kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Antara JA*C*K dan Istighfar


gbr: imgspark.com

Kamu, perempuan.. apa yang akan kamu lakukan jika seorang lelaki melecehkanmu di depan umum? Istighfar, mengelus dada, diam saja, menangis dan menunggu orang lain bertindak? Atau berteriak, menyalak dan berontak?

Sungguh, kevakuman saya menulis blog tidak ingin saya awali dengan postingan semacam ini. Tapi saya merasa harus membagi kisah ini dengan siapapun, terutama perempuan.. dan.. oke, laki-laki juga! *menyesap coklat hangat untuk menenangkan diri*

Sore ini, saat sedang menikmati langit senja dan lantunan musik sambil mengayuh sepeda, saya tiba-tiba dikejutkan dengan hal yang tidak pernah saya harapkan. Dari arah belakang tiba-tiba saya merasakan sentuhan tangan seseorang di (maaf) pantat saya. Apa yang saya lakukan pertama kali? Oke.. maaf, tapi saya spontan melontarkan kata “JANCOK!”

Lantang, tidak lirih.. ya, saya mengucapkan kata yang bagi sebagian orang merupakan kata kotor itu tanpa ragu. Saya tidak peduli dengan pandangan orang terhadap saya. Oke, saya perempuan, mengenakan jilbab, dan saya mengucapkan kata itu di tengah jalan. So what?!

Tidak puas dengan memaki orang itu, saya mencoba mengejarnya dengan.. sepeda gunung.. Oke, mungkin konyol dan serasa tidak mungkin, tapi saya tidak peduli, yang ada di pikiran saya hanya menangkap laki-laki brengsek itu dan memberikan pelajaran untuknya.

Lokasi peristiwa sore tadi di daerah Blimbing, tepatnya di depan Carefour, hanya beberapa meter sebelum lampu merah. Saya kejar motor laki-laki sialan itu secepat mungkin, tanpa menghiraukan lutut yang masih sakit. Saya juga sempat berteriak “Woii!!” beberapa kali, sampai pengendara lain melihat ke arah saya. Who care.. yang penting saya bisa menangkap orang itu.

Rupanya bajingan itu sadar kalau saya sedang mengejarnya. Sialnya, dia malah kabur, lewat jalan pintas di pelataran depan Telkom. Saya ga mau kalah, saya ikutin dia sambil terus mempercepat laju sepeda. Hampir kena.. sedikit lagi.. dan.. got u!! orang itu berada tepat di depan saya. Hanya saja waktu itu saya dipepet dua sepeda motor, jadi ga begitu bisa meraihnya, setidaknya baju orang itu untuk saya tarik. Karena tangan saya ga sampe untuk narik orang itu, saya tabrak dan jedot-jedotin sepeda saya ke plat nomor di bagian belakang motornya, sambil saya teriak “Wooii.. Pak!!”

Rupanya dia terlalu pengecut untuk seorang laki-laki. Mendengar suara saya, dia mengambil langkah seribu. Kabur, lagi, dengan kecepatan yang tidak bisa saya tandingi. Saya terus mengejar, tapi dia menerobos naik ke trotoar dengan kecepatan tinggi. Saya kalah.. berhenti di pinggir jalan sambil terengah-engah dan marah.

Beberapa orang yang melihat insiden saya meneriaki laki-laki itu memandangi saya. Entah apa yang ada di pikiran mereka, saya pun tak peduli. Saya menuntun sepeda kembali ke jalan raya, mengayuhnya dengan perasaan kesal. Musik yang mengalun dari earphone pun terasa hambar. Saya benar-benar ingin menangkap orang itu, memakinya, menamparnya, bahkan menendang kemaluannya kalau perlu!

Meski rasa marah masih belum sepenuhnya hilang, tapi saya sudah mulai bisa tenang dan mengendalikan diri. Sampai saya mengayuh sepeda di daerah SPBU Mondoroko, Singosari. Well.. insiden belum berakhir, saudara-saudara..

Saat itu langit sudah mulai gelap, adzan maghrib pun sudah berkumandang. Tapi rupanya setan satu itu belum insaf juga. Karena jalan tanjakan, saya mengayuh sepeda dengan pelan. Tiba-tiba dari arah belakang saya merasakan sesuatu yang tidak asing. Oh, shit.. tangan laki-laki itu lagi. He touched my ass, again. Yeah, TWICE!!

Saya yang hilang kesabaran spontan berteriak “COK.. JANCOK!!” dan kembali mengejar bajingan itu. Shit, jalan tanjakan membuat saya tidak bisa mengayuh dengan cepat. Motor laki-laki itu melaju kencang, seakan tertawa penuh kemenangan dan mengolok kekalahan saya. Saya ingat betul sosok itu, jaketnya, kemejanya. Arrgghh..

Waktu saya mengejar laki-laki itu, di samping saya ada sebuah truk, yang saya yakin pengendaranya juga melihat perbuatan brengsek laki-laki pengecut itu. Tapi apa yang dia lakukan? Simpati saja tidak. Dan ini semakin membuat emosi saya meluap.

Saya menduga laki-laki itu sengaja menunggu dan menguntit saya agar bisa melakukannya lagi. Believe me, kalau suatu hari saya menemukan orang itu, saya hajar dia habis-habisan. Saya mungkin memang sudah lupa teknik-teknik tendangan TaeKwondo semasa sekolah dulu, tapi kalau sekedar membuat wajah laki-laki brengsek itu lebam, saya masih bisa melakukannya.

Setelah insiden kedua itu, saya diliputi perasaan was-was dan parno, kalau-kalau dia menunggu dan mengikuti saya, atau bahkan mencegat di jalanan yang sepi. Saya selalu menoleh ke belakang dan waspada kalau ada sepeda motor melaju. Okee.. bring it on! Saya hadapi kalau dia memang seberani itu. Toh waktu di lampu merah tadi dia takut dan kabur waktu saya teriaki.

Oke.. cukup cerita insidennya. FYI, ini bukan kali pertama saya mengalami pelecehan di depan umum. Dulu waktu saya masih sekolah dan kuliah, saya juga pernah mengalaminya beberapa kali. Modusnya masih sama, laki-laki yang pegang (maaf) pantat waktu saya lagi di jalan sendirian. Reaksi saya? Pertama misuh, sudah jelas. Kedua, saya kejar. Tapi saya selalu kalah cepat, karena mereka pakai motor dan saya jalan kaki atau naik sepeda pancal.

Mungkin ada sebagian yang menganggap tindakan saya berlebihan. Lihat saya.. saya perempuan, berjilbab, yang mungkin seharusnya bersikap lembut, manis, tidak beringas dan berkata kasar. Oke..  apakah saya cukup istighfar, ngelus dada, diam dan menangis? Apakah itu bisa dikatakan membela harga diri saya?

Maaf, tapi saya bukan perempuan seperti itu. Kalau ada laki-laki yang mengharapkan saya bersikap demikian, maka dia berhadapan dengan orang yang salah. Saya bersikap kasar semata-mata demi membela diri. Saya merasa pantas membela harga diri saya, dan saya juga tidak ingin laki-laki meremehkan perempuan, menganggap bahwa perempuan hanya diam saja ketika mereka dilecehkan.

Saya mengenakan jilbab ini karena merupakan kewajiban dalam ajaran agama saya, dan juga sebagai sebuah proteksi. Kalau saya sudah mencoba memproteksi diri sendiri, tapi masih ada orang lain yang mencoba mengusiknya, saya tidak akan tinggal diam, bahkan saya berani bertaruh nyawa agar bisa membuat orang itu mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Sebagai salah satu cara proteksi diri, mungkin saya harus menyempurnakan penampilan seperti laki-laki. Saya sih selama ini udah pake ransel dan kadang jaket, ga terlalu cewek lah.. tapi masih keliatan cewek karena jilbab. Oke, mungkin saya harus sering-sering mengenakan jaket hoodie, jadi jilbabnya ga keliatan, biar ga ada lagi yang seenaknya main colek pantat.

Hari ini saya memang tidak bisa melakukan banyak hal selain berkejaran tanpa hasil, berteriak tapi tak didengar dan menyumpah sepanjang jalan. Tapi setidaknya saya mencoba mengubah pemikiran laki-laki dan memberitahu mereka, bahwa tidak selamanya perempuan akan diam saja ketika mereka dilecehkan, bahwa perempuan juga bisa membela harga dirinya.

Kamu, perempuan dan juga laki-laki.. Kalau suatu saat kamu melihat pelecehan sekecil apapun yang dilakukan laki-laki terhadap seorang perempuan, siapapun.. Please, do something.. Tegur, maki, kejar, atau gampar kalau perlu..

Sekarang.. kalau hal ini terjadi pada kamu (jangan sampai sih sebenernya), apa yang akan kamu lakukan? Apakah akah bereaksi sama dengan saya, atau yang lain?

3 responses to “Antara JA*C*K dan Istighfar

  1. Tiwi Ayuning Setyo March 13, 2012 at 9:38 am

    wah mbak,specles aq…..ikutan jengkel!!! segala sesuatu perbuatan pasti akan ada balasannya,nggk tau didunia nggk tau di akhirat. Allah selalu tahu tapi menunggu….
    jadi inget beberapa tahun yg lalu,pas lg motoran ddaerah tugu pahlawan sby,aq kesenggol sampe ndlosor sama sepeda mega pro yg gede. Alhamdulillah, aq selamat padahal waktu itu jalanan rame. And u know mbak? org2 hanya ngeliatin aq seakan2 aq ini hiburan sirkus tha. sementara itu si tersangka hany noleh sebentar dikejauhan trus tancap gas. Aq lo nuntun motorku ndiri ke pinggir. Sesekkkkkkk, untung ada bapak2 baik hati ngasih aq minum. Swer bete abis.
    ehm mbk,bener tu mungkin buat tindakan prefentif, lain kali klo sepedaan,macak lanang aja trus pake celana yg longgar2 gitu….

    • meliamex March 13, 2012 at 9:56 am

      Amin.. akan kunanti balasan untuk lelaki brengsek itu di akherat..😆

      Buseett.. beneran tuh? gile ya orang2 nih.. ternyata ga cuma orang2 China yg ga punya nurani *inget kasus anak yg ditabrak truk dan ga ditolong*
      Kalo aku di sana udah aku lempar org yg nyenggol kamu, org2 di jalan yg liat jg udah aku culek matanya.. Duuhh.. untung pas aku jatoh selalu ada yg nolong..

      Iye, ini udah pake jaket hoodie, tp mau pulang rasanya tetep was2.. sempet kepikir nyiapin cutter dan batu yg aku gantung di bagian depan sepeda, biar kalo ada yg nyolek2 lagi langsung aku sambit pake batu sama cutter:mrgreen:

  2. Mizuneko July 4, 2012 at 11:31 pm

    Seperti adegan film…

    laki-laki sialan…=( (astaghfirullahaladhiim…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: