kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Jalan dan Arah


img: words-of-weight.blogspot.com

Ngapain ribet-ribet bikin event amal kalo ternyata donasi yang terkumpul ga sebanding sama pengeluaran? Apakah keberhasilan itu semata-mata hanya diukur melalui nominal rupiah? Coba renungkan kembali esensi dasarnya. Rupiah bukanlah satu-satunya alat ukur yang berbicara di sini.

Entah hanya perasaan saya saja atau memang benar adanya, koq sepertinya beberapa tahun terakhir ini semakin banyak bermunculan gerakan-gerakan perubahan di masyarakat kita, dalam artian positif tentunya. Saya merasa kesadaran sosial di negeri ini semakin tinggi. Apa buktinya? Saya ga bisa kasih bukti otentik yang digambarkan dengan angka atau data statistik, sih. Tapi setidaknya saya melihat negeri ini sudah mulai menggeliat dengan beragam komunitas dan social movementnya.

Sebutlah nama-nama seperti Indonesia Mengajar, Akademi Berbagi, Jalin Merapi, Indonesia Berkebun, dan banyak lainnya, sebagian bisa dilihat di sini. Saya adalah salah seorang yang menyambut hal ini dengan penuh suka cita, gulung-gulung sambil makan sate kalo perlu.

Di Malang pun, tempat tinggal saya saat ini rupanya sudah mulai banyak komunitas ataupun LSM yang concern terhadap permasalahan sosial. Saya mengenal beberapa penggagas dan aktivisnya. Ada yang fokus pada pembinaan anak jalanan, pendidikan kreatif, dan lain-lain. Kebetulan saya dan teman-teman juga memiliki komunitas sosial bernama Angel Hope.

Komunitas ini mulai berdiri akhir November 2007, sudah 4 tahun yang lalu. Konsep kami mungkin bisa dibilang berbeda dengan teman-teman yang lain. Berhubung keterbatasan SDM, kami memilih fundraising sebagai kegiatan utama. Bentuknya pun bermacam-macam, mulai dari jual stiker amal, kaos, tas, bikin charity event, sampai ikut kompetisi.

Hasil penjualan merchandise amal itu nantinya akan kami gunakan untuk membiayai sekolah adik asuh, kebetulan saat ini kami masih memiliki 4 adik asuh (SD-SMK). Di samping menjual merchandise, kami juga memiliki donatur bulanan, meski sebenarnya saya pribadi tidak ingin terlalu bergantung pada donatur.

Diantara teman-teman yang lain, kalau boleh saya bilang, komunitas kami ini yang paling ingin eksis. Haha.. Tiap tahun musti bikin event, apapun. Dan eventnya harus melibatkan anak-anak muda. Kenapa? Karena saya pribadi ingin merangkul anak-anak muda untuk berjalan bersama dan lebih aware dengan sekitarnya. Saya ingin anak-anak muda menyadari potensi diri mereka, bahwa mereka pada hakekatnya memiliki andil dan kontribusi yang besar terhadap perubahan negeri ini, meski dengan caranya sendiri.

Itulah kenapa komunitas kami selalu membuat event yang bersinggungan dengan dunia anak muda. Mereka bisa berpartisipasi sesuai dengan passion masing-masing. Kami pernah membuat event musik dan live drawing. Sengaja, kami melibatkan mereka meski tidak selalu dalam bentuk sumbangan dana. Karya, misalnya, mereka bisa menyumbang artwork untuk tas-tas kanvas yang kami jual. Atau musik untuk event charity gigs misalnya. Mengutip kata vokalis muda band idola saya “Bersenang-senang sambil beramal.” Colek Isa:mrgreen:

Baru saja Minggu tanggal 27 kemarin kami menggelar charity gigs SoundNation for Papua, acara musik sekaligus pengumpulan buku untuk anak-anak Papua. Alhamdulillah.. acara bisa dibilang sukses, menurut persepsi saya pribadi. Kenapa saya pribadi? Ya karena isi kepala masing-masing orang tentu berbeda, bukan? Oke, saya share fakta yang bisa menimbulkan persepsi berbeda.

Buka kartu dikit, dah.. Acara kemarin menghabiskan dana sekitar 900 sampai 1 juta. Dana itu habis untuk sewa alat, konsumsi pengisi acara dan kelengkapan acara (banner, stiker). Karena persiapan yang mepet kami tidak sempat cari sponsor. Jadi kami mengumpulkan uang pribadi dan sedikit mengambil uang kas untuk semua kebutuhan acara. Lantas, berapa nominal (sebut saja buku) yang kami dapat dari event itu?

Karena tiket dirupakan dalam bentuk buku, kami sengaja tidak menarik uang dari penonton yang datang. Mereka hanya tinggal membawa buku atau membeli langsung di tempat dengan harga minimal 5 ribu. Kami menjual buku-buku lama dari gudang Toga Mas (toko buku). Jadi donasi yang kami terima malam itu murni hanya berupa buku. Dan buku yang kami dapat adalah 70 item (termasuk creative kit seperti crayon, kartu pintar, dll). Ada yang datang sengaja membawa buku dari rumah, tapi sebagian besar membeli di tempat. Dan nominal buku yang dibeli di tempat adalah 185 ribu.

Pengeluaran 900-1 juta, pemasukan 180ribuan. Wah.. rugi donk?! Menurut Anda kami merugi? Nope, kami sama sekali tidak merasa dirugikan. Mungkin secara teori ekonomi kami jelas-jelas dikatakan rugi besar, tapi ilmu sosial tidaklah sama dengan ilmu ekonomi🙂

Acara ini sudah melebihi ekspektasi. Saya pribadi awalnya hanya berani memperkirakan 20an buku atau pengunjung (yang datang dengan menyumbang). Tapi rupanya kenyataan berkata lain. Awalnya saya nggak yakin temen-temen yang datang mau membeli buku untuk disumbang (karena mereka jelas-jelas ga bawa buku), saya kira mereka akan nyelonong masuk gitu aja dan cuek dengan kami di sisi pintu yang menjajakan buku. Tapi nyatanya mereka berhenti di depan meja kami dan merelakan uang mereka untuk dibelikan buku sumbangan. Ah, rasanya waktu itu saya ga bisa berhenti tersenyum –meski cuma dalam hati- apalagi kalau mengingat waktu itu adalah tanggal 27, tanggal tuwaaa..😀

Ada juga seseorang yang menawarkan buku sumbangan melalui akun twitter kami, meski dia tidak bisa hadir pada saat event berlangsung. Kami juga menyediakan selembar kain putih *bukan kain kafan* yang dapat digunakan pengunjung untuk menuliskan pesan mereka untuk teman-teman di Papua. Saya nggak membaca semua tulisan waktu acara masih berlangsung. Syukurlah, karena kalo saya baca di tempat, bisa-bisa saya mewek. Haha.. besok paginya waktu saya baca pesan yang mereka tulis, saya terpekur di sisi kasur sambil menyeka air mata haru.😥

Selama kurang lebih 4 jam MC terus berkoar-koar mengenai Papua, Papua, dan Papua, meski entah apa semua pengunjung mendengarkannya. Tapi saya yakin, kata Papua itu akan terngiang-ngiang di kepala mereka meski hanya untuk sesaat. Setidaknya mereka mengetahui tujuan event tersebut digelar.

Kembali ke soal untung rugi, kenapa saya merasa tidak dirugikan sama sekali dengan jumlah donasi yang masih jauh di bawah pengeluaran? Saya merasa uang atau buku yang terkumpul bukanlah satu-satunya tujuan kami mengadakan event ini. Anak-anak muda yang motivasi utamanya datang cuma untuk liat band idola atau teman-teman mereka perform, nyatanya sampai di lokasi mereka mendapatkan hal lain, sumbangan buku atau pesan-pesan untuk saudara di Papua misalnya. Ada informasi tambahan yang mereka dapatkan di sana, meski tidak serta merta berubah menjadi bentuk kesadaran yang langsung dan instan. Proses, mereka perlu proses untuk menuju ke arah sana.

Mungkin banyak yang bertanya, kenapa masih ribet bikin acara yang udah jelas-jelas ngabisin duit, waktu, tenaga dan pikiran? Oke.. mungkin akan lebih mudah kami menggagas ide untuk mendirikan rumah pintar, mengajak teman-teman sekolah atau teman-teman kuliah yang sekarang sudah bekerja, sukses, kaya raya, jadi pejabat teras, pengusaha atau pegawai di perusahaan asing sebagai donaturnya. Bisa, sangat bisa dan mungkin akan jauh lebih mudah. Tapi, saya lebih memilih untuk menempuh jalan yang berbeda.

Menggandeng orang-orang yang sudah memiliki awareness tinggi dengan menggandeng anak-anak muda yang tidak semuanya memiliki awareness yang sama. Saya lebih memilih cara yang terakhir. Tantangannya memang jauh lebih sulit, tapi kepuasannya jauh lebih besar. Ah, ini mah karena saya yang ga bias diem dan menolak tua aja, haha..

Saya akan lebih senang jika bisa merangkul anak-anak muda ke arah yang sama daripada hanya berkutat mengandalkan orang yang itu-itu saja. Awarenessnya ga akan ke mana-mana, tetep di situ-situ aja, padahal saya inginnya kesadaran ini bisa meluas, merambah jiwa-jiwa muda yang potensial. Kenapa? Jawabannya jelas sekali, karena mereka adalah generas penerus bangsa, agen perubahan.

Meski demikian, saya tetap salut dengan teman-teman komunitas dan lembaga sosial lainnya yang bisa tetap konsisten di jalannya masing-masing. Saling dukung, ya, teman-teman..😉

Eh, iya, kemarin ada teman di Facebook (temannya temannya teman saya, ga kenal langsung), tiba-tiba dia bilang tertarik dan pengen banget bikin event-event sosial, dia asli Sukabumi dan kuliah di Bandung. Dia juga nanya-nanya gimana caranya bikin charity event, karena dia bilang ga punya banyak temen yang bergerak di bidang sosial. Aaahh.. dapet message ini saya senengnya bukan main!! Bener, kan? Anak-anak muda kita masih banyak yang peduli dengan sekitarnya.. Tetap semangat, ya, Ndi, kita saling sharing dan belajar sama-sama! *namanya Andi

Katakanlah saya sekarang sedang pedekate dengan anak-anak muda, menyusup ke dalam dunia mereka, mengikuti arusnya, tapi tak sampai hanyut dan lupa akan tujuan semula🙂

Saya dan teman-teman komunitas mungkin memang tidak bisa memberikan kontribusi yang sangat kongkrit seperti halnya lembaga-lembaga sosial lainnya, tapi kami akan terus berupaya memberikan yang terbaik. Jalan yang kita tempuh mungkin berbeda, tapi arah yang kita tuju adalah sama. Perubahan dan perbaikan🙂

PS: terima kasih untuk semua teman-teman yang sudah hadir dan berpartisipasi, menyumbang, atau sekedar menulis pesan dan menikmati lantunan musik yang tersaji🙂

One response to “Jalan dan Arah

  1. Pingback: SoundNation, Akhir Etape Pertama | Angel Hope Seven Fests

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: