kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Pasar Malam [Random #10]


pasar malam2

Ketika suatu malam kau melihat sorot lampu berwarna putih semacam senter raksasa di langit, jangan takut, itu bukan UFO. Cari tahu sumber cahayanya, datangi tempatnya. Maka akan kau temui sebuah tempat yang jauh lebih asyik dari pemandangan di layar televisimu. Selamat datang di Pasar Malam-begitulah kami menyebutnya-.

Entah sejak kapan konsep pasar malam seperti ini mulai ada. Serombongan orang dengan beragam permainan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mengatur jadwal dan membuka pasar hingga beberapa hari, biasanya satu minggu lamanya. Sejak kecil hingga sekarang pasar malam di tempat tinggal saya selalu digelar di lokasi yang sama, lapangan kompleks TNI AU. Mungkin sudah terikat kontrak seumur hidup.:mrgreen:

Tak terlalu berbeda dengan konsep night market di luar negeri, pasar malam ini juga menawarkan banyak hal, mulai dari mainan, makanan, sampai pakaian. Tapi mainan yang ditawarkan bukan sekedar mobil-mobilan atau masak-masakan. Sebut saja komedi putar, kora-kora mini, kereta kelinci, ferris wheel atau bianglala, bahkan sampai atraksi maut seperti “tong setan” pun sempat dipertunjukkan, meski kini sudah tidak bisa lagi ditemui. Ya, mirip lah dengan wahana yang biasa ditemui di amusement park, tapi yang ini versi lebih merakyat.

Makanan dan jajanan pun banyak ragamnya. Entah dengan daerah lain, tapi di tempat saya ada 3 makanan yang hampir tak pernah absen; martabak, gorengan dan tahu petis. Bahkan seringkali lokasi berjualannya pun sama, di dekat pintu masuk. Sementara untuk lapak pakaian biasanya terletak di deretan tengah atau paling ujung belakang.

Bulan Februari lalu daerah saya kembali mendapat “kunjungan” pasar malam. Rasanya setiap tahun pasar ini tak pernah absen menghibur penggemarnya, termasuk saya. Beberapa tahun terakhir saya memang kembali rajin berkunjung ke pasar malam, kadang di lapangan kompleks, pernah juga mendatangi lokasi di depan pasar yang berjarak sekitar 1,5km dari rumah.

Bersama tetangga sebelah rumah, saya berjalan beberapa puluh meter menuju lokasi. Kami berdua sama-sama penggemar pasar malam, tapi kalau saya menyukai suasana dan permainannya, maka ia lebih mengincar jajanannya. Agenda wajib di pasar malam bagi saya adalah “dremulen” atau ferris wheel. Untuk menaikinya cukup merogoh kocek Rp 6 ribu-kalau tak salah ingat-. Tapi tak seperti biasanya, putaran dremulen kala itu terasa lebih cepat, bahkan berhasil membuat saya sedikit kliyengan. Teman saya yang menyaksikan dari bawah pun hanya tertawa, apalagi ketika melihat saya yang mulai protes karena dremulen tak kunjung berhenti meski sudah cukup lama berputar. Sebenarnya ia mau saja ikut naik saya kalau putarannya tak terlalu cepat seperti itu.

Sedikit kliyengan

Sedikit kliyengan

Selesai dengan dremulen, kami pun kembali berburu jajanan. Oh ya, saya memang hanya naik satu permainan saja, karena permainan lain rasanya cukup memalukan untuk usia saya, kecuali kora-kora. Di pasar malam kali ini saya merasakan atmosfer yang sedikit berbeda. Jajanan yang dijual sudah tak seperti beberapa tahun lalu. Tak ada lagi martabak, gorengan dan tahu petis yang menjadi andalan. Bahkan kini pilihan makanan pun lebih modern, seperti salad buah, kentang ulir, jagung manis dengan beragam topping seperti susu dan keju. Yang terasa masih tradisional mungkin hanya cilok, kacang rebus dan lupis. Ah, ada juga jajanan pendatang yang sebelumnya tak pernah muncul di pasar malam daerah saya, kerak telor! Saya pun mencoba membelinya, sekedar penasaran seperti apa rasanya. Eerr… seperti makan lemper isi abon tapi dengan beras yang tidak terlalu matang. Puas mengisi perut kami pun pulang dengan membawa buah tangan. Berjalan menyusuri rumah-rumah tetangga RT sebelah yang dulu selalu kami lewati ketika berangkat dan pulang sekolah.

Ah, semakin bertambah usia, rasanya semakin ingin mengenang masa-masa dulu. Pasar malam menjadi bagian dari kenangan masa kecil saya. Dulu saya biasa mengunjunginya dengan Kakek atau hanya bersama teman sebelah rumah. Kini ketika beranjak dewasa, saya kembali menyeret teman masa kecil yang rumahnya juga masih bersebelahan, atau kadang mengajak serta saudara sepupu yang usianya jauh di bawah saya.

Meski berkali-kali dikunjungi, bagi saya pasar malam tak pernah terasa membosankan. Bahkan kalau disuruh memilih antara BNS (Batu Night Spectacular) atau pasar malam, saya akan lebih memilih pasar malam. Alasannya sederhana, selain karena memiliki kenangan tersendiri, di mata saya pasar malam juga lebih dari sekedar tempat berjualan atau sarana hiburan. Saya melihat geliat kehidupan yang lebih nyata di tempat ini, mereka yang berjuang mengumpulkan rupiah untuk menyambung hidup; Nenek penjual kacang rebus, Bapak penjaja kue lupis, tetangga satu RT dengan dagangan cilok di belakang sepedanya. Saya merasa lebih memiliki kedekatan dengan tempat ini dibanding BNS atau Jatim Park. Ya, saya menyukai pasar malam dengan segala kesederhaannya.

Kalau kamu, pernah ke pasar malam?

jajan2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: