kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Ramadhan [Random #18]


Credit: flickr.com/waseef

Credit: flickr.com/waseef

Siapa yang mau menahan lapar dan dahaga, bangun di pagi buta menyiapkan santap sahur ketika mimpi masih separuh jalan, mengejar sholat tarawih meski belum selesai mengistirahatkan tubuh setelah lelah bekerja. Tapi Ramadhan selalu menyenangkan, seolah tak ada satu alasan pun untuk tidak menyambutnya dengan tangan terbuka dan hati gembira.

Di mata anak-anak, Ramadhan mungkin hanya sekedar tidak makan di siang hari, berbuka dengan banyak ragam makanan, bermain petasan seusai tarawih, menanti baju baru pemberian Ayah-Ibu, menyambut lebaran dengan suka cita dan tak lupa mengumpulkan uang pemberian saudara dan tetangga. Apapun itu, Ramadhan selalu dinanti, tak hanya oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak.

Semasa kecil dulu entah kenapa saya selalu senang ketika Ramadhan datang. Rasanya bulan ini memang berbeda sekali dengan bulan-bulan lainnya dalam setahun. Bukan soal makanan, petasan atau lebaran, tapi atmosfer bulan suci ini memang terasa berbeda, damai dan menyenangkan. Atmosfer yang masih terasa dan tidak berubah hingga kini.

Ramadhan kini masih menyenangkan, meski kondisinya sudah berbeda dengan ketika saya masih ingusan. Dulu, kami tak pernah ribut soal warung makan. Beberapa ada yang memasang penutup pada bagian depan warungnya, tapi itu mereka lakukan dengan sukarela dan tanpa paksaan. Saya rasanya masih ingat, dulu sewaktu bertanya pada Mbah Kung kenapa warungnya ditutup kain seperti itu, jawaban beliau “Biar yang makan nggak malu kalau ketahuan nggak puasa. Kan kalau ditutup kain gitu cuma kelihatan kakinya.” Meski sebenarnya tetap saja setelah makan dan keluar warung kan ketahuan kalau orang itu nggak puasa.😀

Dulu tak ada ribut-ribut soal siapa yang harus menghormati siapa. Tidak dengan kami muslim yang berpuasa, tidak dengan mereka yang non-muslim. Kami semua sadar posisi, saling menghormati tanpa harus meminta dihormati satu sama lain. Tanpa meminta warung ditutup, kami masih bisa khusyuk beribadah, bahkan ini kami jadikan sebagai ujian. Teman-teman non-muslim pun sangat menghormati, tidak makan di depan kami-tanpa diminta- ataupun kalau mereka makan selalu mengucap “permisi”. Kami pun sebenarnya tak masalah mau mereka makan di depan atau di belakang kami. Ya, kami sama-sama tidak gila hormat.

Hanya urusan perut saja masa’ harus sampai membuat menteri turun tangan. Apakah berpuasa hanya sebatas menahan lapar dan dahaga?

Ayolah.. Ramadhan akan selalu menyenangkan sekalipun warung makan tetap buka🙂

2 responses to “Ramadhan [Random #18]

  1. pupotku June 19, 2015 at 6:36 pm

    Berasa pengen balik jaman kecil. Nggak urus yang mestinya gak diurus. Hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: