kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Transit Holiday: Preparations


Bayfront MRT Station

Bayfront MRT Station

Kenapa disebut transit holiday? Karena memanfaatkan tiket pesawat transit ke Jepang yang sayangnya tidak bisa saya pakai sepenuhnya terkait masalah visa. Waktu kunjungan yang singkat juga membuat liburan ini jadi terkesan hanya sekedar transit. 6 hari, 3 negara, transportasi darat dan udara. Jadilah liburan transit ala saya..🙂

6 hari, 3 negara. Gaya banget, sih.. Bukan, ini bukan ajang gaya-gayaan atau biar dibilang keren karena bisa ke beberapa negara sekaligus dalam waktu berurutan. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya di sini, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke 3 negara (Kuala Lumpur, Singapore, Bangkok) demi mengumpulkan stempel imigrasi di paspor yang masing perawan alias kosong. Kenapa harus repot ngumpulin stempel? Biar tahun depan waktu ngajuin visa Jepang lagi, saya nggak dipandang sebelah mata sama petugas. Mungkin memang bukan faktor utama diloloskannya visa, tapi saya tidak mau lagi bertaruh dengan hal yang tidak pasti. Well.. at least petugas tahu kalau saya juga pernah liburan ke luar negeri sebelumnya, yang siapa tahu bisa jadi poin plus.. Amiinn.. Saya ke Jepang juga bukan karena pengen dibilang keren atau sekedar dapat gelar pernah ke luar negeri, tapi karena semata-mata ingin mewujudkan impian masa kecil.. Saya mah nggak peduli sama stempel keren..:mrgreen:

Ok.. sebelum cerita perjalanan di 3 negara itu, saya mau share soal persiapannya dulu. Saya memang masih pemula, sih.. masih dikiiitt banget yang saya tahu, tapi siapa tahu dari yang saya bagi ini ada manfaatnya..🙂

1

Yang harus disiapkan pertama tentu aja tiket pesawat. Selama ini, sih, saya cuma mantengin updatenya Air Asia. Abis maskapai ini paling sering ngadain promo, tiketnya juga lebih murah dibanding yang lain. Tapi bukan berarti tutup mata sama maskapai lainnya. Waktu hunting tiket pesawat, ada baiknya membandingkan harga antara maskapai. Yang gampang bisa lewat Wego, tinggal masukkan destinasi dan waktu, ntar di situsnya ditampilin daftar maskapai dari yang termurah sampe termahal, tinggal pilih, deh.. Tapi entah kenapa, saya lebih sering langsung ngecek ke webnya AA. Soalnya beberapa kali nyoba search ke Wego, yang keluar di daftar paling murah AA terus. Lagian saya subscribe newsletternya, jadi kalo ada update langsung tahu. Plus jangan lupa follow akun Twitter dan like fanpage FB maskapainya.

Saya sendiri untuk perjalanan ini nggak beli tiket ke KL. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, tahun lalu saya sudah booked tiket dari Surabaya ke Haneda, Tokyo. Harganya? Waktu itu dapet 5 jutaan. Mahal? Relatif, sih.. sebenernya saya bisa dapet yang lebih murah dari itu, kebetulan juga ada promo kursi gratis, cuma kan musti ngikutin jadwalnya Air Asia, nggak bisa milih seenak udel saya. Karena saya nggak mau diatur-atur AA dan lebih milih tanggal yang bertepatan dengan mekarnya kuncup sakura, which is spring, akhirnya ya saya abaikan promo kursi gratis itu. Nggak apa lah dapet agak mahal dikit, yang penting waktunya sesuai dengan yang saya inginkan.

Tapi, eh, tapi.. karena visa saya ditolak, akhirnya saya batal ke Jepang. Tiket nggak bisa direfund, yang bisa direfund cuma airport tax. Akhirnya setelah mempertimbangkan beberapa hal, saya akan tetap memakai tiket itu, tapi nggak sampai Haneda, kan nggak punya visa. Berhubung penerbangan saya itu transit di Kuala Lumpur, ya saya pakai tiketnya sampai KL saja, termasuk tiket pulang yang juga transit di KL. Yah.. anggep aja ketinggalan pesawat ke Jepang..:mrgreen:

Untuk tiket Air Asia, mending self check-in, bisa menghemat waktu, nggak perlu antri di check-in counter. Untuk boarding pass bisa langsung dicetak atau scan kodenya (untuk yang pake’ smartphone). Cara ini terbukti cukup efektif. Saya kebetulan print boarding pass sendiri. Untuk di bandara LCCT Kuala Lumpur, sih emang beneran kepake’ dan hemat waktu, karena yang udah pegang boarding pass bisa langsung masuk ke imigrasi dan custom, tapi untuk bandara Juanda tetep harus ke check-in counter untuk bayar airport tax.

Bikin sendiri, dari kertas sisa, cover dari potongan lengan baju.. :grin:

Bikin sendiri, dari kertas sisa, cover dari potongan lengan baju..😀

Isinya lumayan detail.

Isinya Itinerary Book..

Oke.. tiket sudah di tangan, persiapan penting selanjutnya adalah itinerary. Jangan anggep enteng poin ini, biar kata traveling ala backpacker juga musti punya itinerary. Senekat-nekatnya backpacking, itinerary adalah hal wajib yang harus dipersiapkan. Nggak harus detail dan ribet, asalkan tahu ke mana aja destinasi yang dituju. Pengecualian, kalo emang tujuannya cuma buang duit dan pengen jalan tanpa tujuan, itu beda perkara.. hehe..

Soal itinerary ini masing-masing orang beda, sih.. Kalo saya malah sebelum hunting tiket pesawat udah nyiapin itinerary duluan, nomor satu sebelum booked tiket. Kenapa? Karena saya ingin memastikan berapa hari yang akan saya habiskan di negara tujuan, kan ini ngaruh ke flight schedule, kapan berangkat dan pulang. Berapa lama nyiapin itinerary? Ini juga subyektif, saya termasuk tipe perfectionist, detail, bikin itinerary pun bisa berbulan-bulan lamanya. Proses pembuatan itinerary juga kayak skripsi, ada revisi. Itinerary Tokyo yang saya bikin malah sampe revisi 16-17 kali.. hahaha.. serius!

Kok bisa lama dan ribet gitu? Karena selalu ada destinasi baru yang menarik selama proses pembuatan itinerary. Untuk Jepang sendiri banyaaaakkk sekali sumber di internet yang bisa dikulik. Mulai dari web resminya government, sampe web dan blog personal yang nggak kalah informatif. Untuk informasi lengkap seluruh Jepang bisa diintip di japan-guide.com atau jnto.go.jp. Blog pribadi juga nggak kalah menarik dari web  resmi pemerintah atau instansi. Malah kadang ada tempat-tempat unik dan menarik yang nggak ditemui di web lain. Untuk bikin itinerary saya jarang dengerin rekomendasinya orang-orang yang udah pernah berkunjung ke suatu negara. Kenapa? Ya karena nggak semua rekomendasi itu sesuai dengan diri saya. Tiap orang kan punya kesukaan dan minat yang beda. Saya, sih lebih suka ngubek2 web resmi or blog tentang obyek wisata di suatu tempat atau negara, telusuri semua obyek yang ada, baru pilih yang sesuai minat. Saya suka heran aja kalo ada orang yang minta dibikinin itinerary dari nol sama orang lain. Lah.. yang mau pergi itu siapa, masa’ dia nggak tahu tujuannya ke mana, asal ikut kata orang..

Yang bisa dimasukin ke itinerary ini macem-macem, sih.. Kalo saya, karena kebetulan saya muslim dan nggak bisa makan sembarang makanan, jadi saya juga masukin nama resto atau tempat makan halal di itinerary, lengkap dengan alamatnya. Transportasi juga bisa dimasukin ke itinerary, biar nggak bingung mau naik apa ke destinasi yang dituju. Kalo saya, sih.. lumayan detail, transportasi plus jamnya. Nah.. loh.. tau jam keberangkatan dari mana? Untuk Jepang, jadwal kereta bisa dilihat di Hyperdia. Situs ini helpful banget, deh.. tinggal masukin stasiun asal dan tujuan, tanggal, jam, keluar deh itu daftar kereta lengkap sama jam keberangkatannya. Kalo untuk negara lain bisa dicoba di Google Maps, tinggal klik stasiun asal, terus klik direction, tinggal masukin stasiun tujuan dan waktu. Ntar langsung keluar daftar keberangkatannya. Untuk timetable & fares kereta Thailand bisa coba di sini.

Img: travelfish.org

Img: travelfish.org

Itinerary kelar, persiapan selanjutnya adalah.. penginapan. Lupakan rencana hunting hotel atau penginapan on the spot sesampainya di negara tujuan. It’s wasting your time.. Cari penginapan jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatan. Jaman sekarang semua serba online, serba gampang, tinggal klik semua beres. Ada banyak situs yang bisa dimanfaatin, Agoda, Booking.com, Hostelworld, dll. Atau bisa juga cek web hotelnya langsung, kebanyakan mereka menerima online booking. Kalo saya pernah nyoba langsung di web hotelnya, meski akhirnya saya cancel karena batal berangkat ke Jepang. Waktu itu saya booked kamar di Juyoh lewat webnya langsung. Kenapa? Karena saya nggak punya CC, kebetulan Juyoh menerima booking tanpa DP or CC, jadi tinggal pesen kamar untuk tanggal kedatangan, ntar tinggal bayar pas sampe di sono.

Untuk penginapan “Transit Holiday” ini, karena saya nggak lama di KL, jadi cuma butuh penginapan satu malam waktu balik dari Bangkok, sebelum pulang ke Malang. Itu saya pesen lewat Agoda, karena saya nggak punya CC dan PayPal, saya pake 3rd party di Kaskus. Dan karena nggak mau ngabisin duit cuma untuk tidur semalem, akhirnya saya booked hotel kapsul, sekalian pengen ngerasain gimana rasanya tidur di hotel kapsul yang banyak banget di Tokyo itu. Waktu itu saya dapet harga di Agoda 50 ribuan per malem. Murah, kan? Hehe.. Gimana ceritanya tidur di hotel kapsul? Ntar, ceritanya menyusul.. :p

Ufo Capsule Hotel. Img: tripadvisor

Ufo Capsule Hotel. Img: tripadvisor

Nah, kalo penginapan di Bangkok, saya minta tolong temen saya yang ternyata downline’nya Agoda.. lagi-lagi ini karena saya nggak punya CC atau PayPal. Saya pilih guesthouse Sala Thai Daily Mansion selama 2 hari, dapet harga sekitar 90 ribuan per hari untuk single room standar fan. Hehe.. murah lagi, kan? Yang jelas dari penginapan yang saya pilih itu, semuanya nggak mengecewakan.

Tiap orang pasti punya kriteria sendiri soal penginapan, ada yang mempertimbangkan harga, kenyamanan, dll. Tapi buat saya, sih.. kalo bisa dua-duanya dapet, hahaha.. Yang penting, lagi-lagi ini menurut saya, subyektif banget, sih.. Pilihlah penginapan yang deket sama stasiun. Kenapa? Ya biar akses ke mana-mana gampang. Kebetulan dua penginapan yang saya pilih itu cukup deket sama stasiun MRT. Yang kedua adalah, cari tempat yang nggak terlalu ramai. Penginapan itu kan untuk tidur, istirahat, jadi ya sebisa mungkin tempatnya tenang, nggak hingar bingar, kecuali kamu emang mau dugem semaleman sama bule-bule, hehe..

Saya bersyukuuurr banget milih Sala Thai di Bangkok ini, nggak jadi cari penginapan di Khaosan Road yang terkenal sebagai surganya backpacker itu. Banyak yang rekomendasi Khaosan Road untuk tempat stay selama di Bangkok, katanya di sono harga backpacker, termasuk penginapan. Tapi waktu saya telusuri di Agoda, harganya masih di atas Sala Thai. Lagian kebanyakan tipe dormitory, alias sekamar beberapa bed dan orang. Kalo mau dapet kenalan traveler lintas negara, dormitory boleh lah dipilih, tapi musti siap sama konsekwensinya. Nggak boleh protes kalo roommate berisik dan cekikikan waktu kamu baru aja merem 5 detik, nggak boleh nggondok kalo tiba-tiba roommate masuk kamar dalam kondisi mabok, haha.. Terutama kalo kawasan penginapan emang deket banget sama tempat dugem, kayak Khaosan Road misalnya. Nah, kalo ingin yang nyaman dan private, ya hindari tipe dorm. Inget, istirahat ini penting banget, biar besoknya bisa bangun fresh dan lanjutin perjalanan. Saya sih lebih nyari nyaman dan tenangnya, jadi pilih single private room, tapi dengan harga yang nggak nyekek leher. Dan semua itu saya dapet di Sala Thai.. 🙂

Untuk menghemat biaya penginapan, banyak juga yang milih tidur di kendaraan umum. Eits, bukan numpang tidur di dalem bus yang mangkal di terminal, loh.. Misalnya, dari Tokyo ke Osaka ditempuh dengan bus malam, atau dari Kuala Lumpur ke Singapura juga dengan bus malam. Nah, ini kan itungannya udah menghemat biaya penginapan, jadi nggak perlu booked hotel, tidur aja di dalem bus atau kereta. Tapi ini juga butuh persiapan fisik yang nggak main-main. Usahain sebelum hari keberangkatan istirahat dengan cukup, jangan begadang mulu’ karena sibuk nyiapin bawaan.

7

Tempat lain yang bisa dipake’ tidur ya apalagi kalo’ bukan stasiun, terminal, atau bandara, hehe.. Saya sendiri meski nggak tidur full, tapi pernah tidur-tidur ayam di stasiun KL Sentral. Tempatnya enak buat tidur, meski sambil duduk, nggak enak mau make’ sederet kursi, kasihan yang nyari tempat duduk.. Nggak peduli mau dilihatin orang yang lewat, toh banyak juga yang tidur, bahkan ada yang tidur rebahan di lantai gitu sambil nungguin hape yang dicharge..

Penginapan udah, sekarang giliran wardrobe! Hahaha.. jangan ketawa dulu, ini serius. Jangan sampe salah kostum di sana. Eh, ini bukan soal dandan kece, tapi lebih ke faktor kenyamanan. Coba bayangin, karena nggak ada persiapan, asal bawa baju tebel dan coat padahal di negara tujuan lagi musim panas, atau sebaliknya. Kan jadinya nggak nyaman, musti ngakalin lagi, ribet lagi. Cari tahu di negara tujuan lagi musim apa, berapa rata-rata suhu atau temperaturnya waktu kita ke sana, sesuaikan pakaian. Bawa baju seperlunya, ini PENTING! Kalo emang males banget bawa baju banyak yang bikin backpack berat, bisa bawa beberapa potong aja, ntar begitu sampe di sana kalo bajunya udah kotor bisa dilaundry. Ada hotel yang juga nyediain fasilitas ini.

Terus apa lagi yang saya persiapkan jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatan? Latihan fisik! Haha.. jangan anggap remeh persiapan ini. Bagi sebagian orang mungkin ini terkesan sepele, bahkan tidak penting. Tapi tidak buat saya. Bukan hanya soal menjaga kesehatan, tapi juga mempersiapkan kekuatan fisik. Apaan, angkat beban? Tenang, nggak seheboh itu kok.. Cuma sekedar jogging dan jalan kaki pagi hari, minimal 1 bulan sebelum hari-H. Kenapa? Ya biar ntar waktu nge-trip nggak kaget. Kebayang kan gimana rasanya kalo udah bertahun-tahun nggak olahraga terus tiba-tiba musti jalan berkilo-kilo dan berjam-jam lamanya, entah karena jalan-jalan di obyek wisata atau sekedar muterin tempat oleh-oleh. Pasti pada pegel-pegel, linu, sendi berasa copot semua.

Nah, biar nggak kaget, makanya perlu dibiasain. Sebenernya saya juga udah olahraga, tiap hari gowes 2 jam PP rumah-kantor. Tapi gowes dan jalan kaki atau jogging itu nggak sama. Buat saya gowes itu lebih ngaruh ke stamina, kalo jogging dan jalan kaki buat ngelatih kekuatan kaki. Terus, hasilnya? Alhamdulillah.. cukup membantu, selama jalan-jalan di sana nggak berasa pegel dan linu-linu. So.. buat yang udah lama nggak olahraga, kalo mau nge-trip, latihan fisik ini bisa dipertimbangkan.

8

Persiapan fisik udah, selanjutnya uang saku dan transportasi. Soal uang saku ini relatif, ya.. bawa seperlunya aja, tapi udah bener-bener diperhitungkan untuk biaya hidup selama di negara tujuan. Biaya ini mencakup transportasi, makan, jajan, tiket masuk ke obyek wisata, plus yang nggak kalah penting, oleh-oleh, hotel udah booked online, jadi nggak dihitung. Gimana bisa tahu total biaya transportasi di sono? Ah, sekarang apa sih yang nggak ada di internet. Rajin-rajinlah googling, cari tahu berapa tarif MRT, bus, taksi, bahkan ojek dan tuk-tuk. Situs resmi pemerintah biasanya menyediakan tarif transportasi dalam bentuk tabel yang bisa didownload, kalopun nggak bisa didownload, diprintscreen juga bisa. Sekedar informasi, untuk tarif MRT dan monorail di Kuala Lumpur dimulai dari RM 1,5, tergantung jarak atau berapa stasiun yang dilewati, kalo Singapura mulai $1. Lebih lanjut bisa diintip di masing-masing webnya, untuk Kuala Lumpur bisa cek di sini, Singapore di sini, BTS Bangkok di sini dan MRT Bangkok di sini. Tarif taksi juga bisa diitung lewat web khusus, kayak Numbeo ini. Oiya, kalo info soal kereta yang lengkap dari negara manapun bisa dicek di Seat61.com.

Saya sendiri untuk perjalanan 3 negara ini cuma bawa 2,6 juta (400 ribu punya temen yang nitip oleh-oleh, jadi resmi cuma bawa 2,2 juta). Itu saya tuker ke RM 250, SGD 100 dan 3.000 baht, udah termasuk tiket bus KL-SG (PP) dan tiket kereta+bus Bangkok-Kuala Lumpur. Ada yang nyaranin bawa US dollar untuk jaga-jaga, kalo kekurangan uang bisa dituker di sana. Tapi saya males ribet-ribet nukerin duit, akhirnya ya saya bawa sesuai perhitungan aja.

Eh, ternyata waktu mau balik dari perbatasan Thailand ke Kuala Lumpur, duit saya kurang buat beli tiket bus, cuma kurang 100 baht. Kenapa bisa sampe kuraaannggg? Semua karena salah Chatuchak market! Hahaha.. saya agak sedikit kalap *sedikit aja* lihat barang-barang di pasar murah Bangkok itu, beli pernik-pernik kecil yang nggak masuk di list. Akhirnya terpaksa narik ATM, deh.. Saya cari ATM yang ada logonya Cirrus. Untuk penarikan dari bank asing di Thailand dikenakan potongan 150 baht, kalo dari BCA sendiri kayaknya sih 25 ribu tiap kali penarikan, sementara kursnya kalo nggak salah baca di ATM waktu itu ikut kursnya mastercard apa gimana, ya.. hehehe.. Karena di Thailand penarikan minimal 200 baht, ya saya pilih itu, meski butuhnya cuma 100. Sampe sekarang saya belum cek total fee-nya berapa, sih.. belum ngeprint buku tabungan, jadi nggak ngerti, soalnya waktu itu saya keliru pilih print struk tanpa konversi..😀

Nah, soal transportasi dari rumah ke bandara. Berhubung rumah saya di Malang dan pesawatnya berangkat dari Juanda, Surabaya, jadi saya musti mikirin transportasi ke sana. Karena buru-buru, dulu waktu booked tiket Sub-Haneda, saya nggak lihat jam penerbangan. Waktu udah ngeklik ternyata dapet yang penerbangan pertama, jam 5 pagi. Haha.. kebayang nggak tuh gimana repotnya. Tapi setelah reschedule Air Asia sampe dua kali, akhirnya penerbangannya jadi jam 05.40.

Coba nanya temen-temen lewat FB soal travel Malang-Juanda yang recommended, akhirnya saya coba hubungi Naomi travel. Awalnya sih udah mau hubungin Silver travel yang banyak banget direkomendasiin, cuma karena waktu itu pulsa lagi sekarat dan Silver travel cuma ada telepon kantor, akhirnya saya coba hubungi Naomi. Kebetulan travel ini bisa dihubungi lewat SMS..:mrgreen:

Saya ambil travel yang jam 2 pagi, biayanya 60 ribu, cukup terjangkau lah.. Bandingin sama taksi dari Bungurasih ke Juanda yang harganya juga segitu. Tapi karena jam 2 itu mobil baru berangkat dari Malang dan jemput orang-orang yang juga mau ke Juanda, akhirnya sampe rumah saya di Singosari sekitar jam 02.45. Untungnya jalanan sepi banget, perjalanan jadi mulus. Sekitar jam 04.15 udah sampe Juanda. Ada yang butuh nomernya Naomi travel? Hehe..

9

Persiapan terakhir sebelum berangkat, packing. Saya nggak akan bahas packing untuk koper, karena saya anak ransel *apa sih* Kayaknya udah bukan rahasia lagi kalo packing untuk backpack alias ransel itu adalah dengan cara gulung-menggulung. Yup, untuk menghemat space dan katanya biar baju nggak kusut, meski alasan yang terakhir ini belum bisa saya buktikan sepenuhnya, jilbab saya masih pada kusut, hehe..

Ada tips dari seorang blogger *lupa namanya* kalo barang yang berat itu taruh di atas, bukan di bawah, biar nggak terlalu ngebebanin pundak (apa pinggang, ya? Lupa, hehe).. Kalo saya, sih baju-baju yang saya pake’ terakhir itu ditaruh di bawah, sementara baju yang mau dipake’ segera setelah sampe di tempat tujuan itu ditaruh paling atas, biar nggak usah ngubek-ngubek ransel, apalagi kalo gantinya di kamar mandi atau toilet umum, biar nggak digedor-gedor orang yang antri *pengalaman pribadi*😆

10

Peralatan mandi. Selain karena regulasi yang tidak membolehkan penumpang membawa cairan lebih dari 100ml ke pesawat, juga untuk menghemat space dan meringankan bawaan, maka tempatkanlah peralatan mandi dan kosmetik dalam kemasan mini. Belilah itu botol-botol dan tempat make-up khusus untuk traveling yang kemasannya imut. Satukan semuanya di dalam plastik transparan yang bisa ditutup, bisa pake’ make-up case transparan atau plastic clip.

Obat-obatan juga perlu dimasukkan dalam daftar. Halah.. kan bisa beli di sana. Hmm.. mending bawa sendiri, deh, daripada ambil resiko. Bayangin kalo ke negara yang bahasa utamanya bukan bahasa Inggris dan tulisannya bukan alphabet, seperti Jepang yang pake’ kanji atau Thailand yang hurufnya mirip aksara Jawa itu. Lagian nyari apotek atau toko obat juga makan waktu, keburu pingsan di jalan ntar. Bawa obat juga seperlunya aja, kalo punya alergi ya bawa obat anti alergi, sakit maag bawa obat maag, jangan obat nyamuk. Kebetulan kemarin saya bawa asam mefenamat (analgesic atau obat pereda nyeri), obat anti alergi, obat untuk dermatitis, plus analgesic balm semacam counterpain buat kalo otot kesleo atau ketarik pas jalan-jalan, hehe..

Murmer 23 ribuan

Murmer 23 ribuan

Hal kecil lain yang cukup bermanfaat, jam tangan dan botol minum. Yup, jam tangan, bukan jam ponsel atau jam dinding. Kenapa harus jam tangan? Karena ini lebih mempermudah kita untuk mengetahui waktu, jam berapa kereta terakhir, jadwal penerbangan, atau batas waktu di tempat tujuan tertentu. Kan lebih enak tinggal ngelirik pergelangan tangan daripada musti ngeluarin hape dari saku atau tas. Karena saya nggak biasa pake’ jam tangan, saya sampe’ bela-belain beli jam tangan baru murah meriah 23 ribu, jam yang lama entah ke mana.

11

Botol minum ini baru berguna kalo pergi ke negara yang airnya drinkable, jadi bisa isi ulang pake’ tap water di segala tempat. Setahu saya negara yang air kerannya bisa langsung diminum ya di Jepang. Kalo Singapura katanya, sih bisa, makanya saya bawa botol. Tapi kok saya susah nemu keran air, ya, adanya cuma di toilet. Di taman saya nggak nemu keran, beda sama Jepang yang di setiap tamannya ada keran, bahkan taman kecil di kompleks rumah juga ada. Mau ngisi dari keran toilet kok agak gimana gitu, akhirnya botolnya banyak nganggurnya karena saya beli air mineral.

Ada lagi yang jangan sampe dilupain, adaptor steker, terutama untuk yang mau ke luar negeri. Kan colokan di Indonesia beda sama negara lain. Kalo di Kuala Lumpur dan Singapura kakinya 3, kalo Bangkok katanya, sih sama kayak Indonesia. Saya sendiri waktu di Bangkok nggak nge-charge sama sekali, karena di kamar nggak ada colokannya, hahaha.. kasian banget.. Untungnya baterai kamera masih mau kompromi, kalo baterai hape mah saya nggak peduli.. Yang bikin gemes, sehari sebelum berangkat saya sempet nyari itu adaptor steker, dari kaki 2 ke kaki 3. Beuhh.. susah juga nyarinya di toko elektronik biasa. Akhirnya nyoba ke Ace hardware. Ada banyak pilihan, mulai dari yang cuma untuk beberapa negara sampe yang universal adapter.

Saya waktu itu pilih yang murah aja, 15 ribuan, adaptor kaki 3. Di kemasannya sih cuma ditulis untuk negara US, Japan, UK, sama apa gitu satu lagi. Tapi pas saya tanya ke Mas-masnya, katanya bisa dipake di KL, lagian KL kan ikut UK kalo soal colokan. Ternyata pas sampe KL adaptornya nggak cocok, siaall.. bener, sih, kakinya 3, tapi itu serong, miring, sedangkan di KL itu lurus. Hmm.. untungnya staff informasi di TBS ngasih solusi, dia colokin bulpen barengan sama colokan kamera saya. Hahaha.. aslinya saya mengindari cara ini, selain karena takut sama setrum, juga karena saya nggak mau ngerusak fasilitas publik, apalagi di negara orang. Tapi si Mbaknya malah ngajarin saya. Kalo emang rencana ngunjungin beberapa negara mending sekalian beli yang universal adaptor, satu bisa dipake di buanyaaakk negara. Harganya waktu saya lihat di Ace kemarennya mulai dari 70 ribuan.

Hal kecil lain yang sepertinya bisa dipertimbangkan, sandal jepit. Kalo males bawa dan lagi banyak duit, bisa beli di sono aja. Hahaha.. ini berdasarkan pengalaman pribadi yang cuma ngandelin sepatu doang. Karena saya sering, bahkan nggak pernah lepas sepatu selama perjalanan (lagi nggak sholat, jadi nggak masuk masjid atau mushola), akhirnya kaki saya bauuu banget.

Well.. ok.. sepertinya tulisan kali ini berakhir sampai kaki bau..😆 Sekian postingan kali ini, lanjut ke cerita di masing-masing negara berikutnya.. Ada yang baca tulisan saya nggak, sih? Terima kasih sudah sudi membaca tulisan yang panjangnya nggak santai ini.. Semoga bermanfaat.. Kalo ada informasi yang salah, mohon dimaapken, atau bisa dikoreksi dan ditambahi..:mrgreen:

To be continued..😉

Shoes

2 responses to “Transit Holiday: Preparations

  1. agashii May 17, 2014 at 5:13 pm

    Waaa… Keren mbak tulisannya.. :))
    Informatif bgt..
    Sblmnya salam kenal yaa..
    Sy mau bgt jln2 ke Jepang/spore/malay/thai..
    Tp masi dlm tahap nyicil tabungan hehe
    Mau nanya2 lebih jauh lg sm mbaknya.. Klo smpat sapa aq di twitter @neng_iraaa
    Sankyu :))

    • meliamex May 19, 2014 at 2:31 am

      Hai.. hai.. salam kenal jg..
      Sama, aku skrg jg masih baru mulai nabung lg buat ke Jepang.
      Aku jarang twitteran skrg, ntar deh aku sapa..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: