kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Kesemek [Random #13]


Persimmon

Sebagian ‘bedak’ tetep nempel meski sudah dicuci

Kulitnya yang berwarna oranye terang memang menggoda, tapi ia masih harus berdandan dulu agar bisa dinikmati. Sayang, baluran bedak putih di seluruh tubuhnya justru membuatnya kalah bersaing dengan yang lain. Kalah pamor di pasar lokal, ia pun menjajakan diri ke negara lain. Kenalkan, namanya kesemek.

Tinggal di Indonesia mungkin menjadi ujian yang cukup berat dengan segala permasalahan yang ada, tapi saya bersyukur hidup di negara yang penuh dengan musim ini, bukan hanya empat musim seperti yang dibangga-banggakan oleh bangsa Jepang. Selain musim kemarau dan hujan, kami masih punya banyak musim yang menyenangkan; musim layangan, musim durian, musim rambutan, musim cabe-cabean mangga, musim kelengkeng, musim duku dan banyak lagi musim buah-buahan tropis yang eksotis.

Durian sudah menghilang dari peredaran, berganti dengan duku dan langsep yang masih banyak dijajakan di pinggir jalan. Mungkin sebentar lagi jambu air akan memenuhi bedak-bedak buah di pasar. Abaikan jeruk dan apel yang bisa kau temui setiap hari tanpa mengenal musim. Diantara dominasi duku dan langsep, rupanya si oranye berbedak putih ini tampil malu-malu. Tak banyak memang yang sudi menjajakannya, mungkin karena hanya sedikit yang meliriknya.

Kesemek, atau persimmon kalau orang luar sana bilang. Dulu sewaktu kecil saya sempat mencicipi buah ini beberapa kali, tapi memang tidak sering. Biasanya Ayah atau Mbah Kung yang membelinya. Setelah beranjak dewasa, saya pun sempat mencicipinya kembali, meski mungkin hanya sekali.

Tahun lalu ketika melewati pasar, selama beberapa waktu buah ini terlihat dipajang di atas keranjang, mencoba menarik pembeli dengan bedaknya yang tebal. Saya pun sempat tergoda untuk membelinya, bahkan sudah menelusuri resep kue berbahan kesemek, tapi entah kenapa selalu urung.

Waktu berjalan dan saya mulai lupa akan rasanya, hanya teringat samar-samar. Ah, ini pertanda saya harus kembali mengenalkannya pada indera perasa. Beberapa hari ini di pasar sudah mulai terlihat pedagang kesemek.

Setelah menunda beberapa hari, sore ini akhirnya saya benar-benar membawa pulang satu kresek kesemek. Sayang, buahnya tak semua berwarna oranye dan tampak sudah mulai layu. Sebenarnya ada juga beberapa pedagang yang menjualnya, tapi saya tak sampai hati berpindah ke lapak yang lain. Si Mbah terlihat sudah berharap ada yang mau membeli kesemeknya. Sekantong kesemek pun berpindah tangan dengan mahar 6 ribu.

Sesampainya di rumah rasanya sudah tak sabar mencicipi buah genit ini, seperti anak kecil yang tak sabar mencoba sepatu barunya. Ketika kresek dibuka, samar-samar bau wangi tercium. Bermaksud menghilangkan bedak tebalnya, saya pun mencuci ke-13 kesemek (1 kg dapat 10 buah, diberi bonus si Mbah 3 buah). Tapi bedak tidak bisa hilang sepenuhnya.

Gigitan pertama, rasanya seperti… pepaya mengkal yang sedikit manis. Ah, jadi begini rasanya. Ya, saya ingat sekarang!:mrgreen:

Persi flesh

Buah kesemek sebenarnya berasal dari Tiongkok, lalu dibawa ke Jepang dan dibudidayakan di sana. Kemudian buah ini menyebar ke negara Asia lain, Eropa dan juga Amerika (Wikipedia). Dari segi rasa buah kesemek dibagi menjadi 2 jenis, astringent (sepat) dan non astringent (tidak sepat). Di Indonesia sendiri budidaya kesemek yang paling banyak adalah jenis astringent, sehingga harus diperam dengan air kapur terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa sepatnya, itulah kenapa ia selalu tampil dengan bubuk putih menyerupai bedak.

Di pasar domestik pamor kesemek kalah dengan buah lain yang lebih populer. Mungkin karena penampilanya yang terlalu genit dengan bedak putih yang tidak menarik. Peminat kesemek dari tahun ke tahun sepertinya semakin menurun, meski beberapa waktu terakhir sejumlah pihak mulai menggalakkan kembali budidaya dan pemanfaatan buah ini, seperti diolah menjadi dodol atau selai. Dengar-dengar sebagian besar hasil panen kesemek (terutama jenis non astringent yang dibudidayakan di Batu, Malang) diimpor ke negara lain, seperti Singapura.

Kini tak semua orang tahu tentangnya. Mungkin yang mengenalnya hanya mereka yang lahir di bawah tahun 2000an. Ah, mendengar kisah si kesemek ini saya mengurut dada. Saya seolah bisa merasakan kesedihannya karena tak lagi diminati. Bagaimana nasibnya ke depan? Apakah ia akan menghilang perlahan-lahan? Semoga saja ia bisa bertahan.

yang sudah mandi dan yang belum mandi

yang sudah mandi dan yang belum mandi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: