kocomripat

Kecil jadi Besar, Jauh jadi Dekat, Jauh-Dekat 3000..

Bayangan [Random #22]


shadow3

Ia menatap ke luar jendela, menyandarkan kepala pada pinggiran kusen sambil menghela napas panjang. Langit tampak muram, mentari juga enggan bersinar. Digenggamnya erat secangkir coklat yang masih hangat. Sebentar lagi mungkin akan hujan lebat. Sesosok bayangan tiba-tiba tampak berkelebat. Bayangan yang beberapa hari terakhir selalu menghantuinya.

Setengah berlari ia menghambur ke rak kayu yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Jemarinya menelusuri deretan buku-buku yang tersusun rapi. Bayangan itu semakin jelas. Ia pun bergegas memilah buku-buku di depannya, sembari berharap bayangan akan lenyap dan menghilang. Nihil! Pencarian tak berbuah hasil. Ia baru ingat, buku yang baru dibelinya beberapa hari lalu tertinggal di kantor.

Sementara bayangan itu terus mengejar, ia berlari ke ruang tamu, menyambar koran yang teronggok di atas meja. Bola matanya berlarian dari kiri ke kanan, menelusuri deretan kata dalam paragraf di depannya. Tak lama ia tampak hanyut di dalamnya. Bayangan itu pun menghilang.

Selesai mengkhatamkan beberapa lembar halaman, ia lantas beranjak dari tempat duduk, menyeret kakinya menuju ke arah dapur. Setangkup roti beroles marmalade yang dibuatnya tadi pagi tampak masih utuh. Ah, lumayan untuk mengganjal perut, batinnya.

Belum habis roti dalam kunyahannya, bayangan itu tampak menghampiri lagi. “Arghh..” erangnya sambil berlari menuju kamar sambil menggigit roti yang masih separuh.

Tetap sibuk, ya, ini adalah satu-satunya cara untuk melenyapkannya. Jemarinya mulai menari di atas keyboard laptop, sesekali berpindah ke touchpad, kadang beralih ke mouse di sisi kanan. Draft novel, desain kartu nama, hingga desain cover buku dilahapnya. Dan bayangan itu menghilang. Senyumnya pun mengembang, ia merasa menang. Tapi tak lama.

Hampir tengah malam dan ia pun mulai resah. Bagaimana ia akan menghabiskan malam ini. Sementara jika ia berdiam diri bayangan itu akan kembali menghampiri. Menatap langit-langit kamar yang basah karena rembesan air hujan, ia kemudian menarik selimut hingga menutupi ujung kepalanya, meski tak yakin cara ini bisa mengusir bayangan menakutkan itu.

Benar saja, bayangan itu kembali muncul, kali ini terlihat amat jelas, tak seperti sebelumnya. Serapat apapun ia menutup mata dengan kedua telapak tangan, bayangan itu akan menyusup ke alam pikirannya. “Ah!!” dengusnya kesal sambil melempar selimut ke sisi tempat tidur.

“Oke.. sekarang kamu menang! Tapi hanya sementara,” ucapnya lirih. Ia kembali merebahkan diri, berharap segera lelap, tak lagi berjumpa dengan bayangan itu dan kemenangan akan kembali jadi miliknya.

Tapi ia salah besar. Ini akan menjadi kekalahannya yang amat telak. Bayangan itu justru bebas berlarian di alam bawah sadarnya, menari-nari dalam rangkaian mimpi. Mungkin ia lupa, kalau mimpi adalah perwujudan dari keinginan yang tak terealisasikan. Harapan yang dianggap tak layak dan berusaha dihilangkan dari keadaan sadar lantas muncul dalam bentuk simbolis sebagai latent content, karakter dan perisitiwa yang membentuk cerita nyata mimpi.

Dalam keadaan sadar kau bisa mengelak kalau sedang jatuh cinta, tapi alam bawah sadarmu tak bisa berbohong..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: