kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

10 Favorite Japanese Movies (Part I)


part 1

Setelah menghabiskan masa anak-anak bersama Doraemon, Kamen Rider, Saint Seiya dan Ultraman, saya kembali diracuni dengan film-film Jepang selama 3 tahun terakhir. Sudah ratusan judul film dan drama seri Jepang yang saya lahap, bahkan mungkin jumlahnya menyamai judul-judul film Hollywood.

Kenapa Jepang berhasil bikin saya tergila-gila sama filmnya? Jawabannya ada di sini. Tapi dari sekian ratus judul yang pernah saya tonton, tentu nggak semuanya bagus. Ada juga yang bikin mata, hati dan pikiran saya nggak nyaman, sampe begitu selesai nonton langsung saya hapus dari hardisk. Salah satunya adalah film besutan Sion Sono..:mrgreen:

Tapi khusus untuk postingan kali ini saya akan bahas 10 film Jepang favorit, film lepas, ya.. bukan drama seri. Well.. sebenarnya nggak tepat 10 juga, sih.. Ini saya pas-pas’in aja biar enak dan nggak terlalu banyak nulisnya.. Saya bagi jadi 2 bagian, karena saya sulit untuk berhenti nulis:mrgreen:

Ada beberapa film yang sebenarnya juga menarik, tapi akhirnya saya tendang dari daftar 10 besar dan saya masukkan dalam bangku cadangan. Faktornya beragam, sih.. Ada yang karena terlalu klise sampai karena premisnya kurang jelas tapi gambarnya ciamik. Oke.. langsung cekiprot aja.. *SPOILER ALERT*

Oh, ya.. Nomor tidak didasarkan pada peringkat, ya.. Saya terlalu bingung untuk ngasih peringkat, karena tiap film punya daya tarik masing-masing yang berbeda, plus film-film ini dari berbagai genre.

1. Ikigami: The Ultimate Limit

Source: AsianWiki

Meski saya bilang nggak bisa ngasih peringkat, tapi bisa dipastikan saya akan nyebut Ikigami sebagai yang pertama ketika ditanya film Jepang favorit. Ikigami berkisah tentang sebuah kebijakan pemerintah yang cukup unik sekaligus sadis, tema yang cukup sering diangkat oleh film-film Jepang. Aplikasi dari National Prosperity Law ini mulai diterapkan pada anak-anak SD kelas 1.

Sejumlah murid SD akan mendapatkan sebuah suntikan, mungkin mirip imunisasi. Tapi ini tujuannya bukan demi kekebalan tubuh terhadap sebuah penyakit, melainkan sebaliknya, untuk membunuh. Dalam 0,1% suntikan tersebut terdapat nano capsule khusus yang akan “meledakkan” jantung. Kapsul ini disuntikkan pada 1 dari 1.000 orang.

Nantinya ketika sudah berusia antara 18-24 tahun, pada hari dan waktu yang telah ditentukan, anak yang memiliki kapsul tersebut akan mati dengan “hormat”. Injeksi ini pun dilakukan secara random, tidak ada yang tahu siapa yang akan mendapatkan kapsul itu dan tidak ada satu pun cara untuk mengetahui apakah seseorang mendapatkannnya.

Ikigami-015

Kebijakan ini ditujukan untuk menekan angka kriminalitas dan menciptakan masyarakat yang produktif. Selama pemerintah menerapkan aturan ini, nyatanya tingkat kejahatan dan bunuh diri menurun, sementara tingkat produktivitas justru meningkat secara drastis.

Orang yang memiliki kapsul di tubuhnya akan menerima pemberitahuan waktu kematian mereka, 24 jam sebelum waktu yang ditentukan. Dan pemerintah Jepang telah memilih orang-orang tertentu untuk menjalankan tugas sebagai pengantar surat pemberitahuan kematian (Ikigami). Petugas ini akan memastikan penerima Ikigami untuk mendapatkan sejumlah layanan gratis dari pemerintah untuk menghabiskan waktu terakhir mereka, mulai dari transportasi umum sampai makan di restoran apapun. Cukup tunjukkan kartu tanda penerima Ikigami, orang tersebut bisa mendapatkan apapun yang dimintanya. Yah.. model-model permintaan terakhir untuk terpidana mati gitu, deh..

Ikigami-011

Ikigami-008

Ikigami-002

Oke.. itu sedikit gambaran cerita. Selanjutnya film ini akan mengisahkan 3 orang yang menerima Ikigami atau surat pemberitahuan kematian dan menghadapinya dengan cara masing-masing. Di sinilah keseruan dimulai😀

Ketiga cerita menampilkan latar belakang yang berbeda tapi sama-sama menarik. Apa yang akan mereka lakukan menjelang detik-detik kematian? Kedengarannya memang seperti film tentang orang yang mengidap penyakit mematikan dan menghabiskan waktu terakhirnya. Tapi yang ini diceritakan dengan berbeda dan jauh lebih menarik. Lupakan soal kisah cinta Adam dan Hawa, karena Anda tidak akan menemukannya di sini. Tapi justru itulah yang saya suka. Bosen kali’ nonton kisah dua sejoli yang dihadapkan pada perpisahan..😆

Endingnya? Yang pasti semua mati! Haha.. Buat saya, sih endingnya cukup pas, tidak terasa dipaksakan. Nggak ada yang namanya usaha gila-gilaan untuk mencegah ketiga karakternya mati. Semua berjalan sesuai rencana. Dan yang paling penting jalan ceritanya cukup rasional, buat saya loh, ya.. Twistnya? Lumayan dapet buat saya. Ada sedikit kejutan di pertengahan akhir. Apa kejutannya? Tonton sendiri, biar lebih afdol.. hehe..

Cast. Overall menurut saya oke, masing-masing berhasil memerankan karakternya dengan cukup baik. Matsuda Shota sebagai petugas pengirim Ikigami memang nggak banyak menampilkan emosi, tapi kayaknya memang orang ini pas untuk karakter yang cool. Jun Fubuki berhasil bikin saya geregetan, padahal Ibu ini di “Ando Natsu” keliatan cantik dan luweess banget. Takayuki Yamada yang emosional bikin saya sesenggukan sambil ngelap air mata. Iyes, saya nangis mulai dari awal sampe akhir film..😆

Rating: 1 2 3 4,5 5

2. Shiawase no Pan (Bread of Happiness)

Bread_of_Happiness-012

Abis cerita yang gloomy, kita refresh dulu sama film cantik ini. Tapi saya bisa cerita apa, ya? Soalnya saya nonton fim ini tanpa subtitle. Hahaha.. serius! Setelah ngubek sana-sini dan nggak dapet subtitlenya, saya putuskan untuk tetap menonton Shiawase no Pan.

Kenapa? Karena judulnya mengandung makanan😆 Trailernya pun menjanjikan gambar yang cantik dengan Hokkaido sebagai settingnya. Tapi yang lebih penting, dari judul dan sinopsis yang saya baca film ini menarik, meski sepertinya cukup sederhana. Jangan salah, saya udah 2 kali nonton film ini tanpa subtitle, bertahan dari awal sampe akhir, tanpa skip 1 detik pun..😎

Ak.. barusan dapet subtitlenya! Dan ya, saya tonton ulang untuk yang ketiga kali.. hahaha.. Sebelum dapet subtitle saya cuma bisa nebak jalan cerita dengan berbekal pemahaman Nihon go (bahasa Jepang) seadanya. Hanya bisa mengartikan beberapa kata dan kalimat ternyata tidak terlalu buruk. Saya masih bisa mengikuti jalan ceritanya dari awal sampai akhir, karena memang ini film yang sangat sederhana. Untung bukan tipe film kayak nomor 3 ntar..😀

Dan setelah menonton ulang, kali ini lengkap dengan subtitle.. Ada beberapa scene yang bisa saya tangkap lebih baik ketika dilengkapi dengan subtitle, selebihnya tidak banyak yang meleset dari tebakan.. hehe..

Bread_of_Happiness-007

Shiawase no Pan menggambarkan sepasang suami istri yang memutuskan untuk menetap di sebuah desa di Hokkaido dan membuka café plus toko roti mungil. Tempat tinggal yang nyaman di tepi danau ditemani suasana sekeliling yang menenangkan tentu terasa jauh berbeda dengan sebelumnya, ketika mereka tinggal di Tokyo yang hiruk pikuk. Apa yang membuat keduanya memutuskan untuk hijrah ke tempat yang jauh dari keramaian? Alasannya mungkin klise, tapi film ini berhasil dikemas dengan cukup rapi, cantik dan tidak membosankan.

Alih-alih fokus pada kehidupan keluarga muda ini, cerita justru menyorot karakter-karakter lain di sekitarnya. Seorang gadis kota terpaksa berlibur sendiri ke tempat yang tidak seharusnya karena temannya membatalkan rencana, seorang bocah perempuan yang berusaha menyembuhkan rasa kehilangan seorang diri dan sepasang lansia yang bernostalgia dengan misi rahasia di tengah waktu yang semakin singkat. Ketiga cerita berhasil diramu dengan  cukup baik, meski kedua karakter utama tidak lantas jadi fokus.

Ceritanya sangat sederhana dan berjalan dengan alur yang smooth. Ah, saya tidak mendapatkan istilah lain untuk alur “smooth” ini, hehe.. Tenang seperti angin sepoi, menghanyutkan seperti aliran sungai. Kurang lebih seperti itu gambaran yang pas untuk Shiawase no Pan. Setiap cerita memang menyimpan konfilk, tapi tidak meletup-letup seperti air mendidih atau meledak-ledak seperti petasan. Semua berjalan dengan sangaaatt tenang. Selow.. woles..

Bread_of_Happiness-003

Ketenangan ini turut didukung dengan visualisasi dan tata artistik yang cantik. Detail benar-benar diperhatikan dan disajikan dengan manis. Suara biji kopi yang digiling dan asap yang mengepul dari cangkir terasa begitu dekat dan nyata, seolah saya sedang benar-benar menikmati, menghirup aromanya dan menyesap pahit-manisnya. *nyruput hot lemon tea dulu*

Mengikuti alurnya yang tenang, semua gambar diambil dengan tidak terburu-buru, memastikan jika penontonnya tidak akan melewatkan detail barang sedetik pun. Bahkan saya masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana adonan roti mengembang sempurna, irisan tomat meleleh dalam oven, biji chestnut dikelupas dari kulit berduri. Ya, saya baru tahu kulit chestnut seperti rambutan ya dari film ini.

Bread_of_Happiness-001

Pemilihan properti dan lokasi menjadi faktor yang tidak bisa dilewatkan dalam film ini. Interior café Mani dan rumah Miku-chan sepertinya memiliki style country ala Jepang, dengan sedikit sentuhan Mori mungkin. Itu pendapat saya sebagai orang yang awam di bidang desain interior loh, ya.. hehe.. Sebagian besar, bahkan mungkin hampir 100% furniture terbuat dari kayu dengan desain minimalis tapi tetap tidak melupakan detail.

Oh, and I love table and kitchen set yang mereka pakai. Mulai dari mangkuk, cangkir, panci, sampai sendok dan garpu. Pemilihan corak cangkir dan mangkuk yang tidak “bersih”, panci tradisional, sendok dan garpu dari kayu. Semua saya suka. Bahkan hiasan patung kecil yang berjajar di atas partisi dapur juga tidak luput dari bidikan kamera. Dan tak ketinggalan, oven kayu bakar untuk memanggang roti di luar café.

Bicara soal lokasi, Hokkaido tentu tidak diragukan lagi keindahannya, meski negara kita juga nggak kalah cantik. Dibandingan Okinawa yang populer karena keindahan laut dan pantainya, saya mungkin lebih memilih Hokkaido dengan hamparan ladang yang hijau. Jangan lupa, di samping café Mani juga tersaji pemandangan danau yang bersanding mesra dengan gundukan bukit hijaunya.

Bread_of_Happiness-010

Shiawase no Pan menampilkan kelihaian pengambilan gambar dengan memanfaatkan proporsi alam yang ada. Ya, lihai, karena kalo nggak lihai, biar bagusnya kayak surga juga gambar nggak akan keliatan cantik di mata kamera. Hal ini juga terlihat dari penggambaran setiap musim yang terlewati, mulai dari summer, autumn, winter, sampai spring.

Properti, lokasi, pengambilan gambar. Satu lagi yang nggak kalah cantik dari film ini, kostum. Lupakan Harajuku style dengan stocking warna-warni, karena ini Hokkaido, bukan Tokyo. Pemilihan desain dan warna wardrobe untuk Tomoyo Harada dan Yo Oizumi sangat mewakili nuansa dan feel café Mani. Kalo boleh saya bilang, ada sedikit sentuhan “Mori girl” style. Untuk karakter lain juga terasa pas, tidak berlebihan meski tidak dalam satu gradasi warna. Semua terlihat cantik!

Bread_of_Happiness-006

Bread_of_Happiness-008

Ada yang beranggapan kalau film itu bukan hanya kumpulan gambar cantik atau pemandangan yang menyimpan decak kagum. Semua faktor itu nggak akan terasa cukup kalau nggak didukung dengan cerita yang baik. Saya setuju, karena bagaimanapun cikal bakal film adalah cerita. Film nggak akan ada tanpa cerita. Bukan berarti saya mengagung-agungkan cerita lalu meremehkan divisi lain dalam produksi film. Saya suka sama film-film cantik, tapi saya nggak suka kalau kecantikan film itu jadi rusak karena cerita yang amburadul.

Ketidaksinambungan cerita, logika yang acak-acakan, penyampaian informasi yang salah, dan sederet cacat lain yang dibungkus dengan gambar cantik mungkin sering kita temukan, termasuk film yang meraih jutaan penonton baru-baru ini. Saya nggak akan nyebut judul, sih.. karena saya juga belum nonton filmnya, cuma baca reviewnya doang, haha.. Kadang penonton jadi memaafkan “kesalahan” itu karena cukup puas dengan gambar yang cantik. Nah.. terus gimana sama film ini?

Untungnya saya tidak merasakan hal itu dalam Shiawase no Pan. Kenapa? Mungkin.. mungkin, ya.. karena tema yang diangkat cukup sederhana, dengan alur yang sederhana pula, tidak berlebiham tetapi juga tidak cemen dan dangkal. Cerita dan gambar diracik dengan cukup baik dan seimbang, tidak ada yang berusaha tampil menonjol satu sama lain. Mungkin itulah kenapa saya bilang film ini tenang seperti angin sepoi dan menghanyutkan seperti aliran sungai. Smooth and sooo refreshing..🙂

Dari segi akting sebenarnya tidak banyak yang ditawarkan, semuanya seolah berjalan apa adanya. Meski penampilan Yo Oizumi tidak buruk di film ini, tapi kok rasanya orang ini lebih seru untuk karakter yang “hidup”. Kalo nggak salah dia pernah masuk nominasi Japan Academy Award (Oscarnya Jepang) lewat perannya sebagai detektif swasta di Phone Call to The Bar. Sementara Tomoyo Harada, lawan mainnya di film ini juga biasa saja. Saya nggak tahu lebih jauh juga, sih soal kemampuan aktingnya. Baru 3 judul film Harada yang saya tonton, dan rata-rata karakternya tidak banyak berbeda. Yang cukup menarik perhatian adalah Sakamoto Fumio yang diperankan oleh Eyang Katsuo Nakamura.:mrgreen:

Rating: 1 2 3 4,5 5

3. Gantz

Gantz_Perfect_Answer-0019

Setelah hanyut oleh alur Shiawase no Pan yang menenangkan, saatnya kembali memompa adrenalin. Adventure movie? Nggak juga, sih.. Tapi setidaknya film ini bisa bikin mata melek dan darah mendidih. Kenapa bisa mendidih? Gara-gara gemes lihat actionnya. Ya, bisa dibilang ini film action dengan sentuhan science fiction.

Gantz. Mungkin cowok-cowok penggila manga udah nggak asing sama nama ini. Yup, film ini memang versi live action dari komiknya. Filmnya sendiri dibuat sequel. Gantz dan Gantz Perfect Answer, dua-duanya, sih saya suka. Jujur, awalnya saya nggak tertarik untuk nonton film ini, kurang suka film yang berbau futuristik. Iya, waktu itu saya nggak merhatiin sinopsisnya, cuma liat poster dan langsung nyimpulin sendiri. Haha.. don’t judge movie by its poster. Plus film ini dibintangi sama salah satu anggota boyband, meski ada juga Matsuyama Kenichi yang jadi co-star. Tapi karena penasaran, akhirya saya tonton juga. Kita mulai dari Gantz pertama dulu.

Film dibuka dengan adegan Kurono (Ninomiya Kazunari) yang bertemu dengan teman SDnya, Kato (Matsuyama Kenichi) di platform subway (kereta bawah tanah)…… Nggg… kok tiba-tiba jadi pengen nonton filmnya lagi, ya.. hahaha.. Oke, nonton dulu dah.. abis itu dilanjut nulis lagi..😆

Gantz-0008

Udah nonton tapi nggak sampe abis, durasi 2 jam lebih bo’.. Jadi.. film ini nyeritain apa sih, sampe bisa saya masukin top 10? Gantz sendiri bisa dibilang kombinasi tema alien, death game dan parallel universe. Jangan bayangkan alien berkepala hijau atau bermata belo ala E.T dan film-film Hollywood lainnya. Kalo buat saya alien di film ini lebih keren, nggak terlalu grossy dan aneh kayak alien-alien di Men in Black.

Balik lagi ke scene platform subway. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang jatuh ke rel kereta, padahal waktu itu kereta express yang nggak berhenti di stasiun mau lewat. Orang-orang cuma pada ngeliatin sambil nyari petugas stasiun, tanpa berusaha nolong. Akhirnya Kato memberanikan diri untuk turun dan ngebantu orang yang ternyata mabuk itu naik ke platform.

Yang bikin gemes, ini kenapa orang-orang waktu dimintain tolong pada bengong aja, ya? Bahkan waktu Kato minta tolong untuk mbopong orang itu, semua pada ngeliatin doang. Akhirnya orang mabuk itu berhasil dinaikkan ke platform, sedangkan Kato sendiri masih di bawah. Waktu kereta udah mau melintas, Kurono yang tadi cuek waktu dipanggil-panggil Kato akhirnya ngulurin tangannya. Eh, malah ikutan ketarik ke bawah. Kereta melintas dan.. duaarr..

Dua orang itu muncul di dalam sebuah ruangan yang sudah dihuni beberapa orang plus sebuah bola hitam besar yang di dalamnya berisi seorang manusia berkepala plontos. Siapa orang-orang ini dan apa fungsi bola hitam itu? Silahkan tonton sendiri, dah.. sebisa mungkin saya nggak mau kasih spoiler.. :p

Gantz-0005

Sedikit saya kasih gambaran plotnya. Kurono dan orang-orang di dalam ruangan Gantz yang seharusnya mati karena insiden ini diberi tugas untuk memburu alien yang menginvasi bumi. Bola Gantz akan memunculkan gambar alien yang harus diburu, lengkap dengan ciri-ciri dan kekuatannya. Mereka akan diberi batasan waktu untuk menghabisi alien. Masing-masing orang harus mengumpulkan point hingga 100 kalau mereka ingin bebas dan kembali ke dunia nyata atau menghidupkan kembali 1 orang yang mereka inginkan.

Alien yang pertama namanya Onion Alien. Sesuai namanya, alien ini doyan bawang (negi). Yang saya lihat sih, daun bawang, bukan bawang bombay atau bawang putih. Tamanegi itu artinya bawang (bombay), kalo bawang putih bahasa Jepangnya ninniku, nah kalo daun bawang mungkin juga dibilang negi. Kok sempet-sempetnya nyari istilah ini? Karena anak alien ini selalu bilang “Negi o gemasu” atau “Negi agemasu” ya? Mungkin maksudnya negi o agemasu, yang artinya I give you my onion. Heh, kok jadi pelajaran Nihon go? Hahaha.. gomen.. Back to the topic!

Sesi perburuan yang pertama ternyata harus memakan korban anak kecil, lebih tepatnya anak alien. Wajah alien ini nggak serem, sih.. tapi kasihan.. melaass gitu. Udah badannya kecil, dikejar-kejar banyak orang, ditembak. Duh.. sumpah saya kasian banget sama ini alien. Waktu dikepung sama 4 orang, dia nangis sambil terus bilang “Negi o gemasu”.. Tapi akhirnya dia mati juga. Nggak tahan liat mukanya yang melas sambil nangis, saya jadi ikutan nangis. Hahaha.. serius! Saya nangisin anak alien yang rambutnya mirip daun bawang ini. Tapi emang mukanya melas gitu..😥

Alien-alien selanjutnya lumayan bikin geregetan saking kuatnya. Ada yang wujudnya robot retro yang doyan dengerin musik sampe alien patung guede di depan museum Ueno. Buat saya, sih tampilan alien-alien ini keren, didukung sama visual effect yang gahar dan scoring yang ciamik.

Gantz-0014

Kalo soal action, untuk Gantz yang pertama actionnya masih belum benar-benar dieksplor dan dipoles karena baru sampe tahap pengenalan karekter. Baru deh di seqeulnya, action mulai digeber abis. Kalo disuruh pilih action mana yang lebih oke, jelas saya akan pilih sequelnya. Tapi kalo soal visual effect yang lebih yahud, saya pegang Gantz pertama. Eh, tapi yang kedua juga oke, sih.. meski nggak abis-abisan kayak yang pertama.

Nah.. tadi kan saya sempet bilang gemes sama actionnya. Gemes ini dalam artian positif apa negatif? Sayangnya bukan yang positif. Sering banget gemes dan geregetan sama action di Gantz pertama. Terutama waktu scene fighting sama alien patung di depan museum. Itu mereka pada keliatan bloon dan banyak bengongnya, deh.. Sumpah, itu buanyaaakkk bangeett chance yang bisa mereka pake buat ngejatuhin alien, tapi malah cuma dipake buat bengong dan teriak-teriak nggak jelas, atau maksimal lari-lari kecil..😆

Soal scoring, ini juga faktor penting yang jadi pertimbangan dan poin plus Gantz untuk masuk daftar top 10 saya. Iyes, saya suka sekali sama skoringnya yang pas! Theme songnya keren, orchestra bo’.. bikin merinding, apalagi kalo digabungin sama scene yang epic. Penempatannya buat saya, sih nggak ada yang mengganggu, porsinya pas!

Soal cerita.. not bad lah.. Seenggaknya film ini bisa bikin sedikit mikir meski nggak terlalu njelimet. Ada yang beranggapan kalo film itu harusnya menghibur, bukan malah bikin bingung dan mikir. Tapi buat saya selama proses pemikiran dan kebingungan itu menarik, mengasyikkan, menyenangkan, berarti film itu berhasil menghibur saya, dengan cara yang berbeda tentunya. Dan Gantz termasuk dalam kategori ini, bikin mikir tapi tetep nyenengin.

Gantz_Perfect_Answer-0003

Ketika selesai menonton film ini, ada banyak pertanyaan yang tersisa, meski akhirnya semua terjawab di sequel, sesuai dengan judulnya, Perfect Answer. Tapi buat saya jawaban yang diberikan belum sempurna. Entah kenapa saya dan beberapa penonton lainnya belum ingin mengakhiri pertanyaan. Bahkan karena saking penasarannya, saya ngikutin obrolan tentang film ini di Kaskus dan download manganya meski nggak sampe selesai. Buat saya film ini menarik karena berhasil memancing pertanyaan dan perdebatan di sejumlah forum maya, seolah-olah apa yang digambarkan dalam film benar-benar terjadi di dunia nyata. Ah, kayaknya banyak juga film-film lain yang gini, ya..:mrgreen:

Cast. Hmm.. meski awalnya sempat saya remehkan, tapi Ninomiya Kazunari yang notabene anggota boyband ini memang terbukti punya kemampuan akting. Sebelum Gantz, saya sudah melihat aktingnya di beberapa film. Dan memang dia tidak hanya mengandalkan tampang atau sekedar bisa nangis tanpa didukung acting yang mumpuni. Iya, orang yang bisa nangis bukan berarti aktingnya bagus. Nino terbilang cukup berhasil menyampaikan emosi, menggambarkan transisi dari karakter awal yang skeptis dan tidak diperhitungkan menjadi seorang “leader” yang bisa diandalkan.

Sementara co-starnya, Matsuyama Kenichi juga tidak jauh berbeda, cukup berhasil membawakan dua karakter berlainan. Dan yang nggak kalah menarik adalah karakter misterius sekaligus licik yang diperankan Kanata Hongo. Entah ya, Hongo ini kayaknya memang spesialis karakter-karakter kayak gini, meskipun bosen juga kalo peran yang dia bawain itu melulu dan aktingnya jadi nggak berkembang.

Wuaahh.. gila! Banyak juga tulisan soal Gantz ini, yak.. Baiklah, saya akhiri sampai di sini ulasannya. Sekarang saya mau nonton Gantz Perfect Answer untuk yang kedua kali..😆

Rating: 1 2 3 4 5

4. Otouto (About her Brother)

About_Her_Brother-0001

Salah satu genre yang paling saya suka dari film Jepang adalah family movie. Eh, ini genre atau apa, ya? Kan basic genrenya sebenernya drama.. hehe.. Mungkin lebih spesifik, drama keluarga, bukan drama cinta. Drama keluarga ini masuk kategori human drama nggak? Halah.. kok jadi ngomongin istilah teknis..😀

Otouto, sesuai dengan artinya, younger brother, film ini mengisahkan tentang seorang adik laki-laki. Apa yang istimewa dari adik laki-laki ini? Sebelum lanjut, perlu saya infokan, tidak ada wajah tampan dengan bedak tebal dan bibir merona di film ini. Jadi hapus semua harapan untuk melihat adik laki-laki berwajah rupawan atau berwajah garang ala yakuza. Jauh dari semua stereotype itu, Ototo tampil lebih nyata dengan penggambaran sederhana.

Film diawali dengan narasi Koharu (Yu Aoi) yang mengisahkan perjalanan hidup keluargannya. Footage dari sejumlah peristiwa penting yang terjadi di Jepang, kelahiran sang Ibunda di Osaka, awal kemunculan tokoh fiktif drama seri Tora-san yang terkenal hingga saat ini, Ibunda yang hijrah ke Tokyo untuk belajar farmasi, pertemuan dengan sang Ayah, membuka sebuah apotek, kelahiran Koharu, kematian Ayahnya, hingga saat pamannya Tetsuro datang ke Tokyo dan tinggal bersama untuk ikut membesarkan Koharu.

Montage dirangkai dengan iringan musik yang cantik dan sederhana, yang entah kenapa membuat saya langsung jatuh cinta. Ada aura luar biasa ketika saya mendengar sayup-sayup musik yang mengiringi narasi ini. Dari awal saja sudah menjanjikan, bukan film cemen.. hehe..

Seperti yang sudah saya singgung di awal, film ini menawarkan kisah yang sebenarnya cukup sederhana dan sangat mungkin terjadi dalam kehidupan setiap orang, manusiawi. Tetsuro yang meyakini dirinya sebagai aktor ini memiliki kepribadian yang easy going dan humoris. Tapi ada satu kelemahannya, alkohol. Setiap kali meneguk minuman keras ia jadi tidak terkendali. Dan karena kebiasaan serta perilaku buruk itu, tidak anggota keluarga besar yang menyukainya, terlebih ketika peringatan kematian Ayah Koharu yang ke-13. Ia kembali berulah karena alkohol. Sejak saat itu Tetsuro tak pernah lagi muncul dan terdengar kabarnya. Hingga saat pernikahan Koharu berlangsung,  Tetsuro tiba-tiba muncul dan kembali membuat keributan, meski awalnya berjanji tidak akan menyentuh alkohol.

About_Her_Brother-0002

Film ini berfokus pada hubungan keluarga, khususnya sang Kakak perempuan dengan adik laki-laki yang sedari kecil selalu mengandalkannya. Selama hidupnya Tetsuro terbilang tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan, selalu mencari masalah dan dikucilkan keluarganya. Tapi ada satu hal yang membuatnya bangga. Koharu, nama yang terkesan kuno ini adalah hasil pemberian Tetsuro dan ia sangat bangga karenanya. Ya, sesederhana itu.

Selanjutnya? Silahkan tonton sendiri.. :p

Salah satu yang saya suka dari film ini adalah pemilihan karakternya. Alih-alih menggunakan karakter berusia muda, sang penulis skenario justru lebih memilih karakter berusia matang yang sangaatt jarang kita lihat mendapatkan peran utama dalam film Indonesia. Iyes, yang sedap dipandang di sini cuma Yu Aoi dan Ryo Kase. Tapi lagi-lagi itulah yang membuat saya menyukai Ototo dan film-film Jepang lainnya yang menawarkan variasi dan segmen market yang berbeda. Saya termasuk penggemar film-film Jepang dengan tokoh utama lansia, loh..😆

Meski berdurasi 2 jam, tapi film ini tidak membuat saya ngantuk. Alurnya terasa pas, tidak lambat, tidak juga cepat. Konflik berhasil dibangun dengan baik dan tidak berlebihan. Saya seolah-olah sedang mengikuti kisah sebuah keluarga tetangga di dekat rumah, hehe..

Penggambaran visual karakternya di masa lalu juga cukup pas. Saya tidak tahu pasti apakah foto Ibu Koharu yang digunakan itu memang fotonya asli pada tahun 80an atau hasil photo editor. Yang pasti foto Ibu Koharu bersama Ayahnya di masa lalu itu memang sangat natural, tanpa sentuhan make-up atau tata rambut yang dibuat sok vintage seperti kebanyakan film. And I really love it! Belum lagi penggambaran Tetsuro di masa lalu ketika ia melakoni sebuah peran dalam pertunjukan tradisional Jepang (nggak tahu pasti namanya, sepertinya bukan Kabuki). Make-up’nya baguuuss sekali tanpa terlihat berlebihan dan yang jelas membuat tampilan Tetsuro muda benar-benar real. Divisi art bekerja dengan baik di sini, mulai dari properti sampai make-up dan hair do.

About_Her_Brother-0004

Cast. Inilah salah satu faktor yang membuat saya menjagokan film ini.  Tsurube Shofukutei sebagai Tetsuro tampil sangat brilian di mata saya. Ia berhasil menggambarkan emosi dengan baik, meski saya merasa dialek Osaka yang dibawakannya tidak terlalu kental. Sementara Sayuri Yoshinaga sebagai sang Kakak juga terbilang cukup berhasil, meski tidak menampilkan emosi sedahsyat Tetsuro. Yu Aoi dan Ryo Kase, dua orang ini kalo milih peran film memang nggak pernah sembarangan. Dan saya bersyukur mereka mendapatkan peran di film ini meski bukan yang utama dan tidak terlihat menonjol. Karakter yang diperankan Haruko Kato sebagai Obachan (Nenek Koharu) juga cukup mencuri perhatian. Bahkan teman satu Kaman Tetsuro di Green House Osaka juga tampil cemerlang.

Meski saya tidak terlalu bisa merasakan skoringnya, tapi musik yang digunakan untuk opening dan ending berhasil membuat saya jatuh cinta. Rasanya seperti dibawa ke tahun 80an, meski saya tidak bisa menyebut dengan jelas jenis musiknya seperti apa.. hehe..

Jujur, sebenarnya ketika harus menonton film ini untuk kedua kalinya saya tidak terlalu bersemangat, meski akhirnya saya tonton juga sampai tuntas. Tapi saya tetap merasa Ototo layak masuk dalam daftar ini, atau mungkin lebih tepatnya 10 best, bukan 10 favorite, ya?:mrgreen:

Yang membuat film ini spesial sebenarnya adalah kesederhanaannya. Ya, film yang bagus tidak selalu film-film njelimet, bahkan kisah sehari-hari juga bisa menjadi tontonan yang apik jika dikemas dengan cantik. Dan ya, saya dibuat menangis oleh film ini, meski hanya di bagian ending dan tidak sepanjang film seperti Ikigami.. :p

Rating: 1 2 3 4 5

5. Parade

Parade-001

Film ini sengaja saya pilih untuk mengakhiri chapter 1, dengan harapan bagian pertama dari daftar 10 film Jepang favorit ini akan memiliki unforgettable ending. Hasyaahh.. apa coba..

Saya sampai pada film ini di halaman AsianWiki karena faktor Keisuke Koide, one of my fav actor. Begitu baca sinopsisnya, saya udah nggak peduli lagi dengan siapa aktor yang bermain di dalamnya. Yang jelas saya HARUS nonton ini. Tapi karena link downloadnya udah pada mati semua, akhirnya saya request ke salah 1 Kaskuser yang memang jual DVD film-film Jepang dan Korea. Thanks God, film yang saya pesen pun ternyata available. Apa yang membuat saya sampe ngebet nonton film ini?

Faktor utama film ini wajib saya tonton bukan lagi Keisuke Koide -gomen Keisuke-kun-, melainkan ceritanya. Yup, elemen dasar dari sebuah film lah yang membuat saya sangat tertarik dengan Parade.

Parade sebenarnya memiliki premis yang terbilang cukup sederhana, mengenai kehidupan penghuni apartemen 3LDK, sebuah ruangan apartemen yang dihuni oleh 4 orang, hal yang umum di Jepang. Beberapa orang menghuni satu apartemen dan berbagi biaya sewa, biasanya karena faktor teman atau faktor ekonomi, maklum biaya hidup di Jepang terbilang cukup mahal. Tipe apartemen yang bisa dihuni bersama ini memiliki 3 bedroom, 1 living room, 1 dining room, 1 kitchen. Inilah yang disebut dengan istilah 3LDK. Sebenarnya di halaman AsianWiki ditulis 2LDK, tapi menurut saya ini 3LDK, karena kamarnya ada 3.

Parade-002

4 orang dengan karakter yang berbeda hidup di bawah satu atap. Terdengar sangat sederhana? Memang, tapi tidak sesederhana yang dibayangkan. Karena nyatanya ada sesuatu yang disimpan oleh masing-masing penghuninya. Hingga tiba-tiba suatu hari karena sebuah insiden konyol, seorang pemuda misterius masuk ke apartemen, tidur di sofa dan akhirnya menjadi anggota baru. Apa yang disembunyikan masing-masing karakter ini? Benarkah mereka mengenal satu sama lain dengan baik?

Kisah 4 karakter berbeda yang berinteraksi di bawah 1 atap saja sudah membuat saya tertarik, apalagi ditambah dengan kehadiran seseorang yang misterius. Bagaimana bisa 4 orang berbagi ruang dan kehidupan mereka? Kalau di Indonesia mungkin saya masih percaya, tapi ini Jepang, yang menurut saya sangat menjaga privasi orang lain. Bukan individualis, ya, menurut saya orang-orang Jepang, khususnya di kota besar seperti Tokyo bukan individualis, tetapi menghargai privasi orang lain. Nah, ini yang membuat film ini sangat menarik untuk saya.

Karakter yang memiliki kisah masing-masing ini diperkenalkan satu per satu, mulai dari seorang mahasiswa tahun ketiga yang hidupnya membosankan dan tanpa tujuan, pengangguran yang sehari-hari hanya menunggu telepon untuk bertemu dengan kekasihnya yang seorang selebritis, seorang illustrator yang ceroboh saat sedang mabuk, sampai yang terlihat paling normal, seorang pegawai distributor film yang selalu diandalkan teman-temannya. Satu lagi, seorang remaja belasan tahun berambut putih –atau  kuning, ya- yang misterius yang ternyata adalah seorang..  *tonton aja filmnya* :p

Parade-004

Lantas apa yang menarik dari film ini? Mengikuti keseharian 4 orang yang berbagi apartemen, apa istimewanya dengan hal normal seperti ini? Normal? Anda harus berpikir ulang dengan istilah normal itu..😀

Meski kisahnya tidak tepat untuk dibilang normal, tapi ini bukan film “sakit” seperti Suicide Circle yang langsung saya hapus dari hardisk begitu selesai nonton. Saya tidak bisa berbagi banyak soal cerita untuk film ini, takut jadi spoiler. Yang pasti setiap kisahnya menarik untuk disimak.

Mengikuti keseharian 4+1 karakter ini rasanya seperti melihat dunia lain yang sebenarnya ada di sekitar tapi tidak pernah terungkap. And I love how Koto describe their place and relationship. “It’s like a chat room in the internet. It’s not a place for confess bad things, it’s more like a site filled with virtue. If you don’t like it, you leave. If you like it, you stay and laugh. A kind of free space.” Meski Satoru menyimpulkan jika pertemanan mereka hanya sebatas di “permukaan”. Saya rasa inilah gambaran yang tepat untuk sebagian kehidupan di sana, seperti yang selama ini saya pikirkan. Sebagian, ya, tidak semua.

Parade-003

Pemilihan karakternya cukup menarik, meski karakter Ryosuke terkesan terlalu normal diantara yang lain. Mana yang jadi favorit saya? Ada dua, Naoki (Tetsuya Fujiwara) dan Satoru (Hayashi Kento), keduanya sama-sama misterius meski awalnya terlihat biasa. Karakter Satoru dari awal sudah mencuri perhatian dengan tampilan yang eksentrik. Naoki, ah.. tonton saja sendiri, lah.. :p

Kelima karakter ini berhasil dibawakan dengan baik oleh masing-masing aktor. Bahkan saya merasa seperti tidak sedang menonton film, melainkan melihat kehidupan sehari-hari saja. Aktingnya sangat natural, malah mereka kelihatan seperti tidak sedang berakting. Seperti biasa, Shihori Kanjiya selalu pas membawakan karakter yang sedikit bloon, manja dan depend. Tatsuya Fujiwara yang saya kenal lewat film lawas “Battle Royale” di sini terlihat sangat dewasa. Yaiyalah, udah umur berapa sekarang?😆 Tapi serius, dia kelihatan matang di sini. Dan potongan rambut seperti ini lebih pas daripada model gondes (gondrong ndeso).. haha..

Twist! Oh, ini yang membuat saya geregetan dan semakin cinta sama film ini. Twistnya dapeett banget. Seperti seharusnya twist, menggiring ke arah yang salah untuk menunjukkan jalan yang benar. Halah.. apa lagi ini? Ya, saya nggak sadar kalo akan diarahkan ke ujung jalan itu, karena memang fokus sengaja dialihkan dan porsinya bukanlah yang utama. Bingung sama apa yang saya tulis? Berarti memang harus nonton sendiri, karena saya nggak mau ngasih petunjuk sedikit pun. Biar twistnya terasa, biar efek terkejutnya dahsyat! Haha.. Surprise yang saya rasakan sebenarnya bukan karena jawabannya, melainkan karena kekaguman saya terhadap penulisnya yang berhasil mengarahkan jalan cerita dengan sangat baik, dengan timing yang tepat dan ending yang ciamik!

Semoga ulasan yang sedikit membingungkan dan tanpa clue ini bisa menjadi ending yang juga fantastis. Yang pasti Parade highly recommended! Note: film ini juga berhasil meraih “Fipresci Prize Award” tahun 2010 di Berlin International Film Festival.

Rating: 1 2 3 4,5 5

Oke.. sekian dulu.. Kita sambung lagi di lain kesempatan, masih ada 5 judul lain di part II..😉

*Imaga credit: AsianWiki*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: