kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Penjahit “MULIA”


Papan nama usang yang mungkin akan berpindah ke dinding kamar

Papan nama usang yang mungkin akan berpindah ke dinding kamar

Sosoknya memang tak setampan dan segagah Topan di “Tampan Tailor”, tapi hadirnya membuat masa kecil saya penuh warna. Dari tangan beliaulah lembaran kain diubah menjadi seragam sekolah hingga busana muslim. Perkenalkan, Mbah Kasno, lelaki yang menjabat sebagai penjahit “MULIA” hingga akhir hayatnya.

Tak terbersit sedikit pun rencana untuk menulis malam ini, karena ada agenda lain yang lebih darurat. Saya kehabisan celana panjang bersih yang layak pakai!

Semua celana yang biasa saya kenakan sudah menumpuk di keranjang pakaian kotor atau tergantung di bilah-bilah bambu dekat jemuran, menanti untuk dicuci. Sementara beberapa celana bersih yang tersisa di lemari ukurannya membuat saya mengurut perut dada, kalau tak kekecilan, ya kebesaran.

Aha! Masih ada celana panjang kotak-kotak (plaid) yang sempat dua kali saya kenakan waktu liburan ke Jogja beberapa hari lalu. Tak terlalu kotor kalau hanya dipakai untuk ngantor. Baju atasan sudah ganti yang bersih, kemeja longgar berwarna putih. Tangan saya pun meraih celana kotak-kotak di gantungan pintu kamar, membentangkannya lebar-lebar dan pandangan saya seketika menjadi nanar. Bagian pantat celana saya robek!!

Pikiran saya melayang kembali ke masa-masa indah di Jogja, yang mungkin saja ternodai dengan pemandangan celana robek. Duh, sejak kapan celana saya robek begini? Seingat saya waktu akan mengenakannya di hari terakhir masih utuh sempurna. Awas saja kalau teman-teman kantor ada yang menjadi saksi peristiwa nista ini tapi tak memberitahu saya!

Celana kotak-kotak ini baru saja saya pakai dua kali, bahkan saya pun belum sempat mencucinya. Dari penjahit langsung dipakai untuk liburan ke Jogja. Oh, rupanya bukan robek, tapi jahitannya lepas, sepertinya kurang kuat, atau mungkin kainnya yang kurang berkualitas? Ah, yang jelas saya tak akan lagi menjahitkan baju atau celana atau apapun di Bu M**

Akhirnya pilihan pun jatuh pada celana jeans putih yang kebesaran pemberian Bulek. Dipadu dengan atasan warna putih, saya rasanya seperti hendak menantang sparing Tae Kwon Do. Tak ada waktu untuk ganti baju atasan, sudah harus berangkat ke kantor meski saya tahu anak-anak lainnya tak akan ada yang sudi datang tepat waktu, apalagi sehabis pulang dari liburan jam 2 pagi.

Dua hari sudah celana putih kedodoran itu saya pakai, sampai harus menyematkan peniti di kedua sisi pinggangnya. Saatnya ganti celana, tapi celana siapa mana lagi? Dengan malas mata saya pun melirik jegging merah marun di tumpukan pakaian. Jegging ketat yang warna asalnya merah menyala lalu saya warnai dengan wantex hitam murahan, hingga hasilnya menjadi merah marun dengan beberapa noda hitam karena tak rata saat mencelupnya. Bukan persoalan warna yang mengganggu, hanya saja celana ini membungkus kaki saya dengan sangat ketat, hingga rasanya lutut saya sakit dan tak bisa bernapas. Saya juga malu sebenarnya kalau harus mengenakan celana terlampau ketat hingga lekukan kaki yang meski tak seseksi Taylor Swift ini sampai di mata para lelaki, entah yang hidungnya belang, monochrome atau HDR.

Tapi tak ada pilihan lagi yang tersisa. Saya pun mencari baju atasan yang cukup panjang untuk menutupi bagian pinggul sampai lutut. Masalah selesai, meski saya merasa seperti anak kecil yang datang ke undangan ulang tahun temannya dengan mengenakan rok mekrok. Lantas bagaimana dengan esok hari? Celana boleh sama, tapi saya tak mungkin mengenakan baju yang sama.

Rok "mekrok"

Rok “mekrok”

Dalam perjalanan pulang dari kantor saya tiba-tiba teringat dengan sisa kain batik yang masih belum saya eksekusi. Ditetapkanlah agenda menjahit baju malam ini. Sesampainya di rumah, setelah memberi makan kucing dan diri sendiri, saya mulai mengutak-atik sisa kain batik. Memang rencananya kain ini akan saya jadikan dress, meski ukurannya tak lebih dari setengah meter. Ya, disambung dengan atasan yang sudah tak terpakai, seperti baju yang saya kenakan tadi siang. Saya pun sebenarnya sudah menyiapkan atasan yang akan disambung dengan kain batik ini. Atasan u can see berwarna putih susu yang dijahit sendiri oleh Mbah Kasno alias almarhum Kakek saya, orang yang menjalankan usaha “Penjahit Mulia”.

Atasan ini usianya mungkin sudah lebih dari 17 tahun. Kalau tidak salah ingat dulu sewaktu masih SMP saya meminta Mbah kung menjahitnya untuk dalaman yang dikenakan bersama bolero. Beruntung, ukuran badan saya tidak begitu berubah, meski ukuran pinggang mulai melebar. Baju atasan ini masih terbilang cukup, walaupun bagian bawahnya sudah tidak lagi longgar. Saya berencana memotong bagian bawahnya beberapa senti lalu menyambungnya dengan kain batik sisa tadi.

Sisa batik dan baju kenangan

Sisa batik dan baju kenangan

Setelah mengukur bagian bawah baju yang harus dipotong, jemari saya menelusuri jahitan yang mengelilinginya. Saya selalu menyukai jahitan Mbah kung yang rapi dan teliti. Pakaian hasil jahitan beliau pun nyaman dikenakan. Dulu saya tak perlu repot mencari orang untuk menjahit baju-baju yang sering saya rancang sendiri. Mbah kung dengan senang hati akan menjahitkannya untuk saya.

Baju atasan ini akan terus melekat di tubuh saya kalau dimodifikasi menjadi baju terusan yang cantik. Tapi mungkin ini adalah baju jahitan Mbah kung terakhir yang saya punya. Yang lain sudah diberikan ke orang atau entah ke mana. Mengingat itu semua rasanya saya tak sampai hati kalau harus merusaknya, memotong sebagian, membongkar jahitannya dan menyambungkannya dengan kain baru. Baju putih ini rasanya seperti membawa saya ke masa-masa bersama Mbah kung. Biarlah saya nikmati sendiri kenangannya tanpa harus sedikitpun mengubah bentuknya.

Saya baru menyadari betapa kehilangannya saya akan sosok Mbah kung sepeninggal beliau pergi. Semasa kecil hingga memasuki sekolah menengah pertama, saya memang lebih dekat dengan Mbah kung daripada Mbah putri. Akung -panggilan saya untuk Mbah kung- seolah memiliki magnet yang selalu berhasil membuat saya tertarik. Menjahit, menyulam, menggambar, melukis, membuat kerajinan, sampai menghias kue tart, banyak hal menarik yang beliau kerjakan semasa hidupnya. Mbah kung lah yang menjadi guru otak kanan saya. Ah, tiba-tiba saya merindukan beliau. Rindu yang hanya bisa tersampaikan lewat lantunan doa.

Penjahit “MULIA”, begitu tulisan yang tertera di atas papan nama yang terbuat dari plat seng seadanya. Entah adakah makna khusus dari pemilihan nama ini. Mungkinkah “MULIA” adalah plesetan dari nama saya, Melia? *GeeR*

Satu yang pasti, beliau akan tetap “mulia” di hati saya, sosok yang mengajarkan begitu banyak hal hingga akhir napasnya. Sayang, saya masih belum berkesempatan membalas semua yang telah beliau hadiahkan pada saya.

Saya pun melipat kembali baju atasan putih susu hasil jahitan Mbah kung, sambil sesekali menyeka sudut mata yang mulai basah. Biarlah baju ini tetap tersimpan di lemari, seperti foto Mbah kung yang tetap tersemat di memo board.

Agenda malam ini tak berjalan sesuai rencana. Saya masih harus memilih baju atasan lain untuk disambungkan dengan sisa kain batik, atau mungkin membuatnya saja dari kain putih yang sempat saya beli dua tahun lalu dan belum terpakai hingga saat ini. Hmm.. pilihan terakhir sepertinya akan memakan waktu lebih, mengingat saya hanya menjahit dengan tangan karena mesin jahit peninggalan Mbah kung sudah rusak sejak lama.

Berawal dari celana robek, berakhir sampai kiriman doa untuk Mbah kung. Kalau celana saya tak robek, mungkin saya tak akan mengutak-atik baju putih susu jahitan Mbah kung, mengurai rindu hingga melantunkan doa untuk beliau. Ah, hidup memang random😆

Mbah Kung dalam memo board

Mbah Kung dalam memo board

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: