kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Sayap Kecil Garuda


Apakah Anda hapal Pancasila? Seberapa pentingkah Pancasila untuk dihapalkan? Apakah hanya berhenti sampai di situ saja? Bagaimana dengan Pancasila di mata seorang anak dengan tingkat intelegensi yang tidak seberapa tinggi? Sayap Kecil Garuda, sebuah skenario yang mengangkat tema Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di mata anak-anak.

Skenario ini saya ikut sertakan dalam lomba penulisan cerita film 2011. Dengan proses pengerjaan yang singkat, Alhamdulillah.. saya berhasil menyelesaikan 97 halaman skenario untuk film layar lebar ini. Ya, meski harus Bermain dengan Waktu.

Sinopsis

Tak hapal Pancasila? Bagi sebagian orang mungkin bukan masalah besar, tapi tidak bagi Pulung, seorang anak desa dengan segala kesederhanaannya. Pulung tinggal seorang diri dengan Mbah Kung semenjak orang tuanya tiada. Mbah Kung menyadari keterbatasan intelegensi bocah laki-laki ini. Demikian juga dengan Pulung, ia sadar betul bahwa dirinya tak pandai menghapal banyak hal, terutama yang berkaitan dengan pelajaran, materi yang panjang dan bahasa yang tidak cukup sederhana. Tampaknya kapasitas intelegensi Pulung tak sanggup menerima beban pelajaran yang terlalu banyak. Karena daya ingat yang lemah inilah nilai mata pelajaran Pulung di bawah rata-rata, hanya nilai pelajaran yang tidak membutuhkan hapalan, seperti praktek olahraga dan kesenian yang cukup bagus. Wali kelas Pulung sudah sering menyarankan agar ia mengikuti les tambahan, tapi pekerjaan Mbah Kung yang hanya penjual kue tak mungkin menjawab kebutuhan itu. Pihak sekolah pun terpaksa membuat Pulung tinggal kelas sebanyak dua kali. Dan persoalan paling mendasar yang sempat disinggung di awal adalah, di usianya yang seharusnya sudah menginjak bangku SMP, Pulung masih belum bisa menghapal Pancasila.

Malu sebagai anak Indonesia yang tidak hapal dasar negaranya sendiri, Pulung mencari cara agar ia bisa meningkatkan daya ingatnya, setidaknya untuk sekedar menghapal Pancasila. Segala cara dicobanya, mulai cara sederhana dengan hapalan setiap saat di mana saja, menanyakan les yang bisa mengajarinya ilmu menghapal, sampai berburu obat untuk meningkatkan daya ingat yang ternyata tidak semurah yang dikira. Ditemani sahabatnya, Sulik, ia mencoba mengumpulkan uang dari berjual layang-layang buatan sendiri. Namun, ternyata usahanya bukan tanpa halangan. Bahkan beberapa kali Pulung merelakan layang-layangnya dibeli murah karena rasa iba pada anak kecil.

Di sisi lain, Fandi, teman satu kelas sekaligus teman satu RT dengannya adalah seorang anak yang pandai dan memiliki daya tangkap serta daya ingat yang hebat. Tidak seperti Pulung yang tinggal kelas, Fandi justru selalu menjadi juara kelas sejak ia masuk sekolah dasar. Hampir semua materi pelajaran dihapalnya dengan baik. Beberapa kali Fandi terlibat peristiwa dengan Pulung yang terkesan bertentangan.

Saat usaha layang-layang Pulung belum membuahkan hasil, datanglah sebuah peluang untuk mendapatkan uang. Sebuah kegiatan bernama “Sayap Kecil Garuda” yang digagas oleh komunitas pemuda Pancasila ini diadakan untuk memperingati Hari Anak Nasional sekaligus hari lahirnya Pancasila. Meski tak yakin akan berhasil, Pulung tetap memanfaatkan kesempatan ini, ia memutuskan untuk mengikuti lomba pidato Pancasila. Sulik pun pada awalnya ragu, bagaimana mau menghapal naskah pidato yang bertema Pancasila, kalau Pancasila saja tak hapal?

Ternyata Fandi pun mengikuti lomba pidato yang serupa. Tak butuh banyak usaha untuk menyiapkan diri, karena hanya dalam hitungan menit pun Fandi sudah bisa menghapal banyak materi. Berbeda dengan Pulung yang meski sering diulang-ulang masih belum juga berhasil mengingat dengan tepat.

Lomba pidato pun digelar, Pulung dan Fandi bersaing mendapatkan hadiah utama sepeda fixie. Sepeda idaman Fandi yang tidak mungkin dibelikan Ayahnya sebelum sepeda lamanya rusak dan tidak dapat dipakai lagi. Sedangkan motivasi Pulung mengikuti lomba hanya semata-mata ingin mendapatkan hadiah utama untuk kemudian dijual dan hasilnya digunakan untuk membayar les dan membeli obat peningkat daya ingat. Di luar dugaan, aksi pidato Pulung dan Fandi di atas panggung melenceng dari naskah yang telah dipersiapkan keduanya.

To be continued..

Bagaimana akhir kisah kedua bocah ini? Mampukah Pulung menghapalkan Pancasila? Lalu bagaimana dengan Fandi, apakah dia akan memenangkan lomba pidato? Karena ternyata hal-hal yang selama ini dibanggakannya tak selamanya sesuai dengan realita, ia menyadari sesuatu dari “lawannya” yang selama ini diremehkannya.

Tunggu sampai cerita ini hadir di layar bioskop Anda, suatu saat, entah karena menang lomba atau karena ada investor  kebanyaka duit yang bingung bagaimana menghabiskanya, atau bisa juga saya produksi sendiri. Amin..😀

One response to “Sayap Kecil Garuda

  1. Achmed January 9, 2013 at 3:05 am

    kalo jadi dibuat, ceritanya mohon jangan mendakwah ya,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: