kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Mesin Waktu [Random #4]


to be continue 3

Ssttt.. Saya punya rahasia. Tapi jangan bilang siapa-siapa. Ada mesin waktu yang bisa membawamu kembali ke masa lalu. Tak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk memilikinya, ukurannya pun tak sebesar kepalamu, bisa digenggam dan muat di saku.

Di kalangan penggiat analog benda ini disebut toy camera. Tapi bagi saya ini lebih dari sekedar kamera, apalagi mainan, atau keduanya, kamera mainan. Ini adalah mesin waktu yang bisa membawa saya terbang belasan tahun ke belakang.

Membidik obyek foto melalui jendelanya yang mungil, memutar kokang ke arah kanan sampai mentok dan mendengar shutter yang berbunyi keras ketika ditekan. Sekedar melakukan tiga hal ini saja, saya bisa merasa kembali mengingat dan mengalami banyak hal di masa lalu.

Pergi ke studio foto, meminang roll film 33mm isi 36, atau kalau sedang tak banyak uang cukup beli yang isi 24. Pilihan ASA hampir selalu 200. Merk? Ini juga tergantung kondisi dompet, kalau sedang tebal Fuji selalu jadi pilihan utama, disusul Kodak di peringkat kedua, meski lebih sering yang pertama. Kalau dompet tipis cukup Konica saja, meski bagi saya hasilnya kurang menggetarkan dada. Sementara kalau benar-benar miskin sampai harus mengorek celengan, terpaksa pilihan jatuh ke Lucky, yang sayangnya hasilnya tidak sehoki namanya.

Tak percaya dengan diri sendiri, pemasangan roll film pun diserahkan pada Mbak-mbak atau Mas-mas penjaga studio. Entah sudah menjadi SOP atau bagaimana, film pertama selalu memakan korban si pembeli. Selesai dipasang ke kamera –atau orang dulu menyebutnya ‘tustel’-, roll film dicoba dulu agar tahu apakah sudah terpasang dengan benar. Dan jepretan pertama pun menjadikan pembeli sebagai obyek foto. Hingga kini saya masih menyimpan salah satu foto percobaan itu.

Kamera siap digunakan. Eits.. jangan sembarangan jepret sana jepret sini. Ini saatnya mempraktekkan pelajaran berhitung. Gunakan hanya pada momen terbaik dan cukup satu kali jepret. Ingat, satu foto itu berharga, coba saja bagi harga 1 roll film dengan isinya. Misal roll film isi 36 (plus bonus 2) seharga 18.000, berarti 1 foto harganya Rp 473,-. Itu belum termasuk biaya cuci cetak.

Entah benar atau tidak, saya selalu mendapat wejangan agar tak mengambil foto menghadap sinar matahari langsung. Jika melanggar, siap-siap foto terbakar.

Setiap kali selesai mengambil foto, hal pertama yang dilakukan adalah memeriksa angka di bagian atas kamera untuk mengetahui berapa film yang tersisa. Setelah angka berhenti di 36, masih ada 2 bonus tambahan yang bisa digunakan. Ya, mari berhitung!

Menunggu adalah hal yang paling membosankan? Salah! Menunggu adalah hal yang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Roll film habis, saya pun bersorak. Mendengarkan suara roll film yang digulung selalu menyenangkan buat saya. Mungkin ini adalah momen menunggu yang paling menyenangkan, selalu antusias. Ada harap, ada cemas. Semoga hasilnya bagus, atau kalau ada yang terbakar setidaknya bukan foto gebetan.

“Cuci saja atau cuci cetak?” tanya Mbak penjaga studio. Periksa isi dompet. Ah, masih banyak. “Cuci cetak, Mbak!”

Sementara kalau dompet sedang kering-keringnya, cukup cuci saja. Negatif jadi, intip di bawah lampu, pilih foto-foto yang ada gebetan sekiranya bagus saja untuk dicetak. Sisanya? Tunggu kalau ada uang lagi.

Mengingat itu semua senyum saya mengembang setiap kali selesai menekan shutter. Ah, masa-masa remaja yang menyenangkan.

Saya pertama kali berkenalan dengan kamera ketika duduk di sekolah dasar. Kala itu Om saya cukup sering membeli roll film untuk kameranya. Bukan kamera bagus, hanya kamera dengan bodi plastik, tapi sudah disertai baterai, jadi tak perlu memutar kokang setiap habis memotret, menggulung film pun cukup dengan menekan tombol saja, tidak harus memutar tuas rewind searah jarum jam.

Saya masih ingat foto pertama yang saya ambil, pohon cemara mini dalam pot putih yang ujung daunnya saya hias dengan buah merah kecil-kecil yang biasa digunakan untuk bermain masak-masakan. Sejak saat itu saya pun mulai gemar memotret, meski hanya pinjam milik Om dan masih belum punya kamera sendiri. Setiap momen penting tak luput dari bidikan kamera, mulai dari rekreasi perpisahan kelas 6 SD, rekreasi kelas 2-3 SMP, ujian praktek kelulusan SMP, pensi SMA, sampai wisuda SMA. Semua diabadikan lewat kamera analog berbodi plastik yang masih saja barang pinjaman.

Belasan tahun berlalu, saya mulai memiliki kamera baru, meski hanya sebatas kamera saku. Berbeda dengan kamera analog yang mengandalkan roll film, kamera digital tentu banyak memberikan kemudahan. Tak perlu menghitung berapa film yang tersisa, memotretlah sesuka hati, berkali-kali. Tak usah mengeluarkan biaya tambahan untuk cuci cetak, semua disimpan dalam format digital yang bisa dilihat kapanpun.

Sampai di satu waktu tiba-tiba saya merasa membutuhkan bantuan kamera yang lain. Saya ingin memotret awan di dalam pesawat. Ah, ya, saya tahu, cukup gunakan kamera saku atau kamera ponsel. Tapi saya tak sampai hati untuk mengaktifkan keduanya ketika berada di udara, bahkan saat penumpang di sebelah saya dengan santainya mengaktifkan smartphone ketika landing dan take-off atau berselfie ria dengan latar awan di belakangnya.

Regulasi mengenai penggunaan kamera digital di atas pesawat pun bagi saya masih belum terlalu jelas. Entah apa kamera digital termasuk dalam perangkat elektronik yang dilarang penggunannya ketika pesawat mengudara, terutama saat take-off dan landing. Saya tak mau ambil resiko. Beruntung, karena akhirnya saya pun menambatkan hati pada kamera ‘mainan’ ini. Aquapix, waterproof 35mm camera yang saya beli seharga 60 ribu di salah satu e-commerce terkemuka.

Sudah 2 roll film saya habiskan dengan kamera ini. Satu roll berisi foto-foto random yang saya ambil seenak hati, satu roll lagi menemani perjalanan ke Penang baru-baru ini. Hingga kini saya masih belum melihat hasil foto keduanya. Di Malang sudah tak ada studio yang mau berurusan dengan roll film. Layanan cuci scan roll film yang ada tak dibuka sewaktu-waktu, karena kalau tidak salah teman-teman “Dari Masa Lalu” masih harus menyerahkan roll ‘drop box’ ke lab di Surabaya. Lusa saya akan menitipkan salah satu roll pada mereka dan menanti hasilnya dengan berbunga-bunga.

Ah, menunggu selalu menyenangkan. Meski masih ada harap dan cemas seperti belasan tahun lalu. Kamu yang pernah mengalaminya pasti tahu..🙂

1 (2)

2 responses to “Mesin Waktu [Random #4]

  1. naomi June 6, 2015 at 3:35 am

    😄 jadi inget kamera jadoelku dulu,tak carie sapa tau msh ada 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: