kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Balada si “Bocah Amplop”


Pernah melihat anak-anak kecil yang mengedarkan amplop kosong dengan tulisan yang menerangkan bahwa ia membutuhkan uang untuk membayar sekolah, membeli buku, alat tulis, bahkan biaya berobat untuk Ibunya yang sakit? Hal seperti ini kerap kita temui di sudut jalan, perempatan lampu merah, emperan toko, ATM dan tentu saja, di dalam bus. Mungkin bukan hanya di Malang, praktek seperti ini juga bisa ditemui di kota lain. Pernah berbincang dengan mereka? Kalau belum, mungkin bisa menyimak obrolan saya dengan salah seorang “bocah amplop” di sudut kota Malang ini.

Senin, 12 Maret 2012, pukul 11.30 siang. Karena hari itu listrik padam, saya dan rekan kerja saya pulang pagi. Ya, pekerjaan saya memang bergantung sepenuhnya pada listrik, kalo ga ada listrik, ya berarti ga kerja😀 *Kerjanya tukang las, mbak?*

Sesuai rencana, hari ini saya ke toko buku Togamas yang letaknya dekat dengan kantor. Rencana awal memang sepulang kerja jam 4 sore, tapi karena “pulang pagi” itu, ya terpaksa siang bolong saya gowes dan mampir sebentar ke toko buku sebelum pulang.

Seperti biasa, sepeda saya parkir di pojok kanan, depan toko sebelah Togamas (bukan di tempat parkir). Yeah, sepeda gunung saya memang sering dianaktirikan, ga boleh ditaruh di tempat parkir sepeda motor😦 Dan seperti biasa, saya selalu menguncinya, meski mungkin ga ada juga yang mau nyolong tuh sepeda, just in case lah..

Waktu saya selesai ngunci sepeda dan membereskan earphone ponsel yang menjuntai dari kuping, di depan saya tiba-tiba muncul seorang anak laki-laki yang menyodorkan sebuah amplop dengan tulisan acak-acakan bertinta biru. Karena sudah tahu maksud bocah itu, saya pun menggeleng sambil tersenyum. Kenapa saya menolak? Nanti saya jelaskan.

Bocah itu tidak menyerah, ia tetap berdiri di depan saya sambil meminta uang untuk bayar sekolah, katanya. Dari sinilah obrolan bermula.

Saya bertanya pada dia, “Nggak sekolah le?” dia jawab hari ini gurunya rapat, jadi pulang pagi. Lalu saya bertanya lagi, sekolahnya di mana. Dan obrolan pun berlanjut sampai di depan toko buku. Dia mengaku bersekolah di SD Kota Lama 2, rumahnya di daerah Sukun. Kedua orangtuanya bekerja, Ibunya tukang cuci, Bapaknya tukang becak. Uang hasil minta-minta katanya digunakan untuk membantu biaya sekolah. Sampai sini obrolan sedikit terhenti, nanti, ada session 2.

Karena mungkin saya banyak tanya tapi tidak memberinya uang sepeser pun, ia pun merayu minta dibelikan bulpen. Saya tidak langsung mengiyakan, saya tanya dulu bulpennya untuk apa. Oke.. oke.. mungkin ini pertanyaan konyol dan sedikit bodoh, tapi saya memang benar-benar tidak ingin memberi materi fisik secara cuma-cuma pada anak ini. Kenapa? Nanti, saya akan jelaskan🙂

Dia bilang bulpennya buat sekolah. Saya masih saja bertanya “Nggak dibuat nulis ini?” (sambil menunjuk amplop yang ia bawa). Oke.. kebodohan yang kedua, haha.. Bulpen itu ya dibuat nulis atuh teh.. kalopun dibuat nulis amplop itu juga mana mungkin dia ngaku. Tapi dia bersikukuh bulpennya akan digunakan untuk sekolah. Dan.. oke.. saya luluh.. saya mengiyakan dan menyuruh dia menunggu di sini.

Saya melanggar komitmen untuk tidak memberi apapun pada anak kecil yang minta-minta. Pelit amat, bulpen cuma berapa duit ini, sih? Bukan soal uang, tapi soal mindset. Jadi, beberapa tahun terakhir ini saya memang berkomitmen tidak memberikan uang pada anak-anak kecil yang minta-minta atau mengamen. Kenapa? Karena saya tidak ingin “menginvestasikan” kebodohan dan kemalasan pada mereka. Saya tidak ingin mereka tetap berada di jalanan yang bukan tempatnya, hanya karena uang 1000 rupiah yang saya berikan. Nanti akan saya jelaskan lebih lanjut. Yang jelas, siang ini saya melanggar komitmen itu. Tapi saya tetep ikhlas lah, lagipula saya juga masih ingin melanjutkan obrolan dengan bocah itu setelah saya membeli buku nanti.

Saya tidak terlalu lama berada di toko buku, selain karena kasihan kalo bocah itu nunggu lama, kebetulan saya juga sudah menetapkan buku yang akan saya beli. Sebelum ke kasir, saya memilih bulpen, bukan yang polos biasa, tapi yang berwarna atau bergambar lucu. Yup, saya memang cukup detail soal kid’s stuff, tujuannya biar mereka senang dan buntut-buntutnya jadi semangat belajar, hehe.. Karena kebanyakan bulpen lucu-lucu ini bertema perempuan, saya tidak punya banyak pilihan. Saya ambil yang berwarna hijau dengan gambar kartun yang tidak terlalu girly.

Waktu saya mengambil tas di penitipan barang, saya lihat bocah itu sedang berada di tengah-tengah lahan parkir. Tapi rupanya dia menyadari keberadaan saya dan akhirnya menuju ke teras toko dan duduk di salah satu kursi. Saya hampiri dia sambil memberikan bulpen yang saya janjikan. Lalu, obrolan pun berlanjut. Saya nggak ingat urutan obrolannya, maklum, spontan, nggak pake outline kayak wartawan:mrgreen:

Namanya Aris, duduk di kelas 1 SD Kota Lama 2 Malang, empat bersaudara. Menurut pengakuannya, dia setiap hari sepulang sekolah ke toko buku ini untuk “bekerja”. Ketika saya tanya jam kerjanya, dia menjawab agak ragu, terutama untuk jam mulai operasinya, jam 12 siang sampai jam 6 atau 7 sore. Saya juga nggak tahu jam pulang sekolah anak kelas 1 SD, dan saya juga nggak cukup yakin apakah dia benar kelas 1.

Untuk meyakinkan, saya kembali menanyakan nama sekolahnya, dan dia menjawab dengan mantap, tanpa keraguan sedikit pun. Biar lebih yakin kwadrat, saya tanya nama wali kelasnya. Dan dia juga tidak butuh waktu lama untuk menjawabnya. Oke, nama sekolah dan wali kelasnya sudah saya simpan di draft ponsel😀

Kenapa saya tanya sedetail itu? Karena saya bermaksud berkunjung ke sekolahnya dan menemui walikelasnya untuk mengetahui lebih jauh mengenai bocah ini. Sebenernya saya bisa saja langsung ke sekolahnya saat itu juga, mumpung pulang pagi, tapi sayangnya saya cuma sandal jepit’an, ndak bawa sepatu. Pekerjaan saya memang tidak mengutamakan penampilan, yang penting kerjaan beres *bos ngantor di tempat lain soalnya* hehe..

Jujur, sebenarnya saya tidak yakin setiap kali ada anak yang meminta-minta atau ngamen dengan alasan untuk bayar sekolah. Ke mana orangtuanya? Apakah hasilnya bekerja memang hanya cukup untuk makan sehari-hari? Mungkin memang seperti itu adanya. Saya terlalu mengedepankan idealisme bahwa orangtua lah yang seharusnya menanggung biaya sekolah anak-anaknya, tanpa menyadari realita bahwa tidak semua orangtua sanggup untuk melakukannya.

Ketika saya tanya kenapa yang mencari biaya sekolah dia, bukan orangtuanya, padahal kedua orangtuanya juga bekerja, Aris terlihat ragu menjawabnya, bahkan pada akhirnya dia hanya menggantung kalimatnya. Mungkin saya salah, karena saya juga tidak tahu berapa penghasilan orangtuanya, berapa kebutuhan dan pengeluaran sehari-hari yang harus dipenuhi dan hal-hal lain yang banyak tidak saya ketahui. Saya hanya khawatir, kalau-kalau orangtuanya menelantarkan dan menyuruh anak-anak mereka untuk bekerja *kebawa film* atau justru si anak lah yang tidak jujur, mengaku cari uang untuk bayar sekolah padahal uangnya untuk jajan atau main PS.

Sungguh, saya penasaran, dari mana anak-anak seperti Aris ini mendapatkan ide untuk mengedarkan amplop dengan tulisan yang senada sebagai modus minta-minta. Dan bertanyalah saya, darimana dia tahu cara minta-minta seperti itu. Aris mendapatkan ide itu dari Kakaknya, yang katanya dulu pernah melakukan hal yang sama, tapi sekarang sudah bekerja di Jakarta.

Saya tanya lebih lanjut darimana ia mendapatkan amplop-amplop itu. Aris mendapatkannya dari seseorang, dipinjamkan katanya. Ketika saya tanya apakah ia menyetorkan sejumlah uang pada orang yang meminjamkannya amplop itu, dia bilang tidak, katanya orang itu juga saudaranya. Huft.. saya agak lega. Yup, memang sempat terbersit di pikiran saya tentang agen yang memanfaatkan anak-anak seperti Aris ini untuk mencari uang. Realita yang tidak bisa kita pungkiri, bukan?

Saya lantas menawarkan pada dia untuk mengikuti kegiatan di komunitas anak jalanan, sehingga ia tidak lagi meminta-minta seperti ini, tapi dia tidak mau. Saya katakan akan mengusahakan bantuan beasiswa untuk sekolahnya, jadi dia tidak usah memikirkan dan mencari uang lagi, tapi dia tetap tidak mau berhenti minta-minta, dia bilang “Enakan gini, Mbak.” (dibandingkan dengan kegiatan di komunitas). Dan saya pun menghela napas panjang.

Kenapa saya keukeuh ingin Aris berhenti meminta-minta? Banyak faktor, salah satunya adalah, saya khawatir dia akan melewatkan kesempatan untuk mengakses pendidikan. Bukan hanya Aris, sebagian besar anak-anak yang ngamen atau minta-minta di jalan pada akhirnya lebih memilih untuk tetap di jalan daripada kembali ke sekolah. Ini yang saya amati dari beberapa kasus yang pernah saya temui di salah satu LSM anjal di Malang, kebetulan komunitas saya, Angel Hope, pernah mengambil adik asuh dari LSM tersebut.

Kenapa mereka lebih memilih jalanan daripada sekolahan? Simple, karena jalanan lebih menghasilkan daripada sekolahan. Ya, kita tidak bisa menampik realita bahwa dengan mengamen atau meminta-minta dan mengharapkan belas kasihan dari orang lain itu, mereka bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah. Bandingkan dengan sekolah, harus belajar, mengerjakan tugas, dan tentu harus mengeluarkan biaya, yang bagi mereka dengan kondisi ekonomi kurang akan terasa cukup memberatkan.

Lantas, apakah ini salah? Menurut saya, ya. Saya tetap berpegang pada prinsip bahwa, idealnya setiap anak berhak mendapatkan akses pendidikan yang layak, terlepas dari kondisi ekonomi yang melatarbelakanginya. Ambillah contoh Aris ini, yang penghasilan orangtuanya kurang, dengan anggota keluarga yang cukup banyak. Apakah ketidakmampuan keluarganya untuk membiayai sekolah anak-anaknya lantas membuat mereka tidak bisa menikmati pendidikan? Jawaban idealnya tentu tidak. Lalu bagaimana solusinya?

Pilihan pertama, anak-anak ini mencari tambahan uang sendiri. Caranya? Banyak, mau yang kerja beneran ada, yang cuma mengandalkan belas kasihan orang lain juga banyak. Pilihan ini jujur tidak begitu saya sukai. Kenapa? Lagi-lagi saya berpegang teguh pada idealisme, bahwa tempat anak-anak bukanlah di jalanan atau di tempat kerja, melainkan di tempat belajar, mencari ilmu, apapun kondisinya.

Tapi saya akan dianggap egois oleh orangtua yang sudah bersusah payah bekerja tapi tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Saya akan dianggap tidak realistis jika menampik semua kondisi ekonomi mereka. Okelah.. mungkin anak-anak ini bisa membantu mencari uang, tapi toh pilihannya bukan meminta-minta yang hanya mengandalkan belas kasihan orang lain dan membuat mereka menjadi malas. Pilihannya adalah bekerja, yang sesungguhnya, tukang koran, ojek payung, atau pekerjaan-pekerjaan ringan lainnya. Ya, saya lebih menghargai anak-anak yang bekerja seperti ini daripada mereka yang hanya mengamen dan menengadahkan telapak tangannya. Tapi toh hal ini akan bertentangan dengan hukum mengenai pekerja di bawah umur. Dan memang, saya masih mengusahakan agar mereka masih tetap bisa menikmati masa anak-anak tanpa harus bergelut dengan pekerjaan. Tapi, kembali lagi pada realita hidup.

Pilihan kedua, ada di tangan kita. Kalaupun orangtua sudah tidak sanggup menyokong kebutuhan pendidikan mereka dan kita tidak ingin mereka melalui masa anak-anaknya di jalanan atau tempat kerja, maka kita lah yang harus turun tangan. Seberapa sering kita mendengar pemerintah mengelu-elukan wajib belajar 9 tahun? Lantas bagaimana implementasinya? Pemerintah mewajibkan anak-anak untuk belajar, tapi tidak berkaca apakah kewajiban mereka untuk menyediakan semua akses dan fasilitas pendidikan itu sudah mereka penuhi.

Mau terus mengandalkan pemerintah? Sampai kapan? Kita tidak bisa menunggu mereka dan hanya memandang iba anak-anak seperti Aris dan teman-temannya yang lain. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk anak-anak ini. Well.. semua bermuara pada uang dan uang? Nope.. bukan hanya uang yang kita butuhkan untuk mereka.

Soal uang itu sebenarnya gampang. Kenapa saya bilang gampang? Kita bisa saja mengumpulkan teman-teman, taruhlah 20 orang saja, setiap bulan kita wajibkan untuk menyisihkan 5 ribu, ya, 5 ribu saja. Setiap bulan akan terkumpul 100 ribu, cukup untuk membantu biaya sekolah satu anak. Itu baru 5 ribu dan 20 orang, belum kalau jumlahnya dilipatgandakan. Tapi ada hal yang lebih mendasar daripada uang ini.

Masih ingat ketika saya menawarkan Aris untuk mengikuti kegiatan komunitas dan berhenti meminta-minta? Ia menolaknya, meski saya berkata akan mengusahakan agar ia bisa mendapatkan bantuan biaya sekolah, jadi ia tidak perlu lagi mencari uang sendiri. Pertanyaannya adalah, kenapa ia tetap bersikeras kembali ke jalan dan meminta-minta, meski ada yang mengusahakan untuk memenuhi kebutuhannya? Inilah yang harus kita cari tahu jawabannya. Ingat, kasus ini bukan hanya milik Aris, masih banyak anak-anak lain yang juga memilih kembali ke jalanan.

Mindset, itu yang membutuhkan perhatian dari kita. Bagaimana cara untuk bisa merubah mindset mereka mengenai kemudahan dan materi yang mereka dapatkan di jalanan. Bagaimana cara untuk bisa mengajak mereka kembali belajar, tanpa harus memikirkan uang. Dan ketika orangtua mereka tidak sanggup menanggung beban itu sendiri, itu artinya kita yang harus memikirkannya, bukan anak-anak itu.

Hoaahh.. saya sudah terlalu banyak mengoceh di postingan kali ini. Saatnya saya berhenti sejenak dan berpikir. Saya akan mencari tahu lebih jauh mengenai “bocah amplop” ini. Kebetulan saya harus membeli buku lagi karena tadi cuma bawa uang 50 ribu, hehe.. Jadi, besok saya akan coba ke toko buku itu dan menemui Aris.

Harapan saya.. Saya tidak akan bertemu dengannya. Kenapa? Karena saya akan ke toko buku itu pagi hari, di saat seharusnya ia belum “bekerja” dan masih sekolah. Sekaligus membuktikan ucapannya mengenai jam kerjanya yang baru dimulai sepulang sekolah, yaitu jam 12 siang. Kalau saya menemukannya sebelum jam 12 ia sudah di sana, ada berbagai kemungkinan. Dan salah satu kemungkinan itu tidak saya harapkan.

Tunggu episode berikutnya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: