membuat versi pendeknya dulu, semacam teaser atau apalah. Otak saya pun mulai berputar.

Karena saya buta soal kamera video, rasanya nggak mungkin kalau mau membuat film sendiri, rencananya memang saya adalah kru tunggal, kalaupun ada tambahan orang mungkin cuma untuk editor. Tiba-tiba kepikiran stop motion, ya, kenapa nggak bikin stop motion? Cuma butuh modal kamera dan media untuk “peraga”nya. Ide ini pun langsung saya elaborasi. Kemungkinan medianya menggunakan gambar manual di kertas, atau bisa bikin paper craft. Dan mengerjakannya nanti saya tidak sendiri, melibatkan anak-anak rasanya seru juga. Sekalian menambah wawasan mereka tentang stop motion dan sedikit menyisipkan tema film saya tentang Pancasila😉

Selain mulai mengelaborasi ide, saya juga tiba-tiba kepikiran untuk menghubungi panitia lomba dan meminta dispensasi deadline. Haha.. ya, saya tahu ini cukup konyol. Ah, namanya juga usaha!:mrgreen: Saya pun mengirimkan email pada panitia yang menjelaskan bahwa saya baru mengerjakan skenario 2 hari yang lalu dan masih setengah jalan, sembari menawarkan agar deadline diperpanjang barang sehari-dua hari.

Nggak disangka-sangka, email saya mendapat balasan. Dan yang lebih nggak nyangka lagi, ternyata mereka memberi batas toleransi sampai tanggal 5 Juli. Hahaha.. sumpah, saya seneng bukan main! Sampe heboh di depan monitor kantor. Waktu itu hari Jumat, tanggal 1 Juli, saya hanya punya waktu kurang dari 24 jam untuk menyelesaikan skenario.

Siap berjuang sampai titik kantuk terakhir dengan modal satu mug kopi hitam kental. Terhitung mulai jam setengah 7 malam sampai setengah 5 pagi, saya terus mengetik ditemani playlist musik yang tidak banyak saya utak-atik, nggak begitu fokus ke musik, hehe.. tumben.. Thanx God, semuanya selesai, meski di scene-scene akhir sudah mulai agak kacau. Soal pengiriman juga sudah beres, saya minta tolong temen saya yang PNS untuk ngeprintkan dan ngeposkan, hehe.. hari Sabtu kan PNS libur. Thanx a lot, ya, Pipit yang baik hati😀 Oke.. waktunya tidur malam, eh.. pagi ding.. saya cuma punya waktu 2 jam, dari jam setengah 5 pagi sampai setengah 7 pagi untuk tidur. Alhasil, di kantor bawaannya pengen ndlosor aja.

Script "Sayap Kecil Garuda"

Ah.. lega rasanya, menyadari bahwa saya mendapat kesempatan kedua yang tentu tidak akan saya sia-siakan. Senang rasanya bisa mengirimkan karya hasil kerja keras untuk dinikmati orang lain. Soal menang atau tidak itu bukan prioritas utama, bisa dibaca juri aja udah seneng rasanya. Yup, alasan saya mengikuti lomba ini, pertama, karena ingin menciptakan sebuah karya yang sesuai dengan passion saya, kedua karena saya memiliki kesempatan untuk bersaing dengan banyak penulis-penulis lain dan mewujudkan cerita saya menjadi sebuah tontonan di bioskop. Alasan terakhir? Hmm.. soal hadiah sebenarnya nomor sekian, sih.. hanya saja saya punya rencana, kalau memang saya diberi kesempatan untuk memenangkan lomba ini, saya ingin menggunakan sebagian hadiahnya untuk memproduksi film. Tapi yang terpenting, saya menikmati setiap proses dan perjalanan singkat karya ini. “Sayap Kecil Garuda”, 3 hari, 62 scene, 97 halaman.

So.. masih nggak kapok sama injury time? We’ll se..😀

2 responses to “Bermain dengan Waktu

  1. Buddys Owner Junior September 19, 2011 at 2:15 pm

    salam kenal… saya suka sekali artikel dealine anda… sangat mengena. saya juga sedang menulis script film walaupun masih belum tau harus dikirim kemana…

    • meliamex September 29, 2011 at 5:54 am

      Hai.. hai.. salam kenal juga buddy.. Eh, bener namanya itu, ya?😀
      Thanks udah mampir ke blog saya..
      Wah.. lg bikin script jg, ya? cb ikutin kompetisi yg relevan aja kalo ada, soalnya denger2 kalo ga pny link agak susah u/ nawarin script ke PH.. atau.. cb bikin film sendiri aja.. seru loh.. ajak tmn2 yg udah gape di film u/ bantuin, sementara kamu bikin scriptnya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: