kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

*Dolanan [Random #1]


2 (2)

Jejess.. jejess.. sesekali bunyi itu terdengar, samar-samar, bersaing dengan suara musik yang mengalun dari speaker di dalam ruang. Petak-petak sawah dan ladang bergantian mengisi pemandangan dari balik bingkai jendela. 12 jam lebih, tak ada yang bisa mengalahkan semua nikmat itu, tidak dengan 2 jam perjalanan udara yang sekilas dengan awan berhias. Ia tetap memilih duduk di dalam gerbong. “Lama tak melihat sawah”, alasannya.

Beragam kendaraan umum berjajar di depan stasiun, menjemput rejeki yang akhir-akhir ini jarang menghampiri, bersaing dengan kendaraan pribadi yang semakin mudah dibeli dengan uang muka ratusan ribu dan cicilan bertahun-tahun. Ia pun menyeleksi kendaraan yang akan mengantarnya sampai tujuan. Pilihan pun dijatuhkan.

1Kalem mawon Mbah..” ujarnya sesaat sebelum pria renta di balik kemudi itu mulai mengayuh kendaraan roda tiganya.

Perlahan keduanya mulai memasuki jalanan kecil, diapit hamparan ladang dan sawah yang menguning. Matahari mulai bersinar hangat, mengusir kabut di sepanjang pandangan yang membuat jalan seolah tak berujung. Tiba-tiba ia memekik pelan dan turun dari kursi tumpangan. Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan selembar 50 puluh ribu dari dompet dan menyerahkannya pada pria tua di balik kemudi.

Belum ada separuh perjalanan, bahkan rasanya baru satu dua kayuhan. Tapi ia tetap turun, tanpa memotong ongkos sepeser pun, malah melebihkannya. Melihat jalan lurus yang terhampar di depannya, tiba-tiba saja ia ingin berlari. Entah kapan terakhir kali melakukannya.

Ransel di punggungnya bergoncang, napasnya naik turun, sesekali ia tampak berhenti, tapi tak lama. Ia kembali berlari, dengan dada bidang dan senyum terkembang. “Perasan ini.. tak ada yang bisa menggantikan, persetan dengan bonus tahunan atau promosi jabatan.”

Jalan yang tadinya tampak tak berujung kini bercabang. Ia tahu ke mana arah yang harus ditempuhnya, tapi ia mengambil arah sebaliknya. Ada sebuah tempat yang ingin dilihatnya. Kini ia hanya berjalan pelan, sungguh pelan, seolah menyimpan keraguan. Tapi ia tetap melangkah, berbekal sejumput harapan.

“Fiuuhh..” helanya sambil menjatuhkan diri ke tanah. Dalam hati ia bersyukur, tempat ini tak disulap menjadi ruko atau perumahan.

Dari kejauhan tampak segerombol anak berseragam sekolah. Melongok jam tangannya, ia pun tampak kebigungan. Memang, bukan jam normal pulang sekolah. Anak-anak dengan baju merah putih itu mulai mendekat ke arahnya. Ia pun berdiri.

“Loh, nggak sekolah, le?”

2Moleh isuk, Mas. Gurune rapat,” sahut salah seorang anak laki-laki bertubuh kurus.

Ah, rupanya tren pulang pagi karena guru rapat masih belum berakhir.

“Eh, maen, yok!” ajaknya tiba-tiba.

Maen? Maen opo, Mas?” tanya si kurus.

“Mmm.. main bola! 3Bal-bal’an!”

Si kurus dan ketiga orang temannya saling berpandangan.

4Yo wes, tapi tak omong Ibu dhisik yo, Mas,” ujar si kurus.

5Ok.. tak enteni di kene, yo!”

Tak berapa lama keempat anak itu muncul, tapi pria yang menjanjikannya bermain bola tak ada di tempat. Mereka lalu mengambil duduk di dekat poskamling kosong.

Sambil membawa sebuah bola plastik ia tampak berlari kecil menghampiri empat anak yang sudah menunggunya.

6Wes suwe? Aku maeng golek bal sek,” tanyanya sambil mengatur napas.

“Wah.. telat, Mas. 7Lha iki wes podo maen.”

Ia tampak heran, pandangannya mencari-cari sesuatu. Tak ada bola yang mereka rebutkan. Hanya sebuah perangkat di genggaman yang tampak asyik dimainkan.

Maen opo?”

Maen bal-bal’an to? Lha iki,” ujar si kurus sambil menunjukkan sebuah ponsel pintar di genggamannya.

“Gol!!!” teriak salah satu anak berambut ikal.

“Wah.. aku kegol’an iki! 8Sampean sih, Mas, ngejak omong.”

9Yo wes, aku tak leren, wes menang. Sampean ngganteni aku yo, Mas,” kata si ikal tiba-tiba.

Ia hanya terpaku melihat keempat anak di depannya.

“Mas, ayo! 10Sampean duwe hape ora? Lek ora iki tak silihi.”

Matanya bergantian memandang keempat anak di depannya, sebuah bola plastik di genggamannya dan sepetak lapangan berdebu di seberangnya. Angannya kembali pada puluhan tahun silam, kala ia dan teman-teman masa kecilnya bertelanjang dada menggocek bola di atas lapangan, mengadu layang-layang sampai rambut merah terbakar, bermain gundu dan pulang membawa seplastik kemenangan.

Dolanan” mengawali rangkaian tulisan “Nulis Random 2015” yang dimulai 1 Juni dan berakhir 30 Juni. Tulisan ini hanyalah fiksi, yang semoga tidak benar-benar terjadi di kemudian hari..🙂


*Mainan

1Pelan-pelan saja

2Pulang pagi

3Sepak bola

4Ya, tapi bilang Ibu dulu

5Aku tunggu di sini

6Sudah lama? Aku tadi cari bola dulu

7Ini udah pada main

8Mas sih, ngajak bicara

9Ya sudah, aku berhenti, sudah menang. Mas nggantikan aku, ya

10Mas punya hp nggak? Kalo nggak ini aku pinjami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: