kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Merdeka untuk Merdesa


Kebetulan nemu gambar yg pas sama judul ini di sacafirmansyah.wordpress.com🙂

17 Agustus memang baru saja berlalu, namun masih menyisakan secuil haru di kalbu. Ada bahagia kala menatap optimisme muda yang beriak, ada sedih kala menangkap amarah yang bergejolak. Sebagian sadar untuk membayar hutang pada pejuang bangsanya, namun banyak juga yang melantunkan sumpah serapah dengan mulut sampahnya. Lalu ke mana semuanya akan bermuara?

17 Agustus 2011

Pagi itu rencana tak berjalan sesuai harapan, saya bangun lumayan siang, jam setengah delapan, setelah baru tidur pukul 2 pagi, bangun pukul 3 pagi untuk sahur dan kembali memejamkan mata pada pukul setengah 4 lebih.

Bangun tidur langsung beranjak ke belakang, merendam cucian kotor yang menumpuk sejak beberapa hari terakhir. Selesai gosok gigi dan cuci muka saya langsung melesat dengan sepeda milik keponakan kecil saya yang kelas 1 SMP. Saya kayuh pedalnya secepat bajaj (karena tak mungkin secepat kilat). Menuju tanjakan, berbelok ke kiri, memasuki kompleks TNI AU Pagas. Melayangkan pandang ke arah lapangan besar di samping kanan. Hanya satu harapan saya, upacara 17 Agustus belum berakhir.

Ya, saya sangat ingin melihat upacara 17 Agustus langsung dengan mata saya sendiri, tidak lewat siaran televisi. Bahkan jika memungkinkan, saya ingin menjadi bagian langsung dari upacara tersebut, setelah sekian lama saya tak lagi merasakannya. Delapan tahun yang lalu, terakhir saya mengecap sensasi rasa yang menguar dari sebuah upacara. Saya ingin kembali merasakan sensasi itu, di mana jantung saya berdegup kencang dan bola mata saya berkaca-kaca kala mendengar lantunan lagu perjuangan yang menyusup ke rongga dada. Salah satu lagu yang selalu membuat mata saya basah, “Gugur Bunga”.

Sayang, hari itu, di usia 66 tahun bangsa ini pun saya masih belum bisa merasakannya kembali. Yang saya dapat hanya sekelompok anak berseragam putih-biru menghambur keluar dari gedung sekolahnya. Ada gurat kekecewaan yang tak mudah dihilangkan. Ya, saya tahu bagi sebagian orang mungkin ini persoalan sepele, remeh temeh. Apa enaknya upacara, dijemur di terik matahari, bermandi peluh dan mendengar orang pidato berlama-lama? Tapi saya sungguh merindukannya.

18 Agustus 2011

Saya menelusuri deretan news feed di Facebook, sebagian berisi curhat (masih). Terus menuruni deretan bawah sampai status update di tanggal 17 Agustus, tanggal di mana saya memang tidak online sama sekali. Membaca beberapa status membuat saya tersenyum haru dan cukup bangga.

Ada yang mengisyaratkan bahwa lebih baik kita berbuat sesuatu daripada sekedar “nyelatu” (mencaci), mengingat memang kemerdekaan yang kita dapat saat ini masih belum sempurna. Tapi ada juga yang ngomel seenak dengkul, udel dan jidatnya sendiri, berkoar-koar bahwa negeri ini belum merdeka, pemerintah kurang ini lah, kurang itu lah, rakyat jadi korban lah.

Reaksi saya membaca status bernada negatif? Jelas saya kecewa, sedih, dan bahkan marah! Marah karena mereka yang hanya bisa menuntut itu tidak bisa mengaca pada dirinya sendiri! Omelan yang datang dari seorang “pengeluh hidup” yang selalu memandang setiap hal dari sisi negatif dan tidak ada usaha untuk mengubahnya menjadi lebih baik. Taruhlah kata, misalnya, seorang pemuda yang kerjaannya cuma main-main, mabuk, ngurusin cinta, hura-hura, gak peduli apa yang terjadi dengan bangsanya. Eh, tiba-tiba dia main seruduk seenaknya, tabrak sana tabrak sini, nyumpahin sana-sini. Berani-beraninya! Oke, saya tahu setiap warga negara memiliki persamaan hak, bahkan untuk menyampaikan pendapatnya. Tapi ini namanya keterlaluan! Orang yang gak peduli dengan negerinya koq gak malu nuntut macem-macem? Ngaca dulu, lah.. Jujur saya bosan mendengar keluhan seperti itu. Sumpah, bosan.. bosen rek.. bosen..!! Setidaknya mereka bisa menyampaikan kekecewaan lewat sebait harapan, bukan hanya ratapan yang berhias hinaan.

Lantas harus seperti apa? Apa harus berjuang seperti jama penjajahan? Atau harus banyak kasih sumbangan untuk meringankan beban sesama? Nggak selalu seperti itu lah. Kalau mau dicari, semua orang pasti bisa melakukan hal terbaik untuk negeri ini.

Saya baca status temen saya, lupa detailnya. Kurang lebih maksudnya seperti ini: “saya memang masih belum bisa memberikan apa-apa untuk negara ini, tapi paling tidak saya berusaha taat hukum”. See? Kamu gak perlu jadi pahlawan atau dermawan untuk bisa ikut memajukan negeri ini. Mulailah benahi diri sendiri, jangan bisanya hanya menuntut orang lain aja!

Contoh kasus korupsi. Banyak orang yang nuntut ini-itu, lengkap dengan caci maki kelas teri, tanpa sadar bahwa sebenarnya dia juga ikut mendukung praktek curang yang serupa. Ambil gampangnya aja, soal tilang. Kalau misalkan kamu kena tilang di jalan, lebih pilih mana, kasih angpaw ke polisi atau maju ke pengadilan? Berani nolak permintaan oknum aparat yang minta uang damai?

Ada lagi, soal pengurusan surat atau hal-hal yang berkaitan dengan instansi pemerintah, seperti ngurus passport atau surat ijin keramaian. Seberapa berani kamu pakai jalur biasa yang ribet dan lama? Mungkin malah lebih milih shortcut meski harus sogok sana-sini biar lancar dan cepet, INSTAN!

Kasus yang akhir-akhir ini cukup marak, soal sogokan untuk masuk pegawai negeri atau sekolah unggulan. Berani pakai cara normal dan nggak nyogok untuk bersaing secara sehat demi mendapat jabatan di dinas pemerintah? Bisa merelakan anak sekolah di tempat biasa karena nilai tak mencukupi, atau malah nekat nyogok biar mereka tetap bisa bergaya di sekolahan bergengsi?

Yang masih segar dalam ingatan, saudara-saudara kita di Papua Barat. Berbagai kepentingan mewarnai isu yang baru-baru ini kembali muncul ke permukaan. Rasanya semua orang di setiap penjuru tanah air ini sudah menyadari pemicu utama yang melatarbelakangi wacana mereka untuk merdeka. Ya, ketidakadilan, ketimpangan sosial, pemerataan yang tidak terlaksana, semua berkaitan dengan perlakuan pemerintah pusat terhadap warga di sana. Saya tidak akan banyak berkoar tentang ini, hanya saja saya sedikit tergelitik untuk bertanya.

Pemerataan pembangunan tentu menjadi tugas pemerintah, kita sebagai rakyat, sebagai sesama saudara setanah air tak bisa berbuat banyak jika menyangkut soal pembangunan, karena kapasitas kita sudah jelas tidak sebesar itu. Tapi pernahkah Anda bertanya pada diri sendiri, bagaimana perlakuan Anda pada saudara-saudara kita di sana, bukan hanya Papua, tapi juga daerah-daerah lainnya yang mungkin pertumbuhannya tidak sehebat Pulau Jawa. Kalau kita berani menuntut perlakuan adil pemerintah pada mereka, apakah selama ini perilaku kita juga mencerminkan hal yang benar?

Selama ini masih banyak stereotype yang kita berlakukan untuk saudara-saudara kita di Papua, ambillah contoh: orang Papua itu pakai koteka, hidup di pedalaman, ketinggalan jaman, tidak berpendidikan, dan lain-lain. Sikap yang jika kita pertahankan terus, bukan tidak mungkin justru memicu kesenjangan antara kita dengan mereka.

Kalau pemerintah bertugas untuk membenahi perlakuan yang tidak adil, maka kita juga berkewajiban memperbaiki perilaku kita yang tidak baik. Jangan bisanya cuma nyalahin pemerintah, tapi juga mulai menanamkan kepedulian terhadap saudara-saudara kita di sana. Mirip dengan kasus sebelumnya tentang anak muda yang ga peduli sama negara, yang tiba-tiba seruduk sana-sini waktu ada kesempatan biar dikira berpengetahuan.

Sadarlah, banyak perilaku kita yang rasanya masih jauh dari kata layak untuk bisa menuntut macam-macam dari orang lain. Benahi diri dulu saja daripada cuma bisa ngomel tanpa tahu yang sebenarnya.

Banyak yang berpendapat bahwa bangsa ini belum merdeka dari kebodohan dan kemiskinan. Semua ngoceh di Twitter dengan hashtag #17an, meski banyak juga yang menyebarkan harapan dan optimisme. Oke, cara itu memang bisa menarik banyak perhatian. Tapi apa hanya sebatas itu yang bisa kita lakukan? Apa yang menjadi keresahanmu, yang membuatmu gelisah, yang membuat nuranimu menangis karena menurutmu bangsa ini belum merdeka? Lakukan sesuatu untuk sedikit mereduksi semua itu.

Prihatin dengan kondisi sekolah rusak? Ini cukup sering menjadi headline berita di moment HUT RI. Prihatin aja? Nggak akan cukup, coy! Jangan jadi bangsa yang cuma bisa prihatin! Bangsa ini bukan cuma milik pemerintah, tapi juga milikmu, milikku, milik semua yang KTP dan akte kelahirannya bertuliskan Indonesia! Jadi sudah sepatutnya kita membenahi sesuatu yang menjadi milik kita.

Banyak bangunan sekolah rusak? Tak harus selalu menunggu dan mengandalkan pemerintah untuk sekedar berbenah. Singsingkan lengan bajumu, turun tangan, jangan takut kotor, kalo gak ada kotor gak akan ada bersih. Kumpulkan dana untuk bantu perbaiki sekolah. Caranya banyak, gak cuma dengan minta-minta sumbangan di jalan, bangsa kita ini orang-orangnya kreatif, berpikirlah, jangan malas, jangan manja.

Dulu waktu saya masih sering ngobrol sama anak-anak muda –jadi berasa tua- yang sebagian adalah mahasiswa, ketika saya menyuarakan semangat perubahan, hampir semua menolak dengan halus. Rata-rata mereka menjawab “Saya cuma mahasiswa, nggak punya banyak daya.”

Mendengar ini jujur saya kecewa, bahkan kalo nurutin emosi, bisa aja saya gulung-gulung sambil makan beling. Tapi saya nggak pernah nyerah untuk menyadarkan betapa besar potensi mereka untuk kemajuan negeri ini.

Indonesia mencatatkan kemerdekaannya sejak 66 tahun yang lalu, tapi tidak lantas kita berhenti berjuang, karena pada hakikatnya merdeka bukanlah tujuan perjuangan pahlawan-pahlawan kita. Merdeka adalah sebuah langkah awal, sebuah alat untuk mencapai kesetaraan serta pemerataan yang sesuai dengan nilai-nilai keadilan sosial.

Apa yang kita lakukan setelah merdeka? Terus berjuang untuk bisa MERDESA, hidup layak. Putra-putra bangsa yang gugur di medan perang berpuluh-puluh tahun lalu sudah memberikan kita kemerdekaan, sebuah langkah awal untuk kita teruskan. Kini saatnya kita membayar hutang pada jasa mereka, berjuang untuk menuju anak tangga selanjutnya.

Apa lagi yang kita perjuangkan? Banyak, semua ketimpangan yang terjadi di negeri ini, yang sering dikeluhkan banyak orang, yang sering menjadi pemberitaan media haus sensasi demi mengejar ratting. Masih berani berkata itu semata-mata tugas pemerintah?

Bagaimana dengan pemuda-pemuda di jaman pra kemerdekaan dulu? Apakah mereka hanya duduk bersantai sambil membaca majalah dan mengandalkan pemerintah untuk memberikan kemerdekaan secara cuma-cuma? Mereka berjuang, dengan bekal senjata seadanya, dengan sejuta harapan dan semangat, dengan konsekwensi nyawa yang harus mereka tukar demi sebuah kemerdekaan. Bergelut di antara desingan peluru yang melintas di atas kepala, merangkak di atas ranjau yang sewaktu-waktu dapat meluluhlantakkan raga mereka, menyaksikan keluarga dan teman yang terbunuh satu per satu. Perjuangan yang harus dibayar mahal dengan mengorbankan begitu banyak nyawa.

Kembali melihat kondisi kita sekarang, yang tentu sudah mengalami banyak kemajuan di berbagai bidang, meski masih banyak yang harus terus kita perjuangkan. Gampangnya gini, deh.. sekarang kita berjuang dengan begitu banyak fasilitas yang ada, gak perlu angkat senjata dan gak perlu bertaruh nyawa. Coba bayangkan kalo kita ada di jaman penjajahan puluhan tahun lalu? Udah untung kita dikasih merdeka, tinggal nerusin tanpa resah mikir nanti sore masih bernyawa apa enggak.

Apa lagi yang kau keluhkan? Susah mendapat pekerjaan? Kenapa tak ciptakan lapangan pekerjaan saja? Begitu banyak peluang jika kita cermat dan mau sedikit lecet-lecet, tidak hanya cari aman dengan duduk nyaman di bangku taman berhias harapan. Harapan hanya akan tinggal harapan tanpa tindakan.

Ada begitu banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan bersama, buka mata, telinga dan hati. Negeri ini tak butuh pemuda yang cuma bisa ongkang-ongkang kaki, yang cuma bisa menanti dan mencaci maki, yang kehilangan hati nurani untuk berbagi. Negeri ini butuh orang-orang yang cerdas, tangkas dan pemimpin yang tegas. Bersama meniti anak tangga yang lebih tinggi, melunasi janji pada ibu pertiwi, membuat merdeKa menjadi merdeSa.

Sebuah video untuk menutup serakan kata hari ini, “Pancasila Rumah Kita”.

Dirgahayu negeriku, damai dan bersatu di usia yang baru.

Hidup berdampingan dalam keBeragaman, bukan keSeragaman.

We love you😉

8 responses to “Merdeka untuk Merdesa

  1. sesy August 20, 2011 at 5:33 am

    masih inget kalimat ini gak mel>>>
    “kamu tidak berhak menghina bangsa ini jika kamu tidak belum berbuat apa2 untuk bangsa ini” (more or less deh)
    btw, gw ikut upacara di sekolah after some years of absent :p

    • meliamex August 20, 2011 at 5:49 am

      Wohooo… tentu ingat..
      Lbh tepatnya “Loe ga berhak ngeluh Indonesia adalah negara yang miskin
      kalo loe ga pernah melakukan apapun untuk menghapus angka kemiskinan..” dst..😀

      Waaaa… asem.. aku nguber2 upacara di kompleks daerahq tp ga diadain thn ini..😦
      Upacaramu skrg naek jabatan yo? klo dulu posisinya sbg murid skrg jd guru.. hehe..

  2. mpon August 20, 2011 at 8:49 am

    mel jauh dekat kok malih 3000 apa ada kenaikan tarip

  3. Tiwi Ayuning Setyo September 15, 2011 at 2:39 am

    Keren mbak tulisannya,hahahaha Pasti nampol banget buat anak muda yang skeptis.
    Kalo saya, mungkin emang lom bisa ngasih banyak buat bangsa ini, yaaaa yang kecil2 dulu deh macam nggk buang sampah sembarangan, nggk buang2 listrik percuma,trus yaaaa gitu deh. Soale malu kalo udah ngaku2 nasionalis tapi nggk bikin aksi apa2,hehehehe

    • meliamex September 19, 2011 at 8:42 am

      Hahaha.. tiwi is in d house!
      Siippp.. yg penting selalu bertanya “Apa yg sudah kita berikan pd negeri ini?” aja..
      Setiap hal yg kita lakukan akan memberikan kontribusi dan sumbangsih yg nyata..
      Tetap semangat berkarya dan memajukan Indonesia!😉

      Terima kasih sdh mampir di blog saya:mrgreen:

  4. adaayu September 22, 2011 at 5:39 am

    Mel,,,aku suka ma tulisan ini…memandang Indonesia secara positif =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: