kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Kapan Nikah?


img: bunburycivilcelebrant.com

Sebagian orang mengalami kesulitan ketika harus menjawab pertanyaan ini. Satu jawaban singkat seolah tak cukup memuaskan dan berakhir pada perdebatan tak berujung. Dan lebaran tampaknya menjadi momen yang kerap dihiasi dengan pertanyaan ini. Kapan nikah?

Honestly, bagi saya pertanyaan ini sangat mudah dijawab, hanya saja terkadang jawabannya tak mudah dimengerti dan dipahami oleh orang yang bertanya. Sebenarnya hanya ada dua macam jawaban yang paling dasar untuk pertanyaan ini.

Jawaban pertama yang umum berkaitan dengan “jodoh”. Kebanyakan akan menjawab “masih mencari” dan “masih menunggu” (entah menunggu calon pasangan kelar kuliah, dapet kerja, atau malah masih menunggu datangnya jodoh).  Yang tipe pemalu kemungkinan akan menjawab “doakan saja” atau malah cuma mengamini dengan kata “amin” yang dipanjangkan, seolah tak ingin melanjutkan pembicaraan mengenai pernikahan. Intinya, jawaban ini mengisyaratkan keinginan untuk menikah tapi terkendala masalah pasangan. Jawaban yang mungkin sulit diungkapkan tapi sangat mudah dipahami orang yang mendengarnya. Sebagian sulit mengungkapkannya karena adanya “pressure” dari lingkungan, terutama jika subyeknya adalah perempuan dengan usia yang sudah matang.

Jawaban kedua berkaitan dengan pilihan. Inilah tipe jawaban yang sangat mudah diungkapkan tapi tidak mudah dimengerti atau dipahami orang lain. Sederhana saja, alasan belum menikah ya karena memang belum ingin atau bahkan tidak ingin. Singkat, padat, tapi tidak jelas dan menimbulkan pertanyaan lanjutan yang tidak habis-habis. Jawaban inilah yang sering memancing perdebatan tak berujung.

Bagi saya, menikah itu adalah pilihan, sama halnya dengan hidup, agama, pekerjaan dan banyak hal lainnya yang keputusannya didasarkan pada pilihan individu masing-masing. Setiap orang berhak memilih jalan hidupnya, mulai dari soal hobi, pekerjaan, sampai soal yang paling prinsip seperti keyakinan.

Tapi sayangnya bagi sebagian orang, menikah adalah kewajiban, standar hidup yang sudah paten dan tidak dapat diubah. Sehingga jika seseorang memutuskan untuk tidak menikah karena tidak adanya keinginan, maka orang lain menganggap ada yang salah pada dirinya. Kenapa? Ya karena ia tidak sama dengan lainnya, tidak memenuhi “standar hidup” yang diciptakan semena-mena oleh lingkungan.

Jarang ada yang puas dengan berhenti pada jawaban “tidak ingin menikah” atau “belum ingin menikah”. Kebanyakan akan mengoreknya lebih jauh dengan pertanyaan lanjutan, “kenapa”. Jawaban lanjutan ini pun bermacam-macam dan sangat menarik. Ada yang memang tidak ingin menikah karena tidak ingin kehilangan kebebasan, tidak bisa terikat, atau yang paling banyak disimpulkan orang lain yaitu “trauma masa lalu”.

Pengalaman membina hubungan yang selalu berakhir buruk terkadang mengambil peranan yang cukup besar bagi seseorang yang pada akhirnya memutuskan untuk tidak menikah. Alasan inilah yang kerap tidak mudah dipahami oleh orang lain, “memaksa” untuk segera melupakan pengalaman pahit tersebut dan memandang jauh ke depan, tanpa menyadari bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama untuk bisa segera bangkit setelah jatuh. Dan semuanya kembali pada pilihan, apakah ia ingin bangkit atau tetap bergelut pada pengalaman masa lalunya.

Alasan lain yang juga tidak mudah dipahami adalah gambaran pernikahan dari lingkungan terdekat yang tidak sesempurna cerita fiksi. Katakanlah kehidupan kerabat atau orang-orang terdekatnya yang sudah menikah ternyata tidak sebahagia yang dipikirkan. Pertengkaran, pertikaian, bahkan perceraian kerap mewarnai kehidupan rumah tangga. Banyak yang menganggap alasan ini tidak masuk akal, toh tidak semua pernikahan seperti itu, masih banyak kehidupan pernikahan lain yang indah. Mungkin mindset inilah yang sering “dipaksakan” oleh orang lain.

Satu lagi alasan kenapa seseorang memutuskan untuk tidak menikah. Agak konyol mungkin, tapi inilah faktanya, kenyamanan. Yup, sebagian orang merasa nyaman ketika mereka hidup “sendiri” dalam artian tidak membina relationship khusus dengan siapapun. Bukan sekedar nyaman karena sudah mandiri dari segi materi, tetapi lebih pada perasaan secure yang dimilikinya ketika tidak terikat dengan siapapun. Lepas dari orang tua, hidup sendiri tanpa pendamping, tidak dipusingkan dengan berbagai macam permasalahan yang kerap dimiliki oleh pasangan pada umumnya.

Perbandingan rasa nyaman antara menjadi single dan memiliki pasangan adalah faktor utama. Bagaimana nyamannya ia ketika sendiri dengan bagaimana pusingnya ia ketika memiliki pasangan. Rasa cemburu, curiga, khawatir, protektif, bahkan rasa sayang dan cinta kadang membuat pikiran, perasaan dan sekaligus fisik menjadi lelah.  Jangan dikira jatuh cinta itu selalu bahagia, jatuh cinta juga kerap membuat lelah. Gimana ga capek, kalo tiap menit yang sliweran di pikiran cuma muka dia, dia dan dia.

Ketika sendiri, semua perasaan itu hilang. Semua berpusat pada diri sendiri, tidak lagi memikirkan pasangan. Sebagian orang tidak bisa bertahan dengan kesendirian, mereka membutuhkan tempat untuk bersandar sejenak, tapi bagi sebagian orang lainnya mereka bisa bertahan hanya dengan bersandar pada dinding ataupun memeluk guling. Egois, munafik? Setidaknya anggapan itulah yang sering diberikan pada mereka yang tidak berusaha untuk memahami sebuah pilihan.

Yang ingin sekali saya ungkapkan adalah, tidak semua orang yang nyaman hidup sendiri itu egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Banyak yang tidak menyadari bahwa memikirkan orang lain bukan hanya sekedar memikirkan pasangan, tetapi juga orang-orang di sekitar. Mereka yang memutuskan hidup sendiri bukan berarti egois, mereka masih memikirkan teman, kerabat, bahkan orang-orang lain yang tidak beruntung di sekitarnya. Tapi kalau soal terikat dengan seseorang dan membina rumah tangga, tunggu dulu!😀

Seseorang yang memutuskan untuk hidup sendiri juga bukan berarti tidak memiliki perasaan. Well.. stigma ini melekat karena banyak fiksi yang menggambarkannya demikian, meski pada kenyataannya tidak semua. Mereka bisa saja berbagi kasih dengan banyak orang, karena hatinya toh tidak sebeku es. Hanya saja mereka tidak ingin jika harus membagi kasihnya pada satu orang.

Yang perlu disadari oleh semua orang adalah tidak ada yang namanya kamus kebahagiaan, tidak ada yang namanya standar kebahagiaan. Setiap orang memiliki cara sendiri untuk bahagia yang tidak sama dengan lainnya. Kalau memang seseorang bahagia dengan hidup sendiri, terus mau bilang apa? Masih memaksanya untuk mencari pasangan hidup? itu sama saja memaksakan agama pada orang lain yang memiliki keyakinan berbeda. Daripada memaksakan standar kebahagiaan pada orang lain, lebih baik carilah kebahagiaan sendiri.

Sebenarnya semua tidak akan menjadi persoalan jika si penanya bisa menyikapinya dengan baik. Jika hanya sekedar memberi saran dan nasehat agar mengubah keputusan dengan segera mencari pendamping, ini bukan masalah besar. Anggap saja itu sebagai bentuk perhatian, meski hanya akan berakhir dengan keluar kuping kanan. Tapi jika sudah menghakimi dengan kesimpulannya sendiri, tentu akan beda perkara. Menyimpulkan sesuatu yang tidak diketahui tanpa berusaha memahami tentu sangat mengesalkan.

Ambillah contoh, si A tidak mau menikah karena putus asa melihat semua temannya sudah menikah dan memiliki momongan, sehingga akhirnya ia cuek dengan penampilannya. Ini semua anggapan keliru yang disimpulkan sendiri tanpa berusaha memahami alasan sebenarnya. Akhirnya si A dinasehati agar terus berusaha, merawat diri dan mencari pendamping, bahkan ia menawarinya mencarikan pasangan.

Mendengar semua anggapan tersebut, tentu saja si A merasa kesal karena tidak sesuai dengan yang dirasakannya. Padahal alasan sebenarnya ia hanya tidak ingin menikah karena menemukan kenyamanan ketika hidup sendiri. See?! Menyimpulkan sesuatu tanpa didasari fakta tentu akan menimbulkan persoalan bagi orang lain.

Dari sekian banyak bahasan yang saya sampaikan dalam postingan kali ini, hanya satu hal yang saya ingin orang lain renungkan. Hargailah setiap pilihan individu dengan segala alasan di baliknya. Saya sangat yakin bahwa setiap orang berhak memilih jalan hidupnya yang mungkin tidak “mainstream” seperti kebanyakan manusia pada umumnya.

Dalam ajaran agama yang saya yakini, hukum soal menikah pun sunnah, bukan wajib. Well.. setidaknya itulah yang saya dengar dari teman dan ceramah seorang ustadz, bahwa setiap orang “diwajibkan” menikah jika ia mampu dan “ingin” (kalau bahasa ustadznya “ngebet”). Kalau sudah mampu tapi belum “ingin” ya tidak harus. CMIW..

Sepertinya cukup jelas bahwa menikah adalah soal pilihan. Sementara setiap orang berhak menentukan pilihannya, orang lain pun wajib menghargai pilihannya tersebut, apapun alasannya. Tak perlu memaksakan standar yang kita yakini pada hidup orang lain, karena bagi saya tidak ada standar hidup, yang ada hanya idealisme hidup masing-masing individu, dan itu tentu tidaklah sama. Kenapa? Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang unik dan tidak sama. Setidaknya itulah yang saya pelajari selama kuliah dulu. Hmm.. kalau psikologi memang meyakini bahwa manusia unik dan tidak sama, kenapa ada tes psikologi yang menyamakan manusia berdasarkan kategori tertentu?:mrgreen:

So.. kalau seseorang bertanya “kapan nikah?” apa yang akan kamu jawab? Kalau saya, melihat dari semua penjabaran di atas, tentu jawabannya sudah cukup jelas😉

8 responses to “Kapan Nikah?

  1. Ular Berbisa August 23, 2012 at 2:39 pm

    aku biasanya jawab, mene

  2. metomsh August 23, 2012 at 3:35 pm

    kalo sy sering2 jwb, “ntar…dtunggu aja undangannya tgl 30 februari thun dpan”

  3. Angga P. August 24, 2012 at 12:44 am

    biasane jawaban e “ngko lek wis entuk baru dipikir…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: