kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

“Mental Sampah”


o-maticSeribu tempat sampah di setiap sudut jalan hanya akan jadi pemanis belaka kalau kesadaran menjaga lingkungan masih nol. Sebanyak apapun smoking area didirikan hanya akan teronggok sia-sia jika kesadaran untuk menghargai hak orang lain masih rendah. Seketat apapun aturan dan rambu-rambu diterapkan tak akan mengurangi angka kecelakaan kalau kesadaran berlalu-lintas masih longgar. Suka atau tidak, inilah fakta yang harus kita hadapi.

Berapa kali dalam sehari Anda menjumpai orang yang membuang bungkus rokok di tempat sampah? Berapa kali dalam sehari Anda menjumpai orang yang menyimpan bungkus permen di tas atau saku karena di dekatnya tidak ada tempat sampah? Berapa kali dalam sehari Anda menjumpai pengemudi atau penumpang mobil pribadi yang TIDAK membuang tisu atau bungkus makanan seenaknya di jalan lewat jendela mobil mereka? Jawabannya tentu bervariasi, tapi mungkin sebagian besar akan menjawab TIDAK SATU KALI pun!

Yang justru kerap dijumpai, atau lebih tepatnya kerap SAYA jumpai adalah.. Penumpang yang membuang bungkus rokok di jalan ketika angkot melaju, seorang PELAJAR yang membuang bungkus makanan ke luar angkot daripada menyimpannya di dalam tas lebih dulu dan pengemudi mobil mewah yang melemparkan tisu atau bungkus makanan ke luar jendela daripada membuangnya pada tempat sampah di dalam mobil.

Ada yang tahu kenapa kata PELAJAR saya capslock? Pertanyaan yang sangat mengganggu saya adalah: Apakah di sekolah dia mempelajari tata cara membuang sampah dan menjaga lingkungan? Apakah perilaku membuang sampah sembarangan itu cerminan orang terpelajar?

Dan pengemudi mobil pribadi itu.. Apa susahnya dia meletakkan tempat sampah kecil di dalam mobilnya? Beli mobil aja sanggup, masa’ beli tempat sampah nggak bisa? Dan ya, persoalannya bukan soal uang, tapi mental, kesadaran.

Ada lagi, alih-alih menyimpannya di tas atau saku, seorang Ibu malah menyuruh anaknya membuang bungkus makanan ke luar jendela angkot. Oh, my.. Kalo kecilnya aja udah dididik kayak gini, saya nggak bisa ngebayangin gimana gedenya. Usia 5 tahun ke bawah itu adalah waktu yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai sosial, budi pekerti dan hal-hal positif untuk anak. Biar nancep, biar keinget dan jadi kebiasaan sampe itu anak udah gede nantinya. Beruntung, dulu waktu kecil Mbah Kung selalu ngajarin saya buang sampah di tempatnya, akhirnya jadi kebiasaan dan insyaAllah masih akan saya bawa terus sampe mati.

Bicara soal tempat sampah, waktu event Malang Tempo Doeloe 2012 berlangsung, menurut laporan beberapa teman yang berkunjung –kebetulan saya nggak ke sana karena ilfil- tempat sampah sudah cukup banyak terlihat. Well.. sepertinya panitia sudah menyediakan tempat sampah setelah dikritik habis-habisan (termasuk saya yg ngritik, hehe..) karena event tahun lalu minim tempat sampah sampai saya harus ngantongin bungkus cilok. Beberapa kali waktu saya lewat jalan dekat lokasi juga terlihat tempat sampah yang berjajar di tepi jalan. Tapi apa yang terjadi?

Tempat sampah hanya sebagai pemanis jalan, sampah masih bertebaran di mana-mana sampai menempel di aspal dan tidak hilang selama berminggu-minggu setelah event berakhir. Tiap kali saya mengayuh sepeda melewati jalan Ijen bekas lokasi event, rasanya pengen saya cakar-cakar itu aspal.

Sama seperti yang baru-baru ini saya lihat di dalam ATM (foto di atas). Jelas-jelas di dalam ATM disediakan tempat sampah untuk membuang struk, tapi kertas-kertas itu masih saja berserakan di lantai, padahal tempat sampahnya juga masih belum penuh. Apa susahnya, sih buang struk di tempat sampah? Bayar juga enggak, tinggal masukin gitu doang. Duuhhh.. kalo aja saya lihat orang yang buang struk di lantai dengan mata kepala sendiri, mungkin akan langsung saya tegur.

Sebenarnya permasalahannya bukan semata-mata soal tempat sampah, tapi soal mental dan kesadaran individu. Mau seratus atau seribu tempat sampah, kalau kebiasaannya memang buang sampah sembarangan juga susah. Masa’ iya harus ada polisi yang tugasnya ngingetin dan nilang orang yang buang sampah sembarangan?

Ini baru soal sampah, belum soal lainnya yang mungkin nggak akan kehitung. Soal kesadaran berlalu lintas, menghargai hak orang lain, sampai korupsi. Dan semua itu akarnya cuma satu, mental, yang sayangnya mentalnya mental sampah.

Saya pernah naik angkot yang di dalamnya ada seorang bapak yang dengan enaknya bas-bus-bas-bus ngerokok di depan anak kecil, mungkin malah masih bayi tuh anak. Pernahkah dia berpikir bagaimana kalau anak itu anak dia sendiri? Kalaupun mikir, mungkin juga nggak akan pengaruh, karena memang ada aja Bapak yang tega ngerokok di deket anaknya. I just don’t get it..

Memang di dalam angkot tidak ada aturan tertulis yang melarang penumpang merokok, tapi seharusnya masing-masing sudah menyadari bahwa tidak semua penumpang tahan dengan asap rokok, apalagi anak kecil. Bukan cuma masalah nggak tahan, tapi lebih jauh lagi masalah kesehatan. Mungkinkah mereka tidak tahu bahaya yang mengintai para perokok pasif, atau sebenarnya tahu tapi tidak peduli?

Beralih ke non-smoking area. Sudah jelas-jelas terpampang logo dan tulisan yang menegaskan larangan tidak boleh merokok, tapi tetap saja ada yang melanggar. Kalau ini tentu sudah keterlaluan, mungkin sama dengan di mana ada tempat sampah tapi masih buang sampah sembarangan. Tapi setidaknya aturan ini bisa sedikit menjadi senjata dan “kekuatan hukum” bagi mereka yang terdzolimi.

Lama tidak naik kereta, saya cukup dikejutkan dengan aturan baru yang untungnya benar-benar dijalankan di stasiun kereta. Waktu itu saya menunggu kereta di stasiun kecil. Saya lihat di beberapa dinding sudah terpasang tanda zona bebas rokok, tapi saya masih belum yakin aturan ini bisa diberlakukan. Dan ketidakyakinan saya ternyata tidak terbukti. Seorang petugas stasiun yang masih muda terlihat menegur seorang Bapak yang merokok di area tunggu, meski si Bapak nggak ngikutin larangannya juga, sih.. Tapi saya cukup berterima kasih karena petugas yang masih muda itu berani menegur orang yang melanggar aturan. Ya, paling tidak aturan ini dibuat memang untuk dijalankan, bukan hanya sebagai pajangan.

Lain lagi di dalam kereta. Kebetulan saya duduk di dekat tanda non-smoking area dipasang. Seorang Bapak di depan saya dengan cuek merokok sampai asapnya ke mana-mana dan mengenai penumpang lain. Ternyata bukan hanya saya yang merasa terganggu, penumpang lain pun menutup hidung dan mengibas-ngibaskan tangan mereka. Tapi tidak ada satupun yang berani menegur Bapak itu. Saya pikir kalau tanda zona bebas rokok tidak bisa mengingatkan, berarti orang ini memang perlu diingatkan secara langsung, lewat verbal, bukan hanya sebatas tulisan.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk menegurnya. Berhasilkah? Alhamdulillah.. akhirnya dia mematikan rokok. Kalaupun merokok, dia menjauh ke sambungan gerbong, bukan di dekat penumpang. Saya bersyukur dengan adanya tanda non-smoking area yang dipasang di dinding kereta. Setidaknya ini memberikan saya landasan dan “kekuatan hukum” untuk menegur orang yang melanggar. Jadi kalo’ Bapak itu protes karena saya tegur, saya tinggal nunjuk tanda sambil memalingkan muka.

Kejadian serupa kembali terulang di stasiun Pasar Senen waktu saya menunggu kereta ke Surabaya. Tiba-tiba seorang laki-laki berjalan ke arah saya dan duduk di bangku depan saya, padahal masih banyak bangku kosong lain, tapi kenapa dia milih tempat di deket saya, apa karena muka saya mirip tempat sampah? Tapi saya jamin keputusan dia untuk duduk di depan saya adalah kesalahan besar. Dengan santainya dia ngerokok di depan saya, padahal sudah jelas terpampang tanda non-smoking area. Tanpa ba-bi-bu lagi, saya colek lengannya, “Mas, kalo ngerokok di smoking area sana!” Tanpa mengucapkan sepatah kata, dia pun melenggang pergi ke smoking area.

Jadi, mulai sekarang belajarlah untuk menegur orang yang melanggar peraturan atau menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain. Yup, belajar menegur. Kenapa? Karena rata-rata orang kita masih belum asertif, masih sungkan untuk negur orang yang salah. Saya juga masih dalam tahap belajar, sih.. Yang masih belum bisa saya lakukan adalah menegur orang yang buang sampah sembarangan. Haha.. ntar dikira polisi lingkungan. Tapi sungguh.. saya benar-benar ingiiiinnn sekali negur orang-orang yang buang sampah sembarangan, meski saya nggak tahu gimana reaksi mereka waktu saya tegur nanti. Kalo negur pengendara motor yang melintasi trotoar tempat pejalan kaki, saya udah pernah, meski sambil lalu dan mungkin nggak didengerin sama cewek yang seenak dengkulnya lewat trotoar sambil ngendarain motor itu.

Memang akan lebih baik kalau setiap orang punya kesadaran masing-masing tanpa harus menunggu ditegur. Tapi mau gimana lagi, kalo kesadaran udah nggak punya, jalan satu-satunya ya menerapkan aturan, punishment. Prinsipnya hampir sama kayak penyakit, kalo daya tahan udah nggak bisa ngatasin, ya satu-satunya jalan dikasih obat. Padahal lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan? Tapi apa mau dikata, sepertinya orang kita lebih suka mengobati daripada mencegah.

Semua baru bereaksi kalau banjir sudah melanda. Sungai-sungai dan tanggul dibersihkan, tempat sampah disebar. Selama ini ke mana dan ngapain aja? Selalu reaktif, tidak proaktif dan preventif. Padahal ada banyak cara pencegahan yang bisa dijadikan alternatif. Bukan hanya soal sampah, tapi juga banyak masalah lain.

Ibarat membangun sebuah rumah, tentu diawali dengan pondasi yang kokoh. Lha ini mau bikin rumah, pondasi belum bener udah buru-buru pasang tiang penyangga dan genteng. Begitu roboh, sibuk perbaikin sana-sini. Dan untuk kasus ini, pondasi yang saya maksud tidak lain tidak bukan adalah PENDIDIKAN. Eits, jangan identikkan pendidikan dengan sekolah, loh.. Pendidikan tidak hanya ada di bangku sekolah.

Buang semua pemikiran tentang teori pelajaran yang rumit dan rumus-rumus yang njelimet, karena saya berbicara mengenai pendidikan yang paling dasar, yaitu moral, etika, nilai-nilai sosial dan budi pekerti. Pernahkah pemerintah mempertimbangkan pendidikan dibanding sekedar menempatkan ribuan tong sampah, membangun smoking area, atau membuat aturan dan undang-undang? Atau setidaknya pernahkah kita berpikir untuk menanamkan nilai-nilai tersebut pada diri kita sendiri dan orang-orang terdekat?

Saya jamin, secanggih apapun teknologi, sebaik apapun infrastruktur publik, seketat apapun peraturan, tanpa diimbangi pendidikan dasar, semua akan berakhir percuma. Menumbuhkan kesadaran menjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan menyebar tempat sampah di penjuru sudut. Semua harus dibarengi dengan mental yang benar. Kalo mentalnya udah bener, kesadarannya udah tumbuh, nggak harus nunggu aturan atau fasilitas, semua orang akan menjaga lingkungannya.

Seseorang yang sadar untuk menjaga lingkungan tidak akan kompromi dengan keadaan, ada atau tidak ada tempat sampah, dia tidak akan membuangnya sembarangan. Caranya? Simpan sampah di tas atau saku celana sampai menemukan tempat sampah dan buang di sana. See.. sesimple itu, kan? Tapi memang untuk bisa menumbuhkan kesadaran dan mental semacam itu tidaklah semudah membalik jemuran. Dan ini adalah PR kita bersama. Ayolah.. sudah bukan jamannya mengandalkan pemerintah yang nggak bisa diandalkan.. :p

Ada beragam cara untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan bersih, salah satunya duanya dengan aturan dan pendidikan dasar. Buang sampah atau meludah sembarangan didenda sekian dollar. Singapura adalah negara yang menerapkan aturan seperti ini. Hasilnya? Silahkan gooling sendiri untuk melihat gambaran kota Singapura yang bersih dan nyaman. *saya baru bisa buktikan langsung bulan depan*😀

Sementara Jepang yang meski tidak menerapkan denda bagi yang membuang sampah sembarangan, tapi mereka berhasil menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman. Memang ada aturan tertulis yang dipampang di sudut-sudut jalan, seperti dilarang merokok, sepeda dilarang parkir, dll. Tapi aturan tersebut diterapkan tanpa punishment alias denda. Jadi seandainya ada yang melanggar pun, mereka tidak diwajibkan membayar denda. Tentu polisi juga tidak ada yang siaga mengawasi orang merokok di jalan. Jadi kenapa tidak dilanggar saja?

Dari berbagai sumber yang saya baca, orang-orang Jepang terbilang cukup patuh dengan aturan, termasuk yang sederhana seperti tidak merokok atau parkir sembarangan di jalan. Well.. meski memang ada, sih yang melanggar juga, tapi nggak banyak. Saya belum bisa buktiin langsung karena rencana mengunjungi negara ini tertunda gara-gara VISA DITOLAK..😆

Kenapa orang-orang Jepang bisa tunduk pada aturan meski tidak diberlakukan punishment atau denda? Mungkin salah satunya karena mereka memiliki kesadaran. Dari mana kesadaran ini didapat? Dari pendidikan. Yang seperti apa? Pendidikan yang bermacam-macam, moral, etika, nilai-nilai sosial dan budi pekerti. Kenapa agama tidak termasuk? Karena Jepang sendiri sebagian besar masyarakatnya tidak mengenal agama. Di negara ini agama menjadi sesuatu yang sangat personal, tidak dicampuri oleh orang lain bahkan pemerintah. Jepang tidak memiliki hari besar keagamaan, di sekolah pun agama tidak masuk kurikulum dan tidak diajarkan. Lebih jelasnya bisa disimak di catatannya Mas Rizal DP, ada banyak cerita mengenai kehidupan dan orang-orang Jepang yang cukup menarik.

Nilai moral dan budi pekerti jadi kunci pendidikan dasar di Jepang. Sekali lagi, jangan identikkan pendidikan dengan sekolah, karena pendidikan pun diberikan di luar sekolah. Pelajaran mengenai baik dan buruk sesuatu ditanamkan dengan mendalam sejak usia dini agar dapat diimplementasikan hingga besar nanti. Mungkin hal ini juga didukung oleh budaya yang dibawa oleh Shinto dan Budha, terlebih mengenai nilai budi pekerti.

Ini hanya opini pribadi, sih.. Tapi saya yakin kalau Jepang bisa jadi negara besar seperti sekarang karena mereka mengawalinya benar-benar dari bawah, dengan menciptakan pondasi yang kuat. Semua didapatkan dari pendidikan, bagaimana menumbuhkan kedisiplinan tinggi, kerja keras dan mental hebat.

Oke.. maafkan kalau saya terdengar terlalu mengagung-agungkan Jepang. Tapi jujur, saya memang mengagumi negara ini, terlepas dari beberapa prinsip ataupun kebijakan mereka yang kurang saya setujui. Tapi setidaknya ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita. Come on, belajar dari negara yang pernah menjajah kita? Why not? Bukan saatnya terpaku pada masa lalu, toh keadaan sekarang sudah sangat jauh berbeda. Saat ini negara kita memiliki hubungan yang terbilang sangat baik dengan Jepang. Dan, hei, belajar bisa dari mana dan siapa saja, bukan?

Well.. Singapore or Japan? Absolutely, Japan! Tak perlu jauh-jauh meniru teknologinya, tirulah budaya dan nilai-nilai budi pekerti yang ditanamkan orang-orang Jepang. Saya berharap kita bisa lebih memberikan perhatian pada pendidikan, bukan hanya lewat pendidikan formal di sekolah tentunya. Semua memiliki andil dan perannya masing-masing. Para orangtua memiliki kewajiban untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti pada anak mereka. Pemerintah juga harus mendukung, tak hanya sekedar meningkatkan infrastruktur, tetapi juga memfasilitasi pendidikan sebagai modal pondasi yang kuat.

So.. buanglah mental sampah pada tempatnya!😉

2 responses to ““Mental Sampah”

  1. yusia November 15, 2013 at 9:52 am

    Kesadaran orang2 kita memang rendah..paling abis baca resume diatas, sadar sehari trus besoknya gak sadar2 lagi..he..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: