kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Secangkir Coklat, Sekeping Hati


img: theurbalist.com

Img: theurbalist.com

Gerimis masih mengguyur di luar, secangkir coklat di atas meja mulai dingin, tapi hati saya mulai menghangat, setelah sekian lama membeku terbawa masa lalu. Entah apa atau siapa yang berhasil menggoyahkan pertahanan hati saya, perempuan yang tak suka jatuh cinta.

Membaca tulisan saya ini beberapa teman mungkin akan mengadakan selamatan tujuh hati hari tujuh malam. Meski belum menemukan pasangan dan berniat ke pelaminan, setidaknya saya mulai membuka hati. Bagi mereka yang mengenal baik saya, alasan itu sudah cukup untuk memberikan ucapan selamat. Ya, saya yang selama ini tak tertarik dengan ikatan pernikahan, yang beranggapan jika cinta hanya membuang waktu, yang tak akan pernah bisa memahami laki-laki. Oh, bukan, saya bukan penyuka sesama jenis, meski untuk membuktikannya pun rasanya sesulit menghilangkan selulit. Saya masih wanita tulen yang 100% menyukai laki-laki, hanya saja untuk menjalin hubungan apalagi sampai menuju pelaminan, saya masih enggan.

Sedari kecil saya sudah terbiasa sendiri, Ayah yang bekerja di luar kota setelah berpisah dengan Ibu mengharuskan saya tinggal dengan Kakek dan Nenek, bahkan hingga usia menginjak kepala 3 tahun depan pun saya masih belum beranjak dari rumah tua ini. Saya anak semata wayang, tak punya saudara kandung, tapi beruntung memiliki teman masa kecil yang rumahnya hanya sejengkal dari rumah saya. Masa kecil saya tak pernah sepi, meski kadang di malam hari sebelum tidur saya suka memanggil-manggil “Ayah” sambil memeluk boneka Hello Kitty pemberian beliau.

Beranjak remaja sepeninggal almarhum Mbah Kung, saya semakin sering mengambil raport sendiri, bahkan pernah seorang teman menawarkan orangtuanya untuk mengambilkan milik saya. Saya memang sendiri, tapi tak pernah merasa sepi. Ada banyak teman, ada banyak kegiatan untuk dilakukan.

Kini, di penghujung usia 29 tahun, saya masih sendiri, sementara teman-teman yang berstatus “perawan” mungkin bisa dihitung dengan jari tangan. Mengerjakan apapun sendiri, ke mana-mana sendiri, traveling sendiri. Tak jadi soal, karena sendiri adalah pilihan saya, meski saya juga suka bersama dengan orang lain. Tiap kali ditanya “kapan nikah?” saya tak pernah resah atau naik darah. Bagaimana mau resah, kalau memikirkannya saja saya tak pernah.

Jika bagi sebagian orang cinta itu menyenangkan, maka bagi saya cinta itu melelahkan. Setiap hari, setiap menit, setiap detik, yang melintas di pikiran hanya dia, dia dan dia. Bagi saya ini sudah dalam taraf mengganggu. Itulah kenapa saya tak suka jatuh cinta.

Hingga beberapa waktu terakhir saya mulai merasa ada sesuatu yang aneh, tak biasa. Hati saya terasa hangat, seperti secangkir coklat yang belakangan menjadi favorit saya. Memang, hanya Tuhan yang mampu membolak-balikkan hati seseorang. Tapi rupanya saya masih menyimpan sebongkah keangkuhan, bahwa saya tak akan menyerah dan kalah. Setiap kali rasa itu menyergap, saya berusaha mengelak dan mengalihkannya dengan segala daya.

Tak ada yang tahu ke mana semua ini akan bermuara, karena coklat hangat sekalipun bisa menjadi dingin pada akhirnya.

Dan secangkir coklat dingin di meja kini telah tandas.

2 responses to “Secangkir Coklat, Sekeping Hati

  1. Dita Purwitasari December 30, 2014 at 2:09 am

    Mbrebes mili moco iki.. :’)
    Cemungudh meeeel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: