kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Teman Perjalanan Menggapai Impian


Air Asia

Foto: dokumen pribadi

Lampu ruangan meredup. Layar menampilkan sebaris kalimat. Orang-orang mulai bangkit dari tempat duduknya, satu per satu, tak terkecuali seorang lelaki berkewarganegaraan asing di deretan depan. Aku pun menyusul sambil mengurai senyum simpul. Terdengar lantunan musik, diselingi potret sesosok lelaki yang menghiasi layar besar di depan. Bhumibol Adulyadej, semua yang ditampilkan adalah potretnya, Raja yang tak kehilangan cinta dari rakyatnya di usia yang tak lagi muda.

Royal anthem selesai dikumandangkan, semua kembali duduk. Layar bioskop mulai menampilkan opening title film. Hatiku berdesir, bukan karena wajah tampan Tom Cruise di dalam layar. Haru menyelimuti batinku, melihat bagaimana seorang pemimpin disegani dan dicintai rakyatnya, hingga lagu kerajaan selalu dikumandangkan di dalam teater bioskop sebelum film dimulai, lengkap dengan potretnya yang memenuhi seisi layar. Kecintaan tak berhenti sampai di layar bioskop, sudut-sudut warung, losmen hingga dinding rumah pun tak luput dari potret Sang Raja yang penuh wibawa.

124 menit telah berlalu. Semua penonton beriringan keluar ruangan. Tampak beberapa penonton lain sudah menunggu untuk masuk. Tak banyak, mungkin hanya belasan, meski film yang diputar menampilkan bintang Hollywood setenar Tom Cruise. Scala Cinema, bioskop tua yang sudah berdiri sejak tahun 1967 ini hanya memiliki satu teater yang setiap harinya memutar 1 judul film saja. Waktu seolah berhenti di sini, bangunannya masih mempertahankan interior bergaya retro, bahkan sistem ticketing pun masih manual. Petugas membubuhkan stempel untuk nomor tempat duduk dan angka yang sepertinya tanggal pemutaran, lalu merobek tiketnya dari booklet mirip buku kwitansi. Unik, itulah yang menyeretku mengunjungi tempat ini, selain karena aku juga pecinta film yang ingin merasakan pengalaman menonton di negeri orang.

10

Scala Cinema//Foto: dokumen pribadi

11

Tiket Bioskop//Foto: dokumen pribadi

Breesss… hujan mengguyur ketika kulongokkan kepala keluar. Buyar sudah rencana untuk mengejar sunset Wat Arun. Waktu juga sudah menunjukkan hampir pukul 7 malam. Tak dapat sunset setidaknya bisa mengabadikan keindahan Wat Arun di malam hari, itu sudah cukup. Aku pun mencari tempat untuk duduk sembari menunggu hujan sedikit reda. Di pelataran Scala Cinema kuselonjorkan kaki sambil menengadah ke atas langit.

Sedang di mana aku ini? Seorang diri menyusuri kota Bangkok setelah sebelumnya singgah di Kuala Lumpur dan Singapura. Ah, harusnya aku menikmati mekarnya sakura di Ueno Park kalau saja visa kudapatkan. Sayang, Jepang rupanya belum berjodoh denganku.

Foto: dokumen pribadi

Foto: dokumen pribadi

Setiap orang bisa saja bermimpi, tapi tak semua berani untuk bangun dan mewujudkannya. Mengisi masa kecil dengan Doraemon dan Kamen Rider Black membuatku sempat bermimpi untuk menjejakkan kaki di negeri sakura. Ingin melihat jalanannya yang bersih dan rapi. Ya, sesederhana itu alasan Melia kecil untuk mengujungi Jepang. Namun semua hanyalah sebatas impian masa kecil yang perlahan mulai terkubur, terlupakan dan tergantikan oleh mimpi lainnya. Hingga suatu hari aku kembali disuguhi film-film produksi Jepang secara tak sengaja. Ingatanku melayang, kembali ke sebuah layar televisi hitam putih yang menampilkan Kotaro Minami berlarian di trotoar jalan yang rapi. Ah, mimpi itu, mimpi masa kecil. Ya, film telah meracuniku.

Kuberanikan diri mencari informasi mengenai negeri impianku, berapa biaya yang kira-kira harus dikeluarkan untuk sampai ke sana. Skeptis, awalnya tak pernah terlintas di benakku untuk terbang ke luar negeri. Bukan apa-apa, gaji di bawah UMR tak sebanding dengan harga tiket pesawat. Tapi semua berubah ketika mesin pencari memberikan jawaban yang dapat mewujudkan impianku. Bukan “Pintu ke Mana Saja” atau “Baling-baling Bambu” milik Doraemon, tapi sebuah budget airlines yang sudah 6 tahun berturut-turut dinobatkan sebagai maskapai penerbangan berbiaya hemat terbaik di dunia versi Skytrax.

Menelusuri situsnya, membandingkan penawaran harga dengan maskapai penerbangan lain. Dan sampailah pada kesimpulan, inilah pilihan yang terbaik dan paling masuk akal untuk yang berkantong cekak sepertiku. Now everyone can fly with Air Asia!

Foto: dokumen pribadi

Foto: dokumen pribadi

Pilihan sudah di tangan. Aku pun mulai menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk merealisasikannya. Satu tahun, dengan menyisihkan 80% gaji setiap bulannya untuk tabungan. Lupakan sejenak shopping dan jalan/jajan. Hilangkan anggaran transportasi untuk berangkat kerja. Kayuh sepeda dari rumah ke kantor setiap hari, Senin-Sabtu, 22km-2 jam per hari pulang-pergi. Hemat dan sehat! Tak lupa, menantang diri dalam beragam kompetisi menulis demi mengumpulkan tambahan rupiah, hingga akhirnya salah satu skenario filmku dibeli oleh seorang sutradara kenamaan.

Di tengah perjalanan mengumpulkan rupiah aku memberanikan diri membeli tiket Air Asia Surabaya-Haneda. Perjalanan pertama yang kutempuh dengan pesawat ini menghabiskan sekitar 5 juta PP, harga yang bisa 2x lipat atau lebih di maskapai penerbangan lain. Cukup terjangkau bagiku, mengingat waktu yang kupilih pada musim semi. Bisa saja aku mendapatkan harga jauh lebih murah di bawah itu, mengingat Air Asia sering mengadakan promo untuk waktu-waktu tertentu. Tapi keputusanku sudah bulat, aku harus ke sana bersamaan dengan mekarnya sakura. Bunga ini hanya bertahan 2 minggu saja, jadi aku harus tepat merencanakan tanggal keberangkatan, bermodal prediksi mekarnya sakura dari sejumlah situs.

Sebulan sebelum jadwal keberangkatan. Perjuangan selama satu tahun ternyata berakhir cukup pahit. Pengajuan visaku ditolak oleh kedutaan. Mungkin karena tabunganku tak mencukupi, pasporku masih “perawan” atau status di KTP lama yang masih belum bekerja. Sedih, kecewa, kesal.

Meski awalnya sudah ikhlas merelakan tiket seharga 5 juta melayang begitu saja, tapi aku mencoba berpikir lebih jauh. Kenapa tak kupakai saja tiket itu hingga setengah perjalanan, mengingat penerbanganku transit di Kuala Lumpur. Bukan demi liburan semata, tapi demi stempel di paspor yang masih kosong. Mungkin paspor berhias stempel bisa jadi nilai tambah ketika aku mengajukan permohonan visa lagi suatu hari nanti.

1 perempuan, 6 hari, 3 negara, Kuala Lumpur-Singapura-Bangkok. Sebuah perjalanan menghibur diri yang gagal bertualang ke negeri sakura karena visa ditolak.

Tapi rupanya aku salah. Ini bukan sekedar perjalanan menghibur diri. Perjalanan buah dari perjuangan panjang selama satu tahun. Air Asia telah mengubah hidupku, menantang diri untuk berani bangun dan mewujudkan mimpi, mengintip dunia luar, menemukan beragam hal baru dan tak lupa mensyukuri nikmat Tuhan yang tiada tara. Entah, kalau tak ada Air Asia mungkin aku tak akan berani bangun dari mimpi, Jepang hanya jadi angan-angan.

Foto: dokumen pribadi

Foto: dokumen pribadi

Tak hanya sekali Air Asia mengantarku menjemput mimpi. Tahun lalu Si Merah ini juga menerbangkanku ke Ibukota untuk menghadiri konser musik One Ok Rock, band Jepang yang 2 tahun belakangan kugandrungi. Dan kuyakin, Air Asia masih akan menjadi teman perjalanan untuk menggapai impian-impianku.

Mimpi masa kecilku masih belum pudar. Bersiap bangun dan berlari untuk mewujudkannya. Kumpulkan kembali pundi-pundi yang kupunya. Air Asia, bawa aku ke Haneda!

me

8 responses to “Teman Perjalanan Menggapai Impian

  1. backpackerlee August 29, 2014 at 2:16 pm

    Selamat siang dari London! Good information!

  2. malves August 30, 2014 at 5:03 am

    Melll…..
    Uklam” gak ajak

  3. malves August 31, 2014 at 2:29 am

    Nginspirasi….melll

  4. veranicacipto September 25, 2014 at 9:10 am

    Hai sis salam kenal yaaa….
    Kl mo kesana ajak2 donggg 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: