kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Sawah dan Ladang [Random #17]


Beberapa tahun lagi mungkin lahan sawah ini akan berubah menjadi perumahan seperti di sebelahnya. [dok. pribadi]

Beberapa tahun lagi mungkin lahan sawah ini akan berubah menjadi perumahan seperti di sebelahnya. [dok. pribadi]

Petak-petak sawah mulai berganti rupa menjadi perumahan hingga penginapan. Ladang yang tak tergarap mulai berpindah tangan ke pemodal besar, menanti dieksekusi menjadi pabrik atau bahkan mal. Mungkin di masa depan beras tak lagi menjadi makanan pokok, digantikan oleh semen dan beton.

Mendengar ada mal dan waterpark baru yang akan dibuka, sebagian besar orang tentu akan merasa senang. Setidaknya ada hiburan pelepas lelah setelah bekerja atau mengurus rumah. Tapi tidak dengan saya. Hal pertama yang terlintas di pikiran ketika mendengar kabar itu adalah, “berapa hektar sawah dan ladang yang sudah dikorbankan?”

Ah, mungkin orang-orang lebih butuh hiburan daripada makan. Toh kalaupun sawah habis kita masih bisa import beras. Makin banyak import, makin terlihat “kaya” negara kita. Siapa tahu nantinya Indonesia jadi seperti Singapura, yang hanya punya 0.5% lahan pertanian dan sekitar 90% kebutuhan makanan penduduknya dicukupi lewat import. Negara yang bahkan untuk mencicipi buah kesemek saja harus mengimport dari Indonesia, negara kita yang kaya hasil bumi ini. Indonesia jadi seperti Singapura. Keren, kan?

Silahkan sebut saya naïf, konservatif, atau bahkan primitif. Tapi saya lebih memilih negara yang bisa mencukupi kebutuhan pangannya secara mandiri daripada negara yang dipenuhi gedung pencakar langit tapi soal makan saja masih bergantung pada tetangga. Lha wong urusan perut aja kok nggak sanggup ngatasi. Indonesia itu kaya loh, mulai dari hasil bumi seperti singkong sampai hasil tambang seperti nikel. Kurang apa coba? Kurang tau diri!

Ya, saya sadar sepenuhnya bahwa populasi penduduk di negara kita terus bertambah. Di mana selalu ada kebutuhan untuk tempat tinggal, yang dengan kata lain harus mengorbankan lahan-lahan kosong, hingga sawah dan ladang untuk dibuat menjadi perumahan. Hanya saja sungguh saya tak rela kalau negara kita tak lagi bisa swasembada pangan seperti yang dibangga-banggakan di jaman saya masih kecil dulu.

Ah, ya sudahlah.. sementara kini sawah dan ladang masih bisa ditemui, saya nikmati saja.

Hamparan padi menguning ditimpa cahaya matahari sore. Semoga masih bisa terus melihatnya. [Dok. pribadi]

Hamparan padi ditimpa cahaya matahari sore. Semoga masih bisa terus menikmatinya. [Dok. pribadi]

Duo kebo yang sering saya temui ketika mengayuh sepeda sepulang kerja. [Dok. pribadi]

Duo kebo yang sering saya temui ketika mengayuh sepeda sepulang kerja. [Dok. pribadi]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: