kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Visa Kantong Cekak


stock-illustration-3515745-blossoming-sakura-branch-below-mt-fujiProses yang deg-deg’annya ngalahin sidang skripsi atau wawancara kerja? Visa! Bagi yang rekeningnya puluhan juta dan paspornya sudah dipenuhi stempel alias sering ke luar negeri, mungkin ini bukan masalah besar. Tapi bagi mereka yang kantongnya cekak dan paspornya masih perawan alias blank seperti saya, sungguh.. ini seperti pertarungan hidup mati.

Nekat? Sebenarnya nggak bisa dibilang nekat juga, sih.. karena toh saya sudah menyiapkannya sejak setahun terakhir, bukan asal bikin tanpa modal. Iyes, setahun terakhir saya menyisihkan gaji setiap bulannya untuk bekal liburan 5 hari di negeri impian, Jepang. Tiap hari gowes 11 km PP rumah-kantor biar ngirit ongkos, ngurangin jajan, nggak beli baju, nggak beli buku, nggak jalan-jalan.

Nggak hanya mengandalkan 80% gaji per bulan, saya juga cari tambahan lewat beberapa lomba, seperti kontes kreativitas dan kompetisi menulis skenario film. Hasilnya? Alhamdulillah.. bisa buat beli tiket pesawat Surabaya-Tokyo PP seharga 5jt dan tabungan selama 5 hari di sana.

Kenapa saya sampai melakukan pengiritan gila-gilaan demi ke Jepang? Karena Jepang adalah negara impian saya sejak kecil. Believe it or not, pertama kali keinginan itu muncul waktu saya nonton Ksatria Baja Hitam (Kamen Rider Black). Apa yang bikin saya kepincut? Jalan dan trotoarnya yang rapi! Hahaha.. kekaguman seorang anak SD yang masih sangat polos. Waktu itu saya hanya berujar dalam hati, “Aku pengen ke sana!” That’s all..

Meski sempat terlupakan, tapi akhirnya saya kembali mengingat keinginan masa kecil itu, terlebih ketika menonton banyak sekali film-film Jepang yang semakin menguatkan keinginan tersebut. Kenapa, karena kepincut sama muka aktor-aktornya yang ganteng? Well.. itu nomor sekian, sih.. Tapi yang paling menarik saya adalah culture dan setting lokasi film-filmnya. Cari-cari info, googling, blogwalking, ngaskus, akhirnya saya memberanikan diri untuk kembali bermimpi dan bangun untuk mewujudkannya.
Di sinilah saya sekarang, tahap akhir dari perjuangan selama setahun kini dimulai.

#First day

Setelah menyiapkan dokumen-dokumen, saya bertolak ke Konjen Jepang di Surabaya. Berangkat dari Malang jam 5 pagi, sampai terminal Bungurasih sekitar jam setengah 7 lebih. Turun dari bus langsung ke toilet buat pipis sama touch up bentar. Ngapain juga pipisnya disebutin, sih? Ini jadi faktor penting dalam perjuangan saya..😆

Keluar dari toilet langsung menuju ke parkiran bus kota. Saya masih nggak tahu bus nomor berapa yang mau saya naiki. Akhirnya saya tanya, kalo mau ke Siloam Hospital naik bus mana. Yup, kantor Konjen Jepang itu lokasinya deket sekali dengan Siloam Hospital. Setelah ditunjukin saya naik. Sempat tidur barang 10-15 menitan di dalam bus.

Begitu keneknya teriak “Siloam, Budi Mulya” saya langsung berdiri dan menuju ke dekat pintu. Jalan ke depan Siloam, saya nanya sama tukang becak di mana lokasi Konjen Jepang. Sesuai dengan yang digambarkan di peta dan teman blogger, lokasinya terletak tepat di belakang ruko (depan Siloam). Dari ujung jalan sudah terlihat kalo itu Konjen. Pagar besi yang tinggi plus bangunan yang kokoh. Sayangnya waktu sampe di lokasi masih jam 07.50, padahal kantor baru buka jam 08.15.

Tepat jam 08.15, satpam yang tadi menyapa saya langsung memanggil saya untuk masuk, padahal waktu itu saya duduk di samping pos satpam, bukan di depan yang keliatan langsung. Pak satpamnya udah tua tapi ramah. Sampe di pos satpam, saya diminta ngeluarin KTP untuk nulis nomornya di buku tamu. Pengamanannya ketat banget, rasanya kayak masuk kantor inteligen. HP dan kamera dilarang dibawa masuk. Semuanya akan dimasukkan ke kotak hitam yang disediakan per nomor. Setelah dapat visitor card, saya dipersilahkan masuk ke sebuah lorong di mana seorang satpam yang lebih muda sudah menanti.

Di situ ada metal detector dan x-ray mirip di bandara untuk memeriksa tas. Selesai dengan pemeriksaan, saya dipersilahkan masuk ke dalam, itu pun pintunya nggak bisa langsung dibuka, harus nunggu bunyi “klik” dulu yang diaktifkan satpam baru bisa dibuka. Pintunya berat bo’! Dari baja kali’ ya.. Saya yakin semua kaca bangunan ini anti peluru.😆

Sampe dalem, saya celingukan. Ketemu lagi pintu baja yang berat. Sepiiii banget, rasanya cuma ada saya seorang di dalem. Lha emang masih pagi. Malah di ruangan itu jam masih nunjukkin 08.13. Saya langsung ambil  nomor antrean di mesin otomatis dan duduk anteng di depan TV. Ada siaran NHK (dalam bahasa Jepang tentunya) yang sepertinya membahas soal insiden nuklir di Fukushima, karena beberapa kali saya denger Fukushima, Iwate, dll.

Ada tiga loket, satu untuk pengurusan visa, satu untuk pengambilan visa dan satu lagi sepertinya khusus untuk warga negara Jepang karena tertulis dalam huruf kanji. Ruangannya nggak seberapa luas, kalo nggak salah ingat kursinya juga cuma 3 deret, tapi bukan kursi tunggu kayak di terminal atau di Imigrasi Malang. Kursinya empuk meski kecil dan bukan sofa mewah. Tentunya ada AC, nggak seperti di kantor Imigrasi. Ada majalah Jepang dalam bahasa Inggris dan Shinbun (Koran) dalam bahasa Jepang. Di sudut ruangan ada lift, di dinding sampingnya tertulis “Kamar mandi di atas”. Tergoda untuk ke atas, sih.. siapa tahu kamar mandinya standar Jepang yang canggih itu.. hahaha.. tapi karena nggak berani, akhirnya saya cuma baca-baca majalah aja sambil nunggu loket buka.

Nggak berapa lama, loket untuk warga negara Jepang sudah buka. Saya lanjutin baca majalah karena loket visa belum buka. Seorang cowok tiba-tiba masuk dan senyum ke saya. Sepertinya dia mau ngurus visa juga, yaiyalah.. wong dia langsung ambil nomor antrean. Saya sempet lihat cowok itu tadi di depan konjen waktu masih belum buka, tapi dia dianter temennya dan pergi lagi karena masih tutup.

Apa yang dilakukannya ngebuat saya jadi kelihatan bloon. Dia tiba-tiba nekan bel di depan loket visa. Yeah, I saw that bell. Tapi saya nggak kepikiran untuk mencet bel yang biasanya ada di reception hotel itu. Entah cowok itu sudah pernah ke sini sebelumnya atau memang sayanya yang ndeso, bel dipencet dan taraaa.. loket visa buka dan nomor antrean saya dipanggil. Coba kalo cowok itu nggak mencet bel, saya harus nunggu sampe kantor tutup mungkin.. hahaha..

Proses deg-deg’an pun dimulai. Saya bergegas ke depan loket dan mengeluarkan map. Oh, entah kenapa saya selalu sial kalau berhubungan dengan birokrasi. Sebelumnya paspor dan kali ini visa. Nggak seperti yang digambarkan temen-temen blogger dan kaskus, petugas visa yang nanganin saya ini nggak ramah sama sekali, bahkan senyum aja enggak. Padahal SOPnya Jepang kan selalu mengedepankan customer service yang baik.

Waktu saya mau nyerahin dokumen yang masih dibungkus map plastik, petugasnya nyuruh dikeluarin dari map dan sampul paspor dilepas, dengan wajah yang tidak berusaha ramah. Awalnya saya bingung, ini loket kok nggak dibuka ya kacanya? Eh, ternyata memang gitu, mirip kalo njeguk tahanan jadinya. Jadi berkas-berkas itu dimasukin ke lubang yang sempit sekali, tingginya mungkin cuma 2-3 cm. Loketnya juga bukan model kaca yang dilubangi, tapi seperti lubang yang digali tahanan kalo mau kabur. Haha.. serem amat nggambarinnya. Jadi, kaca itu rata tanpa lubang, di bagian bawahnya ada slot cekung untuk masukin berkas.

Pertama dicek antara paspor dan data di form, nama belakang dilingkari pake pensil. Terus berlanjut ke dokumen lain. Dan yang bikin dag-dig-dug adalah copy rekening tabungan 3 bulan terakhir, saya waktu itu kasih 4 bulan terakhir. Angka tabungan terakhir ditandai dengan spidol merah. Duh.. merah! Berasa dapet nilai merah di raport.

Cukup lama juga proses pengecekannya. Waktu lihat itinerary, tiba-tiba diajukanlah pertanyaan tak terduga yang bikin saya bingung. Ditanya sudah pernah ke Jepang sebelumnya, tentu saya bilang belum, jujur. Di Jepang ada teman? Duh, mau jawab apa coba, kalo bilang ada ntar suruh nyertain dokumen pendukung, ribet lagi. Dan kebloon’an saya pun kembali muncul, saya bilang ada tapi teman social network. Hahaha.. apaaa cobaa.. emang, sih.. saya punya teman Facebook yang orang Jepang asli, lumayan sering ngobrol juga lewat FB. Tapi apakah harus saya jelaskan demikian? Entahlah.. sepertinya petugas ini nggak ngeh dengan jawaban saya. Akhirnya dia tanya lagi, nanti di sana sama siapa, berangkat sama siapa, yang nunjukin jalan siapa.

Oh, pertanyaan yang tidak saya antisipasi sebelumnya. Karena saya orangnya jujur, ya saya jawab sendiri, tanpa teman. Dia ngejar lagi dengan pertanyaan lanjutan, kan saya belum pernah ke Jepang, nanti kalo ke lokasi tujuan gimana. Kepepet, akhirnya saya jawab “volunteer guide”. Haha.. sumpah ini karena kepepet dan diuber pertanyaan, tapi memang ada kok volunteer guide di Tokyo. Petugasnya sepertinya nggak denger dan nggak nangkep maksud saya. Akhirnya dia tanya lagi, “Tahu tempat-tempat ini dari mana?”. Oalah pak.. dari googling, internet. Thanks God, akhirnya dia ngerti juga.

Selesai? Belum! Dilihatnya lagi form aplikasi, saya diminta perbaiki nama, yang nama belakang dijadiin satu aja sama nama tengah. Dan mungkin karena saya jawabnya nggak meyakinkan, akhirnya dia lihat copy rekening tabungan lagi sambil bilang “Ini belum cukup ini. 10 juta nggak cukup untuk 5 hari di Jepang. Coba tambahin lagi, dari rekening orangtua atau siapa gitu.”

Glek.. sebenernya saya pengeeenn banget bilang “Cuma di Tokyo aja masa’ nggak cukup, Pak? Saya kasih perhitungan biaya hidup di sana deh, Pak.” Tapi urung.. daripada saya kena black list nanti. Seriously, did you even know about my itinerary? Did you know where is Yanaka, Odaiba, or Shibamata? It’s in Tokyo, Sir! Not Osaka or Hokkaido! It’s only Tokyo, and you said 10 million is not enough for 5 day in Tokyo? It’s equal to 90.000 yen! Oh, come on, I already have round trip airline ticket!

Kesel? Jelas.. saya yakin sebenarnya 10 juta cukup buat 5 hari di Tokyo. Kenapa? Ya karena saya udah ngitung. Sebenernya malah budget 5 hari di Jepang yang saya siapkan cuma 6 juta, bisa sampe 10 juta itu karena pinjem temen-temen biar kelihatan banyak. Serius, saya udah itung, lengkap biaya transportasi, makan dan jajan. Lagipula destinasi saya memang hanya seputaran Tokyo. Well.. keluar dikit ke Yokohama, sih.. tapi itu juga udah keitung dalam budget 6 juta, malah juga udah termasuk tiket Shinkansen 3 ribuan yen ke Odawara (deket Yokohama). Jujur, saya sih nggak yakin petugasnya itu benar-benar memperhitungkan biaya hidup selama 5 hari dengan destinasi lokasi yang saya tuliskan. Bahkan mungkin dia nggak tahu di mana itu Yanaka atau Shibamata. Padahal kan aturannya rekening disesuaikan dengan itinerary, kalo itinerary simple dan nggak aneh-aneh, nggak masalah.

Kenapa 10 juta versi saya dibilang nggak cukup? Apa karena saya pergi sendiri dan paspor masih kosong? Well.. maybe.. Karena beberapa blogger dan temen-temen Kaskus ada yang rekeningnya cuma 4 juta dan lolos, nggak ada masalah. Tapi ada juga yang paspornya masih blank dan tabungannya nggak sampe puluhan juta. Apa aturan di Surabaya dan Jakarta beda, ya? Oke, itinerary sekarang saya tambahi dengan estimasi biaya per hari, biar petugasnya tahu berapa biaya hidup di sana *akhirnya yg lengkap sama estimasi biaya batal saya kasih*

Oke.. mungkin saya dibikin kesel, tapi setidaknya saya masih dikasih kesempatan untuk memperbaiki (nambahin rekening) dan datang lagi untuk mengajukan, daripada aplikasi saya diterima tapi tiba-tiba pas pengambilan nanti ternyata visa nggak tembus. Tapi, hei.. dia bilang “tambahin dari rekening ortu atau siapa”.. Siapa? Woo… berarti ini hanya sebatas formalitas saja kah? Sebenarnya kalo memang ada standar tertentu, kan dia langsung cut aja rekeningnya nggak cukup, tanpa embel-embel “dari rekeningnya ortu atau siapa”. Well.. oke deeehhh.. saya cari-cari tambahan dulu ya, Pak.. Tunggu saya datang lagi.

Alhasil, saya pinjem lagi duitnya temen yang udah saya balikin abis ngeprint tabungan 3 hari lalu. Plus saya transfer juga duit sisa yang ada di rekening saya ke rekening Ayah saya. Besok baru bisa ngeprint, dan lusa saya kembali lagi ke Konjen.

Hopeless, sih, sempet.. kalo awalnya aja udah gini, gimana ntar. Jangan-jangan karena awal udah bermasalah, visa bisa nggak dikasih walaupun rekening “mencukupi” versi petugas. Lemes rasanya waktu sampe rumah. Mana acara pipis ini lagi bermasalah pula. Bentar-bentar musti ke toilet, rasanya kebelet, tapi volumenya dikit banget. Anyang-anyang? Tapi nggak sakit, sih.. Yang bikin menyiksa adalah saya harus naik bus minimal 1,5 jam, belum kendaraan lain. Apa ini karena stress ya? Soalnya dermatitis saya juga lagi kambuh akhir-akhir ini, penyakit ini bakal kambuh kalo saya lagi stress..😆

Mau nggak mau, suka nggak suka, proses ini harus saya lewati. Ya, anggap aja bagian dari perjuangan. Yang penting saya udah usaha, perkara hasilnya bagus atau buruk itu urusan yang Di Atas. Pasrah aja, deh.. biarpun saya nangis juga kalo emang belum waktunya juga nggak bakal dikasih. Hahaha.. iyes, abis sholat saya nggak tahan untuk nggak mewek. Yang biasanya nangisin film sekarang nangisin diri sendiri. Kayaknya udah lebih dari 2 tahun saya nggak nangis, deh.. *kecuali nangis karena film*

Kalaupun saya memang tidak bisa ke negeri impian saya kali ini, pasti ada maksud di baliknya. Mungkin saya disuruh usaha yang lebih keras. Ngomong-ngomong soal usaha, kalo ntar saya bener-bener nggak jadi berangkat, mungkin sebagian uangnya saya pake’ untuk mulai usaha home décor dulu, sembari ngumpulin lagi untuk ke Jepang tahun depan. Sedih sih, pasti. Udah ngayal-ngayal di sana mau ngapain aja. Dan usaha mati-matian selama setahun terakhir bisa kandas hanya dalam hitungan hari di tangan seorang petugas visa. Hahaha.. tapi kan bukan saya yang bisa nentuin jalan hidup, saya hanya bisa sekedar berusaha.

Nggak bisa tahun ini, masih ada tahun depan, semoga dikasih umur. Siapa tahu pas tahun depan One Ok Rock ngadain konser, jadi bisa sekalian nonton *playlist winamp One Ok Rock* Ah, jadi tambah sedih..

Tapi kalaupun saya nggak jadi berangkat musim semi ini, proyek untuk One Ok Rock tetep jalan. Udah mulai nyusun rencana, cari kain batik yang kece, belajar nulis kanji dikit-dikit. Yosh.. ganbare, yo!

“Dream as if you live forever and live as if you’ll die today” (C.h.a.o.s.m.y.t.h-One Ok Rock)

#Second Day

Setelah ngakalin rekening Ayah saya, hari Rabu saya kembali ke Konjen untuk masukin berkas. Sama seperti hari Senin, saya berangkat jam 5 pagi. Tapi yang beda kali ini saya kebagian tempat duduk. Yup, ternyata bus Malang ke Surabaya kalo subuh itu ramenya cuma hari Senin, kebarengan sama orang-orang yang pada balik ke tempat kerjanya kali’ ya.. Kalo Senin kemaren saya harus berdiri, sekarang bisa duduk santai sambil lihat pemandangan *halah*

Sampai terminal Bungurasih saya nggak langsung ke Konjen, tapi ke rumah Ayah dulu buat ngambil foto copy rekening tabungan yang mau saya pake’. Sejak kecil saya emang nggak hidup dengan orangtua, tapi tinggal sama Mbah Kung dan Mbah Uti di Malang. Balik ke soal rekening, Ayah saya udah nyiapin dua rekening tabungan, satu BNI, satu lagi BJB. Oke, bawa dua-duanya, in case kalo ada apa-apa.

Sampe Konjen jam 08.45. Nggak seperti waktu pertama kali ke sini, kali ini saya lebih santai dan sedikit tenang. Rasanya udah kayak rumah sendiri *digampar satpam*😆

Seperti biasa, isi buku tamu, titipin hape, pemeriksaan tas, masuk ke ruang pelayanan, ambil nomor antrean di mesin otomatis. Kali ini saya dapet nomor 007, sisanya tinggal 2 nomor antrean lagi. Di belakang saya ada cewek yang juga mau ngurus visa. Karena nggak tau soal nomor antrean, begitu masuk ruangan dia mau langsung duduk, tapi saya kasih tau untuk ngambil nomor antrean, kasihan kan ntar dia nungguin sampe jenggotan juga nggak bakalan dipanggil.

Lihat banyak barengan gini, sumpah rasanya pengen nggosip ngobrol. Di belakang tempat duduk saya ada Ibu-ibu, sebelah kiri saya ada Om-om, sebelah kanan saya cewek yang tadi. Mana yang saya ajak ngobrol? Tentu bukan si Om donk. Saya mulai ajak ngobrol cewek di samping kanan saya, ternyata dia dari Sidoarjo. Mau lanjutin obrolan tapi kok kayaknya dia nggak nyaman dan bingung begitu, ya sudah lah, saya nonton tipi aja, kebetulan di NHK lagi tayang dorama paginya Aya Ueto yang baru. Beuh.. kapan lagi nonton NHK live coba? *ndeso*

Ibu di belakang saya tiba-tiba mulai ngajakin ngobrol, dia pindah duduk di samping saya. Si Om yang tadi duduk nggak tahu ke mana. Waktu itu loketnya buka tapi nggak keliatan petugas, lagi di dalem kayaknya. Nggak berapa lama, petugas muncul, bukan di loket pembuatan visa, tapi di loket pengambilan. Dia manggil nama seorang cewek pake microphone yang volumenya nggak kayak sound acara nikahan tapi cukup jelas. Oh, ternyata cewek itu nomor 4 yang tadi udah masukin berkas, sekarang dia dapet nomor pengambilan visa. Oke.. 4 kelar, sekarang giliran nomor 5. Eh, itu nomornya si Om. Begitu saya perhatiin petugasnya *bukan Omnya* duh.. mendadak meriang. Itu petugas jutek yang ngelayanin saya Senin kemaren.

Nggak pake basa-basi, tanya sana-sini, apalagi tanya rekening, petugas itu cepet banget ngelayanin si Om. Hmm.. kalimatnya kok jadi bernada miring gini, ya.. haha.. pokoknya si Om ini nggak ribet kayak saya kemaren, deh.. Saya yakin rekeningnya udah puluhan atau bahkan ratusan juta. Cuma beberapa menit, atau bahkan detik, urusan kelar, nomor pun ganti. Berhubung nomor 6 punyanya si Ibu di samping saya ini lagi nunggu orang travel, akhirnya saya duluan yang maju. Ehem..

Untungnya kali ini saya ngerasa lebih santai dan tenang, nggak kayak hari pertama kemaren. Sok pede aja menghadap petugas, langsung keluarin berkas dari map dan masukin ke slot loket. Kalo ada yang lihat cara saya berdiri dan menghadap petugas waktu itu, pasti terkesan lebih pede *apa sih*

Sebenernya saya juga nggak nyiapin jawaban spesifik apapun, sih.. lebih ke pasrah aja kayaknya, karena mungkin ini adalah usaha terakhir saya, ya iya.. udah nggak ada lagi duit yang bisa dipinjem soalnya, haha.. Pemeriksaan form aplikasi cukup lancar, cuma ada beberapa yang dilingkari pake pensil, bagian guarantor dan kunjungan ke Jepang sebelumnya itu kalo nggak ada disuruh tulis “none”.

Pertanyaan “Di sana ada temen?” juga dimunculkan kali ini. Dan jawaban saya mantap hari ini, “ADA, pak!” hahaha.. nggak kayak kemaren yang masih mbulet. Tapi saya jujur loh, saya emang ada temen, temen masa kecil sama temen Facebook. Kalo temen kecil saya tinggalnya di Kumamoto (jauh dari Tokyo), kalo temen Facebook saya yang orang Jepang asli tinggalnya di Tokyo. Pertanyaan utamanya cuma apakah saya punya teman di Jepang, kan? :p Untungnya dia nggak tanya lebih jauh lagi.

Selanjutnya tanpa sepatah kata, kopian akte kelahiran saya langsung dikembalikan lewat slot loket. Oh, oke.. nggak butuh, ya, Pak.. sebenernya udah tau, sih.. Maksudnya itu sebagai ganti KK karena saya pake rekening Ayah. Kan akte juga nunjukin status anak-orangtua. KK lama soalnya status saya masih belum kerja, jadi takut pengaruh aja.

Dan bagian yang paling mengerikan adalah.. tentu saja rekening. Saldo terakhir digaris, kali ini pake pensil, bukan spidol merah kayak kemaren. Sebelum petugas complain rekening nggak cukup, saya bilang rekeningnya ada dua. Diperiksalah itu rekening Ayah saya, dibolak-balik, bingung. Sepertinya petugasnya sibuk menghitung total rekening. Dan.. kalimat sakti itu dimunculkan lagi, “Ini nggak ada rekening lagi?” Deg!

Saya bilang aja nggak ada. Reaksinya?
Petugas: “Ini masih kurang ini.”
Saya: “Kan cuma di Tokyo aja, Pak.”
Petugas: “16,5 juta nggak cukup untuk 15 hari di Jepang.”
“…………………………………………………………………………………….”
Saya: “Lima hari, Pak”
Petugas: “Iya, tapi itungannya tetep 15 hari.”
“………………………………………………………………….” Oh, come on, it’s ridiculous! (V.O)
Petugas: “Coba tambahin lagi sama rekeningnya Ibu”
Terpaksa jurus terakhir dimainkan!
Saya: “Bentar, Pak. Ini ada rekening Ayah saya lagi di BJB.”
*Keluarin kopi rekening dan masukin ke loket diriingi jampi-jampi*

Diperiksalah itu rekening. Bingung, bingung, deh.. ada 3 rekening yang harus diperiksa sekarang! Hahaha.. Eh, tiba-tiba ditanya “Ini bawa buku tabungannya nggak?”

Lah.. ya saya jawab aja kagak, yang saya bawa buku tabungan saya sendiri, kan itu bukan punya saya. Untungnya nggak ada pertanyaan lanjutan. Oke sip.. berkas-berkas itu dirapiin juga. Saya disuruh nunggu tanda terima. Fiiuuhhh..

Sambil nunggu saya balik ke tempat duduk. Sedikit lega meski nggak bisa tenang sampe hari Senin depan. Eh, ternyata cewek Sidoarjo di samping saya ini lagi sibuk milah-milah berkas sambil ngisi form. Hah? Baru ngisi form sekarang? Mbak, abis itu giliran sampean maju loh..

Doramanya Aya Ueto udah abis, sekarang NHK nayangin acara musik. No.. no.. bukan konser band rock seperti harapan saya atau acara musiknya AKB48 yang tidak saya harapkan, tapi acara musik yang nampilin Enka singer! Hahaha.. serius! Baru kali ini saya lihat pertunjukan musik Enka, biasanya cuma lihat sekilas di scene film. Eh, ada Ibunya si Taka “One Ok Rock” gak, ya? Dia kan juga Enka singer.. hehe..

Salut juga sama acara TV Jepang, kayaknya menyasar berbagai kalangan usia. Acara TV pagi ini memang dikhususkan untuk Ibu rumah tangga, temanya pun disesuaikan, jenis dorama pagi beda dengan dorama malam, segmentasinya cukup jalan lah menurut saya.
Lihat acara musik beginian, si Ibu di samping saya tadi girang bener kayaknya. Dia bilang bajunya bagus, ada penari latarnya juga. Kekekekek..

Nggak lama nama saya pun dipanggil. Petugasnya kali ini perempuan. Saya dikasih tanda terima untuk pengambilan paspor dan visa *kalo tembus* 4 hari ke depan. Karena kepotong hari Sabtu-Minggu, jadi saya baru bisa kembali lagi hari Senin. Itupun harus telepon dulu untuk nanyain visanya udah jadi apa belum. Kalo udah bisa diambil mulai jam 1 plus bawa uang 325 ribu.
Oh, it’s the longest day in my whole life. Mari menjalani sisa hari dengan banyak berdoa, berdzikir dan puasa..:mrgreen:

#Final Day

Setelah melalui 5 hari yang melelahkan batin, akhirnya hari ini datang juga, hari di mana perjuangan setahun akan diakhiri dengan manis… atau pahit. Awalnya saya berencana menelepon petugas Konjen, bukan karena saya ganjen, tapi karena instruksinya begitu. Saya disuruh telepon untuk menanyakan apakah paspor sudah bisa diambil atau belum. Tapi rupanya saya kalah rajin sama petugasnya, karena jam 8 lebih dikit saya sudah ditelepon dan diminta hadir ke Konjen. Waktu itu saya lagi ngantri CS di bank untuk ngurus duit yang entah menggantung di mana *gagal transfer*. Selesai terima telepon langsung dag-dig-dug. Rasanya pengen cepet-cepet jam 1.

Sampai di Konjen sekitar jam 12 lebih, sempet papasan sama petugas yang keluar untuk istirahat. Nunggu di depan Konjen sama beberapa orang lain. Seperti biasa, masuk melewati pemeriksaan, ponsel dititipkan, kali ini untuk pengambilan visa KTP juga dititipin. Sampai ruangan langsung ambil nomor antrean, dapet nomor 054 (kalkulasi sama nomor antrean pagi), sisa antrean 3 orang.

Dan seperti biasa, saya kembali menatap layar tv yang menyajikan siaran NHK. Setelah sebelumnya Fukushima nuclear, dorama terbaru Aya Ueto dan Enka singer show, kali ini saya melihat siaran peringatan 2 tahun gempa dan tsunami di Tohoku, Jepang. Ah, atmosfernya jadi tiba-tiba berasa sedih. Eh, iya, pas saya ambil visa ini tanggal 11 Maret, tepat waktu gempa menghantam Jepang 2 tahun lalu. Dan ini juga tanggal yang sama dengan keberangkatan saya ke Jepang nanti, 11 April. Larut dalam atmosfer siang itu, mata saya jadi berkaca-kaca *cengeng*

Tibalah nomor saya dipanggil. Petugas menerima tanda terima sambil meminta nomor antrean saya *tumben* lalu saya dipersilahkan menunggu untuk dipanggil lagi. Di sela-sela waktu menunggu itu, entah kenapa saya pengen nangis. Membayangkan bagaimana usaha saya selama setahun terakhir untuk mewujudkan impian, rasanya remuk redam. Ditolak atau diterima, mungkin saya juga akan nangis.

Mata udah kaca-kaca sih, tapi saya tahan untuk nggak mewek. Malu kaleee.. ada Mas-mas kece di samping saya😆
Saya lihat Mbak petugasnya foto copy paspor saya. Duh.. rasanya tambah nggak karuan, udah pengen tumpah aja ini air mata. Bingung, harus optimis atau pesimis. Tapi, ah, toh semua sudah diputuskan beberapa hari lalu apakah visa saya ditolak atau diterima. Nothing I can do now..

Nama saya dipanggil, tapi bukan di loket penerimaan visa, melainkan di ruangan berbeda. Si Mbak berjilbab ini menyuruh saya ke ruangan 1. Oke.. perasaan udah mulai nggak enak. Saya diasingkan, diisolasi, disendirikan..😥

Dan perjuangan setahun saya pun harus diakhiri dengan pahit waktu si Mbak bilang pengajuan visa saya DITOLAK. ……………………

Entah apa Mbak petugas bisa melihat mata saya yang berkaca-kaca, yang jelas ingus saya udah mulai mbeler, sampai terdengar suara “srot” yang pelan untuk menahannya agar tidak menetes. Kenapa bisa ditolak? Rahasia donk, mau tau aja! *digaplok lemari*

Waktu saya coba tanyakan alasan kenapa pengajuan visa saya ditolak, seperti yang sudah saya duga, pihak kedutaan tidak akan memberitahukan alasannya karena sudah merupakan prosedur dan menjadi rahasia internal mereka.

Saya keluar dari ruangan dengan beberapa pasang mata yang memandang. Sialan, mereka kira saya ini baru keluar dari penjara apa? Serius, mereka lihatin saya *termasuk Mas-mas yang kece* dengan pandangan menyelidik, mungkin kira-kira isi kepala mereka seperti “visanya dapet nggak, ya?” atau “wah, ditolak ini cewek”. Tapi saya tetep sok cool, berjalan cepat dengan pandangan lurus ke depan, jangan sampe ke bawah, ntar ingusnya amber.

Begitu sampe di pos satpam, pintu pun dibuka. Seorang satpam menyapa saya sambil menanyakan “udah jadi visanya?” Ah, si Bapak mah.. bikin saya pengen mewek lagi. Saya jawab sambil tersenyum dan menyedot ingus *sroott* “Ditolak, Pak”. Anjir dah.. kesannya saya abis ngelamar anak orang aja. Si Bapak dengan bijak berujar, “Nggak apa-apa, dicoba lagi lain kali.”

Satpam lainnya tanya saya dari mana. Waktu saya jawab, eh, si Mas satpam ganteng tiba-tiba nyahut “dari Malang itu, Pak” sambil ngintip di belakang satpam pertama. Ah, rupanya dia inget betul asal saya, pasti abis ngapalin KTP saya, deh.. *dilempar samurai*

Keluar dari Konjen saya langsung menyeka sedikit ingus di pinggir hidung *jorok, ih* sama ujung lengan cardigan. Aaahhhh…. Berakhir sudah perjuanganku! Rasannya pengen teriak sambil nangis *dikit doang*. Tapi ah, sudahlah.. live must go on, just keep moving on. Toh saya juga sudah menyiapkan plan B kalau seandainya visa ditolak. Tapi tetep, nggak bisa ngebohongin diri sendiri kalo saya memang sedih, kecewa lebih tepatnya. Ambil hikmahya aja lah.. Belum tahun ini masih ada tahun depan, semoga dikasih rezeki dan umur panjang. Amin.. Sekalian ngumpulin duit yang lebih heboh untuk tahun depan, sekalian juga nunggu konsernya One Ok Rock tahun depan, jadi bisa nonton.. Amin..

Sedih dan kecewa mulai berangsur hilang, saatnya memutar otak, kenapa visa saya bisa ditolak? Setelah menganalisa saya coba ambil kesimpulan sendiri seperti ini:

  1. Aliran rekening saya fluktuatif dalam 3 bulan terakhir. Kadang ada duit, tapi begitu dikuras bisa-bisa langsung amblas. Ini bukan karena saya belanjain, tapi karena dipinjem sodara. Eh, pas ngebalikin itu lah tiba-tiba rekening saya membludak dari pemasukan biasa. Belum lagi dalam 1 bulan terakhir terjadi pemasukan yang cukup besar dan sering. Kata beberapa blogger dan Kaskuser sih nggak ada masalah, tapi mungkin ini menjadi masalah untuk saya, yang kebetulan ngurusnya di Konjen Surabaya.
  2. Lebih dari 1 rekening. Iyes, saya nyertain 3 rekening tabungan. Satu punya saya, dua punya Ayah saya. Jumlah totalnya sih 23jt, tapi sumbernya kan nggak satu doang. Padahal bisa sampe nominal segitu juga karena diakalin, aslinya mah duit saya gak sampe 10jt, 8jt aja nggak nyampe. Semua hasil minjem, hahaha.. tapi soal biaya hidup 5 hari di Jepang saya udah perkirakan dan kalkulasi dengan bener, cuma sekitar 6jt, itu juga udah termasuk omiyage (oleh-oleh). Tapi apa dikata, mungkin menurut asumsi petugas, aliran dan sumber rekening saya kurang meyakinkan.
  3. Solo traveler. Yup, saya rencana ke Jepang memang sendirian, meski ada temen native di sana tapi saya nggak minta jadi guarantor. Mungkin ini yang jadi pertimbangan juga untuk meloloskan visa, meski waktu ditanya petugas apakah saya punya temen di Jepang saya jawab iya.
  4. Paspor masih perawan alias blank. Jepang adalah negara luar pertama yang akan saya kunjungi, itulah idealisme saya. Saya ingin negara ini jadi yang pertama nangkring di paspor. Saya ingin membuatnya jadi spesial. Tapi mungkin ini juga jadi pertimbangan petugas, mengingat saya belum pernah ke luar negeri sebelumnya, solo traveling pula. Lengkap sudah..
  5. Status di KTP dan KK saya masih belum kerja. Haha.. saya nggak tahu ini bisa jadi dasar pertimbangan apa enggak, tapi bisa aja, sih.. Sumpah, saya udah kerja, cuma emang data di KTP dan KK itu data lama, belum diganti, mau ganti waktunya nggak keburu. Kalo bener ini yang jadi faktor kenapa visa saya sampe ditolak, beuh.. bener-bener ngenes dah..
  6. Itinerary? Saya nggak yakin ini jadi faktor pertimbangan. Kenapa? Ya karena itinerary saya simple banget, per hari hanya mencantumkan maksimal 3 lokasi dan itu semua hanya di Tokyo.

Harus membuang semua khayalan di depan mata. Duh.. beraaattt.. Rasanya udah kebayang gimana cantiknya sakura yang mekar di musim semi. Oke.. saya memang harus usaha lebih keras lagi sepertinya. Bukankah keris itu tidak tercipta hanya dalam sekali tempa? Aih..

Sembari ngumpulin duit lagi, nabung, mulai bikin usaha sampingan, sepertinya saya harus membuang idealisme saya. Jepang tidak akan jadi negara pertama yang nangkring di paspor. Mungkin saya harus mendapatkan stempel dulu di paspor, at least paspor saya tidak lagi kosong waktu mengajukan permohonan visa yang kedua kali tahun depan.

Dan negara manakah yang akan saya tuju? Hhh.. serius, saya nggak begitu semangat. Tapi sepertinya saya akan menginjakkan kaki di negaranya Upin-Ipin dan si Merlion. Itung-itung nggak bikin tiket Sby-Haneda jadi angus, meski sebenernya saya udah ikhlas 5jt melayang gitu aja, kan tiketnya gak bisa refund.

Tiket Sby-Haneda PP itu transit di KL, jadi saya cuma terbang sampe KL, anggep aja ketinggalan pesawat ke Jepang.. Hoaaahh.. males sebenernya. Tapi gimana lagi, demi stempel. Ngebayangin gimana lumutannya saya 6 hari di KL-Singapore, kalo di Jepang cuma 5 hari karena perbedaan waktu dan landing pesawat. Tapi kalo di Jepang mah 5 hari itu kurang.

Oh, mungkin saya akan tiduran aja di hotel sambil jalan-jalan ke sekitar yang deket. Selain karena nggak begitu tertarik, saya juga nggak mau buang-buang duit di sana, itung-itung buat nambahin tabungan ke Jepang tahun depan.

Kalo emang gak mau buang duit ya nggak usah berangkat, toh udah ikhlas tiket 5jt itu angus, kan? Maunya gitu, tapi ya itu tadi, demi stempel yang mungkin bisa memperbesar potensi diloloskannya visa Jepang. Hmm.. ada yang lagi stay di KL atau Singapore? Numpang tidur 6 hari di sono donk.. hahaha..

Terakhir.. lewat postingan ini saya juga mau mengucapkan terima kasih untuk teman-teman yang bersedia saya utangin duitnya. Reni, Novi, Rike, Dita, Mas Agus. Terima kasih teman-teman.. tahun depan lagi, ya..😆

24 responses to “Visa Kantong Cekak

  1. wied March 13, 2013 at 2:22 pm

    emang kalo booking pesawat harus bayar yah? q pernah baca tips low mw ke LN tuh booking ajah dulu. itu bukti bookingnya bisa dipake ngurus visa. sama bukti booking hotelnya. tp low hotel biasanya minta DP berapa persen gitu, trus minta kesepakatan low ntar gak jadi dateng minta refund lagi DPnya. begono. tapi emboh yow, Mel. kayaknya yang jadi masalah itu status pekerjaan u ajah. coz mereka takut low u ntar disana jadi tenaga kerja illegal. Jepang kan strict banget low untuk urusan begono. hehehe…. tp tak doain bisa kesana taun depan. ato u nyoba ajah ke turkey, non. disana visanya on arrival. itung2 u dah pernah ke eropa. eh, turkey i eropa tah? glodakkk….

    • meliamex March 14, 2013 at 6:26 am

      Eh, ono Mbak Wied rek..😀

      Hmm.. sak ngertiku seh gak iso mbak, hrs bayar, kan lek blm bayar gak dapet itinerary dr Air Asia..
      Kalo bukti bookingan hotel sih udah ada, aku ancen wes booked, untunge gak perlu DP apapun..

      Wah.. iyo paling yo Mbak, paling gara2 KTP ambe KK lawas iku.. padahal aku wes kerjo.. owalah.. ancen durung jodoh paling yo.. hehe.. Amin100x.. mg2 taon ngarep tembus lah..

      Hehehe.. gak pengen Mbak.. aku gak berambisi ke luar negeri, mek terobsesi ke Jepang.. mben iki yo ttp budhal seh, tp mek sampe KL, trus nang SG, nyambung Bangkok..

  2. Pingback: “Mental Sampah” | kocomripat

  3. efenerr March 30, 2013 at 11:18 am

    saya 6,8 juta 8 hari di Jepang. sudah ke Tokyo – Yokohama – Osaka – Kyoto – Kamakura. untungnya saya PNS jadi tidak perlu pake rekening koran. (ada sedikit previlese buat PNS dari kedutaan besar)
    saran saya mbak, begitu nanti di Jepang : lupakan itinerary yang sudah dibuat di Indonesia, berjalanlah tanpa itinerary. akan lebih menyenangkan.

    • meliamex April 1, 2013 at 2:58 am

      Wah.. 6,8 jt utk 8 hari? petugasnya sensi bgt sama saya kayaknya.. haha.. ya itu jg, sih.. Mas PNS, jd dpt keistimewaaan sdkt drpd lainnya, hehehe..

      Saya emg bikin 2 itinerary, 1 khusus utk ngajuin visa doang (simple), yg 1 lg asli itinerary pas di sono, menclok ke banyak tempat pokoknya..

      Tp mgkn emg blm jodoh sama Jepang, thn dpn nyoba lagi, deh..

      Thanks udah mampir..😉

      • efenerr April 2, 2013 at 4:02 am

        wah…sayang ya..😦 saya doakan sesegera mungkin segera berjodoh dengan Jepang.
        sebenarnya untuk living cost di Jepang itu sehari sekitar sejuta. kalau 8 hari, harusnya 8 juta tapi dikalikan 2 saja sebagai cadangan.

      • meliamex April 2, 2013 at 5:26 am

        Amiinn.. smg thn dpn tembus visanya..🙂
        Iya, saya jg udah itung2 segitu, tp ya mgkn mmg blm waktunya.. hehe..

  4. sapi cow April 29, 2013 at 12:20 pm

    Bca ini jadi ngeri😥 bru tadi pagi sya ngapply visa jepang jugak d tempat yg sama n skarang n 4 hari kdpan nunggu ditelpon pak pak visa..ga yakin jugak cz paspor q masi suci ,rencana k jepang sendirian n cuma ada 19jt d rkening buat 8 hari d yokohama😥 tapi untunglah petugas yg meriksa berkasnya tadi ramah n ga tanya macem2 tapi jgan2 mlah pertanda buruk itu?haduh maaak

    • meliamex April 30, 2013 at 5:42 am

      4 hari terlama sepanjang hidup kayaknya.. hehe..

      Sebenernya visa masih blank jg gak masalah, sih.. mgkn faktor ditolaknya visaku krn rekening yg nggak stabil plus status kerja di KTP dan KK yg masih blm aku benerin..😦

      Semoga tembus visanya, yaaa.. boleh dikabarin kalo udah dapet visa..😉

  5. ayuavenue May 26, 2014 at 8:56 am

    Hoalahh… aku bacanya sampe nahan napas.
    Kapan planning ke jepang lagi?

  6. yafra May 29, 2014 at 12:03 am

    Sy tahun 2013 musim semi kmrn jg wisata ke jepang mbak. Tp sy ngurus visanya wkt musim panas. Sama seperti mbak yg baru pertama kl ngurus visa, paspor msh perawan, tiket pesawat SUB-KL-HANEDA, jln2 d area tokyo aja, deg2annya sama persis deh kyk mbak. Tp alhamdulilah visa sy diterima🙂

  7. Made November 26, 2014 at 1:04 am

    Sy pingin tanya nih, apa tiket pesawat & akomodasi udah dilunasi sebelum mengajukan VISA?
    takut aja klo dah lunas tapi visanya ditolak

    • meliamex November 27, 2014 at 1:50 am

      tiket pesawat mmg harus udah dibeli sblm mengajukan visa. ya emg hrs siap2 hangus kalo gak jd dipake🙂
      kalo untuk akomodasi bisa diakali booking lwt situs2 spt agoda, booking.com dll, yg masih bs dicancel kalo misalnya gak jd berangkat atau visa ditolak.

  8. Dyah Merry February 21, 2015 at 1:47 am

    Siang mba, maaf ikutan komen, mau tanya status d kk n ktp masih belum kerja, pas waktu itu mba lampirin surat keterangan juga ga?
    wah aku jadi worry juga ini, karena mau ajuin visa juga ini,,,,

    • meliamex March 20, 2015 at 5:43 am

      Duh, baru buka blog. kelamaan ya? hehe.. waktu itu udah lampirin surat keterangan kerja dr kantor sih, tp ya gitu.. haha.. trs gimana, jd dapet visanya?

  9. amir nakamaru February 24, 2015 at 8:57 am

    Hahaha ternyata ada yang senasib ma aku. Pelayanannya sangat tidak memuaskan. Udah gitu ngasih infonya political lagi.

    • amir nakamaru February 24, 2015 at 9:01 am

      Ralat bukan political tapi pelit untuk ngasih informasi staffnya. Ga kek staff yg ada di konjen jepang.mereka semua Ramah dan senyum pula.walaupun tingkat stressful nya lebih tinggi.tapi mereka masih memberi senyuman dan informasi yg kita butuhkan… Saluuut

  10. Devi January 8, 2016 at 3:28 pm

    Mbak.. nanya donk… dl waktu ambil paspor tetap bayar biaya visa gak? Walaupun visa di tolak? makasiiih, ya..
    Ayo ngajuin lagi, khn udah 2016 ini.. barengan kah? Sy malang jg lho.. hehe

    • melia January 9, 2016 at 2:12 am

      Halo Devi.. enggak kok, kalo visa ditolak gak bayar apa2.🙂
      Insha allah tahun ini mau ngajuin lagi, tp masih ntar pas autumn, hehe..
      Eh, dr Malang jg, ya? Mau ngajuin kpn?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: