kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

A Dream Named One Ok Rock


Courtesy: Martyn Arizona Erlambang

Courtesy: Martyn Arizona Erlambang

Impian tak melulu soal menjadi orang nomor satu, mendapatkan gelar ratu atau mempunyai pabrik tahu. Bagi sebagian orang impian bisa menjadi sangat sederhana, seperti melihat gerhana atau menghentikan tayangan “Ganteng-ganteng Srikaya”. Impian juga tak punya standar, tak bisa dinalar dan kadang di luar akar akal. Jadi, apa impianmu?

Jika pertanyaan itu diajukan pada saya, jawabannya mungkin akan sangat panjang, mengalahkan jumlah episode “Tukang Bubur Naik Sapi” yang baru saja menjuarai Tokyo Drama Awards 2014 untuk kategori drama asing terbaik. Kenapa? Mau protes? Oh, jangan khawatir, kriteria penilaian memang didasarkan pada “marketability” dan “merchantability”, bukan dari segi “artistry” atau “show quality”. Harap maklum saja..

Kembali soal impian, selain bermimpi nama saya muncul di kredit film layar lebar, menelurkan buku lewat penerbit ternama, membuka tea & zakka house, membuat jalur sepeda dan ribuan taman kota, melewati 4 musim di negeri Sakura, berbaring di “negeri di atas awan” Nagarkot-Nepal, bersepeda menyusuri jalanan yang masuk dalam daftar UNESCO World Heritage Centre di Luang Prabang-Laos, menyesap teh terbaik di perkebunan Sri Lanka dan banyak lainnya, saya juga punya impian yang cukup sederhana, meski memang tak sesederhana meraut pensil warna.

><

Saya memang pecinta film-film Jepang, tapi saya tak tahu banyak tentang musik Jepang. Entah, telinga saya rasanya masih belum bisa menerima musik dari negeri Matahari Terbit. Mungkin juga karena pengetahuan saya yang sempit tentang scene musik Jepang, yang hanya saya tahu lewat soundtrack-soundtrack anime lawas -seperti Samurai X dan Inuyasha- atau paling mentok Utada Hikaru dengan First Love-nya. Jadinya saya tak begitu tertarik mengobok-obok lebih jauh tentang musik Jepang. Padahal ternyata negeri ini juga punya jazz, indie pop, hard core, hingga soegaze seperti musik-musik barat. *ke mana aja Mbak?*

Hingga suatu hari di pertengahan tahun 2012 saya melihat trailer film Rurouni Kenshin (live-action), salah satu anime favorit saya kala masih SMA. Sayup-sayup saya mendengar soundtrack yang mengiringinya. Tidak terlalu Jepang, itu kesan pertama saya untuk”The Beginning”. Meski jujur saya lebih memilih jenis musik seperti “Heart of Sword” (versi anime) yang lebih kental atmosfer Jepangnya untuk soundtrack Samurai X, namun saya toh tak bisa memungkiri ketertarikan pada sosok yang membawakan soundtrack versi live-action ini, terlebih ketika dicermati English pronounciation vokalisnya terdengar cukup baik, tidak seperti kebanyakan penyanyi Jepang yang saya tahu. Atau mungkin memang bukan orang Jepang?

One Ok Rock, pencarian saya berakhir –dan bermula- di nama ini. “The Beginning” memang cukup memorable dan easy listening, bahkan ketika didengar pertama kali. Cukup pas lah untuk dijadikan soundtrack Rurouni Kenshin, meski menurut pendapat saya pribadi masih kurang garang. Pencarian rupanya masih berlanjut, saya mulai mengintip musik-musik One Ok Rock lainnya. Satu lagu, dua lagu, not bad, tapi masih belum terlalu menggerakkan hati saya. Hingga sampailah saya di “Kanzen Kankaku Dreamer”, lagu yang membuat saya akhirnya memutuskan One Ok Rock sebagai band Jepang favorit pertama saya.

Tak perlu sampai mendengarkan dua kali untuk menyimpulkan bahwa One Ok Rock berkiblat ke musik barat. Bukan hanya soal lirik yang mix antara Japanese dan English (yang sudah lumrah di musik Jepang) dan English pronounciation vokalisnya yang oke, tetapi lebih pada aransemen musiknya yang memang “kebarat-baratan” -in a good way-

Kalau ditanya apa yang membuat saya jatuh cinta dengan One Ok Rock, tentu karena musiknya. Soal wajah yang ternyata rupawan, itu buat saya lebih sebagai bonus tambahan. Ya, saya memang mendengarkan musik mereka pertama kali lewat YouTube, tapi saya tidak melihat videonya karena mendengarkan sambil kerja. Saya jauh lebih dulu menyukai musik mereka daripada mengagumi jenggot vokalisnya. Begitu saya amati satu per satu, ternyata personilnya memang good looking. Rejeki anak solehah😆

Kegilaan saya terhadap band ini masih dalam tahap wajar, namun hanya bertahan sampai saya melihat live performance mereka di YouTube yang cukup liar. Oh, ya, musisi sejati tak hanya mumpuni di studio rekaman, tetapi juga di panggung beneran. Dan mereka berhasil membuktikannya –setidaknya pada saya yang bukan seorang musisi- bahwa mereka punya skill yang oke. Melihat bagaimana keempatnya beraksi di atas panggung dengan performa yang menggila namun tetap “terjaga”, atmosfer penonton yang luar biasa, hingga salah satu personilnya menitikkan air mata di lagu pamungkas. Adegan berikutnya bisa ditebak. “Siapa sih yang ngiris bawang?” batin saya sambil menyeka sudut mata dengan lengan baju –bukan tisu-

Resmi sudah.. dengan ini saya menyatakan bahwa this is must-see concert before I die!

Saya tahu diri, rasanya sulit membayangkan One Ok Rock sudi menginjakkan kaki di negeri ini. Bahkan jika mereka mengadakan World Tour, mungkin Indonesia akan terlewat, karena merasa sudah memasukkannya dalam daftar. Indonesia? You mean Malaysia? –faktor kemiripan nama dan kedekatan geografis-

Sekedar berharap pun saya tak berani, terlebih mengingat One Ok Rock adalah band Jepang, bukan band Amerika yang cukup rajin mengadakan konser di Indonesia. Musik Jepang memang cukup segmentif, tak seperti musik barat yang bahkan anak umur 3 tahun saja sudah hapal lagu Wrecking Ball. Fakta bahwa saat itu tak banyak musisi Jepang yang mengadakan tur di Indonesia juga menjadi faktor tahu diri saya.

Ah, tak jadi soal.. Kalau mereka memang tidak mengunjungi Indonesia, saya yang akan menyambangi mereka di sana. Harga tiket konser juga tak terlalu menguras kantong, hanya dalam kisaran 5.000 yen atau 500 ribuan. Tapi tiket pesawatnya ituuuuu yang bikin darah tinggi..😥

Oke.. sudah diputuskan! Saya akan mengunjungi Jepang saat One Ok Rock mengadakan tur. Well.. saat itu saya memang sedang dalam usaha mengumpulkan pundi-pundi untuk mengunjungi negeri impian semasa kecil, meski tampaknya rencana untuk berangkat di kala kuncup sakura bermekaran harus disesuaikan kembali dengan jadwal tur One Ok Rock, yang kemungkinan jatuh di musim panas atau musim gugur, waktu di mana band-band Jepang banyak yang menggelar tur atau konser.

Saya pun baru ingat kalau tahun itu mereka sedang menggelar tur, sementara saya tidak bisa terbang ke Jepang karena visa ditolak. Kemungkinan mereka mengadakan tur lagi tahun depan pun masih belum dapat dipastikan. Entah, dapat bisikan gaib dari mana sampai saya terpikir untuk mengirimkan surat cinta pada mereka.

Surat cinta untuk sang idola :lol:

Surat cinta untuk sang idola😆

First time in my life, saya menulis surat untuk artist. Ijinkan saya menegaskan bahwa saya bukan seorang fan girl yang mengirim surat hanya untuk menyatakan betapa saya menggilai wajah personilnya. Oke, mengirim surat untuk idola memang terdengar berlebihan, lebay, alay, jijay, siomay -pake’ sambel gak pake’ piring- Saya juga heran apa yang membuat seorang gadis 28 tahun ini melakukan hal yang mungkin lebih pantas dilakukan oleh ABG, meski tampang saya masih seperti ABG *dilempar siomay*

Impian membutakan segalanya. Saya bahkan rela merogoh kocek sebesar Rp 107.600 demi sampainya surat saya pada sebuah po. box yang akan diambil oleh orang suruhan agency mereka, disortir kelayakannya, dititipkan pada asisten manajer, sampai ke tangan manajer yang mungkin tidak bisa bahasa Inggris dan entah apa akan benar-benar sampai ke tangan mereka langsung. Ah, tak apa, namanya juga usaha.

Lantas apa isi surat saya? Rahasia!😀

Pada intinya saya hanya menyampaikan kekaguman saya pada musik mereka dan berharap tahun depan mereka menggelar tur di Jepang. Kenapa Jepang, tidak Indonesia? Karena itu opsi yang paling masuk akal. Memang, saya juga sempat menyampaikan keinginan agar mereka sudi menyambangi Indonesia dalam rangkaian tur mereka, tapi kalaupun tidak, saya menegaskan bahwa saya yang akan mengunjungi mereka di Jepang. Jadi saya harap mereka akan mengadakan tur lagi tahun depan, agar saya bisa menyiapkan uang untuk membeli tiket konser, tiket pesawat dan akomodasi. Ouw, so sweet, kan? Enggak? Oke..

IDR 107.600

IDR 107.600

Beberapa waktu berselang sejak 10 April 2013 ketika surat dikirimkan, saya tiba-tiba bermimpi aneh. One Ok Rock mendatangi saya dan mengadakan press conference di teras rumah saya. Firasat kah? Mungkin saya lelah.

Selesai berusaha dan tanpa berdoa *tak elok rasanya meminta Tuhan mendatangkan One Ok Rock*, rupanya Tuhan menjawab doa usaha saya. Juni 2013 One Ok Rock resmi mengumumkan melalui halaman Facebook jika mereka akan mengadakan tur di sejumlah negara Asia. Good news, Indonesia masuk dalam daftar!

Tiket seharga 450 ribu terbeli, hanya tinggal menanti hari-H sambil ongkang-ongkang kaki. Namun rupanya Tuhan masih menyuruh saya untuk kembali berusaha. Rockstar Touring mengadakan sebuah kontes fan art untuk memenangkan Meet n Greet dengan OOR. Tak menyia-nyiakan kesempatan, saya pun mulai berpikir keras. Fan art, kebanyakan memang berupa visual art (drawing, sketching). Sementara sudah lama saya tidak menggambar, lagipula level menggambar saya masih kalah jauh dengan teman-teman lain yang sering membuat fan art. Oke, saya akan membuat fan art versi sendiri. Key chain!

Bahan-bahan membuat clay tepung pun siap. Saya mulai mencoba membentuk beberapa bagian tubuh, tapi kok rasanya susaaaahhh sekali, terlebih saya menggunakan DIY clay dari 3 jenis tepung dan lem PVAC yang hasil akhirnya gampang melar. Menyerah, akhirnya saya banting setir ke sewing craft. Setengah meter kain blacu terbeli, menyiapkan pola, cat acrylic dan alat jahit, saya berkutat di hari Minggu, melewatkan acara rafting dengan teman-teman kantor demi impian bertemu idola.

Tuhan sungguh baik. Sekali lagi Ia menjawab doa usaha saya. Karya saya terpilih sebagai pemenang kedua untuk kontes Meet n Greet One Ok Rock!! Alhamdulillah.. bisa nonton konser One Ok Rock, bonus ketemu dan salaman. Nikmat mana lagi yang kau dustakan, wahai manusia?😆

Ini yg bikin saya bisa Meet n Greet

Ini yg bikin saya bisa Meet n Greet

24 November 2013, hari ini satu tahun lalu..

Hari masih gelap saat saya beranjak meninggalkan rumah, menaiki travel jemputan menuju bandara Juanda, bertemu dengan teman baru untuk menjemput impian bersama. Ah, senangnyaaaa…

Awalnya saya berencana menonton dan berangkat seorang diri, toh di lokasi nanti juga akan bertemu banyak teman baru. Tapi rupanya ada seseorang yang sudi berbagi kamar hotel dengan saya. Lumayan, bayarnya jadi dibagi dua. Dian namanya, mahasiswi sastra Inggris Universitas Brawijaya yang usianya terpaut jauh di bawah saya ini akhirnya berangkat bersama saya dari Surabaya.

Sampai di Ibukota saya dan Dian langsung menuju ke penginapan, sekedar menitip tas karena tak bisa early check-in. Tak berlama-lama, kami pun langsung menuju Senayan dengan mengendarai bus ringsek yang saya tak tahu pasti rutenya, asal kami sampai di depan Senayan itu sudah cukup.

Sesampainya di lokasi sudah terlihat beberapa orang yang mengantre di depan gate masuk. Wait.. ini baru jam 8 pagi, sementara gate kemungkinan baru dibuka antara pukul 5-6 sore. Saya pun menghubungi Upik, teman sesama OOR fans dari Samarinda. Rupanya ia tepat di sebelah saya duduk ketika saya menjawab teleponnya, hahaha.. Upik datang bersama teman-temannya, yang beberapa diantaranya hingga kini masih berhubungan dengan saya lewat Facebook.

Demi tetap waras dalam masa penantian lebih dari 10 jam, saya pun sudah menyiapkan bekal. Tiga tangkup sandwich roti gandum, satu snack bar dan beberapa botol air mineral berhasil membuat saya bertahan hidup selama seharian. Menjelang maghrib –untung saya lagi berhalangan- gate pun dibuka. Semua berlarian, termasuk saya dan Dian. Mencari posisi strategis, tak terlalu depan dan tak terlalu belakang, kami kembali menunggu hingga pukul tujuh.

Potongan tiket yang sejak setahun lalu tersimpan rapi di dompet hingga detik ini

Potongan tiket yang sejak setahun lalu tersimpan rapi di dompet hingga detik ini

Malam kian menggila, aroma keringat menguar, ratusan pasang kaki menghentak, melonjak, bergejolak. Meski liar tapi tetap aman. Meski tak saling kenal, tapi kami saling menjaga satu sama lain. Tak ada baku hantam meski suasana semakin memanas. Saya pun ikut larut di dalamnya, melompat dengan tangan terangkat, merangsek maju ketika pasukan lini depan mulai berguguran tak sanggup menahan gempuran. Dian.. ah, ia rupanya masih tertinggal di belakang, mungkin tak mampu mengikuti pergerakan saya yang cukup “agresif”.

Dari awal hingga akhir penonton turut bernyanyi mengikuti irama lagu. Semua berpadu menjadi satu. Ah, rasanya kalau mengingat malam itu saya jadi merinding. Masih terngiang di benak saya ketika Ryota mengumandangkan sebait lagu “Indonesia Raya” saat memperkenalkan diri. Kami pun turut bernyanyi mengiringinya. Dan.. lagi-lagi bisa ditebak.. “Siapa yang berani-beraninya naruh cabe di mata saya?” batin saya dengan mata berkaca-kaca. *cengeng*

Dua jam terasa berlalu begitu cepat. Rasanya tak ingin berakhir. Masih belum sepenuhnya sadar dari kegilaan ketika saya mendapat panggilan dari panitia untuk Meet n Greet di backstage. Saya pun menemui Metty, teman baru dari Samarinda yang juga mendapatkan kesempatan MnG. Bersama beberapa orang lainnya kami dipandu ke belakang panggung untuk bertemu dengan keempat personil OOR. Tapi tak banyak yang bisa kami lakukan selain menyapa, bersalaman dan berfoto 2 kali yang semuanya diambil oleh panitia. No autographs, no photos. Meet n Greet cap apa ini? Kok rasanya seperti handshake saja. Ah, sudahlah.. yang penting bisa bertemu dan menyapa meski hanya satu kalimat (padahal sudah menyiapkan apa saja yang akan saya katakan sejak jauh hari).

Sekitar pukul 11 malam saat saya dan Dian keluar dari Lapangan Parkir Senayan, menunggang taksi dengan baju dan rambut basah serta bau keringat. Rasanya hanya dalam waktu 2 jam bobot saya berkurang karena tak berhenti meloncat selama konser berlangsung.

><

Ajakan seorang kawan ini sangat susah untuk ditolak meski mata saya masih teramat berat untuk dibuka. Pagi-pagi sekali Metty mengirim pesan teks berisi pengumuman bahwa One Ok Rock menginap di hotel yang sama dengannya. Sungguh, ajakan yang luar biasa menggoda iman.

Tiba-tiba saja saya sudah keluar hotel, meninggalkan Dian yang rupanya lebih memilih beristirahat dan langsung pulang sore nanti. Saya berjalan mencari bus ringsek seperti kemarin untuk menuju Senayan. Tapi rupanya bus itu tak muncul juga setelah cukup lama menunggu. Pilihan pun jatuh pada tukang ojek yang mengantarkan saya tepat di depan hotel.

Oke.. harus saya akui, ini adalah hal tergila yang pernah saya lakukan demi idola, selain mengirim fan letter Rp 107.600 yang entah sampai ke tangan mereka atau hanya menumpuk di po box. Jam 8 pagi saya, Metty dan Wira (teman baru dari Jakarta yang saya ajak ke Meet n Greet meski akhirnya tidak jadi) sudah duduk manis di lobi hotel, tepat di depan lift.

Tak sempat sarapan -bahkan membeli air minum saja lupa- saya menunggu berjam-jam untuk bisa bertemu dengan mereka. Jam makan siang pun datang, tapi saya tetap tidak beranjak dari kursi di depan lift, menanti hal yang tidak pasti. Ah, tapi ini kan jam makan siang, masa’ iya mereka nggak turun, emang nggak laper? Kan bisa aja makanannya dianter ke kamar. Tapi masa’ nggak pengen keliling-keliling bentar, liat bantaran sungai Ciliwung mungkin, atau liat rusa di Monas.

Tebakan Metty rupanya benar! Sekitar pukul setengah satu, dari dalam lift tiba-tiba muncul sesosok pria kurus tinggi berambut pirang. Kami bertiga saling menyenggol lengan dan melempar pandang. Bingung, grogi, takut. Saya yang biasanya cuek tak punya malu pun kini jadi ciut. Groginya ngalahin ketemu pacar. Serius!!

Akhirnya kami pun memberanikan diri, perlahan berjalan mendekati laki-laki jangkung itu. Metty mencoba membuka percakapan dengan fotografer mereka. Ia pun dengan ramah mengijinkan kami bersalaman dan berfoto, bahkan ia yang mengambilkan foto kami bertiga dengan Toru. Ya, Toru, punggawa gitar yang tingginya di atas rata-rata kami hingga ia harus sedikit membungkuk ketika berfoto bersama kami. Jujur, saya tidak mengidolakan Toru, meski sebagian besar wanita menggemari sosoknya yang loveable sekali itu. Tapi saya masih ingat bagaimana gemetarnya tangan saya saat itu. Haha.. I know, it sounds cheesy..😆

Sementara saya sudah bisa menguasai diri kembali, tiba-tiba muncul target berikutnya. Kali ini saya yang mencoba mendekati pria bersandal jepit itu. Dengan suara sedikit lirih saya berbicara padanya dengan bahasa Jepang seadanya, sembari tangan saya menunjukkan kamera. Ia pun mengangguk meski dengan wajah yang tak begitu segar. Ah, mungkin masih lelah karena habis-habisan semalam. Tomoya, penggebuk drum dengan energi luar biasa yang suka bakmi dan sandal swallow.

Dua target sudah kena, tersisa dua lagi. Kami bertiga masih bertahan di kursi depan lift, menanti buruan selanjutnya turun. Sedikit khawatir dengan waktu yang terus berjalan, mengingat saya harus sampai di bandara sebelum jam 8 malam, sementara saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Masih lama? Tidak kalau kau berada di Ibukota dengan setiap ruas jalan yang menjanjikan kemacetan.

Satu pasukan gugur. Metty terpaksa meninggalkan hotel karena harus ke tempat lain. Kini hanya tersisa saya, Wira dan beberapa gadis lain yang juga menunggu tak jauh dari tempat kami. Oh, yeah.. saya bersaing dengan gadis-gadis ABG yang selisih umurnya mungkin lebih dari 6 tahun dengan saya..😆

Setengah empat lebih.. Setelah sempat skeptis, keajaiban itu terjadi juga. Seorang pria bertopi dan mengenakan kacamata hitam keluar dari pintu lift. Saya dan Wira berpandangan, kami bangkit dari duduk dan terpaku di tempat. Pria itu terlihat menuju ke lobi, sepertinya akan check-out, melihat ia menenteng koper dan memanggul ransel. Selesai dari lobi ia berbincang dengan seseorang. Saya pun mengkode Wira yang tanpa pikir panjang langsung mendatanginya, meminta ijin untuk berfoto bersama.

Giliran saya yang pertama. Tak puas hanya dengan foto, saya pun memintanya menandatangani kaos yang saya kenakan. Balas dendam karena tak diijinkan di MnG semalam. Selebihnya saya hanya sanggup bertanya apakah ia pulang hari ini. Oh, ke mana rangkaian kata yang sudah saya siapkan sebelumnya? Grogi! Ya, saya grogi lagi. Hanya bisa memandangnya saat membubuhkan tanda tangan pada secarik kertas pesanan Metty. Ah, tingginya tak berbeda jauh denganku, mungkin hanya terpaut 10cm.

Taka One Ok Rock autograph

Taka One Ok Rock autograph

Yup, he’s Taka. Saya kehabisan kata untuk menggambarkan sosok ini, haha.. Yang jelas dari keempat personil OOR, dialah yang paling menarik perhatian saya dengan gaya vokalnya yang khas dan energinya yang seolah tak pernah habis.

Saya pun melenggang pulang dengan senyum mengembang. Ah, wait.. How about Ryota?

Dengan sangat amat menyesal, saya merelakan kesempatan bertemu Ryota, bassist dengan perut sixpack yang hobi melet ini. Alasan utama tidak lain tidak bukan adalah, takut ketinggalan pesawat.

Keluar dari hotel pukul 4 sore, saya melanjutkan perjalanan ke Papaya, sekedar membeli onigiri, sakuramochi untuk bekal perjalanan dan senbei untuk oleh-oleh😆

Tepat seperti dugaan, perjalanan ke bandara diiringi macet yang cukup panjang, meski hati tetap riang karena membawa pulang segenggam kenangan. Terima kasih One Ok Rock, thank you for coming, hontou ni arigato!!! Matta ne!!

Thank you One Ok Rock!!

Thank you One Ok Rock!!

Hari ini ketika mengecek timeline Twitter, saya menyadari bahwa saya tidak sendiri. Tadinya saya pikir hanya saya dan Metty yang berlebihan karena memperingati “2013 Who Are You Who Are We Tour” yang jatuh tepat tanggal ini satu tahun lalu. Tapi ternyata teman-teman lain juga melakukan hal serupa. Kami berbagi cerita, foto dan kenangan lewat hashtag #1YearOneOkRockJKT dan #GagalMoveOn.

Tak hanya mention ke akun @ONEOKROCK_INDO, banyak juga yang rupanya menyeret akun Twitter @ONEOKROCK_Japan, sekedar mengingatkan bahwa tepat di hari ini satu tahun yang lalu One Ok Rock menggelar turnya di Indonesia.

Merinding.. entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan fenomena ini. Melihat bagaimana excitement yang bahkan setelah satu tahun berlalu masih belum luntur dari sanubari kami. Saya tak tahu apakah konser band-band lain juga memperlihatkan fenomena serupa. Baru pertama kali saya merasakan dan mengalami langsung hal seperti ini.

Rasanya kini saya tak hanya merindukan momen ketika menyaksikan Taka cs beraksi di atas panggung, saya juga merindukan teman-teman lain yang melewatkan Minggu malam bersama di Senayan, 24 November 2013.

OOR3

OOR1

PS: jangan tanya foto saya dengan Toru, Tomoya dan Taka. Sengaja saya simpan sendiri, agar tidak ada dengki dan iri hati di antara kita, sesama penggemar OOR😆

Aslinya saya malu, karena waktu itu saya buka jilbab selama 2 hari 1 malam, setelah 6 tahun sejak pake’ gak pernah lepas di depan publik. Laki-laki mesum aja gak sanggup bikin saya buka jilbab, cuma konser One Ok Rock yang bikin saya gila. Maafkan umatMu ini, ya Allah.. insha allah gak akan terulang lagi..🙂

4 responses to “A Dream Named One Ok Rock

  1. malves November 24, 2014 at 3:50 pm

    I like..endingnya,,,” aslinya aq malu buka jilbab 2 hari 1 mlm…Maafkan umatMU ini ya Alloh,,InsyaAlloh tak akan terulang lagi”… hehehe Keren pol

  2. malves November 25, 2014 at 8:28 am

    Aq yusuf…arek smp mel…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: