kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Nihon no Eiga


Img: schoolsliaison.org.uk

Film, setiap orang memiliki makna sendiri terhadap kata ini. Ada yang sekedar menganggapnya sebagai hiburan, ada yang lebih serius dengan menggunakannya sebagai sarana belajar atau menyampaikan sesuatu, ada juga yang memanfaatkannya sebagai alat provokasi atas tujuan tertentu. Semua bisa dengan mudah dilakukan melalui film, mulai dari yang bertujuan positif, negatif, sampai yang bermuatan politik. Tapi dari sekian banyak film di dunia, ada satu yang selama ini selalu mencuri perhatian saya. Nihon no eiga, film jepang.

Setelah melalui lima hari dan 10 episode, akhirnya malam ini saya menyelesaikan satu lagi dorama (drama seri Jepang) yang resmi masuk daftar favorit. Eiga wa omoshirokatta desu! Filmnya menarik. Tapi tidak hanya sekedar menarik, karena ada banyak hal yang bisa diambil dari film ini.

Salah satu scene dorama Osen

Osen, sebuah judul yang sangat singkat untuk drama seri yang menyajikan banyak pelajaran. Kisah film ini berpusat pada sebuah restoran Jepang “old fashioned” yang masih mempertahankan tradisi-tradisi lama di tengah gempuran jaman yang serba instan. Di saat banyak restoran menawarkan konsep fast food, Isshouan justru mencoba melawan arus dengan mengusung konsep slow food. Seberapa slow proses memasak di restoran ini?

Alih-alih menggunakan rice cooker, Isshouan justru menanak nasi menggunakan tungku dengan bahan bakar jerami. Jangan heran jika Okami (pemilik restoran) tidak bisa menggunakan microwave, karena benda seperti itu tidak akan mempunyai tempat di Isshouan. Membuat “Shimmered radish” tak bisa meninggalkan kompor sedikitpun, awasi dan perhatikan baik-baik lobaknya selama 5 jam, jangan sampai airnya mendidih. Isshouan hanya menggunakan katsuobushi (dried bonito) terbaik yang proses pembuatannya memakan waktu 6 bulan.

Menarik? Tunggu sampai kalian menyelesaikan episode pertamanya. Dijamin nagih dan nggak sabar untuk nonton episode-episode selanjutnya:mrgreen:

Tidak hanya proses memasak yang berbeda dengan restoran modern kebanyakan, Osen san, sang Okami pun memiliki kepribadian yang unik. Osen san sangat menghargai makanan. Mungkin inilah yang dinamakan Mottainai, sebuah filosofi lama Jepang yang menganjurkan agar kita tidak menyia-nyiakan makanan, termasuk juga menjaga sesuatu yang kita miliki. Menghabiskan dan tidak membuang makanan adalah hal paling sederhana yang digambarkan melalui pribadi Osen san dan head chef, Seiji san.

Tak hanya itu, Osen san juga menunjukkan penghargaannya pada makanan dengan cara yang unik. Ia selalu menyebut setiap bahan makanan dengan imbuhan “san”, yang menggambarkan bentuk penghormatan. Jadi, kalau menyebut maguro (ikan tuna), ia akan menyebutnya “Maguro san” atau “Mr. Maguro”.

Katsuobushi
Img: jetro.org

Ada banyak sekali hal yang saya dapatkan dari film ini. Dalam setiap episodenya saya selalu menemukan sesuatu yang baru, filosofi, nilai-nilai moral, hal-hal fundamental, atau sekedar pengetahuan tentang makanan maupun budaya. Hal-hal yang membuat saya tidak berhenti menerima informasi dari film saja dan selalu ingin mencari tahu lebih jauh. Osen lah yang membuat saya mengetahui bagaimana sifat kyusu (teapot Jepang), perbedaan antara restorasi dan renovasi sebuah bangunan, atau bagaimana proses membuat katsuobushi, ikan bonito (sejenis tuna) yang diproses dengan cara diawetkan, diasap dan dijemur, dan semua itu membutuhkan waktu selama hampir setengah tahun. Ya, ada banyak hal baru yang saya dapatkan dari film ini.

Ada lagi yang saya sukai dari drama seri ini. Kimono wa kirei desu, pas dengan Yu Aoi (Osen san) yang juga kirei dan kawaii. Osen san yang merupakan okami Isshouan memang diharuskan memakai kimono setiap hari, bahkan waktu tidur pun juga pake kimono. Old fashioned tapi tetep keren!

Dan ketika saya keluar kamar setelah menyelesaikan episode terakhir Osen, melewati televisi yang saat itu menyiarkan sinetron yang jalan ceritanya bergantung pada rating.. Ah, kapan sinetron kita bisa seperti drama seri buatan negeri Sakura ini?

Memang, drama seri Jepang pun tak selamanya sempurna. Ada juga drama cheesy yang tidak memiliki alasan untuk ditonton sekalipun hanya trailernya. Tapi selama lebih dari 1 tahun terakhir saya membenamkan diri di antara lautan judul drama seri dan juga film Jepang, satu hal yang menurut saya menjadi ciri film mereka, konsistensi.

Film lepas maupun drama Jepang menurut saya sangat konsisten dengan premis dan segmentasi mereka. Kalau film itu bertema masakan, jangan harap menemukan romance di dalamnya. Mungkin ada sedikit romance yang ditampilkan dalam episode tertentu, tapi itu pun tidak lantas dibiarkan berlarut-larut dan menjadi-jadi. Dengan cepat cerita akan kembali ke jalurnya semula. Mereka terbilang cukup fokus pada tema utama film, mungkin itu juga yang menjadi faktor singkatnya episode drama-drama seri Jepang yang hanya berkisar antara 9-15an episode.

Ando Natsu, dorama tentang wagashi
Img: wiki.d-addicts.com

Sebagai gambaran, silahkan tonton judul-judul dorama seperti Osen, Ando Natsu, High School Restaurant, atau film lepas Pattisserie Coin de Rue. Semua judul itu mengangkat tema kuliner, dan keempatnya tidak banyak menawarkan scene romance. Kalaupun ada hanya sebatas selingan, intermezzo, dan tidak akan membuat film kehilangan arah dan melenceng ke jalur yang salah. Berbeda sekali dengan sinetron Indonesia🙂

Yang membuat saya geleng-geleng kepala dengan drama seri maupun film Jepang adalah, kelihaian script writer untuk meramu beragam ide menjadi sebuah jalinan cerita yang utuh dan berjalan sangat mulus. Bagaimana nilai-nilai moral yang biasanya terkesan menggurui bisa digambarkan dengan sangat realistis, bahkan kadang saya lupa kalau yang saya saksikan hanyalah sebuah film. Dan penggambaran yang mereka sajikan sangat dekat dengan keseharian, tak jarang melalui pendekatan yang sangat sederhana. Namun, justru lewat kesederhanaan itulah air mata saya sering terkuras. Haha.. kalau soal film saya memang bisa dibilang cengeng.

Keberagaman ide itu pun tidak hanya sebatas untuk nilai-nilai moral, melainkan juga soal budaya. Saya salut dengan sineas-sineas Jepang yang sangat menghargai budaya mereka. Hal ini mampu mereka tunjukkan lewat sebuah karya film. Dan saya rasa ini bisa menjadi sarana promosi yang menjanjikan.

Beberapa kali saya menyukai film ataupun drama seri Jepang karena ketidaksengajaan. Awalnya hanya ingin melihat aktornya, tapi setelah mengetahui ceritanya lebih jauh, saya memasukkannya dalam top list. Salah satu contohnya adalah drama seri “Tiger and Dragon”. Jujur, awalnya saya membeli DVD ini karena kepincut sama Tomoya Nagase yang machonya gak santai itu. Tapi setelah tahu ceritanya..

Tiger and Dragon mengisahkan seorang Yakuza yang mempelajari Rakugo (seni bercerita tradisional Jepang) agar bisa berhenti sebagai Yakuza. Kenapa? Tonton saja sendiri filmnya, hehe.. Dari tema sendiri sudah unik, apalagi kalau mengikuti setiap episodenya. Selain pengetahuan baru yang saya dapatkan mengenai Rakugo, film ini juga saya acungi jempol karena plotnya yang ciamik. Bagaimana penggabungan antara cerita-cerita Rakugo dan cerita dalam kehidupan nyata dalam film tersebut bisa dituturkan dengan sangat mulus. Dan berkat film inilah saya jadi penasaran seperti apa Rakugo itu. Itsuka, someday, suatu hari, saya akan melihatnya secara langsung di negeri asalnya!

Rakugo
Img: sakura-hostel.co.jp

See? Bagaimana sebuah film juga bisa menjadi media promosi budaya! Tiger and Dragon berhasil membawa saya pada sebuah pemahaman baru mengenai salah satu seni budaya Jepang. Banyak film lainnya yang juga membuat saya semakin ingin mengetahui budaya mereka, termasuk yang “old fashioned” tapi tetap terlihat mengesankan di mata saya. Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

Dari lubuk hati yang paling dalam, saya sangat berharap suatu saat sinetron di negeri ini bisa menyajikan sesuatu yang lebih baik. Kenapa sinetron, bukan film? Jawabannya sederhana, karena sinetron gratis, berbeda dengan film lepas yang mengharuskan orang membayar tiket untuk bisa menikmatinya. Penonton Indonesia 100% lebih mudah mengakses sinetron daripada film lepas. Namun kadang hal ini yang justru luput dari perhatian kita. Sensor sinetron pun sering terabaikan. Padahal sinetron lah yang paling dekat dengan keseharian penikmat hiburan televisi, dan juga yang paling potensial untuk menanamkan ide-ide pada penonton setianya.

Tapi jika ingin mengenalkan budaya lebih luas lagi pada dunia, tentu media yang lebih tepat dibandingkan sinetron adalah film lepas. Indonesia memiliki beragam budaya, bahkan menurut saya lebih banyak dan bervariatif daripada Jepang. Bayangkan, satu provinsi saja sudah ada berapa budaya, tinggal dikalikan dengan jumlah provinsi yang ada. Tapi kenapa budaya kita jarang terekspos, bahkan oleh masyarakatnya sendiri? Jepang yang luas negara dan keberagaman budayanya tidak lebih dari negara kita bisa merepresentasikannya dengan baik melalui karya film. Well.. pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama🙂

Ah.. kopi saya sudah sedingin angin malam rupanya. Hmm.. saya berikan sedikit alasan lagi kenapa saya sangat menyukai film lepas maupun drama seri Jepang. Variatif, satu kata yang menurut saya sangat mewakili film produksi negara matahari terbit itu.

Film bertema masakan, olahraga, bahkan profesi yang selama ini jarang diangkat pun bisa kita temukan di sini. Mau kisah tentang perias mayat, ekskul kaligrafi atau cheerleader tradisional, olahraga seperti baseball sampai loncat indah, semua bisa ditemukan di film Jepang. Bahkan film-film gila, dalam artian yang sebenarnya, yang sebelumnya tidak pernah sedikitpun terlintas di pikiran kita, Jepang akan dengan senang hati menyajikannya. Tema film yang variatif ini tidak akan membuat bosan penikmatnya. Inilah yang membuat saya setia menonton film-film Jepang dan selalu mencari judul baru untuk diselami.

Sebenarnya ada satu lagi hal yang membuat saya menyukai film-film Jepang. Sepertinya hanya di film-film Jepang lah saya selalu menemukan begitu banyak idealisme yang digambarkan melalui beragam kisah, di mana idealisme menjadi hal penting yang harus mereka jaga. Bahkan ketika mereka tidak memiliki apapun yang tersisa di dunia, selama mereka memiliki idealisme tersebut, mereka akan menjaganya dengan sepenuh hati. Yang saya maksudkan di sini bukanlah “film-film idealis”, melainkan kisah ataupun karakter yang ditampilkan dalam film kerap mengusung idealisme dan prinsip-prinsip dasar. Namun, beberapa memberikan penyelesaian atau ending yang terkesan cukup realistis dan tidak serta merta memaksakan idealisme tersebut.

Entah, saya merasa film-film Jepang menggambarkan sebuah keadaan di mana setiap orang memiliki hak untuk mewujudukan idealisme mereka. Mungkin pemikiran saya tidak sepenuhnya salah. Contoh yang sangat sederhana, bagaimana para “hipster” di seputaran Harajuku, Shinjuku atau Shibuya bisa bebas mengekspresikan diri mereka melalui idealisme fashion tanpa harus mengikuti arus yang mengalir dengan derasnya.

Meminjam istilah Yocchan dalam drama Osen, “I don’t want to get influenced by the times”. Meski saat ini drama Korea sedang menjamur bak di musim penghujan, saya tidak akan terpengaruh dan melupakan film-film Jepang. Yakusoku!😉

Yokatta.. film-film pesanan saya sudah sampai siang ini. Sepertinya cukup untuk stok satu bulan lebih:mrgreen:

5 responses to “Nihon no Eiga

  1. nisa November 28, 2012 at 2:41 am

    sy br bgt suka film jepang terutama yg temanya masakan. tp sy br bisa nonton d youtube. untung2an jadinya, sukur2 dpt full episode plus english subtitle. br beres nonton bambino. lg nyari osen sama pattisserie coin de rue. pengen bgt koleksi. sy bisa pesen dimana ya? arigatou gozaimashu !

    • meliamex November 28, 2012 at 3:03 am

      Hallo, Nisa..
      Hmm.. kalo di YouTube mmg untung2an banget.. kalo gak bisa download, cb nonton online, bs di mysoju.com, dramacrazy.net, gooddrama,net, dll.. kebanyakan udah lengkap sm english sub.
      Osen itu aku nonton bbrp episodenya online, gak semua download. pas itu nonton di veoh kalo ga salah..
      kalo mau beli bisa coba ke http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000012416935
      aku pernah bbrp kali beli di situ. siapa tahu dia punya filmnya. di situ bs jg request film.
      kalo kamu di Malang, sih, enak.. bisa ngopy di aku aja..😀

  2. Pingback: 10 Favorite Japanese Movies (Part I) « kocomripat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: