kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Guru Otak Kanan


Tak perlu menjadi seorang guru atau pendidik untuk berperan sebagai teladan bagi orang lain. Bahkan orang yang tak berpendidikan tinggi pun bisa melakukannya. Selama kurang lebih 13 tahun sosok ini tak pernah lepas dari bayangan saya, menjadi seorang teladan sekaligus guru otak kanan.

Sebenarnya cerita ini adalah tulisan yang saya kirimkan untuk kompetisi Nulis Buku yang mengangkat tema “Inspiring Teacher”. Sudah lama memendam keinginan untuk membuat tulisan mengenai sosok yang berjasa dalam hidup saya, akhirnya melalui kesempatan ini saya mewujudkannya.

Meski tidak menjadi pemenang, tapi saya cukup senang. Dari sekitar 300 tulisan yang masuk, “Guru Otak Kanan” terpilih dalam daftar 60 besar dan diterbitkan dalam buku antologi. Sebuah kebanggan tersendiri karena saya bisa berbagi kisah dengan banyak orang. Semoga Mbah Kung juga bangga karena kehadirannya membawa arti tersendiri bagi saya dan semoga bisa menginspirasi orang lain🙂

Guru Otak Kanan

“Hap!” kakiku menapak tanah setelah tangan mungilku berhasil meraih kaleng yang tergantung di tiang kayu. Kutumpahkan seluruh isi kaleng ke dalam kantong kresek berwarna hitam yang disodorkan padaku, perlahan, hingga bisa kudengar gemericik butiran putih yang jatuh satu per satu.

Kuletakkan kaleng ke tempat semula setelah memastikannya benar-benar kosong. Kaki kecilku pun mulai melangkah, berusaha menjajari sosok di depanku. Tubuh kurusnya tampak mulai dimakan usia, rambutnya mulai berwarna keperakan, seperti kilau kaleng susu bekas yang tergantung pada tiang-tiang kayu rumah di sepanjang jalan kampung yang kami lewati. Kilau keperakan di kala langit menampakkan semburat senjanya yang cantik.

Perkenalkan, aku adalah asisten cilik pengumpul *beras jimpitan. Sosok di samping yang berjalan beriringan denganku setiap sore di bawah langit senja adalah Mbah Kasno, guru otak kananku.

***

Aku hidup damai di sebuah dusun bernama Damean, di kabupaten Malang lebih tepatnya. Bukan bersama kedua orangtuaku, melainkan bersama kedua orangtua Ayahku, Mbah kung dan Mbah putri atau biasa aku panggil Mbah uti. Sejak kecil, bahkan sebelum bisa berjalan pun aku sudah tinggal bersama mereka. Kedua orangtuaku memutuskan untuk berpisah ketika aku masih kecil, Ayahku hidup dan bekerja di luar kota, sedangkan Ibu kandungku pulang ke kampung halamannya.

Mbah kung memiliki nama panggilan yang unik, Bapak Jahit. Sosok kelahiran 74 tahun yang lalu ini adalah mantan staff TNI-AU yang dianugerahi dengan beragam keahlian, termasuk menjahit. Itulah kenapa para tetangga sering sekali memanggil beliau dengan sebutan Bapak Jahit. Setelah tidak lagi bekerja sebagai staff Angkatan Udara, Mbah kung membuka usaha jahit di rumah. Karena hanya bekerja seorang diri, Mbah kung sering kewalahan menangani order jahitan.

Aku sering memperhatikan beliau ketika sedang mengerjakan pesanan pelanggannya, mulai dari mengukur, memotong kain, sampai menjahit dan memasang kancing. Mbah kung lah yang mengajariku menjahit dan menyulam. Beliau tak pernah melarangku bermain-main dengan mesin jahitnya, meski kala itu aku masih duduk di sekolah dasar. Awalnya aku hanya iseng membuat ikat rambut dari kain sisa. Semasa aku kecil, ikat rambut dengan kerutan mirip bunga itu sedang tren. Aku punya cukup banyak koleksi berbagai motif dan warna dari kain sisa yang kujahit sendiri.

Karena sering memperhatikan Mbah kung membuat desain baju, aku juga mulai bereksperimen. Kami berdua adalah partner in crime, aku desainernya dan Mbah kung penjahitnya. Dulu aku suka membuat desain baju sendiri dan meminta Mbah kung menjahitkannya untukku. Tak hanya berhenti sampai mendesain, aku pun mulai memberanikan diri menjahit baju dengan mesin jahit kesayangan Mbah kung, meski hanya baju boneka Barbie. Mesin jahit yang sampai saat ini masih tersimpan di meja kamarku.

Ketika bulan Ramadhan datang, setiap sore menjelang waktu berbuka puasa, aku menghabiskan waktu di teras depan sambil menyulam. Satu lagi keterampilan yang diwariskan Mbah kung sedari aku masih ingusan.

***

Saat hari Minggu aku memang tidak turut Ayah ke kota dan naik delman istimewa, karena aku lebih sering menghabiskan waktu bersama teman kecilku di sungai belakang rumah untuk mencari ikan gathul atau pergi ke pekarangan tetangga bersama Mbah kung.
Dengan cepat kusambar buku gambar beserta pensil kesayangan, kuikuti langkah Mbah kung, menyusuri rumput liar yang berjajar di pekarangan. Mbah kung menunjuk deretan pohon bambu yang melambai diterpa angin sepoi, beliau lalu menyuruhku menggambarnya.

Masih bisa kurasa desahan angin manja yang membelai wajahku kala itu, hembusannya menari bersama goresan pensil dari jemari mungilku. Goresan yang sampai sekarang pun tak mampu menandingi keelokan karya beliau. Bahkan ketika aku menghabiskan waktu menemani beliau menyelesaikan lukisan di atas selembar kain putih, yang sayangnya belum sempat diselesaikannya, aku masih tak mampu meniru gerak luwes jemari tangannya.

Lukisan wayang di pintu depan, lukisan dari gedebok pisang dan lukisan pemandangan penuh warna yang tergantung di dinding, karya yang akan selalu mengingatkanku pada sosok beliau.

***

Jemari tua menari di atas buttercream warna-warni, sesekali tangan kirinya memutar kue, sementara tangan kanan menghias pinggirannya dengan beragam ukiran cantik. Dengan cekatan tangannya menekan piping bag dan meliuk-liukkan buttercream sampai membentuk bunga mawar yang mekar sempurna.

Tak lama seseorang datang mengambilnya diiringi senyum yang merekah. Tart hasil karya Mbah kung pun sukses diboyong pemesannya. Aku memandangi meja makan yang penuh dengan buttercream warna-warni. Mbah kung seolah bisa membaca pikiranku, beliau pun tak ragu mewariskan satu lagi keterampilan yang dimilikinya.

Kebiasaan di rumah kalau sedang ada pesanan kue tart, Mbah uti selalu membuat lebih dari pesanan, agar kami bisa ikut menikmati. Dan ini adalah berkah tersendiri untukku, karena aku bisa belajar menghias tart. Selain aku, Mbah uti juga termasuk partner in crime Mbah kung, terutama untuk urusan kue. Mbah uti yang bertugas membuat bolu dan Mbah kung yang bertugas menghiasnya menjadi tart cantik.

***

Ketika matahari menggelontorkan sengat panasnya di atas kepala, saat itu adalah waktu yang tepat untuk bermain-main. Aku tak ingat persis apakah semasa kecil aku termasuk rajin tidur siang, yang kuingat aku sering menghabiskan waktu dengan Mbah kung.
Kususun tiga buah batu bata kecil membentuk kotak, di dalamnya kuletakkan beberapa helai kertas. Mbah kung mendongak ke atas, memastikan arah sinar matahari. Tangannya lalu mengarahkan kaca pembesar ke dekat kertas, tak lama tiba-tiba kertas mengeluarkan asap. Ya, kertas itu terbakar oleh panas matahari! Aku dan teman kecilku bersorak girang.

Kami lalu memasukkan ranting-ranting kayu kecil dari celah batu bata, menjaga agar apinya tetap menyala. Tak lupa di atas tumpukan batu bata itu kuletakkan kaleng bekas mentega. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, kaleng itu kuisi dengan sayur dan bumbu selayaknya masakan orang dewasa. Sayangnya, tak ada yang mau memakan hasil masakanku, aku pun hanya mencicipinya sedikit, hehe..

Di lain waktu aku mengajak tetangga sebelah rumah untuk ikut mencari daun jambu. Bukan, bukan untuk obat diare. Aku mendapat tugas khusus dari Mbah kung untuk memetik daun jambu yang akan digunakan sebagai bulu replika burung Garuda.
Waktu itu desa kami sedang mempersiapkan karnaval untuk memperingati HUT RI di tingkat kecamatan. Sudah menjadi kebiasaan bagi setiap warga untuk menciptakan sesuatu yang unik pada karnaval tersebut. Mbah kung yang memang tidak pernah absen dalam karnaval kala itu mendapat ide untuk membuat replia burung Garuda raksasa.

Burung Garuda berwarna emas yang gagah itu dikonsep sendiri oleh Mbah kung. Yang kuingat hanya lapisan kertas semen yang dicat warna emas dan bulu yang terbuat dari daun jambu. Dan bulu-bulu itu kucari dengan sepenuh hati, menantang terik matahari.
Lain waktu aku kembali menghabiskan siang yang terik bersama Mbah kung. Aku sangat bersemangat ketika mendapat tugas mencangkok tanaman dari guru di sekolah. Kuseret Mbah kung ke pekarangan sampai gudang tembakau di dekat rumah. Kami menyusuri ladang mencari sebatang pohon yang bisa kugunakan untuk praktek. Tak hanya menemukan batang mangga, Mbah kung juga mengajariku cara bercocok tanam stek batang dari pohon singkong.

Cangkok pohon mangga, stek batang singkong, stek daun cocor bebek, semua tak hanya kudapatkan dari buku pelajaran. Mbah kung selalu setia menemaniku praktikum. Bahkan di Minggu pagi beliau sering mengajakku ke kompleks untuk melihat bunga bugenvil beraneka warna yang tumbuh dari satu pohon saja. Tak hanya sekedar melihat, karena sesampainya di rumah beliau menunjukkan caranya dan mengijinkanku mengutak-atik bugenvil kesayangannya. Dan ketika bunga beraneka warna itu bermekaran, saat itulah hasil persilangan buatanku dinyatakan berhasil. Kalaupun gagal, Mbah kung tak pernah murka, beliau mengajakku untuk mencari bibit baru yang tumbuh liar di kompleks dekat rumah.

***

Sosok pria kelahiran Palembang yang menyimpan begitu banyak keahlian ini selalu menginspirasiku. Beliau memang tidak mengenyam pendidikan tinggi, hanya tamatan SD. Ya, boleh percaya atau tidak, tapi memang inilah kenyataannya. Entah bagaimana prosesnya hingga beliau bisa menjadi staff TNI-AU dahulu.

Semasa aku kecil dan tinggal dengan beliau, Mbah kung hampir tidak pernah mengajariku mata pelajaran dari sekolah, kecuali untuk bahasa Jawa. Beliau yang besar di Jawa Tengah terbilang sangat mahir dalam berbahasa Jawa, satu-satunya keahlian yang tidak kuwarisi sampai sekarang.

Kontribusi Mbah kung dalam prestasi akademisku di sekolah memang tidak terlihat secara langsung. Sejak kecil aku terbiasa belajar sendiri, karena Ayahku tinggal di Surabaya, Mbah kung dan Mbah uti juga hanya menemani dan tidak banyak menginterupsi.
Beruntung, karena aku tidak termasuk anak yang malas belajar. Semasa kecil aku terbilang suka belajar dan membaca, bahkan tanpa disuruh. Hasilnya, aku tak pernah absen dari peringkat 5 besar, meski hanya bertahan sampai beberapa tahun pertama.

Terhitung mulai kelas 4 SD prestasiku mulai menurun. Aku pun mulai mengikuti les setiap sore. Lagi-lagi Mbah kung tak banyak mencampuri perihal pelajaran di sekolah. Tapi bukan berarti beliau tidak memiliki andil apapun terhadap pembentukan karakterku.
Mbah kung tak perlu membaca buku pelajaran untuk sekedar mengajariku membuang sampah yang benar, yang sampai saat ini pun masih kuingat dan selalu berusaha kuterapkan.

Mbah kung tak perlu melihat buku untuk sekedar mengajariku menggambar, melukis, menyulam, menjahit dan menghias tart.
Mbah kung tak perlu mencontek buku untuk sekedar menumbuhkan kreativitasku, mencari daun jambu untuk bulu palsu burung Garuda misalnya.

Mbah kung tak perlu menghapal buku PKN untuk sekedar mengajariku pentingnya toleransi antar umat beragama. Berkunjung ke rumah tetangga yang merayakan hari raya yang berbeda denganku, hidup berdampingan dalam damai.
Mbah kung memang bukan guru, bahkan bukan orang yang berpendidikan tinggi. Beliau tak mengajariku aritmatika atau fisika, tapi beliau mengajariku bagaimana menjaga lingkungan dan menghargai orang lain.

Sosok yang tak pernah takut jika cucunya melakukan kesalahan dan kegagalan, yang selalu memberikan kesempatan untuk kembali mencoba.

Beliau mungkin tak cukup mengerti apa arti trial and error atau learning by doing, tapi beliau berhasil menanamkannya dengan baik, prinsip belajar dari sebuah proses.

Beliau lebih dari sekedar guru matematika yang hapal hitungan atau guru fisika yang hapal rumus di luar kepala.

Beliau adalah guru otak kananku, sosok yang semasa hidupnya mewariskan begitu banyak keahlian dan berhasil membuatku terhipnotis oleh otak kanan hingga saat ini.

Beristirahatlah yang tenang di sisiNya, Mbah kung..

Sampai kelak kita akan kembali bertemu, berlarian mengejar kupu-kupu, menikmati hembusan angin di hamparan pohon bambu dalam bingkai lukisan bisu.

*Beras jimpitan: program swadaya dalam bentuk mengumpulkan sejumput (segenggam) beras dalam kaleng bekas. Warga yang mendapat giliran akan mengambil beras setiap sore dari rumah ke rumah. Hasilnya akan dijual dan digunakan untuk membiaya kegiatan warga atau memperbaiki sarana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: